Minggu, 19 Mei 2019


Sabtu, 20 April 2019 10:17 WIB

Cerita van Hasselt dan Veth

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Setelah kematian Schouw-Santvoort, penjelajahan Ekspedisi Sumatera dimulai lagi. Laporan penjelajahan yang selanjutnya terutama ditulis oleh van Hasselt. Sementara Schouw-Santvoort dan timnya menjelajah di sungai-sungai sekitaran Djambi, sebagian tim menjelajah di Dataran Tinggi Sumatera Barat. Dari Bab IX, yang berjudul ‘Alahan Pandjang en Omstreken’ (Alahan Pandjang dan Daerah Sekitarnya), hanya akan diolah bagian-bagian yang relevan mengenai masyarakat dan kebudayaan Djambi serta uraian yang menggambarkan hubungan sosial di antara para penjelajah dan masyarakat setempat yang ditemui.



Kita lanjutkan perjalanan!

Pada tanggal 8 Agustus 1877, tim penjelajahan di Sumatera Barat berangkat menuju Alahan Pandjang.

Tidak berapa lama setelah kedatangan tim penjelajahan itu, DD Veth telah membuat foto orang-orang Melayu. Ada orang yang difoto sendiri; ada pula yang difoto beramai-ramai. Ada foto-foto dokumentasi pakaian mereka; ada pula foto yang dibuat untuk mendokumentasi tipe fisik orang-orang itu (Catatan FA: jangan lupa bahwa di akhir abad ke-19, orang Eropa sangat heran melihat kelainan bentuk fisik manusia-manusia yang ditemuinya di luar daratan Eropa. Di masa kini, kegiatan dokumentasi fisik seperti itu barangkali akan (dapat) dianggap sebagai rasistis).

Terkadang juga, orang-orang yang sedang berlalu, ditahan sesaat oleh Veth dan sebelum mereka menyadari apa yang sebetulnya terjadi, sosok mereka sudah terekam di dalam foto. Pada saat pemotretan itu, orang-orang yang biasanya takut atau enggan mendekat, berdesak-desakan di serambi, untuk menonton. Tak banyak pula yang mengenali sosok-sosok yang dipotret pada foto-foto negatif yang dihasilkan oleh alat potret yang dibawa oleh Veth.

Walaupun acapkali orang yang berdesak-desakan itu merepotkan Veth, namun biasanya hal itu dibiarkan saja. Anggota-anggota tim penjelajahan itu menikmati suasana ketika masyarakat setempat tidak cepat-cepat menjauh karena mengira orang-orang berkulit putih itu merupakan manusia-manusia pemakan orang.

Tak lama setelah Veth kembali dari penjelajahannya di daerah sebelah timur Alahan Pandjang, seorang penghoeloe kapala menugaskan beberapa orang warganya untuk memandu Veth dan van Hasselt. Mereka akan menjelajah sepanjang aliran sumber air Batang Hari dan Boekit Barisan sampai ke Moeara Ajer.

Van Hasselt—yang menulis laporan penjelajahan itu—memulai dengan menceritakan keberangkatan tim itu pada tanggal 17 September 1877. Pagi-pagi pk 07.00. Selain Veth dan dirinya sendiri, tim itu terdiri dari Boele (pembantunya), dua orang pemandu dan tujuh orang kuli.

Etape perjalanan yang pertama bertujuan Lolo. Jalan setapak yang ditelusuri melewati perbukitan yang penuh ditumbuhi tanaman pakoe (pakis), sawah-sawah teratak Gelaga dan kemudian tepian Danau di Atas. Setelah jalan itu meninggalkan tepian danau, mereka berhenti sebentar di bawah sebuah pohon pauhe (pauh, sejenis mangga) yang besar. Di sana, mereka turun dan membimbing kuda-kuda mereka berbelok ke kanan, memasuki jalan setapak sempit. Jalan itu pertama-tama melewati beberapa pematang, kemudian memutar mengitari kota Batang Hari dan terus mendaki sedikit melewati perbukitan rendah yang ditumbuhi tebu, kopi dan jagung.

