Selasa, 18 Juni 2019


Minggu, 17 Maret 2019 13:33 WIB

Setia Merawat Pusara Bung Hatta, Syahrul Akmal: Kehormatan dan Pengabdian Saya pada Negara

Reporter :
Kategori : Sosok

Batu besar bertuliskan teladan Bung Hatta. Sisi kiri pintu masuk makam Bung Hatta. Dok. Jumardi

Oleh: Jumardi Putra*

Setiba di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, langit yang semula nampak cerah dari arah Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, tak kuasa menolak mendung. Ia berubah kelam. Saya menyegerakan langkah meninggalkan bibir jalan Bintaro Raya Rt. 2/RW.10, Kebayoran Lama, ke arah Masjid Jami’ Bung Hatta, sekira 20-an meter sisi kiri dari pintu utama pusara Bung Hatta dan istri, Rahmi Rachim, yang berada tepat di sebelahnya.



Ini kali pertama saya menziarahi makam Mohammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia yang wafat 39 tahun lalu (14 Maret 1980) itu, setelah direncanakan sejak November tahun lalu bersamaan pameran Surat Pendiri Bangsa di Museum Nasional, Jakarta Pusat.

Selain Hatta dan istri, di TPU Tanah Kusir juga terbaring dengan tenang ulama besar Indonesia, yaitu Prof. Hamka (H. Abdul Malik Karim Abdullah) dan tokoh nasional lainnya, seperti juru runding nan handal Mr. Mohammad Roem (perundingan yang dikenal Roem-Royen pada 14 April 1949) dan jurnalis sekaligus pejuang kemerdekaan RI, A.R. Baswedan, serta Gubernur DKI Jakarta masa periode 1966-1977, Ali Sadikin.

Tak tampak peziarah lain kala itu. Hanya ramai oleh lalu lalang kendaraan warga yang memang setiap hari melewati jalan beraspal yang membelah TPU Tanah Kusir.

Ket: Kiri-kanan: Pusara Bung Hatta dan sang istri, Rachmi Rahim. Dok. Jumardi

Usai menunaikan shalat Ashar, beberapa langkah meninggalkan pintu masjid menuju makam Bung Hatta, melintas di hadapan saya seorang pria. Ia mengenakan baju koko dengan sarung berwarna biru. Logat betawi kentara dari gaya bicaranya. Pun rambutnya yang memutih menandakan ia tak lagi muda.

Mulanya saya mengira ia tak lain peziarah seperti saya. Ternyata bukan. Pria bernama lengkap Syahrul Akmal ini adalah penjaga makam Bung Hatta dan sekaligus ketua ta’mir masjid Jami’ Bung Hatta.  

Usut punya usut, lelaki kelahiran 10 Agustus 1957 ini berasal dari Desa Pauh, Kec. Pauh, Kab. Sarolangun, Provinsi Jambi. Sekira lima jam perjalanan darat dari pusat Kota Jambi.  

“Alhamdulillah, ketemu jugo dengan orang Jambi di sini”, celetuk saya dibalas pelukan darinya.

Seolah seperti keluarga yang sudah lama tidak bersua, kami jatuh dalam percakapan mengasyikkan. Sejak itu, selain karena usia yang terpaut jauh dengan saya, dan sebagai tanda keakraban plus sesama orang Jambi, sapaan Datuk saya sematkan padanya.

Tak syak, niat segera menghampiri pusara Hatta saya urungkan barang sejenak. “Amanlah. Kagek samo sayo ke makam Bung Hatta dan tokoh lainnya”, imbuhnya sembari meletakkan secangkir teh serta dua gelas air putih tepat di hadapan saya.

Berbagi kabar seputar Jambi dan Ibu Kota mewarnai pembicaraan antara kami. Dirinya seolah ingin mengenang masa kecil di Desa Pauh, sekolah dari SD hingga SMA di Kota Jambi, dan akhirnya memutuskan bekerja dan tinggal bersama keluarga di sebuah rumah dinas di Komplek makam Bung Hatta.

“Keluarga saya masih di Jambi. Kadang saat lebaran Idul Fitri saya pulang kampung. Ziarah ke makam orang tua dan bertemu sanak keluarga. Terakhir kali ke Jambi lima tahun lalu”, kilah sarjana muda lulusan Universitas Krisnadwipayana masa aktif 1977-1981.

Ket: Bincang-bincang bersama Datuk H. Syahrul Akmal (kiri) di Masjid Jami' Bung Hatta, TPU Tanah Kusir. Dok. Jumardi

Bekerja merawat Taman Makam Proklamator Bung Hatta ia jalani sejak Januari 1987 di bawah naungan Sekretaris Negara. Rentang waktu 32 tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Namun bagi bapak dua anak ini, pahit manis sebagai penjaga makam seorang pahlawan boleh dikata sebuah kehormatan sekaligus ladang pengabdian dirinya pada negara.

