Selasa, 19 Maret 2019

Rabu, 13 Maret 2019 09:14 WIB

Pergerakan Gajah Resahkan Warga Desa

Reporter :
Kategori : Berita Daerah

Ilustrasi/ Foto: ist

Jon Afrizal*

Pergerakan hewan gajah di landscape Bukit Tigapuluh, terutama di Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo sejak empat tahun terakhir ini telah meresahkan warga di sana. Banyak kebun warga yang telah dirusak oleh mamalia ini. Tetapi, tak satu pun yang merasa bertanggungjawab terhadap persoalan ini.



"Warga tengah pergi menghalau gajah," kata Usman, warga Dusun Semerantihan Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo, Minggu (10/3).

Kegiatan ini, katanya, adalah rutinitas warga dusun ini setiap malamnya selama beberapa waktu terakhir. Tak tentu waktunya, gajah-gajah yang berjumlah kurang lebih 30 ekor selalu mengitari dusun itu.

"Banyak tanaman warga yang berada di ladang rusak akibat dimakan atau diinjak gajah," katanya.

Tetapi, katanya, warga tidak bisa berbuat banyak. Sebab mereka akan terkena jerat undang-undang yang berlaku jika mengganggu hewan endanger ini. Sehingga mereka hanya bisa menghalaunya saja.

Caranya pun cukup sederhana. Yakni dengan membuat suara gaduh. Selalu, setelah pergi, maka keesokan harinya hewan itu akan datang kembali.

"Nenek moyang kami telah hidup di sini sejak puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Tetapi kami tidak pernah sekalipun mendengar dongengan tentang gajah dari orangtua kami," katanya.

Sehingga, katanya, ia dan warga lainnya juga tidak pernah mengenal cara mengusir gajah.

Begitu juga yang dikatakan Udin, warga Desa Suo-Suo Kecamatan Sumay. Menurutnya, gajah adalah sejenis hama yang merugikan.

Tidak hanya kebun warga saja yang dirusak binatang ini, tetapi juga pondok milik warga. Bahkan, seorang warga terluka akibat dikibas gajah dengan kakinya pada tahun lalu.

"Entah bagaimana caranya kami harus mengusir hewan itu," katanya.

Menurutnya, jika gajah dilindungi undang-undang, lantas apa yang melindungi kebun warga dari gangguan hewan itu. Apakah peran gajah begitu pentingnya sehingga hak-hak masyarakat dikesampingkan.

Tersebutlah dua lembaga yang mengurusi 143 ekor hewan-hewan itu di kawasan ini, Frankfurt Zoological Society (FZS) dan International Elephant Project (IEP). Mereka telah mulai berkegiatan sejak awal 2000-an lalu.

Sejak saat itu, satu per satu gajah bermunculan. Padahal, sebelumnya tidak ada sama sekali.

"Setiap hari kendaraan milik lembaga itu melintasi desa kami. Tetapi tetap saja gajah merusak kebun kami. Lantas, kemana kami harus minta ganti rugi?" tanya Nurma, warga desa yang sama.

Anggota kedua lembaga yang ditanyai terkait asal-usul gajah itu seperti tidak mengetahuinya secara jelas. Atau terkesan pura-pura tidak tahu.

"Saya pernah berkerja untuk mereka di kitaran tahun 2000-an. Kami, sekitar 10 orang warga desa ditugaskan untuk memotret gajah. Jika dapat, kami akan dibayar Rp100 ribu per foto," kata Markoni, warga desa yang lainnya.

Tetapi, lanjutnya, setelah hampir sebulan berkeliling landscape Bukit Tigapuluh, tak satu pun gajah yang mereka temui. Tentunya tak satu pun potret yang bisa mereka dapatkan.

"Itu benar-benar pekerjaan yang aneh. Memotret hewan yang tidak pernah ada di sini," kenangnya.

Wisma Wardhana dari LSM Cakrawala mengatakan perlu pemeriksaan yang jelas dan teliti terkait jenis-jenis gajah dan asal-usulnya. Termasuk jumlah dan habitat yang sesuai dengan kehidupan gajah.

