Sabtu, 24 Agustus 2019


Sabtu, 30 Maret 2019 08:30 WIB

Batoe Gadjah dan Sederetan Doesoen

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pada tanggal 3 November, kapal uap penjelajahan itu berangkat lagi melanjutkan perjalanan ke hulu. Tiga orang anak buah Panglima ikut serta untuk memandu perjalanan dan membantu awak kapal menghindari dan mengatasi rintangan-rintangan di sungai. Tepian sungai semakin lama semakin meninggi. Alirannya berkelok-kelok melalui lingkungan alam yang sangat indah. Angin yang bertiup lembut semerbak dengan harum kenanga oetan, batang kembang dan bebungaan hutan lainnya. Daerah yang kini dilalui subur dan cukup tinggi sehingga tidak terendam pada waktu musim hujan.



Setelah melewati beberapa sungai kecil dan ladang-ladang, di dekat Tandjoeng Poetjoeng, tak jauh dari Doesoen Djaboeng, kapal uap itu tersangkut di batang-batang pohon yang terendam di dasar sungai. Menjelang magrib barulah kapal itu terlepas dari belenggunya. Karena sungai itu terlalu sempit untuk berputar, kapal uap itu terpaksa perlahan-lahan dimundurkan sampai ke tempat yang cocok (dan aman) untuk melempar sauh. Malam itu, mereka bermalam di atas sungai.

Di hulu Doesoen Djaboeng, terdapat berbagai dusun. Yang pertama adalah  Doesoen Palei-palei (yang terletak di percabangan kanan Soengei Palei-palei). Dari dusun ini ada jalan ke Danau Bangko (dua hari perjalanan). Di jalan di antara dusun Palei-palei dan dusun Danau Bangko terdapat ladang milik Pangeran Itam yang tinggal di Poelau Kaoes. Orang yang kemalaman di jalan biasanya menginap di pondok di ladang itu.

Di sungai di antara kedua dusun itu terdapat sebuah batu besar yang dikenal dengan nama Batoe Gadjah. Saking besarnya batu itu, hanya tertinggal jalur yang sangat sempit di pinggir sebelah kanan sungai itu.

Dusun-dusun lainnya adalah Doesoen Raden Genong, Doesoen Tandjoeng Pako dan Doesoen Marelong. Lebih ke hulu, terdapat Loeboe Trap, Padjaboengan, Doesoen Arau Petir(dari tempat ini, orang masih harus berlayar selama dua hari untuk sampai ke Danan Bangko. Lalu, ada Doesoen Loeboe Kambir (yang berjarak satu hari berlayar untuk tiba di Moeara Ketaloedi tepian Soengei Djambi. Doesoen Rantau Benar, tempat tinggal Raden Mohammed Ali, terletak lebih jauh ke pedalaman. Menurut penduduk setempat, jarak di antara dusun Moeara Ketaloe dan dusun Pekan kira-kira sama dengan jarak di antara dusun Pekan dan Soengei Roemahan. Schouw-Santvoort menyangsikan hal ini karena ia sudah beberapa kali terkecoh oleh perkiraan jarak yang meleset dari kenyataan.

Hujan yang semakin lama semakin deras dan angin kencang yang tak henti bertiup membuat Schouw-Santvoort membatalkan rencananya berlayar lebih jauh ke hulu. Atap tenda ringan yang kini menutupi kapal uap itu tidak memadai untuk melindungi para penumpang dari hujan badai. Ia tak ingin awak kapalnya jatuh sakit oleh cuaca jelek itu. 

Tanggal 4 November pagi-pagi, mereka kembali memasuki perairan Soengei Tongkal. Pk. 10.15, mereka tiba di dusun Pekan. Panglima sudah menunggu. Lelaki itu naik ke kapal uap untuk menyampaikan salam perpisahan. Schouw-Santvoort berjanji akan mengirimkan cenderamata untuk anak buah Panglima yang telah memandu perjalanannya dan obat-obatan untuk Panglima yang mengidap penyakit kulit dan gondok. Hal itu akan dilakukannya bila ia telah sampai di Djambi.

