Rabu, 17 Oktober 2018


Minggu, 22 Oktober 2017 10:41 WIB

Eureka! Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Kitab Melayu Tertua

Reporter :
Kategori : Pustaka

Oleh: Andari Karina Anom* 

Nun di sebuah kampung di pinggir Danau Kerinci, Sumatera Utara, rahasia itu mendekam. Sekitar 700 tahun ia meringkuk dalam sebuah guci tembikar yang terkunci dalam sebuah peti. Tak boleh dilongok, kecuali lewat prosesi sangat spesial dua atau tiga kali dalam satu abad. Itulah Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, dari abad ke-14. Sebuah bundel teks berbahasa Melayu tertua yang masih eksis dan ditemukan pada masa kini.



Proses “penemuan” hingga analisis isi naskah itulah yang dikemas ahli filologi asal Jerman, Ulrich Kozok, dalam bukunya Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu Tertua, yang diluncurkan pekan lalu.

Transkripsi kuno yang ditulis pada kulit kayu ini menguak tabir yang selama ini tak terkuak: bahasa Melayu sudah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Selama ini, tulisan-tulisan berbahasa Melayu yang ditemukan sudah “tidak asli” lantaran sudah tercampur bahasa Arab dan Persia. Itu sebabnya, istilah Melayu kerap diidentikkan dengan Islam.

Kitab Tanjung Tanah ini membengkokkan segenap asumsi dan teori itu. Ada dua teks Melayu yang selama ini dianggap paling uzur. Salah satunya adalah surat Sultan Ternate untuk Raja Portugis pada 1521. Surat yang kini bermukim di Arsip Nasional Portugal itu ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Lantaran tak pernah ditemukan naskah Melayu asli, ada juga ahli yang “menyerah” dan menganggap bahwa tradisi pernaskahan Melayu pada masa sebelum Islam memang tak pernah ada.

Salah satunya filolog terkemuka, A.H. Johns. Dalam buku Genesis of a Modern Literature, ia berpendapat, “Tidak ada karya sastra yang ber-asal sebelum abad ke-15 dan tak ada satu naskah yang tidak mengandung kata serapan dari bahasa Arab, dan yang tak ditulis dalam bahasa Jawi.” Kebudayaan Melayu memang merupakan salah satu kebudayaan paling renta di Nusantara. Istilah “Melayu” bahkan sudah lebih tua lagi daripada keberadaan aksara di bumi Melayu. Prasasti-prasasti berbahasa Melayu merujuk ke medio abad ke-7.

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, pusat kebudayaan Melayu, tak mengoyak kejayaan bahasa Melayu. Sebaliknya, ia malah makin berjaya. Pada zaman penjajahan Belanda, bahasa ini digunakan sebagai bahasa komunikasi kaum “pribumi”, termasuk di kawasan yang tidak bertutur Melayu, seperti Jawa, Bali, dan Indonesia Timur.

Dari sisi linguistik, buku ini memuat kata-kata yang sebagian besar masih dipakai dalam bahasa Indonesia-ke-rap disebut bahasa Melayu Mo-dern. Ada yang bentuk dan mak-nanya persis sama, semisal bunuh, anak, kam-bing, atau rumah. Ada pula yang bentuknya agak berbeda tapi sama maknanya, seperti urang (orang), handak (hendak), tambaga (tembaga), dan ulih (oleh).

Tak sedikit istilah yang bentuknya sama tetapi artinya berbeda. Tak ketinggalan sederet kata yang tak jelas maknanya ditelan zaman. Termasuk model pembentukan kata dan pemakaian imbuhan yang bisa membantu pembaca menguak sejarah baha-sanya sendiri.

Sesuai dengan namanya, Kitab Undang-Undang, tumpukan teks Tanjung Tanah ini berisi segenap aturan hukum yang berlaku di Kerajaan Melayu pada abad ke-14, seperti KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) pada masa sekarang.

Dari sisi hukum, ada beberapa poin menarik dan mungkin “lucu” kalau ditilik dengan konteks masa kini. Misalnya, salah satu pasal menyebutkan hukuman bagi para pencuri telur adalah muka mereka dilumuri dengan tahi ayam. Kitab Tanjung Tanah ini memang mengandung sejumlah fakta baru soal bahasa Melayu. Namun, masih banyak celah penelitian yang bisa (dan harus) dilakukan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang masih meruap seputar bahasa nenek moyang kita.

*Penulis pernah menjadi jurnalis Tempo dan saat ini bekerja di BINUS International University, Jakarta. Tulisan ini terbit pertama kali 7 Agustus 2006 di http://majalah.tempointeraktif.com dengan judul Eureka! Kitab Melayu Tertua. Pemuatan di sini seizin penulis.


Tag : #sumatra #jambi #naskah kuno #tanjung tanah #uli kozok



Berita Terbaru

 

Jelang Pemilu 2019
Rabu, 17 Oktober 2018 20:12 WIB

42 Perguruan Tinggi se-Indonesia Ikuti Road Show Pendidikan Politik KOPIPEDE di Unja


Kajanglako.com, Jambi - Road Show Pendidikan Politik Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KOPIPEDE) Prov. Jambi yang ke-5 hari ini singgah di Fakultas

 

Razia Pelajar
Rabu, 17 Oktober 2018 17:12 WIB

Satpol PP Temukan Sajam dan Diduga Alat Hisap Sabu di Tas Pelajar


Kajanglako.com, Sarolangun - Dalam razia pelajar yang dilakukan Satpol PP Sarolangun, petugas juga menggeledah tas 11 pelajar SMA yang terjaring razia.    Dari

 

Razia Pelajar
Rabu, 17 Oktober 2018 16:54 WIB

Bolos Sekolah, 11 Pelajar Terjaring Razia


Kajanglako.com, Sarolangun - Satpol PP Sarolangun melakukan razia pelajar, Rabu pagi, menyisir pusat Kota Sarolangun, petugas melakukan razia  terhadap

 

PAW
Rabu, 17 Oktober 2018 14:46 WIB

Divonis Melakukan Korupsi, M Jamaah Diberhentikan dari Anggota DPRD Muaro Jambi


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Jabatan Anggota DPRD Muaro Jambi dari Fraksi Gerindra periode 2014-2019 yang diemban Muhammad Jamaah akhirnya harus

 

PAW
Rabu, 17 Oktober 2018 14:23 WIB

DPRD Muaro Jambi Gelar Pelantikan Pergantian Antar Waktu


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Usai menjalani berbagai proses administrasi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Muaro Jambi resmi menggelar