Rabu, 24 April 2019


Sabtu, 06 April 2019 13:06 WIB

Senapan Beaumont untuk Pangeran Ratoe

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sepanjang hari mereka berlayar. Pk 21.30, ketika matahari telah lama tenggelam, barulah mereka tiba di dusun Radja Moeda. Salah seorang putranya menyambut kedatangan mereka.



Keesokan harinya, 6 November, Schouw-Santvoort berkunjung ke Radja Moeda untuk meminta diri dan menyampaikan terima kasih atas bantuannya. Sambutannya luar biasa. Ia datang sendiri ke tepian sungai untuk menjemput tetamunya. Dengan langkah-langkah dan sikap formal, ia mengajak Schouw-Santvoort ke rumahnya. Di sana, kekuehan dan aneka kudapan sudah tersaji.

Orang Toewa Radja Moeda (maksudnya, ayahandanya) sudah duduk menunggu. Ia sudah berusia lanjut dan tuli. Radja Moeda memohon agar Schouw-Santvoort menyembuhkan telinga ayahandanya. Dengan susah-payah, Schouw-Santvoort menjelaskan bahwa hal itu tak mungkin dapat dilakukannya. Yang dapat dilakukannya hanyalah memberikan sebungkus bubuk mesiu dan ia berjanji akan mengirimkan obat-obatan dari Djambi.

Ketika kapal uap penjelajahan meninggalkan dusun itu, Radja Moeda berdiri di tepiannya sambil melambaikan sebuah bendera merah-putih dan biru. Seseorang berkali-kali memukul gong dan dua orang lainnya melepas tembakan penghormatan dengan sebuah pistol dan sebuah senapan. Tembakan penghormatan balasan pun dilepas dari atas kapal.

Pada tanggal 7 November, kapal uap itu dan penumpangnya tiba di muara Soengei Tongkal. Mereka menginap di rumah salah seorang pengawas daerah. Rumah itu berdiri sendiri—sangat terpencil—di tengah-tengah lautan lumpur dan hutan nipah. Schouw-Santvoort berencana untuk menentukan letak astronomis tempat ini. Setelah tugas ini selesai, keesokan harinya mereka berangkat lagi dan tiba siang hari di muara Soengei Djambi.

Di antara kesibukannya meneliti dan mencatat, Schouw-Santvoort masih sempat bertemu lagi dengan Pajoeng Putih, kepala adat dari Limoen. Lelaki itu hendak meminjam uang dan Schouw-Santvoort menyetujuinya. Ia sebetulnya menyangsikan bahwa pinjaman itu akan dikembalikan, tetapi setidak-tidaknya dengan pinjaman itu, ia berharap di kemudian hari dapat kembali ke daerah Limoen.

Pada tanggal 15 November malam, Raden Hassan dan Pangeran Wiro Koesoemo datang berkunjung. Wajah kedua lelaki itu tampak serius. Dan memang, mereka membawa kabar yang kurang baik. Kepada Kontrolir Niessen, mereka menyampaikan bahwa dua orang saudara lelaki Sultan Taha—diiringi sejumlah orang bersenjata—sudah bersiap-siap di Poelau Pinago (yang berjarak sekitar dua jam jauhnya dari Djambi). Konon, orang-orang itu hendak menyerang Djambi di malam hari.

Alasan akan dilakukannya serangan itu ada dua: pertama, untuk menolak kedatangan orang Eropa di pedalaman daerah mereka dan kedua, karena masalah muatan bubuk mesiu di atas kapal Sultan Taha. Beberapa waktu sebelumnya, sebuah kapal Sang Sultan yang memuat bubuk mesiu dari Singapura disegel di Saba agar diperiksa oleh petugas pabean di Moeara Kompeh.

Ternyata, setelah berlayar beberapa hari, setibanya kapal itu di Moeara Kompeh, segel yang menutup peti-peti bubuk mesiu itu sudah terbuka semua. Konon pula, sebagian bubuk mesiu itu sudah diturunkan di tengah jalan, di antara Saba dan Moeara Kompeh. Sambil menanti keputusan pihak yang berwenang, muatan kapal itu dianggap hilang atau hangus. Di Djambi, Hindia-Belanda siaga. Malam itu, tak seorang pun tidur nyenyak.

Pagi-pagi, Schouw-Santvoort dan Kontrolir Niessen berlayar ke hulu, naik kapal uap penjelajahan untuk meneliti kebenaran berita mengkhawatirkan itu? Benarkah ada orang-orang bersenjata yang akan menyerang? Mereka tak menemukan sesiapa pun. Tak ada pula tanda-tanda apa pun yang dapat menimbulkan kecurigaan. Akhirnya mereka kembali dengan keyakinan bahwa kekhawatiran Raden Hassan dan Pangeran Wiro Koesoemo hanyalah dipicu oleh selentingan berita tak bertanggung jawab atau, bisa juga, sikap permusuhan Sultan Taha telah terlalu dibesar-besarkan.

