Minggu, 19 Mei 2019


Minggu, 21 April 2019 04:59 WIB

Konservasi Berbasis Kearifan Lokal

Reporter :
Kategori : Oase Esai

ilustrasi degradasi lahan.sumber: antara

Oleh: Jon Afrizal*

Banyak orang yang tertarik dengan konservasi dan menceburkan diri di dalamnya. Banyak juga pihak yang hingga kini tidak paham tentang definisi konservasi, tetapi telah bertindak melebihi pengertian para pembaca tulisan konservasi itu sendiri.



Adalah sebuah tempat bernama Sungai Sekalo, yang berada di pinggiran Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) di Kabupaten Tebo. Pernah terjadi sebuah peristiwa yang bagi banyak pihak di provinsi ini dianggap tidak penting.

Di kitaran 2014, penduduk di sana merobohkan jembatan di sungai itu (suatu saat nanti ku pastikan namanya adalah Batang Sekalo). Tentunya tindakan ini sangat mengganggu aktifitas mereka selanjutnya. Mereka jadi susah keluar masuk dusun. Mereka terpaksa harus menyeberangi sungai itu dengan merendamkan diri di dalamnya. Yup, air sungai itu tingginya sekitar ukuran paha orang dewasa normal.

Tindakan yang dianggap banyak orang sebagai "kecil" ini ternyata sangat "besar" artinya. Mereka merobohkan jembatan itu agar para pebalak tidak menggerayangi hutan mereka. Sungguh, sebuah kerjasama komunal yang telah mempraktekan teori-teori di seputar ekologi, ekosistem dan konservasi itu sendiri.

Mereka tidak pernah berpikir bahwa itu adalah sebuah "project". Tetapi, bagaimana menempatkan diri dengan baik di alam raya ini. Tentunya dengan tetap menjaga keasriannya.

Lain halnya, jika kita melongok ke berbagai forum, mulai dari ruangan di kota kecil di kabupaten hingga ke berbagai tempat di belahan dunia lainnya, yang berbeda musimnya dengan negeri "banyak musim buah" ini.

Banyak kawasan di provinsi ini telah menjadi perbincangan serius. Tentang: apa yang telah, sedang dan akan "kita" lakukan terhadap kawasan itu.

"Pasar Malam", begitu istilah seseorang yang termasuk ke dalam jajaran para guru konservasi bagiku. Pasar malam adalah, tentu anda pernah ke sana, bertemunya begitu banyak pedagang dengan pembeli.

Pedagangnya adalah banyak pihak yang berasal dari skala lokal, nasional hingga internasional. Pembelinya adalah rakyat Jambi.

Pedagang demi pedagang tersenyum penuh arti ketika menawarkan sebuah produk bernama "konservasi" kepada setiap warga. Sungguh, sesuatu yang sangat terbalik. Kenapa kita harus membeli sebuah produk yang berasal dari "humo" kita sendiri?

Sadar atau tidak, kita merogoh kocek, sangat dalam, untuk membelinya. Lalu digantung di ruang tamu rumah masing-masing sebagai sebuah kebanggan jika tamu datang berkunjung.

Ada juga kisah dari sebuah dusun bernama Batu Kerbau yang berada di Kabupaten Bungo. Di awal 2000-an, seluruh wanita di sana bersatu untuk -lagi lagi- merobohkan sebuah jembatan di dusun itu. Ini tentu karena penolakan mereka terhadap perkebunan sawit yang semakin meluas di dusun mereka.

Kedua kisah yang "heroik" menurutku ini, sudah semestinya menampar siapa saja yang mengganggap konservasi sebagai upaya untuk mencegah semakin mencairnya bukit-bukit es di kutub. Sebuah perlawanan menentang kehancuran sistem alam.

Sehingga, benar kata Stephen Hawking, kita semua harus meninggalkan bumi ini. Kita, bahkan, yang biasa menyebut diri sebagai lanjutan "Manusia Jawa" dan "Manusia Netherland" ternyata berada dalam sebuah peradaban yang sangat tidak modern sama sekali.

Kita malah menciptakan sebuah bumi yang tidak pernah lebih baik dari sebelumnya. Menguras berbagai sumber daya alam tanpa pikir panjang, hanya sebatas untuk keuntungan jangka pendek saja.

Kita semua dipaksa untuk sepakat, bahwa, para penduduk dusun tidak mengerti sama sekali tentang konservasi. Sehingga, selayak guru, kita tergopoh-gopoh mengajarkan hal itu kepada mereka.

