Selasa, 23 Juli 2019


Sabtu, 16 Maret 2019 08:13 WIB

Bertemu Radja Moeda di Tongkal

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Malam-malam, 23 Oktober, Schouw-Santvoort telah tiba kembali di Djambi. Ia membawa tambahan batu bara dari Moeara Kompeh. Kemarau masih saja bertahan dan permukaan sungai tampaknya untuk sementara akan tetap dangkal, ia memutuskan untuk meneliti Soengei Tongkal dan melayari sungai itu sejauh mungkin.



Setelah mempersiapkan kapal uap dan perahu penambang batu bara untuk pelayaran di laut, ia meninggalkan Djambi pada tanggal 29 Oktober. Keesokan harinya, ia menambah persediaan batu bara di Moeara Kompeh dan pk 20.00 malam itu juga, ia dan rombongannya tiba di Saba.

Dua hari kemudian, mereka tiba di muara Soengei Nioer. Hari itu cuaca cerah dan mereka tidak ada rintangan selama perjalanan. Menjelang malam, selewat Magrib, mereka tiba di muara Soengei Tongkal.

Kesulitan utama dalam perjalanan adalah terbatasnya persediaan air tawar. Di musim kemarau seperti ini, di hulu Saba, sungai terisi air asin, padahal mesin uap kapal mereka tidak dapat mengolah air asin.  Kapal itu hanya memiliki tengki air yang cukup untuk berlayar beberapa jam saja.

Di antara Soengei Djambi dan Soengei Tongkal, selain Soengei Lagan, masih terdapat beberapa sungai kecil lainnya seperti: Bandahara (atau disebut juga, Mandahara), Tembikar, Pangkal Doeri, Batara (yang sama besarnya dengan Soengei Lagan), dan  Tongkal Laboe. Dusun-dusun hanya ada di sepanjang Soengei Batara saja. Di sungai-sungai lainnya, hanya ada ladang yang tidak ditinggali oleh pemiliknya.

Pada tanggal 1 November, pk 07.00 pagi, mereka bertolak melayari Soengei Tongkal. Muara sungai itu kira-kira 1000-1500 meter dengan kedalaman air 5 meter pada waktu surut.  Semakin mendekati Soengei Rambai, kedalaman airnya mencapai 18 meter. Setelah itu, mendangkal lagi. Tepian sungai rendah dan penuh ditumbuhi nipah, niboeng dan pedada. Yang terakhir, pedada sebetulnya merupakan pohon yang biasa tumbuh di pantai. Pohon itu berbuah pipih, bulat dan sangat asam rasanya. Dalam bahasa Melayu, pohon itu juga disebut berembang atau brambang. Di musim kemarau, air sungai itu payau.

Setelah melewati tiga buah anak sungai, yaitu Soengei Beram Itam Ketjil,  Soengei Berani Itam Besar (sungai ini mengalirkan air ke sebuah danau kecil yang kaya ikan), dan Soengei Niboeng,mereka tiba di sebuah dusun yang dipimpin oleh seorang lelaki bernama Radja Moeda. Pengawas Tongkal (yang ditugaskan oleh Kontrolir Niessen untuk membantu Schouw-Santvoort) mendampinginya sampai ke dusun itu untuk memperkenalkan keduanya.

Radja Moeda sebetulnya berasal dari Reteh. Ketika daerah itu menolak mengakui kekuasaan Sultan Lingga, ia ikut berjuang bersama Panglima Besar untuk melawan pasukan-pasukan Belanda. Setelah pertempuran berakhir, ia pindah ke daerah ini dan mendapatkan lahan untuk membangun rumah dari salah seorang kepala adat Oeloe Djambi, Pangeran Badik.

Ketika Schouw-Santvoort bertemu dengan Radja Moeda, Pangeran Badik sudah meninggal dunia. Anak lelaki Radja Moeda diangkat anak oleh Pangeran Badik untuk mendapatkan hak sebagai warga daerah itu.

Penduduk (asli) di hulu Tongkal sangat sedikit. Penduduk pendatang dari, antara lain Reteh, menambah jumlah warga daerah itu. Namun, sejak beberapa waktu sebelumnya, banyak pula di antara orang-orang itu yang meninggalkan daerah itu dan kembali ke Reteh karena keadaan ekonomi mereka yang tidak kunjung membaik.

