Selasa, 18 Juni 2019


Sabtu, 30 Maret 2019 09:14 WIB

Persoalan Lingkungan dan Ketidak(mau)tahuan Kita

Reporter :
Kategori : Perspektif

Taman Nasional Kerinci Seblat. Sumber: foresteract.com

Oleh: Jon Afrizal*

Sumber keanekaragaman hayati yang dikandung Bumi Provinsi Jambi sudah sepatutnya diwaspadai. Ada begitu banyak kepentingan yang berperan, baik di skala lokal, nasional maupun internasional.



Keanekaragaman tersebut mulai dari empat taman nasional hingga berbagai sumber daya alam telah tercatat di banyak reportase sejak masa ke masa. Sehingga dibutuhkan sebuah peran aktif setiap masyarakat untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

Ketidak(mau)tahuan kita semua terhadap berbagai hal itu --sejujurnya-- telah menyebabkan banyak penduduk hanya menjadi objek terkait berbagai kepentingan lingkungan.

Seiring dunia yang berkembang menjadi "world is a small village" maka tak seharusnya kita menolak berbagai hal yang berasal dari "luar" untuk berada di provinsi ini. Tidak juga berbagai kepentingan asing atas nama "global warming" dan sejenisnya.

Tetapi bagaimana, sekali lagi, kita bertuan di negeri sendiri. Menempatkan diri untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di bumi ini.

Ini mungkin terkesan naif, di saat banyak pihak mulai meragukan keutuhan sebuah bangsa bernama Indonesia. Karena, seperti banyak orang berkata, "we are citizen of the world."

Tidak ada satu orang pun di peradaban modern ini yang masih berpikir soal fanatisme lokal. Tetapi, bagaimana kepentingan lokal mencuat menjadi issue yang harus diperjuangkan banyak pihak.

Akibat dari persoalan lingkungan itu, yang terkadang terkait konflik tenurial, membuat persoalan menggelinding selayak bola salju. Semakin membesar dari hari ke hari tanpa kendali.

Bom waktu yang setiap saat dapat meledak, dan memakan banyak korban jiwa. Tergantung siapa yang mengendalikan tuas peledaknya saja.

Lagi lagi, masyarakat yang menjadi korbannya. Lagi lagi, selanjutnya terciptalah kepentingan baru dari pihak lainnya melalui berbagai project. Dan, lagi lagi, kembali masyarakat yang jadi korbannya.

Hingga kapan ini terjadi? Tak satu pun yang berupaya serius menanggapinya. Masyarakat hanya berada di ujung sebuah dunia bernama "pengharapan". Menjaga mimpi dari malam ke malam hingga entah kapan.

Sementara elite, sibuk bicara politik, mulai dari layar kaca hingga ke media digital. Menjual mimpi "seandainya" yang tak kenal musimnya.

Semakin banyak yang kita perbincangkan setiap harinya, tentang politik, sehingga kita telah di-politisir.

Kita melupa tentang keanekaragaman yang ku sebutkan tadi. Setiap orang siap mengincarnya.

Mulailah berbenah diri, dan pahami apa yang seharusnya bisa "dijual" bagi dunia internasional. Semisal, keanekaragaman adat tradisi di sebuah perkampungan. Ini tentunya dapat kita "bungkus" dengan rapi untuk menjadi sebuah "fair trade" di pasar yang un-free market saat ini.

Lihatlah berbagai taman nasional yang ada, dan pahami konteks berskala internasional. Masyarakat lokal yang menggantungkan penghidupannya dari hasil hutan bukan kayu, adalah dagangan unik bagi setiap taman nasional.

Yang perlu, hanyalah menyesuaikan diri bersama pola pikir dunia internasional. Ketika semua orang saat ini bicara soal tenangnya berbasuh diri di sebuah kamar mandi, misalnya, adalah sesuatu kemustahilan yang tidak bisa kita tolak.

Setiap kita yang ingin menjual pesona keunikan lingkungan yang asri, tentu harus memahami ini. Sehingga adalah tidak layak jika kita mempertontonkan cara kita berbasuh diri di depan khalayak.

Tetapi, kharisma lokal tetaplah harus dijunjung tinggi siapapun yang datang berkunjung. Berbagai tabu dan pantangan pada sebuah kampung atau dusun tentu harus diperkenalkan kepada pengunjung. Dan siapa saja yang datang harus mematuhinya.

Inilah yang dimaksud dengan bertuan atas negeri sendiri. Kita menjadi tuan rumah yang agung bagi siapapun yang berkunjung ke sini.

Sehingga, kita tidak melulu bergantung dengan hasil alam yang kian sempit dan menjadi sebuah kue yang diperebutkan secara massal.

Perdagangankan keindahan negeri ini, dan simpan berbagai sumber daya alam sejenis minyak bumi, batubara, gas, emas hingga yang lainnya untuk anak cucu.

Jika pun kita ingin memproduksinya, janganlah secara massal. Kita semua, sebagai contoh, tidak pernah peduli berapa jumlah minyak bumi yang diproduksi dari era yang disebut "penjajahan" hingga saat ini.

Malah, kita beramai-ramai menggali tanah untuk mendapatkan batubara. Tetapi, berapa jumlah danau-danau galian batubara yang telah ditutup kembali?

Apakah air yang menggenang di danau itu bermanfaat atau malah beracun? Pernahkah itu dikaji dan ditangani secara baik? Serta berbagai persoalan seputar itu.

Berpindahlah dari beragam persoalan lingkungan yang semakin hari semakin kacau ini ke dunia pariwisata. Dengan tetap menjaga asrinya alam, malah akan menambah berat pundi-pundi tabungan kita.

Negeri Jambi butuh banyak sekali enterprenaur untuk dapat menciptakan peluang-peluang ekonomi baru, bagi siapa saja. Sehingga, kita tidak lagi terbuai dengan pola "kupon" ala Belanda yang telah berganti baju menjadi perkebunan monokultur.

*Anggota Majelis Etik (ME) Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kota Jambi.


Tag : #Potret Buram Lingkungan #Lingkungan dan Politik Modal



Berita Terbaru

 

Forwakada
Senin, 17 Juni 2019 21:52 WIB

Komisi II Respon Positif Penguatan Wakada


Kajanglako.com, Jakarta - Wacana revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pasal kewenangan wakil kepala daerah,

 

kuliner khas Jambi
Senin, 17 Juni 2019 21:44 WIB

Gubernur Gandeng APJI Kembangkan Potensi Kuliner Khas Jambi


Kajanglako.Com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menjamu kunjungan Asosiasi Perusahaan Jasoboga Indonesia (APJI), di ruang kerja gubernur, Senin (17/6)

 

Pendidikan
Senin, 17 Juni 2019 20:02 WIB

Ini Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Tanjabtim Terkait SMP N 10


Kajanglako.com, Tanjab Timur -Menanggapi pemberitaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 10 Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim)

 

Senin, 17 Juni 2019 17:19 WIB

Kukuhkan Pengurus LPTQ, Merangin Target Masuk Lima Besar MTQ Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin- Bupati Merangin, Al Haris mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Merangin periode 2018-2023,

 

Hama
Senin, 17 Juni 2019 16:30 WIB

Hama Babi Resahkan Petani di Jangkat


Kajanglako.com, Merangin- Sejak sebulan terakhir, petani di Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, diresahkan dengan hama babi. Kawanan babi yang jumlahnya