Selasa, 18 Juni 2019


Sabtu, 23 Maret 2019 11:01 WIB

Doesoen Pekan dan Tandjoeng Penjingat

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Soengei Tongkal yang dilayari lebar (ratusan meter) dan dalam (kira-kira 16 meter). Pada awalnya, airnya mengalir ke arah barat; lalu, tiba-tiba sungai itu berkelok ke selatan dan terus mengalir ke selatan sampai ke sumbernya.



Setelah dilayari, barulah diketahui bahwa aliran sungai itu sama sekali lain dengan perkiraan yang digambarkan di peta. Walaupun tepian sungai masih tetap rendah, jenis tanaman yang tumbuh di atasnya mulai berubah. Pepohonan nipah digantikan oleh  pepohonan rengas dan semak-semak, berganti-gantian dengan rerumpunan niboeng dan palas (tanaman air). Di sini juga diketemukan geloegi yang buahnya asam.

Pepohonan yang besar dan bagus mulai tampak menggantikan pohon-pohon yang berbatang kecil dan ringan sebelum mereka di perairan Soengei Roemahan. Lebih jauh, ketika niboeng menghilang sama sekali, pohon yang disebut batang soedang semakin banyak. Lebih jauh lagi, banyak tampak palem pinang-pinang. Cara tumbuh dan warna bebuahan palem ini serupa dengan pinang biasa, namun buahnya  tergantung lebih rendah. Warna buahnya yang merah mencolok di antara tetumbuhan tepian sungai yang terutama berwarna aneka hijau.

Menjelang malam, mereka bertemu dengan beberapa perahu Djambi. Ketika melihat kapal uap penjelajahan, para pendayung perahu-perahu cepat-cepat berusaha bersembunyi di antara pepohonan di tepi sungai. Setelah melihat adanya wakil para Radja di kapal uap itu, mereka mendekat. Karena memang tujuannya searah, Schouw-Santvoort mengizinkan mereka mengikat perahu-perahu mereka ke perahu penambang batu bara yang mengiringi kapal uap.

Menjelang matahari terbenam, mereka tiba di Soengei Galagian, sebuah cabang Soengei Tongkal. Tepian kanan sungai itu mulai meninggi—sampai empat meter. Dataran yang tinggi ini  terbentang ke selatan sampai ke Soengei Batara. Tak lama kemudian, mereka melempar sauh di dekat Tebing Tinggi. Air di sekitar tempat itu masih tampak kotor berlumpur. Banyak sekali batang dan ranting pepohonan memenuhi permukaan sungai yang merintangi perjalanan pada malam hari.

Keesokan harinya, 2 November, mereka meneruskan perjalanan. Pukul 8 pagi, mereka sudah tiba di Tebing Tinggi. Tepian sungai tampak tinggi, lurus ke atas, sampai mencapai ketinggian 20-30 meter. Mereka masih melewati tiga buah tebing tepian yang curam seperti itu. Semakin mendekati Soengei Batara, tepian itu semakin merendah. Dataran tinggi itu terus membentang sampai ke Moeara Djambi. Di sinilah letak sumber air bagi Soengei Tongkal dan Soengei Djambi.

Para pendamping Schouw-Santvoort menunjuk pada pepohonan kecil yang tumbuh di bawah pepohonan yang lebih tinggi: mardjasa, pisang-pisang, tjindei (yang serupa dengan meranti), dan tanglau (sejenis palem yang daunnya digunakan untuk menganyam tikar).

Tiga jam kemudian, mereka tiba dan berhenti di muara Soengei Asam. Air sungai ini bersumber dari sebuah danau. Soengei ini merupakan anak Soengei Toengkal yang bercabang ke kiri. Daerah ini berada di bawah kepemimpinan Radja Doellah yang tinggal di doesoen Pangaboean, tak jauh dari situ.

Perjalanan dilanjutkan dan tengah hari, mereka membuang sauh di Doesoen Pekan. Seorang Panglima, yang merupakan anak buah putra Pangeran Badik dan pengikut Raden Mohammed, tinggal di dusun itu. Panglima itu mengundang mereka mampir ke rumahnya. Ia menceritakan bahwa ia mengenal Toemenggoeng Rantau Ikir dan Sirih Sekapur (menantu Toemenggoeng itu mendampingi Schouw-Santvoort dalam perjalanan sebelumnya). Kedua orang itulah yang menyampaikan kabar mengenai rencana kedatangan tim penjelajahan ke daerahnya.

Panglima itu, seorang lelaki yang sudah berumur, bercerita bahwa dalam usianya yang lanjut, baru kali itu air sungai menjadi payau di hulu Penyingat. Ini menandakan bahwa kemarau tahun itu betul-betul panjang dan kerontang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga Doesoen Pekan berladang dan meramu hasil hutan, terutama rotan. Di dusun itu, tampak rotan bertumpuk, siap untuk dibawa ke kota. Sepintas-lalu, tampak bahwa banyak warga dusun itu yang mengidap penyakit kudis.

Panglima mengutus beberapa orang warganya untuk mengantar dan mendampingi Schouw-Santvoort berperahu meneliti sungai karena awak kapal uap terlalu lelah dan harus beristirahat. Malam itu hujan turun dengan derasnya dan petir sambar-menyambar. Rencana setengah hati untuk meneruskan perjalanan serta-merta dibatalkan. Mereka menginap di atas kapal di dekat dusun.

Esok paginya, setelah berlayar kira-kira dua jam, mereka tiba di Tandjoeng Penjingat. Dahulu, ada dusun yang cukup ramai di tempat itu. Kini tinggal puing-puing kehidupan warganya yang tertinggal. Konon, dahulu kala, Bandahara yang tinggal di dusun itu menentang pemerasan yang dilakukan oleh salah seorang pangeran Djambi terhadap para pedagang. Menurut cerita, Bandahara itu kemudian diserang dan akhirnya meninggal terbunuh. Setelah kejadian itu, warga dusun beramai-ramai pindah, meninggalkan dusun itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Sungai Tungkal #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Forwakada
Senin, 17 Juni 2019 21:52 WIB

Komisi II Respon Positif Penguatan Wakada


Kajanglako.com, Jakarta - Wacana revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pasal kewenangan wakil kepala daerah,

 

kuliner khas Jambi
Senin, 17 Juni 2019 21:44 WIB

Gubernur Gandeng APJI Kembangkan Potensi Kuliner Khas Jambi


Kajanglako.Com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menjamu kunjungan Asosiasi Perusahaan Jasoboga Indonesia (APJI), di ruang kerja gubernur, Senin (17/6)

 

Pendidikan
Senin, 17 Juni 2019 20:02 WIB

Ini Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Tanjabtim Terkait SMP N 10


Kajanglako.com, Tanjab Timur -Menanggapi pemberitaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 10 Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim)

 

Senin, 17 Juni 2019 17:19 WIB

Kukuhkan Pengurus LPTQ, Merangin Target Masuk Lima Besar MTQ Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin- Bupati Merangin, Al Haris mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Merangin periode 2018-2023,

 

Hama
Senin, 17 Juni 2019 16:30 WIB

Hama Babi Resahkan Petani di Jangkat


Kajanglako.com, Merangin- Sejak sebulan terakhir, petani di Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, diresahkan dengan hama babi. Kawanan babi yang jumlahnya