Selasa, 18 Juni 2019


Sabtu, 13 April 2019 07:44 WIB

Beristirahatlah dengan Tenang, Schouw-Santvoort

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Schouw-Santvoort menghabiskan begitu banyak waktu untuk menggambarkan dan mencatat informasi mengenai Soengei Tongkal sehingga tak ada waktu yang tersisa untuk meneliti Soengei Nioer dan Berba dan menggambarkannya di atas peta. Karena Soengei Djambi di hulu Doesoen Tengah sudah sebagian besar dipetakannya dan data lingkungannya sudah sebagian besar terkumpul, ia memutuskan untuk melayari Soengei Tembesi untuk mencari batu bara. Dari Raden Hassan dan Sultan, ia mendengar bahwa bahan bakar alami itu dapat diketemukan di sekitaran sungai itu.



Akan tetapi, ia tau benar bahwa ada kesulitan untuk pergi ke Tembesi naik perahu karena susahnya menemukan perahu yang baik dan pendayung-pendayung yang cekatan. 

Catatan mengenai rencana itu merupakan catatan terakhir yang ditulis oleh Schouw-Santvoort. Ia tak berkesempatan melaksanakan niat dan rencana. Malam-malam buta, menjelang 22 November 1877, Schouw-Santvoort tiba-tiba diserang suatu penyakit tak terduga. Lelaki Belanda yang penuh semangat dan gairah hidup itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Berakhirlah penjelajahannya di Sumatera Tengah.

Selama berada di Djambi, ia tinggal di rumah Niessen (Agen Kepolisian Djambi) dan semakin lama semakin dianggap sebagai anggota keluarga dan teman yang baik. Walaupun pada awalnya ia agak tertekan karena memikirkan banyaknya hambatan, terutama yang disebabkan oleh berita-berita mengkhawatirkan mengenai orang-orang di daerah hulu yang menentang kedatangannya ditambah dengan sungai yang terus-menerus dangkal kekurangan air. Namun, karena hambatan-hambatan itu satu per satu dapat diatasi, ia kembali ceria dan bersemangat.

Pada malam hari tanggal 22 November, ia mengobrol seperti biasa. Ia tampak puas dan sehat-walafiat. Kira-kira pk 23.30, ia pamit untuk beristirahat dan tidur. Itu memang lebih cepat dari kebiasaannya. Biasanya ia tidur setelah setelah jam menunjukkan waktu tengah malam. Lalu, apa yang terjadi? Walahuallam. Tak ada yang tahu pasti.

Berita mengenai kematiannya baru diterima oleh para pejabat Hindia-Belanda di Loeboe Gedang pada tanggal 24 Desember 1887. Surat itu ditulis oleh Nakhoda Makkink dan berbunyi sebagai berikut:

Djambi, 23 November 1877

Kepada yang terhormat

Toean van Hasselt

Di Solok

 

Dengan hormat,

Dengan berat hati, saya terpaksa mengabarkan kepada Anda bahwa suatu pukulan berat telah menghantam Ekspedisi.

Hari ini, seperti hari-hari lalu, saya sudah turun ke darat (dari kapal) pagi-pagi untuk mengerjakan pemetaan Soengei Tongkal. Karena biasanya Toean Schouw-Santvoort selalu sudah bangun dan siap bekerja pagi-pagi sekali, saya merasa sangat heran bahwa kali ini, sampai pk 09.00, beliau masih belum menampakkan diri walau pembantunya sudah berkali-kali mengetuk pintunya.

Ketika hari sudah semakin siang, terbersit di pikiran bahwa barangkali malam sebelumnya, beliau sakit. Karena itu, saya memutuskan untuk mencari tau mengapa beliau belum juga muncul. Toean Niessen, yang juga heran karena sama sekali belum melihat Toean Schouw-Santvoort hari itu, memutuskan untuk mengetuk kamarnya dan membangunkannya.

Namun, sebelum hal itu dapat dilakukan, Oedjir—Djoeroetoelis—datang dengan wajah pucat dan berseru: “Toean meninggal dunia!”

Tampaknya, Toean Schouw-Santvoort meninggal dunia dengan tenang. Wajahnya damai dan tidak menunjukkan tanda-tanda sempat menderita atau kesakitan. Di tempat tidur, beliau tampak seperti orang yang sedang tidur.

