Minggu, 12 Juli 2020


Sabtu, 23 Maret 2019 11:01 WIB

Doesoen Pekan dan Tandjoeng Penjingat

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Soengei Tongkal yang dilayari lebar (ratusan meter) dan dalam (kira-kira 16 meter). Pada awalnya, airnya mengalir ke arah barat; lalu, tiba-tiba sungai itu berkelok ke selatan dan terus mengalir ke selatan sampai ke sumbernya.



Setelah dilayari, barulah diketahui bahwa aliran sungai itu sama sekali lain dengan perkiraan yang digambarkan di peta. Walaupun tepian sungai masih tetap rendah, jenis tanaman yang tumbuh di atasnya mulai berubah. Pepohonan nipah digantikan oleh  pepohonan rengas dan semak-semak, berganti-gantian dengan rerumpunan niboeng dan palas (tanaman air). Di sini juga diketemukan geloegi yang buahnya asam.

Pepohonan yang besar dan bagus mulai tampak menggantikan pohon-pohon yang berbatang kecil dan ringan sebelum mereka di perairan Soengei Roemahan. Lebih jauh, ketika niboeng menghilang sama sekali, pohon yang disebut batang soedang semakin banyak. Lebih jauh lagi, banyak tampak palem pinang-pinang. Cara tumbuh dan warna bebuahan palem ini serupa dengan pinang biasa, namun buahnya  tergantung lebih rendah. Warna buahnya yang merah mencolok di antara tetumbuhan tepian sungai yang terutama berwarna aneka hijau.

Menjelang malam, mereka bertemu dengan beberapa perahu Djambi. Ketika melihat kapal uap penjelajahan, para pendayung perahu-perahu cepat-cepat berusaha bersembunyi di antara pepohonan di tepi sungai. Setelah melihat adanya wakil para Radja di kapal uap itu, mereka mendekat. Karena memang tujuannya searah, Schouw-Santvoort mengizinkan mereka mengikat perahu-perahu mereka ke perahu penambang batu bara yang mengiringi kapal uap.

Menjelang matahari terbenam, mereka tiba di Soengei Galagian, sebuah cabang Soengei Tongkal. Tepian kanan sungai itu mulai meninggi—sampai empat meter. Dataran yang tinggi ini  terbentang ke selatan sampai ke Soengei Batara. Tak lama kemudian, mereka melempar sauh di dekat Tebing Tinggi. Air di sekitar tempat itu masih tampak kotor berlumpur. Banyak sekali batang dan ranting pepohonan memenuhi permukaan sungai yang merintangi perjalanan pada malam hari.

Keesokan harinya, 2 November, mereka meneruskan perjalanan. Pukul 8 pagi, mereka sudah tiba di Tebing Tinggi. Tepian sungai tampak tinggi, lurus ke atas, sampai mencapai ketinggian 20-30 meter. Mereka masih melewati tiga buah tebing tepian yang curam seperti itu. Semakin mendekati Soengei Batara, tepian itu semakin merendah. Dataran tinggi itu terus membentang sampai ke Moeara Djambi. Di sinilah letak sumber air bagi Soengei Tongkal dan Soengei Djambi.

Para pendamping Schouw-Santvoort menunjuk pada pepohonan kecil yang tumbuh di bawah pepohonan yang lebih tinggi: mardjasa, pisang-pisang, tjindei (yang serupa dengan meranti), dan tanglau (sejenis palem yang daunnya digunakan untuk menganyam tikar).

Tiga jam kemudian, mereka tiba dan berhenti di muara Soengei Asam. Air sungai ini bersumber dari sebuah danau. Soengei ini merupakan anak Soengei Toengkal yang bercabang ke kiri. Daerah ini berada di bawah kepemimpinan Radja Doellah yang tinggal di doesoen Pangaboean, tak jauh dari situ.

Perjalanan dilanjutkan dan tengah hari, mereka membuang sauh di Doesoen Pekan. Seorang Panglima, yang merupakan anak buah putra Pangeran Badik dan pengikut Raden Mohammed, tinggal di dusun itu. Panglima itu mengundang mereka mampir ke rumahnya. Ia menceritakan bahwa ia mengenal Toemenggoeng Rantau Ikir dan Sirih Sekapur (menantu Toemenggoeng itu mendampingi Schouw-Santvoort dalam perjalanan sebelumnya). Kedua orang itulah yang menyampaikan kabar mengenai rencana kedatangan tim penjelajahan ke daerahnya.

Panglima itu, seorang lelaki yang sudah berumur, bercerita bahwa dalam usianya yang lanjut, baru kali itu air sungai menjadi payau di hulu Penyingat. Ini menandakan bahwa kemarau tahun itu betul-betul panjang dan kerontang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga Doesoen Pekan berladang dan meramu hasil hutan, terutama rotan. Di dusun itu, tampak rotan bertumpuk, siap untuk dibawa ke kota. Sepintas-lalu, tampak bahwa banyak warga dusun itu yang mengidap penyakit kudis.

Panglima mengutus beberapa orang warganya untuk mengantar dan mendampingi Schouw-Santvoort berperahu meneliti sungai karena awak kapal uap terlalu lelah dan harus beristirahat. Malam itu hujan turun dengan derasnya dan petir sambar-menyambar. Rencana setengah hati untuk meneruskan perjalanan serta-merta dibatalkan. Mereka menginap di atas kapal di dekat dusun.

Esok paginya, setelah berlayar kira-kira dua jam, mereka tiba di Tandjoeng Penjingat. Dahulu, ada dusun yang cukup ramai di tempat itu. Kini tinggal puing-puing kehidupan warganya yang tertinggal. Konon, dahulu kala, Bandahara yang tinggal di dusun itu menentang pemerasan yang dilakukan oleh salah seorang pangeran Djambi terhadap para pedagang. Menurut cerita, Bandahara itu kemudian diserang dan akhirnya meninggal terbunuh. Setelah kejadian itu, warga dusun beramai-ramai pindah, meninggalkan dusun itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Sungai Tungkal #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Sabtu, 11 Juli 2020 20:16 WIB

Ini 4 Daerah di Jambi yang Boleh Selenggarakan Belajar Tatap Muka Mulai 13 Juli


Kajanglako.com, Jambi - Kesepakatan rapat Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jambi tanggal 10 Juli 2020, mengacu pada perkembangan kasus pandemi virus Corona

 

Sabtu, 11 Juli 2020 12:16 WIB

7 Pelaku PETI Asal Jawa Tengah Dibekuk Saat Beraktivitas


Kajanglako.com, Sarolangun - Jumat pagi  Kepolisian Polres Sarolangun berhasil membekuk tujuh  orang pelaku Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti)

 

Jumat, 10 Juli 2020 22:54 WIB

Ratusan Petugas Pemutakhiran Data Pemilih Kota Jambi Ikuti Rapid Test


Kajanglako.com, Jambi - Sebanyak 428 Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) Kota Jambi untuk Pilgub Jambi pada Pilkada serentak 2020 mendatang dilakukan

 

Jumat, 10 Juli 2020 16:13 WIB

Sudirman: Setwan Pahami Regulasi Eksekutif dan Legislatif


Kajanglako.com, Jambi  – Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Jambi H Sudirman SH MH mengemukakan, eksistensi lembaga Sekretariat

 

Jumat, 10 Juli 2020 15:08 WIB

Sudirman Ajak Masyarakat


Kajanglako.com, Jambi - Kebijakan pemerintah yang terbaru dengan meminta masyarakat untuk “berdamai” dengan Covid-19 dengan menggaungkan apa