“Sebenarnya, sejak Desember 2010 saya purna tugas sebagai penjaga makam, tetapi ditugaskan kembali oleh kementerian Sosial RI sekaligus atas permintaan pihak keluarga besar mendiang Hatta, saya kembali merawat taman makam Bung Hatta, bahkan sekarang saya menjadi ketua ta’mir masjid Jami’ Bung Hatta”, ungkapnya.

Taman makam Proklamator Bung Hatta seluas hampir dua hektar diresmikan pada 12 Agustus 1982 oleh Presiden Indonesia Ke-2 yaitu Soeharto.

“Mulanya makam Bung Hatta sama seperti makam-makam lain di TPU Tanah Kusir. Menjadi taman makam pahlawan seperti sekarang ini, yaitu tersedia ruang tamu bagi peziarah, pintu masuk makam dengan gaya khas Minangkabau, relief sejarah perjalanan Bung Hatta semasa hidup, bangunan yang menaungi makam Hatta dan istri, serta pembuatan pagar yang mengelilingi makam, dibangun Presiden Soeharto sebagai bentuk penghormatan atas jasa mendiang Bung Hatta,” tuturnya.

Ket: Pintu Masuk ke Makam Bung Hatta dan istri. Dibangun dengan gaya khas Minangkabau.

Menimbang waktu magrib segera tiba, saya dan Datuk Syahrul segera menuju Makam Bung Hatta dan dilanjutkan ke pusara Prof. Hamka dan Mohammad Roem yang berada tak jauh dari pagar taman makam Bung Hatta.

Usai mendaraskan doa di dua makam tokoh tersebut, kami berjalan menyusuri seisi Taman Makam Bung Hatta.

Untuk sampai ke pusara Bung Hatta, peziarah bakal melewati sebuah gerbang berukuran cukup besar. Dari situlah saya dan Datuk syahrul menyusuri jalan yang bagian kirinya terdapat rangkaian relief (seni pahat dan ukiran tiga dimensi yang biasanya di atas batu) yang menggambarkan penggalan sejarah perjalanan Bung Hatta: dimulai dari masa kecil dan remaja yang dihabiskan di Bukit Tinggi, Sumatra Barat; aktivitas semasa studi di Nederland Handels-Hogeschool, Rotterdam, tak terkecuali saat Hatta bergabung dengan Indische Vereeniging [kelak menjadi Perhimpunan Indonesia; kisah saat Hatta mendampingi Soekarno membacakan teks proklamasi; peran Bung Hatta dalam berbagai perundingan negara, dan cerita Bung Hatta saat menjadi wakil presiden Republik Indonesia serta ketika dirinya memilih mundur pada 1956.

Di seberang relief berdiri pendopo yang dilengkapi meja resipsionis dan beberapa kursi. Di dinding bangunan tersebut terdapat beberapa foto Hatta dan keluarga. Sementara di dinding luar pendopo terpampang plakat kuning keemasan berisikan informasi peresmian taman makam Bung Hatta tiga puluh tujuh tahun (37) yang lalu.

“Di sinilah, sebelum peziarah berdoa di makam Bung Hatta, terlebih dahulu mengisi buku tamu dan bahkan sebagai tempat istirahat”, imbuh Datuk.

Dari Pendopo itu saya dan datuk Syahrul menuju pintu masuk makam Bung Hatta yang dibangun bergaya khas Minangkabau. Masuk akal pilihan arsitektur demikian tersebab Hatta merupakan tokoh kelahiran 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat.  

Sementara di sisi kiri pintu masuk pusara, terpancang sebuah batu besar bertuliskan, “Meskipun Bung Hatta telah tiada, Bung Hatta akan tetap hidup dalam hati kami, cita-cita Bung Hatta akan senantiasa menyinari perjuangan kami”.

Di bagian belakang bangunan yang menaungi pusara Bung Hatta dan istri, juga terbaring dengan tenang mendiang sekretaris pribadi Hatta, yakni I Wangsa Widjaja dan istri.

Ket: Relief perjalanan penting Bung Hatta semasa hidup.

“Pada momen apa saja ramai peziarah ke makam Bung Hatta”, tanya saya.

“Umumnya hari libur. Kalo hari-hari biasa tidak banyak pengunjung. Kecuali hari jumat, lantaran warga melaksanakan ibadah shalat jumat di masjid ini”, jawabnya

“Dari kalangan mana saja peziarah yang datang ke sini?”, lanjut saya.