"Sehingga kebijakan dan perlakuan yang akan dilaksanakan di kawasan itu dapat berkesuaian dengan situasi yang ada," katanya.

Ia mengatakan pertimbangan lintas sektor dan sub sektor harus menjadi rujukan yang mengikat dalam berbagai intervensi yang akan dilakukan.

Kepala BKSDA Jambi Rahmat Saleh Simbolon mengatakan pihaknya dan kedua lembaga itu kini tengah berupaya mengidentifikasi gerakan gajah di kawasan ini. Memang, sejak beberapa tahun terakhir ini telah diidentifikasi, tetapi belum sepenuhnya setepat saat ini.

"Beberapa wilayah yang kerap didatangi gajah telah diketahui dengan tepat. Cara satu-satunya untuk mencegah meluasnya gerak gajah adalah dengan membuat pagar kawat," katanya.

Pagar kawat itu telah dibuat setahun ini sepanjang 15 kilometer. Kini, dengan pertimbangan tadi, pagar kawat akan diperpanjang 10 kilometer lagi.

Pagar itu terdiri dari tiga baris kawat yang dibentangkan, yang disangga tiang kayu setinggi 1,5 meter. Kawat dari besi itu mengandung aliran listrik bersifat kejut.

"Aliran listrik ini tidak berbahaya bagi gajah dan satwa lainnya, pun juga terhadap manusia. Sebab berdaya tegangan listrik sangat rendah, yang berfungsi untuk mengejutkan saja," katanya.

Selain upaya itu, katanya, pihaknya pun kini telah membentuk kelompok kerja di desa-desa terdekat. Kelompok itu terdiri dari warga desa sendiri.

"Mereka telah dibekali ilmu tentang cara mengusir gajah jika mamalia itu datang," katanya.

Tetapi yang utama, katanya, kelompok itu diharuskan memberikan informasi yang jelas mengenai mamalia berbadan tambun ini. Bahwa gajah adalah satwa yang terancam punah dan harus dilindungi.

"Dengan upaya ini, kami berharap gajah bukan lagi ancaman bagi warga," katanya. (*)


* Majelis Etik AJI Kota Jambi, Koresponden The Jakarta Post


Tag : #Gajah #Bukit Tigapuluh #Tebo #BKSDA Jambi



Berita Terbaru

 

Senin, 18 Maret 2019 21:04 WIB

Jadi Sorotan, PT Balsa Belum Jalankan Standar K3


Kajanglako.com, Sarolangun - Dinas Tenaga Kerja Sarolangun kembali menyoroti perusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi standar aturan Keselamatan dan Kesehatan

 

Senin, 18 Maret 2019 20:48 WIB

Hadiri Sertijab Kepala BPK Jambi, Ini yang Disampaikan Bupati Safrial


Kajanglako.com, Jambi - Bupati Tanjab Barat, Safrial, menghadiri Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jambi,

 

Senin, 18 Maret 2019 20:46 WIB

Sertijab Kepala BPK RI Perwakilan Jambi, Fachrori: Ini Semangat Baru Tata Kelola Keuangan yang Baik


Kajanglako.com, Jambi - Serah Terima Jabatan Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Jambi dari Parna, kepada Hery Ridwan, berlangsung

 

Senin, 18 Maret 2019 20:45 WIB

Pemprov Akomodir Pokok-pokok Pikiran RKPD 2020 DPRD Provinsi Melalui e-Pokir


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar mengemukakan, Pemerintah Provinsi Jambi telah menyediakan sebuah aplikasi yang bernama e-Pokir untuk

 

Senin, 18 Maret 2019 19:38 WIB

Pemkab Sarolangun Anggarkan Rp5 Miliar untuk Berantas Buta Aksara Alqur'an


Kajanglako.com, Sarolangun - Angka buta aksara Alqur'an di Kabupaten Sarolangun masih terbilang cukup tinggi, Pemkab Sarolangun pun sangat serius untuk