Dengan sikap yang sangat ramah, Radja Moeda menyambut kedatangan rombongan penjelajahan itu. Ia bahkan mengundang Schouw-Santvoort untuk makan dulu di rumahnya, Akan tetapi, karena lelaki Belanda itu ingin segera meneruskan perjalanan, ia menolak undangan itu dengan halus. Ia hanya memerlukan bantuan seseorang yang dapat memandu perjalanannya di sungai, lebih jauh ke hulu. Karena alasan umurnya yang sudah agak tua, Radja Moeda meminta maaf karena ia sendiri tak dapat menjadi pemandu. Ia menugaskan adik iparnya untuk mendampingi Schouw-Santvoort. Lelaki itu memang cocok sekali menjadi pemandu. Ia mengenal segala kelok sungai. Di malam hari, ketika kapal membuang sauh dan mereka beristirahat, ia mulai bercerita. Pada tahun 1857, ia tak gentar berjuang melawan Kompeni. Berkali-kali ia terluka, dan tangannya bahkan terpaksa diamputasi, tetapi itu tidak membuatnya patah semangat.

Menjelang pk 10.00, mereka meneruskan perjalanan, melewati muara Soengei Raja. Radja Moeda pernah tinggal di daerah itu. Setengah jam kemudian mereka memasuki perairan Soengei Nioer. Anak lelaki Radja Moeda tinggal di sebuah yang bernama sama dengan sungai itu. Kedua sungai itu merupakan anak Soengei Tongkal. Di sini, lebar Soengei Tongkal mencapai 200 meter dengan kedalaman 12 meter.

Seperempat jam kemudian, mereka tiba di muara Soengei Boeng. Seperti juga Soengei Raja, sungai ini hanya dapat dilayari sebentar saja sebelum menjadi terlalu dangkal. Di aliran sungai ini terdapat lebih banyak dusun yang letaknya agak lebih jauh di darat.Sungai itu bercabang-cabang ke kiri dan kanan—terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Tiga setengah jam kemudian mereka sudah sampai di muara Soengei Roemahan.

Soengei Roemahan 40 meter lebarnya dan airnya cukup dalam untuk dilayari kapal uap. Akan tetapi, setelah melewati beberapa kali berkelok, ternyata sungai itu dipenuhi dengan batang-batang pohon. Karenanya, dalam waktu singkat, kapal uap itu sudah tidak dapat lagi bergerak.   

Pada tahun 1861, van Ophuyzen berlayar sampai ke tempat itu, dengan menumpang kapal uap Boni, milik pemerintah Hindia-Belanda. Sebuah dusun kecil yang ditinggali oleh orang Djambi terdapat di tepian sungai itu. Kepala adat dusun itu adalah seorang panglima dibawahi oleh Radja Doellah.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #jambi dalam naskah belanda #ekspedisi sumatra tengah 1877



Berita Terbaru

 

Menggugat Hasil Pileg 2019
Selasa, 23 Juli 2019 12:30 WIB

Sidang PHPU PKB Provinsi Jambi Lanjut Dipersidangan Pembuktian


Sidang PHPU PKB Provinsi Jambi Lanjut Dipersidangan Pembuktian Kajanglako.com, Jakarta - Eksepsi yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pihak terkait

 

Polemik Cawagub Jambi
Selasa, 23 Juli 2019 12:24 WIB

Pilih Opsi Dua, Cornelis: Sekarang Bola Panas kita Lempar ke Gubernur


Pilih Opsi Dua, Cornelis: Sekarang Bola Panas kita Lempar ke Gubernur Kajanglako.com, Jambi – Melalui jumpa pers yang digelar, Selasa (23/07), pimpinan

 

Polemik Cawagub Jambi
Selasa, 23 Juli 2019 12:17 WIB

Sesuai Saran Pansel, Pimpinan Dewan pun Akhirnya Pilih Opsi Kedua


Sesuai Saran Pansel, Pimpinan Dewan pun Akhirnya Pilih Opsi Kedua Kajanglako.com, Jambi – Saran Panitia Seleksi (Pansel), melalui Ketua Pansel Nasri

 

Selasa, 23 Juli 2019 12:04 WIB

Tim Hongaria Uji Kualitas Air Perumda PDAM Merangin


Air Perumda PDAM Merangin di Uji Kualitasnya oleh Tim dari Hongaria Kajanglako.com, Merangin - Tim dari Hongaria turun langsung ke Perumda PDAM Desa Air

 

Kejurnas Dayung Pelajar 2019
Selasa, 23 Juli 2019 12:01 WIB

Bersama Walikota Jambi, Gubernur Fachrori Bahas Persiapan Kejurnas Dayung di Ruang Kerjanya


Bersama Walikota Jambi, Gubernur Fachrori Bahas Persiapan Kejurnas Dayung di Ruang Kerjanya Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, berharap