Dengan rasa ingin tahu dan kekhawatiran besar, kami menunggu keputusan Perhimpunan (KNAG) mengenai apa yang selanjutnya akan dilakukan. Tak mudah untuk menemukan seorang pemimpin ekspedisi seperti almarhum. Sampai saat itu, segala-sesuatu akan dilaksanakan setelah bermusyarawah dengan Toean Niessen.

Hormat saya,

JH Makkink, Nakhoda.

NB: saya lampirkan surat tertanggal 11 November yang belum selesai ditulis Schouw-Santvoort untuk van Hasselt.

 

Ketika Niessen masuk ke kamar tidur itu, tubuh Schouw-Santvoort sudah kaku dan terasa dingin. Pastilah ia sudah wafat beberapa jam sebelumnya. Seorang perwira kesehatan yang diperbantukan pada detasemen militer Hindia-Belanda di Djambi melakukan otopsi atas jasadnya. Hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa Schouw-Santvoort meninggal dunia karena serangan jantung dan keadaan paru-parunya pun parah.

Tak ada tanda-tanda apa pun bahwa kematiannya disebabkan oleh tindak kekerasan; lagipula, tak ada siapa pun yang patut dicurigai sebagai orang yang (berniat) melakukan tindak kekerasan/pembunuhan terhadap Schouw-Santvoort dan sebelum kematiannya, ia selalu didampingi oleh Niessen.

Walaupun demikian, karena tak seorang pun melihat adanya tanda-tanda gangguan jantung, kematian Schouw-Santvoort yang masih muda itu tentunya sangat mengejutkan. Setelah kembali ke negeri Belanda, ketika dipanggil oleh Komisi Ekspedisi Sumatera Tengah (yang sengaja dibentuk untuk meneliti kematian Schouw-Santvoort), hanya Masinis Herman saja yang mengaku pernah mengamati adanya tanda-tanda fisik bahwa Schouw-Santvoort mengidap sesuatu penyakit. Akan tetapi, bila ditanya, Schouw-Santvoort selalu mengatakan bahwa tak ada waktu baginya untuk bersakit-sakit.

Pada tanggal 24 November 1877, pk 10.00, Schouw-Santvoort dikebumikan dengan upacara militer. Ia diantar ke peristirahatannya yang terakhir oleh iring-iringan panjang: para pejabat dan perwira militer Hindia-Belanda di Djambi dan  para kepala adat Djambi (Pangeran Wiro Koesoemo berjalan paling depan). Di kemudian hari, sebuah pagar putih yang sederhana dibangun mengelilingi kuburan bertanda salib. Di salib itu, Masinis Hermans menuliskan:

 

Di sini beristirahat

Letnan Laut kelas 2

JOHANNES SCHOUW-SANTVOORT

Wafat pada tanggal 23 November 1877

Di Djambi

 

Schouw-Santvoort, yang lahir di Bennekom (negeri Belanda) pada tanggal 10 Juli 1846, meninggal dunia pada usia 31 tahun.

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Forwakada
Senin, 17 Juni 2019 21:52 WIB

Komisi II Respon Positif Penguatan Wakada


Kajanglako.com, Jakarta - Wacana revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pasal kewenangan wakil kepala daerah,

 

kuliner khas Jambi
Senin, 17 Juni 2019 21:44 WIB

Gubernur Gandeng APJI Kembangkan Potensi Kuliner Khas Jambi


Kajanglako.Com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menjamu kunjungan Asosiasi Perusahaan Jasoboga Indonesia (APJI), di ruang kerja gubernur, Senin (17/6)

 

Pendidikan
Senin, 17 Juni 2019 20:02 WIB

Ini Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Tanjabtim Terkait SMP N 10


Kajanglako.com, Tanjab Timur -Menanggapi pemberitaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 10 Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim)

 

Senin, 17 Juni 2019 17:19 WIB

Kukuhkan Pengurus LPTQ, Merangin Target Masuk Lima Besar MTQ Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin- Bupati Merangin, Al Haris mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Merangin periode 2018-2023,

 

Hama
Senin, 17 Juni 2019 16:30 WIB

Hama Babi Resahkan Petani di Jangkat


Kajanglako.com, Merangin- Sejak sebulan terakhir, petani di Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, diresahkan dengan hama babi. Kawanan babi yang jumlahnya