Sabtu, 24 Agustus 2019


Sabtu, 23 Maret 2019 11:01 WIB

Doesoen Pekan dan Tandjoeng Penjingat

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Soengei Tongkal yang dilayari lebar (ratusan meter) dan dalam (kira-kira 16 meter). Pada awalnya, airnya mengalir ke arah barat; lalu, tiba-tiba sungai itu berkelok ke selatan dan terus mengalir ke selatan sampai ke sumbernya.



Setelah dilayari, barulah diketahui bahwa aliran sungai itu sama sekali lain dengan perkiraan yang digambarkan di peta. Walaupun tepian sungai masih tetap rendah, jenis tanaman yang tumbuh di atasnya mulai berubah. Pepohonan nipah digantikan oleh  pepohonan rengas dan semak-semak, berganti-gantian dengan rerumpunan niboeng dan palas (tanaman air). Di sini juga diketemukan geloegi yang buahnya asam.

Pepohonan yang besar dan bagus mulai tampak menggantikan pohon-pohon yang berbatang kecil dan ringan sebelum mereka di perairan Soengei Roemahan. Lebih jauh, ketika niboeng menghilang sama sekali, pohon yang disebut batang soedang semakin banyak. Lebih jauh lagi, banyak tampak palem pinang-pinang. Cara tumbuh dan warna bebuahan palem ini serupa dengan pinang biasa, namun buahnya  tergantung lebih rendah. Warna buahnya yang merah mencolok di antara tetumbuhan tepian sungai yang terutama berwarna aneka hijau.

Menjelang malam, mereka bertemu dengan beberapa perahu Djambi. Ketika melihat kapal uap penjelajahan, para pendayung perahu-perahu cepat-cepat berusaha bersembunyi di antara pepohonan di tepi sungai. Setelah melihat adanya wakil para Radja di kapal uap itu, mereka mendekat. Karena memang tujuannya searah, Schouw-Santvoort mengizinkan mereka mengikat perahu-perahu mereka ke perahu penambang batu bara yang mengiringi kapal uap.

Menjelang matahari terbenam, mereka tiba di Soengei Galagian, sebuah cabang Soengei Tongkal. Tepian kanan sungai itu mulai meninggi—sampai empat meter. Dataran yang tinggi ini  terbentang ke selatan sampai ke Soengei Batara. Tak lama kemudian, mereka melempar sauh di dekat Tebing Tinggi. Air di sekitar tempat itu masih tampak kotor berlumpur. Banyak sekali batang dan ranting pepohonan memenuhi permukaan sungai yang merintangi perjalanan pada malam hari.

Keesokan harinya, 2 November, mereka meneruskan perjalanan. Pukul 8 pagi, mereka sudah tiba di Tebing Tinggi. Tepian sungai tampak tinggi, lurus ke atas, sampai mencapai ketinggian 20-30 meter. Mereka masih melewati tiga buah tebing tepian yang curam seperti itu. Semakin mendekati Soengei Batara, tepian itu semakin merendah. Dataran tinggi itu terus membentang sampai ke Moeara Djambi. Di sinilah letak sumber air bagi Soengei Tongkal dan Soengei Djambi.

Para pendamping Schouw-Santvoort menunjuk pada pepohonan kecil yang tumbuh di bawah pepohonan yang lebih tinggi: mardjasa, pisang-pisang, tjindei (yang serupa dengan meranti), dan tanglau (sejenis palem yang daunnya digunakan untuk menganyam tikar).

Tiga jam kemudian, mereka tiba dan berhenti di muara Soengei Asam. Air sungai ini bersumber dari sebuah danau. Soengei ini merupakan anak Soengei Toengkal yang bercabang ke kiri. Daerah ini berada di bawah kepemimpinan Radja Doellah yang tinggal di doesoen Pangaboean, tak jauh dari situ.

Perjalanan dilanjutkan dan tengah hari, mereka membuang sauh di Doesoen Pekan. Seorang Panglima, yang merupakan anak buah putra Pangeran Badik dan pengikut Raden Mohammed, tinggal di dusun itu. Panglima itu mengundang mereka mampir ke rumahnya. Ia menceritakan bahwa ia mengenal Toemenggoeng Rantau Ikir dan Sirih Sekapur (menantu Toemenggoeng itu mendampingi Schouw-Santvoort dalam perjalanan sebelumnya). Kedua orang itulah yang menyampaikan kabar mengenai rencana kedatangan tim penjelajahan ke daerahnya.

Panglima itu, seorang lelaki yang sudah berumur, bercerita bahwa dalam usianya yang lanjut, baru kali itu air sungai menjadi payau di hulu Penyingat. Ini menandakan bahwa kemarau tahun itu betul-betul panjang dan kerontang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga Doesoen Pekan berladang dan meramu hasil hutan, terutama rotan. Di dusun itu, tampak rotan bertumpuk, siap untuk dibawa ke kota. Sepintas-lalu, tampak bahwa banyak warga dusun itu yang mengidap penyakit kudis.

Panglima mengutus beberapa orang warganya untuk mengantar dan mendampingi Schouw-Santvoort berperahu meneliti sungai karena awak kapal uap terlalu lelah dan harus beristirahat. Malam itu hujan turun dengan derasnya dan petir sambar-menyambar. Rencana setengah hati untuk meneruskan perjalanan serta-merta dibatalkan. Mereka menginap di atas kapal di dekat dusun.

Esok paginya, setelah berlayar kira-kira dua jam, mereka tiba di Tandjoeng Penjingat. Dahulu, ada dusun yang cukup ramai di tempat itu. Kini tinggal puing-puing kehidupan warganya yang tertinggal. Konon, dahulu kala, Bandahara yang tinggal di dusun itu menentang pemerasan yang dilakukan oleh salah seorang pangeran Djambi terhadap para pedagang. Menurut cerita, Bandahara itu kemudian diserang dan akhirnya meninggal terbunuh. Setelah kejadian itu, warga dusun beramai-ramai pindah, meninggalkan dusun itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Sungai Tungkal #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Agustus 2019 17:54 WIB

Gubernur Berduka, Satu Petugas Penanggulangan Karhutla di Batanghari Meninggal dalam Tugas


Gubernur Berduka, Satu Petugas Penanggulangan Karhutla di Batanghari Meninggal dalam Tugas Kajanglako.com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menyampaikan

 

Jumat, 23 Agustus 2019 17:48 WIB

Pemkab Merangin Gelar Sholat Minta Hujan


Pemkab Merangin Gelar Sholat Minta Hujan Kajanglako.com, Merangin - Kemarau panjang tidak hanya berdampak terhadap mulai sulitnya warga mendapatkan air

 

Kamis, 22 Agustus 2019 18:42 WIB

Fachrori Sebut Kabut Asap sebagai Ujian Dia Selaku Gubernur, Karena Banyak yang Tidak Jujur


Fachrori Sebut Kabut Asap sebagai Ujian Dia Selaku Gubernur, Karena Banyak yang Tidak Jujur Kajanglako.com. Jambi - Pemerintah Provinsi Jambi bersama TNI

 

Kamis, 22 Agustus 2019 18:34 WIB

Pemprov Jambi Gelar Shalat Istisqa Minta Hujan


Pemprov Jambi Gelar Shalat Istisqa Minta Hujan Kajanglako.com, Jambi - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi menggelar shalat istisqa minta turun hujan yang

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,