Minggu, 26 Mei 2019


Rabu, 13 Maret 2019 09:14 WIB

Pergerakan Gajah Resahkan Warga Desa

Reporter :
Kategori : Berita Daerah

Ilustrasi/ Foto: ist

Jon Afrizal*

Pergerakan hewan gajah di landscape Bukit Tigapuluh, terutama di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo sejak empat tahun terakhir ini telah meresahkan warga di sana. Banyak kebun warga yang telah dirusak oleh mamalia ini. Tetapi, tak satu pun yang merasa bertanggungjawab terhadap persoalan ini.



"Warga tengah pergi menghalau gajah," kata Usman, warga Dusun Semerantihan Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo, Minggu (10/3).

Kegiatan ini, katanya, adalah rutinitas warga dusun ini setiap malamnya selama beberapa waktu terakhir. Tak tentu waktunya, gajah-gajah yang berjumlah kurang lebih 30 ekor selalu mengitari dusun itu.

"Banyak tanaman warga yang berada di ladang rusak akibat dimakan atau diinjak gajah," katanya.

Tetapi, katanya, warga tidak bisa berbuat banyak. Sebab mereka akan terkena jerat undang-undang yang berlaku jika mengganggu hewan endanger ini. Sehingga mereka hanya bisa menghalaunya saja.

Caranya pun cukup sederhana. Yakni dengan membuat suara gaduh. Selalu, setelah pergi, maka keesokan harinya hewan itu akan datang kembali.

"Nenek moyang kami telah hidup di sini sejak puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Tetapi kami tidak pernah sekalipun mendengar dongengan tentang gajah dari orangtua kami," katanya.

Sehingga, katanya, ia dan warga lainnya juga tidak pernah mengenal cara mengusir gajah.

Begitu juga yang dikatakan Udin, warga Desa Suo-Suo Kecamatan Sumay. Menurutnya, gajah adalah sejenis hama yang merugikan.

Tidak hanya kebun warga saja yang dirusak binatang ini, tetapi juga pondok milik warga. Bahkan, seorang warga terluka akibat dikibas gajah dengan kakinya pada tahun lalu.

"Entah bagaimana caranya kami harus mengusir hewan itu," katanya.

Menurutnya, jika gajah dilindungi undang-undang, lantas apa yang melindungi kebun warga dari gangguan hewan itu. Apakah peran gajah begitu pentingnya sehingga hak-hak masyarakat dikesampingkan.

Tersebutlah dua lembaga yang mengurusi 143 ekor hewan-hewan itu di kawasan ini, Frankfurt Zoological Society (FZS) dan International Elephant Project (IEP). Mereka telah mulai berkegiatan sejak awal 2000-an lalu.

Sejak saat itu, satu per satu gajah bermunculan. Padahal, sebelumnya tidak ada sama sekali.

"Setiap hari kendaraan milik lembaga itu melintasi desa kami. Tetapi tetap saja gajah merusak kebun kami. Lantas, kemana kami harus minta ganti rugi?" tanya Nurma, warga desa yang sama.

Anggota kedua lembaga yang ditanyai terkait asal-usul gajah itu seperti tidak mengetahuinya secara jelas. Atau terkesan pura-pura tidak tahu.

"Saya pernah berkerja untuk mereka di kitaran tahun 2000-an. Kami, sekitar 10 orang warga desa ditugaskan untuk memotret gajah. Jika dapat, kami akan dibayar Rp100 ribu per foto," kata Markoni, warga desa yang lainnya.

Tetapi, lanjutnya, setelah hampir sebulan berkeliling landscape Bukit Tigapuluh, tak satu pun gajah yang mereka temui. Tentunya tak satu pun potret yang bisa mereka dapatkan.

"Itu benar-benar pekerjaan yang aneh. Memotret hewan yang tidak pernah ada di sini," kenangnya.

Wisma Wardhana dari LSM Cakrawala mengatakan perlu pemeriksaan yang jelas dan teliti terkait jenis-jenis gajah dan asal-usulnya. Termasuk jumlah dan habitat yang sesuai dengan kehidupan gajah.

"Sehingga kebijakan dan perlakuan yang akan dilaksanakan di kawasan itu dapat berkesuaian dengan situasi yang ada," katanya.

