Selasa, 18 Juni 2019


Minggu, 07 April 2019 04:44 WIB

Potret Buram Lingkungan: Inikah Kita?

Reporter :
Kategori : Perspektif

Oleh: Jon Afrizal*

Tembang Booze & Glory dari album "Trouble Free" ini menyentak kesadaranku akan kusutnya kondisi lingkungan yang terjadi. Kita -skala Jambi- tidak pernah beranjak dari mimpi masa lalu. Tentang jayanya kerajaan demi kerajaan.



Kita semua tidak pernah mau memetik pelajaran dari sejarah. Sehingga apapun yang terjadi di masa lalu, selalu kita dongengkan kepada yang lainnya selayak rumor saja.

Pernahkah kita berpikir tentang efek lingkungan bagi berbagai macam tumbuhan asal benua Afrika yang ditanam di sini? Afrika - tentu saja banyak yang tau- adalah gurun demi gurun pasir. Bahkan, air pun akan secepatnya menyusur ke kedalaman bumi jika tertetes di atasnya.

Mungkin ada individu yang bisa menjelaskan lebih dari penjelasanku ini. Tetapi, ini adalah bumi tropis, tempat berbagai tumbuhan menunggu hujan diiringi suara kodok bernyanyi.

Hujan tertumpah ke bumi, lalu meresap ke tanah dengan akar-akar tumbuhan yang menantinya. Tidakkah penjelasan ini telah menjelaskan semuanya?

Musim buah yang bersebaran tiap akhir tahun Masehi, umumnya adalah musim penghujan, membuat arti sendiri bagi nenek puyang negeri ini. Mereka mengukur aktifitas berkehidupan dari sini. Jika musim buah gagal, maka rusaklah seluruh daur kehidupan setelahnya.

Masih ingatkah kita saat bencana ekologi bernama "kabut asap" menyerang provinsi ini berkali-kali sejak 1990? Apa yang kita rasakan tidak lebih hanya terpapar dari satu meja diskusi ke meja lainnya.

Musim buah-buahan telah rusak. Jika tetap berbuah, seperti "buah kelapo yang dimakan bulan". Tidak ada yang bisa dilakukan, tidak bisa dikonsumsi terlebih dijual.

Masyarakat pekebun buah hanya bisa tercenung. Buah durian, duku dan yang lainnya "dak biso jadi duit". Lanjutannya adalah mimpi yang tergadai di tukang kredit, penjualan lahan dan ketidakpastian pendidikan bagi anak-anak mereka.

Mengerikan sekali, dan tetap saja, selalu terjadi setiap tahunnya. Walaupun data statistik menunjukan trend kian menurun.

"Bukan puntung rokok yang membuat lahan dan hutan terbakar, tetapi obat nyamuk bakar." Begitulah warga desa sekitar kebakaran lahan sering berkata. Artinya, ada yang punya rencana untuk membakarnya!

Tersusun rapi sekali tindak kejahatan lingkungan ini. Tetapi tetap saja kita semua tidak begitu peduli dengan suara warga desa. Seolah pendidikan modern yang telah kita enyam dapat mengalahkan kearifan-kearifan petuah segala dewa penunggu hutan.

Suatu saat, bukit-bukit akan banyak yang menghilang. Tidak hanya karena erosi saja, tetapi untuk konsumsi sebuah peradaban yang kini tengah kita jalani. Semen. Semua butuh itu, dan kita telah menutup sumur yang kita gali dengan semen.

Tidak ada lagi yang tersisa. Batubara telah habis, minyak bumi tandas, emas pun begitu. Hanya mimpi yang tersisa. Mimpi bahwa dulu kita pernah memilikinya.

Kita tidak pernah dewasa secara kebijakan. Hanya berpikir untuk kehidupan dua atau tiga hari ke depan saja. Setelah itu, kita siap menjadi konsumen. Selamanya.

Kenapa USA sampai menginvasi Iraq, tentu jawabannya adalah minyak bumi. Apakah itu artinya benua Amerika tak memiliki kandungan minyak bumi? Pernah dengar nama Texas?

Untuk apa menghabiskan harta saat ini? Jutaan anak cucu akan hidup di masa datang. Menginvasi Iraq tentu saja lebih kecil biayanya dibanding anak cucu mereka harus membeli minyak bumi berserta produk ikutannya di masa depan nanti dengan harga yang gila-gilaan.

Sejauh ini, kita hanya mematung melihat minyak bumi mengalir melalui pipa ke luar provinsi ini, tepat di bawah kaki kita. "Sudah dibayarkan biaya tanah bengkok itu," kata seseorang.

Sebengkok itu pulalah nalar yang digunakan untuk dinyatakan sebagai manusia modern. Paksakan diri untuk melihat realita yang terjadi. Condongkan matamu  keluar jendala yang kusam itu.

