Minggu, 21 Oktober 2018


Sabtu, 21 Oktober 2017 08:52 WIB

Kontroversi Sejarah Jambi: Penggantian Residen Sagaf Yahya dan Gagalnya Pelantikan Haji Hanafie

Reporter : Ardi
Kategori : Ensklopedia

suasa di halaman depan Kantor Gubernur Jambi

Sarasehan sejarah yang ditaja Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi (Selasa, 17/10), di samping membentangkan hasil telaah tiga narasumber mengenai Peran Pemuda dalam Masa Revolusi Kemerdekaan di Jambi, yaitu oleh Asrie Rasyid, BA (Pejuang Angkatan 45), Arif Rahim (Dosen Sejarah FKIP Universitas Batanghari) dan Wiwin Eko Santoso (Pengamat sejarah), juga menyeruakkan sisi kontroversial sejarah perjalanan tokoh-tokoh di Provinsi Jambi, terutama mengenai mundurnya Sagaf Yahya sebagai Residen Jambi yang pertama pasca Proklamasi, dan digantikan oleh Raden Inu Kertapati.

Kedua, disampaikan peneliti Seloko Institute, Ratna Dewi, gagalnya pelantikan H. Hanafie sebagai Kepala Daerah Swatantra Tingkat 1 Jambi (lihat hasil pemilihan kepala Daerah oleh DPRD-Provinsi, 3 Maret 1958 dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri 2 April 1958), menyusul dua hari sebelum pelaksanaan pelantikan, ia diterbangkan ke Palembang menghadap pihak operasi sadar Panglima TT. II Sriwijaya, lalu ditahan selama satu bulan di Palembang dan berlanjut lebih dari dua bulan di Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jakarta tanpa ada alasan kuat penahanannya sampai ia menjadi tahanan rumah, lalu dilepaskan dan kembali ke Jambi dengan Gubernur Jambi yang baru, yaitu M. Joesoef Singedekane. “Kenapa peristiwa semacam ini luput dari pembicaraan atau kajian dari para peneliti sejarah kita”, tanya Ratna Dewi.



Menanggapi penggantian Sagaf Yayah, Wiwin Eko Santoso, salah seorang narasumber, mengkonfirmasi langsung kepada Pak H. Asrie Rasyid, BA, yang pernah duduk sebagai Kepala Bidang Humas Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 45 Provinsi Jambi Masa Bhakti 1990-1994.

Sepenulusuran Wiiwin, tahun 1991, DHDA 45 Provinsi Jambi menerbitkan buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Kemerdekaan R.I (1945-1949) Di Propinsi Jambi. Di buku itu, terutama pada halaman 31 tertulis, bahwa pada awal tahun 1946 dr. Sagaf Yahya (Residen Jambi yang pertama pasca Proklamasi) diganti Raden Inu Kertapati karena alasan kesehatan. Oleh karenanya, dr. Sagaf Yahya meletakan jabatannya kepada KNID Jambi kepada Gubernur Sumatera.

 “Apakah benar dr. Sagaf Yahya berhenti karena alasan kesehatan, pak, sebagaimana termuat dalam buku cetakan 1991 itu?”, tanya Wiwin

Sebab, lanjutnya, menurut buku karya R. Zainuddin dkk, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jambi, (1986:53), para pemuka rakyat dan pemuda tidak merasa yakin dr. Sagaf Yahya sebagai residen Jambi dapat menggerakan massa karena yang dibutuhkan rakyat Jambi pemimpin yang militan dan berani. Oleh karenanya, KNID Jambi menasihatkan agar dr Sagaf Yahya untuk mengundurkan diri.

Faktanya, dalam sarasehan Sejarah pada Oktober 2017 itu, H. Asrie Rasyid mengatakan betul rakyat Jambi kala itu membutuhkan figur pemimpin yang kharismatik seperti Raden Inu Kertopati. Pada saat yang sama, zaman Revolusi itu memang dr. Safar Yahya mengalami sakit-sakitan. Artinya, dua versi buku itu sama-sama dibenarkan oleh Pak H. Asrie Rasyid. Hanya saja, pak Pak H. Asrie Rasyid tidak ingin berpolemik apakah dr. Safaf Yahya mengundurkan diri atau diminta untuk meletakan jabatan residennya.

Terhadap kedua peristiwa di atas, Arif Rahim mengatakan, aspek ideologi dan politik sangat kentara, terutama pada persoalan gagalnya pelantikan Haji Hanafi sebagai Gubernur Jambi pertama, yang sejatinya disetujui mayoritas anggota DPRD-Provinsi Jambi sekaligus dietapkan oleh Menteri Dalam Negeri kala itu.

Hal demikian itu diamini oleh Asrie Rasyid, pejuang angkatan 45, yaitu gagalnya saudara Hanafie, yang ketika itu juga sebagai Ketua Badan Kongres Rakyat Daerah Jambi (BKRD), dilantik sebagai Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Jambi merupakan peristiwa politik.

“Nah, sejauh ini belum ada penelitian serius yang menguliti warna-warni sejarah sisi kontroversi seperti dua kasus di atas. Karena itu penguatan kerja-kerja riset/kajian melalui pendataan dan  pengumpulan sumber data kearsipan dalam upaya menggairahkan studi sejarah di Jambi dan publikasi mengenai dinamika daerah yang saat ini disebut sebagai Jambi menjadi niscaya”, ungkap Dosen Sejarah FKIP UNBARI itu.


Tag : #Jambi #Haji Hanafie #Kontroversi #Badan Kongres Rakyat Daerah Jambi



Berita Terbaru

 

Minggu, 21 Oktober 2018 20:48 WIB

Tanggapi Lelang Jabatan Pemprov Jambi, Ihsan Yunus: Harus Lahirkan Pejabat yang Berkompeten


Kajanglako.com, Jambi - Lelang jabatan di lingkungan Pemprov Jambi telah menghasilkan tiga besar nama-nama calon delapan pejabat eselon II. Masing-masing

 

Minggu, 21 Oktober 2018 20:35 WIB

Breaking News!! Dua Orang Tahanan Denpom Jambi Kabur


Kajanglako.com, Jambi - Warga sekitar Detasemen Polisi Militer (Denpom) Jambi dihebohkan dengan kabar kaburnya dua orang tahanan Denpom, Minggu malam (21/10).   Pantauan

 

Kejurwil Panjat Tebing
Minggu, 21 Oktober 2018 20:22 WIB

Panitia Kejurwil Panjat Tebing Gelar Technical Meeting, Ini yang Dibahas


Kajanglako.com, Jambi - Minggu sore, kontestan yang mengikuti Kejurwil se-Sumatera di Provinsi Jambi yang digelar di Venue Garuda Kabupaten Batanghari

 

Minggu, 21 Oktober 2018 16:49 WIB

Jalan Darurat Rasau-Berbak Jadi Keluhan Pengguna Jalan


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Pembangunan jembatan penghubung Kecamatan Rantau Rasau-Berbak, tepatnya di Alahan Desa Rantau Makmur. Untuk sementara

 

Kejurwil Panjat Tebing
Minggu, 21 Oktober 2018 16:22 WIB

16 Atlet Panjat Tebing Jambi Siap Berlaga di Kejurwil


Kajanglako.com, Jambi - Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jambi melepas 16 Atlet Panjat Tebing yang akan berlaga di Kejuaraan Wilayah (Kejurwil)