‘Kota’ Batang Hari merupakan dusun yang terdiri dari 8-10 rumah-rumah kecil dan dua rumah kokoh yang dihiasi dengan ukiran-ukiran cantik. Di daerah  pertemuan Ajer Tambang dengan Batang Hari terdapat sebuah surau di tengah-tengah persawahan. Surau itu, yang belum selesai, dibangun oleh Angkoe Hadji Toea. Lelaki itu merupakan orang Melayu pertama dari daerah ini yang naik haji ke Mekkah. Setelah yang pertama kali, ia sudah tiga kali lagi naik haji. Sisa hidupnya dihabiskannya dengan mendidik anak-anak di negarinya.

Setelah meninggalkan kota Batang Hari, perjalanan mereka mendaki bukit. Di depan mata, air di danau gemerlap. Di tepiannya, semak dan pepohonan menghijau dan dinding curam Talang menjadi latar belakang. Jalanan yang ditelusuri terkadang tidak tampak jelas. Banyak batang pohon yang rubuh menghalangi jalannya kuda-kuda yang ditunggangi. Para pemandu pun terkadang kebingungan mencari jalan.  Memang tampaknya, jalan itu tak banyak dilalui orang. Semakin tinggi mereka mendaki, semakin berubah pemandangan yang disajikan alam.

Awalnya, dedaunan rimbun di puncak-puncak pepohonan serupa dengan atap hijau yang meredam sinar mentari dan membuat jalan di belantara temaram. Semakin tinggi di bukit, pepohonan itu menjadi lebih kecil. Untaian lumut bergantungan seperti kalung-kalung hijau di ranting dan cabang pohon madang dan kale yang bertahan tumbuh sampai ke puncak gunung.

Di bawah kaki, lantai hutan dipenuhi oleh ambal lumut yang empuk. Rumpun-rumpun pakis tumbuh di antara belukar-belukar berbuah dan berbunga merah, biru dan ungu. Di beberapa tempat, tanaman dan pepohonan terdesak oleh rerumpun pandan lebat yang menyerupai hutan. Di atas kepala, rotan meliuk dan melingkar. Tak tampak mahluk hidup: burung atau pun serangga.

Akhirnya, mereka sampai ke punggung gunung. Tak banyak yang dapat dilihat. Pepohonan mengelilingi tempat mereka berdiri dan awan putih yang mulai menutupi puncak gunung membuat alam terasa lembab. Beberapa orang di antara mereka menggigil kedinginan. Tak lama mereka beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Perjalanan ini terasa jauh lebih mudah. Jalan setapak itu melewati dinding Boekit Padang Badak, menuju lembah Ngalo Gedang ke aliran deras sebuah sungai yang bersumber di Boekit Rasam (sebelah barat Ajer Dingin). Di sinilah terdapat negari-negari Ngalo Gedang dan Moeara Ajer.

Sebuah pondok tampak di ladang kopi di tepian sungai itu. Di dinding curam bukit itu, penduduk setempat membuat kebun-kebun kopi. Di kejauhan, bentangan sawah dengan padi yang berwarna hijau muda tampak kontras dengan hijau tua pepohonan hutan.  

Tampaknya banyak orang tinggal di lembah itu. Jalan setapak yang ditelusuri kini melewati beberapa rumah yang terpencil atau dusun-dusun yang rapi. Satu hal segera menarik perhatian tim penjelajahan itu. Rumah-rumah di daerah ini lain sekali dengan rumah-rumah yang biasa terlihat di Dataran Tinggi Padang. Semua rumah di daerah ini merupakan rumah bertingkat dengan lantai yang menjorok di atas bangunan lantai dasar. Tiang-tiang yang menopang lantai atas rumah-rumah itu tidak dipancangkan di tanah, melainkan bertumpu di atas bonggol atau balok kayu yang besar. Rumah-rumah itu terbuat dari kayu. Papan-papan di dindingnya terpasang rapi. Semuanya beratap ijuk. 

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:23 WIB

Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat


Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat Kajanglako.com, Sarolangun – Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:11 WIB

Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair


Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair Kajanglako.com, Sarolangun – Pencairan Dana Dessa (DD) tahap pertama tahun

 

Waspada Kebakaran
Sabtu, 18 Mei 2019 19:53 WIB

Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran


Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran Kajanglako.com, Tanjabtim - Kondisi pemukiman penduduk yang padat, ditambah lagi dengan banyaknya

 

Laporan Keuangan
Sabtu, 18 Mei 2019 19:48 WIB

Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK


Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kembali berhasil meraih predikat opini