"Kami sudah dapat pekerjaan. Jadi sekuriti, jadilah," begitu lah yang lain berkata. Sejauh ini, tidak ada peningkatan kualitas manusia yang signifikan terjadi di sini.

Tidak juga di perkebunan monokultur. Malah elite berkata agar masyarakat berkerja di sana, atas nama menjaga investasi. Ini tentu kebijakan yang tidak pro rakyat. Begitu para aktifis berteriak di ujung kamar masing-masing. Menggaung dari dinding satu ke dinding lainnya.

Aku memiliki istilah sendiri: kebijakan yang tidak bijak. Tanpa kejelasan dalam mengkajinya secara socio-ekonomi.

Sesungguhnya, tidak ada yang salah di sini. Tidak pemerintah, tidak juga pihak perusahaan. Siapapun, siapapun yang telah memilih untuk tetap hidup hingga hari ini, bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.

Jika anda rela dibayar murah, maka itu tentu sesuai dengan kemampuan anda yang juga murahan. Pahit? Memang begitulah kehidupan. Untuk itu, jangan pernah mau dibayar murah.

"Kami masyarakat asli daerah ini. Kami berhak menuntut hak kami," terngiang sebuah percakapan di sebuah areal konflik tenurial, di telingaku. Seperti biasa, aku selalu tersenyum kecut mendengarkannya.

Memang tidak ada salahnya berprofesi sebagai buruh di perkebunan sawit (maaf, aku tidak akan menggunakan kata "kelapa" di depannya). Tetapi, akankah selamanya kuat tubuhmu untuk mendodos sawit setiap hari sampai mati menjelang?

Tingkatkan kualitas jika ingin dibayar mahal. Dan, ber-spesialisasi. Itu yang dibutuhkan dunia saat ini.

Begitu banyak manusia dari luar negeri ini yang datang untuk belajar di sini. Mereka rela menghabiskan waktu dan tenaga di daerah yang bahkan tak terjangkau sinyal mobile phone.

Tetapi, setelah itu, ia dibayar dengan tarif yang sesuai, karena ia memang ahlinya. Renungkan, berapa jumlah ahli harimau yang tidak bisa bahasa Melayu dan bandingkan dengan yang mengaku warga Dusun Tinggal, misalnya.

Itulah persoalan utama kita di sini. Kualitas pendidikan yang rendah dan membuat kita tidak bisa bersaing. Dunia internasional tidak butuh jutaan sertifikat seminar yang anda miliki. Yang dibutuhkan perusahaan minyak lepas pantai adalah seorang ahli las di bawah air laut.

Istilah "Putera Daerah" yang sering anda gunakan tidak ada artinya jika anda tidak paham daerah anda sendiri. Itulah realita yang tak bisa dipungkiri.

Pola-pola premanisme tradisional tidak akan laku anda gunakan terhadap investor asing. Anda akan tetap jadi sekuriti, menjaga gelapnya malam di ladang pohon sawit.

Jagalah terus malam yang gelap itu. Segelap masa depan yang tak pernah pasti untuk keturunanmu. Jika kualitas hanya segitu-segitu saja, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk membayar mahal anda. Terkecuali anda membuka warung rokok, dan menghitung untung dari jual-beli yang stagnan setiap harinya.

Ketakutan diri sendiri -secara psikologis- untuk bersaing secara sehat pikiran adalah dampak lanjutan dari kualitas pendidikan yang buruk. Maka, jangan pernah berandai-andai. Sebab realita terlalu pahit untuk dituliskan.

* Jurnalis The Jakarta Post dan anggota Majelis Etik (ME) AJI Kota Jambi


Tag : #krisis lingkungan #sumber daya alam



Berita Terbaru

 

Forwakada
Senin, 17 Juni 2019 21:52 WIB

Komisi II Respon Positif Penguatan Wakada


Kajanglako.com, Jakarta - Wacana revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pasal kewenangan wakil kepala daerah,

 

kuliner khas Jambi
Senin, 17 Juni 2019 21:44 WIB

Gubernur Gandeng APJI Kembangkan Potensi Kuliner Khas Jambi


Kajanglako.Com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menjamu kunjungan Asosiasi Perusahaan Jasoboga Indonesia (APJI), di ruang kerja gubernur, Senin (17/6)

 

Pendidikan
Senin, 17 Juni 2019 20:02 WIB

Ini Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Tanjabtim Terkait SMP N 10


Kajanglako.com, Tanjab Timur -Menanggapi pemberitaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 10 Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim)

 

Senin, 17 Juni 2019 17:19 WIB

Kukuhkan Pengurus LPTQ, Merangin Target Masuk Lima Besar MTQ Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin- Bupati Merangin, Al Haris mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Merangin periode 2018-2023,

 

Hama
Senin, 17 Juni 2019 16:30 WIB

Hama Babi Resahkan Petani di Jangkat


Kajanglako.com, Merangin- Sejak sebulan terakhir, petani di Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, diresahkan dengan hama babi. Kawanan babi yang jumlahnya