Pemerintah di tingkat lokal, seperti biasa, tidak tanggap terhadap apa yang tengah menjadi issue sexy di tingkat internasional. Jadilah "Pasar Malam" itu di-stempel "SAH" melalui beragam peraturan dan kesepahaman yang tidak saling memahami.

Apa yang kita lakukan saat ini akan terekam dalam memori setiap anak peradaban. Sebagai spesies yang terus memajukan diri, manusia telah memilih tulis-menulis untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Dan, semuanya telah tertuliskan, di sini.

"Jangan wariskan air mata kepada anak cucu-mu. Tetapi wariskanlah mata air untuk mereka." Demikian seorang tua di Desa Bukit Bulan, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun pernah berkata, di kitaran 2010.

Aku tidak tahu apakah ini pemikiran orisinil darinya atau tidak. Tetapi perjumpaanku dengan komunitas mereka telah memberikan sebuah noktah di pikiranku, bahwa, "bebalok" bukanlah sebuah tradisi bagi masyarakat Melayu.

Namun, Bukit Bulan tidak lama lagi akan kehilangan "bulan". Apa yang dapat diperbuat gundukan "bukit" tanpa "bulan"? Jawabannya: hilang dari peta dunia.

Selayak begitu banyak nama tempat di Palestina yang kini bahkan kita tidak tau bahwa tempat itu pernah ada dan bernama. Seperti nama "dusun" yang terlupakan peradaban dan telah berbaju "desa".

Menyedihkan? Hanya itu yang selalu kita gumamkan. Memahami kearifan warisan peradaban masa lalu, adalah sebuah keharusan. Demi menjaga sejarah dan harga diri sebuah kelompok masyarakat, suku dan bangsa.

Begitu banyak dusun -maaf, aku tidak menggunakan istilah "desa", atas nama nenek puyang Melayu- yang memiliki aturan konservasi sendiri. Daerah-daerah di huluan Provinsi Jambi, misalnya, punya aturan ketat terhadap pengambilan kayu di hutan sekitarnya.

Biasanya, seseorang yang ingin mengambil kayu untuk rumahnya, harus dimusyawarah terlebih dahulu oleh tetua dusun. Umumnya, surau atau langgar adalah tempat bermusyawarah di malam yang ditunjuk.

Ia hanya boleh mengambil kayu dengan hitungan meter kubik yang tepat: hanya untuk satu unit bangunan rumah saja, tidak lebih. Atau, untuk bangunan-bangunan sosial lainnya seperti masjid, balai dusun dan kantor perangkatnya.

Jika terjadi, seseorang mengkomersilkan kayu-kayu di hutan, maka ia akan dikenakan denda adat. Mulai dari penyediaan "selemak semanis" hingga seekor kerbau yang dibantai (: bahasa Melayu untuk menyebutkan "dipotong"). Lalu, penduduk bergotong royong memasaknya, dan menjadi sejenis "sedekah buang sial".

Seiring jaman yang memaksa pemikiran dan kearifan mereka untuk "maju", kini ada juga dusun yang memperbolehkan seseorang mengkomersilkan kayu di hutan mereka. Tetapi, tetap dalam batasan tertentu dan harus berbagi dengan "kas" dusun.

Tujuan dasar para nenek puyang itu adalah untuk menjaga ekosistem. Mulai dari sumber air hingga satwa. Jika tidak, maka bisa saja "Datuk" masuk kampung.

Ada keselarasan di sini. Antara menjaga "hak-hak alam" dengan kebutuhan manusia dusun, meskipun, manusia adalah subjek di alam dunia ini.

Kenyataannya, secara sadar kita nyatakan, apapun yang berasal dari dusun adalah tidak modern. Sehingga, kita yang modern ini menebang "rimbo larangan" mereka. Menjualnya keping demi keping. Selanjutnya mengubah lahan yang gundul itu dengan perkebunan monokultur, atau menjadi tambang batubara, semen dan emas. Sungguh, "lah lupo kacang dari kulit."

* Jurnalis TheJakartaPost dan anggota Majelis Etik (ME) AJI Kota Jambi


Tag : #konservasi #lingkungan #kearifan lokal



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:23 WIB

Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat


Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat Kajanglako.com, Sarolangun – Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:11 WIB

Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair


Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair Kajanglako.com, Sarolangun – Pencairan Dana Dessa (DD) tahap pertama tahun

 

Waspada Kebakaran
Sabtu, 18 Mei 2019 19:53 WIB

Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran


Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran Kajanglako.com, Tanjabtim - Kondisi pemukiman penduduk yang padat, ditambah lagi dengan banyaknya

 

Laporan Keuangan
Sabtu, 18 Mei 2019 19:48 WIB

Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK


Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kembali berhasil meraih predikat opini