Ia mengatakan pertimbangan lintas sektor dan sub sektor harus menjadi rujukan yang mengikat dalam berbagai intervensi yang akan dilakukan.

Kepala BKSDA Jambi Rahmat Saleh Simbolon mengatakan pihaknya dan kedua lembaga itu kini tengah berupaya mengidentifikasi gerakan gajah di kawasan ini. Memang, sejak beberapa tahun terakhir ini telah diidentifikasi, tetapi belum sepenuhnya setepat saat ini.

"Beberapa wilayah yang kerap didatangi gajah telah diketahui dengan tepat. Cara satu-satunya untuk mencegah meluasnya gerak gajah adalah dengan membuat pagar kawat," katanya.

Pagar kawat itu telah dibuat setahun ini sepanjang 15 kilometer. Kini, dengan pertimbangan tadi, pagar kawat akan diperpanjang 10 kilometer lagi.

Pagar itu terdiri dari tiga baris kawat yang dibentangkan, yang disangga tiang kayu setinggi 1,5 meter. Kawat dari besi itu mengandung aliran listrik bersifat kejut.

"Aliran listrik ini tidak berbahaya bagi gajah dan satwa lainnya, pun juga terhadap manusia. Sebab berdaya tegangan listrik sangat rendah, yang berfungsi untuk mengejutkan saja," katanya.

Selain upaya itu, katanya, pihaknya pun kini telah membentuk kelompok kerja di desa-desa terdekat. Kelompok itu terdiri dari warga desa sendiri.

"Mereka telah dibekali ilmu tentang cara mengusir gajah jika mamalia itu datang," katanya.

Tetapi yang utama, katanya, kelompok itu diharuskan memberikan informasi yang jelas mengenai mamalia berbadan tambun ini. Bahwa gajah adalah satwa yang terancam punah dan harus dilindungi.

"Dengan upaya ini, kami berharap gajah bukan lagi ancaman bagi warga," katanya. (*)


* Majelis Etik AJI Kota Jambi, Koresponden The Jakarta Post


Tag : #Gajah #Bukit Tigapuluh #Tebo #BKSDA Jambi



Berita Terbaru

 

Danau Sipin
Minggu, 26 Mei 2019 09:55 WIB

Jadi Lokasi Kejurnas Pacu Perahu 2019, Fachrori Tinjau Kodisi Terkini Danau Sipin


Jadi Lokasi Kejurnas Pacu Perahu 2019, Fachrori Tinjau Kodisi Terkini Danau Sipin Kajanglako.com, Jambi – Sebagaimana diketahui, Provinsi Jambi akan

 

Humas da Pers
Minggu, 26 Mei 2019 05:36 WIB

Buka Puasa Bersama Awak Media, Karo Humas Pemprov Jambi Singgung Verifikasi Dewan Pers


Buka Puasa Bersama Awak Media, Karo Humas Pemprov Jambi Singgung Verifikasi Dewan Pers Kajanglako.com, Jambi – Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi

 

Minggu, 26 Mei 2019 05:13 WIB

Berbagi di Bulan Ramadhan, JOIN Jambi-Bungo Santuni 45 Anak Yatim


Berbagi di Bulan Ramadhan, JOIN Jambi-Bungo Santuni 45 Anak Yatim Kajanglako.com, Bungo - Berbagi kebahagian di bulan penuh berkah, Jurnalis Online Indonesia

 

Aksi 22 Mei
Sabtu, 25 Mei 2019 14:39 WIB

Sembilan Anggota Polda Jambi Terluka di Aksi 22 Mei 2019


Sembilan Anggota Polda Jambi Terluka di Aksi 22 Mei 2019 Kajanglako.com, Jambi - Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis As, mengatakan sebanyak 600 personel Polri

 

Sabtu, 25 Mei 2019 14:32 WIB

Buka Puasa Bersama, Gubernur dan Kapolda Jambi Singgung Situasi Jambi Pasca Aksi 22 Mei


Buka Puasa Bersama, Gubernur dan Kapolda Jambi Singgung Situasi Jambi Pasca Aksi 22 Mei Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, usai Buka