Perjalanan segera dilanjutkan lagi. Tengah hari, mereka tiba di muara Soengei Asam. Sungai itu sebetulnya kini hanya dapat dilayari oleh perahu saja karena banyaknya pepohonan yang ditebang untuk membuka lahan dan batang-batang pohon itu dibiarkan malang-melintang memenuhi permukaan sungai. Mereka hendak ke  Pangaboean untuk mampir menengok Radja Doellah.

Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan sebuah perahu dan orang-orang di perahu itu menyampaikan bahwa Radja Doellah sedang pergi ke Rantau Benar. Perjalanan darat yang dilakukannya untuk sampai di dusun itu memakan waktu 10 jam. Radja Doellah hendak mengabarkan kedatangan kapal uap penjelajahan kepada Raden Mohammed Ali.  

Soengei Asam cukup lebar—sekitar 30 meter—akan tetapi hampir separuhnya dipenuhi oleh semak-semak dan pepohonan yang tumbuh di dasarnya. Setelah beberapa kali kapal uap mereka tersangkut di tanaman-tanaman di dalam sungai, Schouw-Santvoort memutuskan untuk kembali saja.

Keesokan harinya, setelah berangkat pagi-pagi, pk 9.00 mereka tiba di Tebing Tinggi. Daerah itu subur karena pada waktu air surut, muncul tanah yang berwarna merah dan putih; tanah liat di atasnya tertutup oleh lapisan humus yang baik untuk aneka tanaman pertanian. Sungai itu pun mudah dilayari untuk keperluan perdagangan.

Akan tetapi, tanah yang subur itu tidak digunakan untuk pertanian. Lebih mengherankan lagi, penduduk setempat malahan lebih banyak bertani di tepian anak-anak Soengei Tongkal yang berlumpur dan kurang subur. Mereka menanam padi di ladang-ladang bertanah tidak subur. Hasilnya pun hanyalah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Mengapa mereka tidak berladang di sekitaran Tebing Tinggi saja?

Rupanya, yang menjadi masalah adalah tidak-adanya kepastian mengenai kepemilikan tanah di Tebing Tinggi. Dahulu kala, di tempat itu tinggal Orang Kaya. Ia tinggal di sebuah dusun yang kini hanya tinggal reruntuhan saja. Beberapa waktu lalu (sekitar lima tahun sebelum tim penjelajahan itu datang), karena suatu pertikaian dengan Pangeran Badik, seorang kepala adat di Oeloe Djambi, Orang Kaya itu pergi dan tidak kembali lagi. Sejak itu, tanah yang subur itu terlantar dan tak ada lagi yang mengolahnya untuk pertanian.

Tanah di Tebing Tinggi merupakan hak milik seseorang bernama Radja Plaoes, yang lebih banyak tinggal di Oeloe Djambi. Karena itulah, tanah miliknya pun terlantar.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Agustus 2019 17:54 WIB

Gubernur Berduka, Satu Petugas Penanggulangan Karhutla di Batanghari Meninggal dalam Tugas


Gubernur Berduka, Satu Petugas Penanggulangan Karhutla di Batanghari Meninggal dalam Tugas Kajanglako.com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menyampaikan

 

Jumat, 23 Agustus 2019 17:48 WIB

Pemkab Merangin Gelar Sholat Minta Hujan


Pemkab Merangin Gelar Sholat Minta Hujan Kajanglako.com, Merangin - Kemarau panjang tidak hanya berdampak terhadap mulai sulitnya warga mendapatkan air

 

Kamis, 22 Agustus 2019 18:42 WIB

Fachrori Sebut Kabut Asap sebagai Ujian Dia Selaku Gubernur, Karena Banyak yang Tidak Jujur


Fachrori Sebut Kabut Asap sebagai Ujian Dia Selaku Gubernur, Karena Banyak yang Tidak Jujur Kajanglako.com. Jambi - Pemerintah Provinsi Jambi bersama TNI

 

Kamis, 22 Agustus 2019 18:34 WIB

Pemprov Jambi Gelar Shalat Istisqa Minta Hujan


Pemprov Jambi Gelar Shalat Istisqa Minta Hujan Kajanglako.com, Jambi - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi menggelar shalat istisqa minta turun hujan yang

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,