“Hampir semua kalangan berziarah ke sini. Mulai dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi negara. Bahkan mereka datang dari latar agama yang berbeda-beda. Itulah tanda sosok Hatta mendapat tempat dalam kehidupan mereka”, ungkapnya.

“Bagaimana sosok pribadi Hatta di mata Datuk”, tanya saya.

“Kesederhanaan Bung Hatta melekat pada sepak terjang kehidupannya, baik sebagai pribadi, orangtua, suami, dan bahkan pejabat negara. Tak hanya semasa hidup, bahkan jelang tutup usia, dirinya berpesan untuk  dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Padahal bukan suatu yang sulit bila dirinya minta dimakamkan di taman makam Pahlawan Kalibata. Namun Hatta berwasiat agar dimakamkan berdampingan dengan sesama rakyat biasa”, ungkapnya .

Yang dikatakan Datuk syahrul itu bersumber dari surat wasiat Bung Hatta tertanggal 10 Februari 1975, dan itu satu di antara kisah-kisah teladan kesederhanaan Bung Hatta semasa hidup, selain juga dikenal luas sebagai pemikir ulung. Di banyak sumber sejarah tercatat dengan baik, ambil misal, seperti Bung Hatta berjanji menikah setelah Indonesia merdeka (18 November 18 November 1945 Hatta menikahi Rachmi Rahim dengan mas kawin buku yang ditulisnya saat dibuang  di Digul pa da 1934, Alam Pikiran Yunani); Bung Hatta tidak cukup uang membelikan mesin jahit yang dijanjikan dirinya pada sang istri sebagai imbas kebijakan pemotongan mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia) dari 100 menjadi 1 pada 1950; Bung Hatta tidak mampu membeli sepasang sepatu Bally yang diinginkannya hingga tutup usia, dan bahkan dirinya juga pernah tidak cukup uang melunasi biaya listrik rumahnya.

“Pada sosok Hatta, antara intelektual dan moral dapat kita jumpai dalam waktu bersamaan”, ungkap Datuk Syahrul.  

Tak terasa waktu magrib segera tiba. Kami kembali ke masjid. Menunaikan shalat. Hanya berdua. Tak ada makmum lainnya.

Selepas mendaraskan doa, saya pamit undur diri, dan olehnya saya diantar menuju halte di hadapan TPU Tanah Kusir. Sembari menunggu angkot dan meneruskan perjalanan ke Salihara, kami masih menyambung pembicaraan di masjid sebelumnya.

“Kalo ado kawan kito dari Jambi yang ke Jakarta. Entah itu tujuannya tugas kantor, riset dan cari kerja, singgahlah di sini. Tinggal (sementara) di sini juga bisa. Kito senang kalo kumpul sesama Jambi di tanah rantau”, pesannya.

“Baik, Tuk”.

Dari balik kaca angkot yang saya tumpangi menuju Blok M, Datuk Syahrul perlahan-lahan hilang dari pandangan saya.

 

*Wawancara bersama Datuk H. Syahrul Akmal dilakukan pada penghujung Februari 2019. 


Tag : #Bung Hatta #Taman Makam Proklamator Bung Hatta #TPU Tanah Kusir



Berita Terbaru

 

Forwakada
Senin, 17 Juni 2019 21:52 WIB

Komisi II Respon Positif Penguatan Wakada


Kajanglako.com, Jakarta - Wacana revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pasal kewenangan wakil kepala daerah,

 

kuliner khas Jambi
Senin, 17 Juni 2019 21:44 WIB

Gubernur Gandeng APJI Kembangkan Potensi Kuliner Khas Jambi


Kajanglako.Com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menjamu kunjungan Asosiasi Perusahaan Jasoboga Indonesia (APJI), di ruang kerja gubernur, Senin (17/6)

 

Pendidikan
Senin, 17 Juni 2019 20:02 WIB

Ini Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Tanjabtim Terkait SMP N 10


Kajanglako.com, Tanjab Timur -Menanggapi pemberitaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 10 Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim)

 

Senin, 17 Juni 2019 17:19 WIB

Kukuhkan Pengurus LPTQ, Merangin Target Masuk Lima Besar MTQ Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin- Bupati Merangin, Al Haris mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Merangin periode 2018-2023,

 

Hama
Senin, 17 Juni 2019 16:30 WIB

Hama Babi Resahkan Petani di Jangkat


Kajanglako.com, Merangin- Sejak sebulan terakhir, petani di Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, diresahkan dengan hama babi. Kawanan babi yang jumlahnya