Keesokan harinya, sampai kabar lain lagi, yaitu bahwa Pangeran Ratoe telah tiba di Doesoen Tengah untuk berdamai dengan Sultan.  Rupanya pertikaian di antara kedua orang itu telah berhasil diselesaikan. Dengan demikian, kendala terbesar yang menghambat penjelajahan Batang Hari sudah tak ada pula.

Bersama Kontrolir Niessen, Schouw-Santvoort mengunjungi para pembesar kesultanan yang sedang di Djambi untuk meminta kejelasan. Mereka menjelaskan bahwa seorang saudara lelaki dan seorang kemenakan Sultan Taha, yaitu Pangeran Soerio dan Pangeran Tjakro sedang berada di Moeara Ketaloe.

Kedua lelaki itu berusaha menghasut penduduk di sana untuk memberontak. Akan tetapi, hasutan itu tidak berbuah karena tak ada pendukung mereka di sana. Tak ada orang yang ingin ikut memberontak dan upaya menghasut itu tidak berkelanjutan lagi. Schouw-Santvoort sangat yakin dan terkesan pada kuatnya upaya Sultan Djambi melakukan ‘lobby’. Hal ini tentunya akan menaikkan martabatnya di mata Hindia-Belanda.

Sementara suasana turun-naik diwarnai ketegangan dan tanda tanya, air sungai tetap rendah dan air yang mendangkal itu bahkan terasa pula di Doesoen Tengah. Kapal uap penjelajahan sama sekali tidak dapat berlayar, ke hulu maupun ke hilir. Untunglah, beberapa hari kemudian, hujan mulai turun. Tak henti sehingga Schouw-Santvoort dan timnya berharap bahwa permukaan sungai akan segera meninggi (setidak-tidaknya setinggi permukaan di bulan Oktober tahun-tahun sebelumnya).

Sambil menunggu datangnya hujan dan meningginya permukaan sungai, awak kapal memperbaiki kapal uap milik Sultan. Kapal uap itu lebih kecil daripada kapal uap penjelajahan. Setelah diperbaiki, Schouw-Santvoort berharap dapat menggunakan kapal itu untuk meneliti sungai-sungai di daerah huluan.

Ia juga melakukan pendekatan terhadap Pangeran Ratoe. Agar lelaki itu mendukung ekspedisi penjelajahannya, Schouw-Santvoort bermaksud memberinya hadiah berupa sebuah arloji emas. Namun, Pangeran Ratoe menolak cenderamata itu. Ia lebih suka diberi senapan seperti yang pernah diberikan Schouw-Santvoort kepada Sultan. Ia sudah banyak mendengar cerita bahwa di atas kapal penjelajahan, masih tersimpan beberapa senapan.

Schouw-Santvoort terdiam. Ia berunding dengan Kontrolir Niessen. Kedua lelaki Belanda itu memutuskan untuk memberikan sebuah senapan karabiner Beaumont kepada Pangeran Ratoe.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Kebakaran
Selasa, 23 April 2019 21:48 WIB

Kebakaran Landa Lambur Luar, 5 Rumah Terbakar, 1 Balita Tewas Terpanggang


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Kebakaran kembali melanda Tanjab Timur, kali ini kebakaran terjadi di RT 01 Dusun Suka Negara, Desa Lambur Luar,

 

Isra Miraj 1440H
Selasa, 23 April 2019 20:35 WIB

Bupati Syahirsah Hadiri Isra Miraj Tingkat Kabupaten


Kajanglako.com, Batanghari - Pemerintah Kabupaten Batanghari memperingati Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1440 Hijriah / 2019 M, Selasa (23/4), yang

 

Selasa, 23 April 2019 16:48 WIB

Sidak Libatkan Polisi, Satgas Pangan Akan Tindak Pedagang dan Distributor yang Timbun Sembako


Kajanglako.com, Jambi - Untuk mengantisipasi gejolak harga dan ketersediaan stok pangan di pasaran jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2019, pemerintah dalam

 

Selasa, 23 April 2019 15:28 WIB

Seleksi Paskibraka Provinsi dan Nasional, Sekda Dianto: Jangan Ada Titipan


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi, M Dianto, minta Tim Panitia Seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka)

 

Selasa, 23 April 2019 15:21 WIB

4 Tahun Beruntun, Gubernur Jambi Kembali Raih Penghargaan K3 dari Menteri Ketenagakerjaan


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menerima penghargaan Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tahun 2019 dari Menteri Ketenagakerjaan