Minggu, 20 Mei 2018


Minggu, 22 Oktober 2017 10:41 WIB

Eureka! Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Kitab Melayu Tertua

Reporter :
Kategori : Pustaka

Oleh: Andari Karina Anom* 

Nun di sebuah kampung di pinggir Danau Kerinci, Sumatera Utara, rahasia itu mendekam. Sekitar 700 tahun ia meringkuk dalam sebuah guci tembikar yang terkunci dalam sebuah peti. Tak boleh dilongok, kecuali lewat prosesi sangat spesial dua atau tiga kali dalam satu abad. Itulah Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, dari abad ke-14. Sebuah bundel teks berbahasa Melayu tertua yang masih eksis dan ditemukan pada masa kini.



Proses “penemuan” hingga analisis isi naskah itulah yang dikemas ahli filologi asal Jerman, Ulrich Kozok, dalam bukunya Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu Tertua, yang diluncurkan pekan lalu.

Transkripsi kuno yang ditulis pada kulit kayu ini menguak tabir yang selama ini tak terkuak: bahasa Melayu sudah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Selama ini, tulisan-tulisan berbahasa Melayu yang ditemukan sudah “tidak asli” lantaran sudah tercampur bahasa Arab dan Persia. Itu sebabnya, istilah Melayu kerap diidentikkan dengan Islam.

Kitab Tanjung Tanah ini membengkokkan segenap asumsi dan teori itu. Ada dua teks Melayu yang selama ini dianggap paling uzur. Salah satunya adalah surat Sultan Ternate untuk Raja Portugis pada 1521. Surat yang kini bermukim di Arsip Nasional Portugal itu ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Lantaran tak pernah ditemukan naskah Melayu asli, ada juga ahli yang “menyerah” dan menganggap bahwa tradisi pernaskahan Melayu pada masa sebelum Islam memang tak pernah ada.

Salah satunya filolog terkemuka, A.H. Johns. Dalam buku Genesis of a Modern Literature, ia berpendapat, “Tidak ada karya sastra yang ber-asal sebelum abad ke-15 dan tak ada satu naskah yang tidak mengandung kata serapan dari bahasa Arab, dan yang tak ditulis dalam bahasa Jawi.” Kebudayaan Melayu memang merupakan salah satu kebudayaan paling renta di Nusantara. Istilah “Melayu” bahkan sudah lebih tua lagi daripada keberadaan aksara di bumi Melayu. Prasasti-prasasti berbahasa Melayu merujuk ke medio abad ke-7.

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, pusat kebudayaan Melayu, tak mengoyak kejayaan bahasa Melayu. Sebaliknya, ia malah makin berjaya. Pada zaman penjajahan Belanda, bahasa ini digunakan sebagai bahasa komunikasi kaum “pribumi”, termasuk di kawasan yang tidak bertutur Melayu, seperti Jawa, Bali, dan Indonesia Timur.

Dari sisi linguistik, buku ini memuat kata-kata yang sebagian besar masih dipakai dalam bahasa Indonesia-ke-rap disebut bahasa Melayu Mo-dern. Ada yang bentuk dan mak-nanya persis sama, semisal bunuh, anak, kam-bing, atau rumah. Ada pula yang bentuknya agak berbeda tapi sama maknanya, seperti urang (orang), handak (hendak), tambaga (tembaga), dan ulih (oleh).

Tak sedikit istilah yang bentuknya sama tetapi artinya berbeda. Tak ketinggalan sederet kata yang tak jelas maknanya ditelan zaman. Termasuk model pembentukan kata dan pemakaian imbuhan yang bisa membantu pembaca menguak sejarah baha-sanya sendiri.

Sesuai dengan namanya, Kitab Undang-Undang, tumpukan teks Tanjung Tanah ini berisi segenap aturan hukum yang berlaku di Kerajaan Melayu pada abad ke-14, seperti KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) pada masa sekarang.

Dari sisi hukum, ada beberapa poin menarik dan mungkin “lucu” kalau ditilik dengan konteks masa kini. Misalnya, salah satu pasal menyebutkan hukuman bagi para pencuri telur adalah muka mereka dilumuri dengan tahi ayam. Kitab Tanjung Tanah ini memang mengandung sejumlah fakta baru soal bahasa Melayu. Namun, masih banyak celah penelitian yang bisa (dan harus) dilakukan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang masih meruap seputar bahasa nenek moyang kita.

*Penulis pernah menjadi jurnalis Tempo dan saat ini bekerja di BINUS International University, Jakarta. Tulisan ini terbit pertama kali 7 Agustus 2006 di http://majalah.tempointeraktif.com dengan judul Eureka! Kitab Melayu Tertua. Pemuatan di sini seizin penulis.


Tag : #sumatra #jambi #naskah kuno #tanjung tanah #uli kozok



Berita Terbaru

 

Ramadhan 1439H
Minggu, 20 Mei 2018 16:22 WIB

Satgas Pangan Uji 24 Sampel Bahan Pokok di Pasar Angsoduo


Kajanglako.com, Jambi - Tim Satgas Pangan Provinsi Jambi kembali melakukan Sidak di Pasar Angso Duo Kota Jambi, untuk mengecek harga kebutuhan pokok dan

 

Pemilu 2019
Minggu, 20 Mei 2018 16:04 WIB

H Bakri Bicara Target PAN Jambi di Pileg 2019


Kajanglako.com, Jambi – Partai Politik peserta Pemilu 2019 mulai memasang target, terutama untuk kursi DPR RI. Namun, kursi DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota

 

Minggu, 20 Mei 2018 14:46 WIB

Aksi Perampokan Gegerkan Warga Kampung Manggis


Kajanglako.com, Kota Jambi - Warga RT 18, Kelurahan Kampung Manggis, Kecamatan Jelutung, digegerkan oleh aksi kawanan perampok yang beraksi di salah satu

 

MTQ ke-48 Provinsi Jambi
Minggu, 20 Mei 2018 14:32 WIB

Areal MTQ Batanghari Akan Dijadikan Pusat Kegiatan Keagamaan


Kajanglako.com, Batanghari - Sebagai tuan rumah MTQ tingkat Provinsi Jambi yang ke-48, Pemkab Batanghari telah melakukan persiapan yang matang. Tak tanggung

 

Minggu, 20 Mei 2018 14:24 WIB

Polisi Tangkap Dua Pengedar Narkoba di Kampung Manggis


Kajanglako.com, Kota Jambi – Ditresnarkoba Polda Jambi menangkap dua orang pria yang diduga pengedar Narkoba di kawasan Kampung Manggis, Kota Jambi. Dari