Minggu, 19 Mei 2019


Minggu, 10 Maret 2019 07:15 WIB

Kabar Burung yang Membuat Was-was

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Kabar buruk sudah menanti kedatangan Schouw-Santvoort di Djambi. Kontrolir Niessen menyampaikan kabar yang datang dari Padang—melalui Palembang.



Menurut kabar itu, seseorang, yang mendampingi Schouw-Santvoort menjelajah, telah dibunuh atas perintah Sultan Taha. Hal itu dilakukan untuk menekankan penolakan Sultan Taha terhadap penjelajahan itu.

Keresahan yang timbul karena berita ini semakin menjadi-jadi oleh kedatangan Sultan Djambi (yang diangkat Hindia-Belanda). Sultan Djambi menyampaikan kepada Kontrolir Niessen bahwa di Oeloe Djambi, Pangeran Ratoe sedang bersiap untuk menolak kedatangan orang-orang Eropa di daerahnya.

Mereka mendengar kabar bahwa Pangeran Ratoe sudah menyatukan kekuatan dengan Sultan Taha, mertuanya. Konon, Pangeran Ratoe juga sudah lama tidak mempedulikan Sultan Djambi yang diangkat oleh Hindia-Belanda.

Tentu saja berita ini membuat para pegawai Hindia-Belanda mengkhawatirkan keberlangsungan dan keamanan penjelajahan. Schouw-Santvoort pun mulai khawatir. Namun, yang dikhawatirkannya adalah bahwa ia akan kesulitan melakukan penelitian sungai di hulu.

Akan tetapi, karena bagaimana pun, ia tak mungkin berlayar karena permukaan air begitu rendah, ia memutuskan untuk bersabar saja dan meneruskan penelitiannya terhadap daerah di hilir sungai.

Berita-berita di atas membuat Sultan Djambi takut dan khawatir karena ia sungguh merasa tidak berdaya melakukan apa-apa. Karena menduga bahwa Sultan Taha dan Pangeran Ratoe mulai mengumpulkan massa di Oeloe Djambi, keresahannya semakin membuncah.

Ia menyarankan agar Agen Polisi di Djambi menyiapkan kapal uap dan segala sesuatu yang diperlukan untuk membela diri. Atas permintaan itu, Agen Polisi menambah pasukan di Djambi dan Residensi Palembang menyediakan kapal Barito.

Barangkali Sultan Djambi memiliki bayangan yang melebih-lebihkan kegarangan Sultan Taha; nyatanya, melihat segala persiapan yang dilakukan Hindia-Belanda untuk melawan, Sultan Taha tampaknya menjadi gentar. Kabar burung yang sampai di Djambi menyampaikan bahwa Sultan Taha tidak hanya sama sekali membatalkan niatnya menyerang. Ia bahkan secepat mungkin melayari Soengei Tabir untuk menyelamatkan diri. Daerah sungai itu memang dianggap aman karena tak mungkin dilayari oleh kapal uap untuk perang.

Lalu, bagaimana cerita mengenai anak buah Schouw-Santvoort yang dibunuh itu? Pun, tak ada kejelasan pasti yang dapat diperoleh. Setelah menyelidiki hal itu, Sultan Djambi melaporkan kepada Kontrolir Niessen bahwa Sultan Taha menolak tuduhan atas pembunuhan itu.

Kepada Sultan Djambi, Pangeran Dipati melaporkan bahwa memang ada seorang pendamping penjelajahan bernama Pekeh yang dibunuh. Namun, pembunuhan itu tidak dilakukan atas perintah Sultan Taha, melainkan atas perintah Rapat Adat di daerah tempat tinggalnya. Pekeh dan dua orang lagi ditugaskan untuk pergi ke Doesoen Tengah.

Sementara dua orang temannya segera berangkat, Pekeh menolak dan bahkan mengamuk melawan perintah itu. Rapat Adat lalu menjatuhkan sanksi hukum mati atas amukan dan pertentangan Pekeh. Menurut cerita, barangkali karena menganggap sanksi itu tidak tepat, maka Sultan Taha menjatuhkan sanksi membayar uang bangun pada Rapat Adat daerah itu. Apakah memang demikian jalannya peristiwa itu? Entahlah. Tak ada yang dapat memberikan kepastian.

Schouw-Santvoort menyelesaikan peta sungai-sungai di antara Djambi dan Moeara Koempeh di paruh pertama bulan Oktober. Ia melanjutkan penelitiannya ke sungai-sungai Nioer dan Berba. Ia menentukan letak astronomis dusun Saba. Di bagian paling dangkal, di muara Soengei Nioer, ketinggian air pada waktu surut mencapai 5.1 meter. Dasar sungai itu terdiri dari tanah yang keras. Muara-muara anak-anak sungai Djambi yang lainnya, yaitu Lapean, Alang-Alang, Lamboer, Pangoesiran, Sadoe dan Ajer Itam, hanya dapat dilayari oleh perahu-perahu, baik yang besar maupun kecil.

Daerah yang terdapat di antara anak-anak sungai itu merupakan dataran rendah berawa-rawa. Tanah di daerah itu kurang cocok untuk pertanian. Di daerah  berair payau itu hanyalah pohon soembio (sagu) saja yang dapat tumbuh. Di daerah Koeboer Tjina (yang memang merupakan daerah pekuburan orang Cina), di dekat muara Soengei Berba, Pangeran Wiro Koesoemo membuat kebun sagu.

Selain dusun yang berdiri karena adanya kebun sagu itu, tak ada lagi dusun-dusun yang terdapat di sepanjang aliran Soengei Berba. Hanya ada satu-dua ladang saja. Di aliran Soengei Nioer, di dekat Koewala Lape'an, tak jauh dari Saba, hanya ada sebuah dusun dan beberapa pondok di ladang.

Pada tanggal 20 Oktober, Schouw-Santvoort sebetulnya berniat melayari Soengei Lagan. Namun, angin bertiup kencang dan air sungai bergolak. Kapal uap penjelajahan yang beratap kayu dan dedaunan serta perahu penambang batu bara tidak dapat melawan angin dan air sungai. Ia terpaksa membatalkan niatnya.

Pada tahun 1832, Soengei Lagan telah dilayari kapal  Amphitrite. Di muara, pada saat surut, permukaan air hanya mencapai ketinggian 6-8 desimeter. Pada saat air pasang, sungai itu mencapai kedalaman sekitar 4 meter. Rata-rata kedalaman sungai adalah 6.4 – 8 meter di muara. Semakin lama, sungai itu mendangkal sehingga menjadi 2.4 meter saja. Di tempat ini, lebar sungai itu adalah 16 meter. Di sepanjang tepiannya, penduduk Saba menanam padi di ladang.  

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah 1877 #jambi dalam naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:23 WIB

Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat


Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat Kajanglako.com, Sarolangun – Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:11 WIB

Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair


Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair Kajanglako.com, Sarolangun – Pencairan Dana Dessa (DD) tahap pertama tahun

 

Waspada Kebakaran
Sabtu, 18 Mei 2019 19:53 WIB

Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran


Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran Kajanglako.com, Tanjabtim - Kondisi pemukiman penduduk yang padat, ditambah lagi dengan banyaknya

 

Laporan Keuangan
Sabtu, 18 Mei 2019 19:48 WIB

Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK


Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kembali berhasil meraih predikat opini