Minggu, 19 Mei 2019


Sabtu, 02 Maret 2019 07:14 WIB

Terdampar di Dasar Sungai Batanghari

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Schouw Santvoort menyampaikan kepada Sultan bahwa ia akan segera berangkat lagi, melayari tembesi atau Batanghari (tergantung dari tingginya permukaan air).



Ia berniat menunggu kedatangan Raden Hassan atau Pangeran Dipati di muara Tembesi. Sementara menunggu saat untuk berangkat, lelaki Belanda itu telah berhasil menentukan lokasi astronomis Doesoen Tengah dan telah pula membongkar batu bara yang dibawanya dan menyimpan bahan bakar itu di dusun itu.

Schouw Santvoort menyerahkan sebuah senapan Chassepot kepada Sultan sebagai tanda terima kasih dan penghargaan dari KNAG. Warga Doesoen Tengah pun sudah menerima kehadirannya dan ia bahkan telah berteman dengan beberapa orang di antara mereka. Ia menduga bahwa perubahan sikap itu terutama terjadi oleh kemanjuran obat-obatan yang diberikannya kepada warga dusun yang sakit.

Pada tanggal 18 September, kapal uap penjelajahan Sumatera Tengah bertolak lagi. Dua orang penghulu Doesoen Tengah ikut serta sebagai pemandu. Akan tetapi, pelayaran mereka tidak lama. Dalam waktu singkat, perjalanan kapal uap itu terhenti karena dangkalnya sungai. Kapal uap penjelajahan itu tak mungkin dapat berlayar melewati Doesoen Koewab. Bagian tengah sungai—selebar 350 meter—sebagian besar kering sama sekali.

Di antara bagian tengah yang kerontang dan tepian, sungai itu membentuk parit-parit yang di satu sisi memiliki kedalaman setengah meter saja, sementara kedalaman air di sisi yang lain bervariasi di antara 1-4 meter. Di parit ini, dasar sungai terbuat dari tanah liat yang alot bercampur lumpur. Dasar sungai berjenis tanah seperti itu terdapat di Batang Hari sampai ke hulu Doesoen Tengah. Lapisan tanah liat yang tebal di atasnya menekan dan kemudian menyatu.

Karena kapal uapnya terhenti, Schouw Santvoort turun ke atas sebuah biduk untuk meneliti perairan sungai. Keesokan harinya, 19 September, ia kembali. Walau kecewa, ia terpaksa memutuskan untuk menunda perjalanannya sampai saat permukaan air sungai lebih tinggi.

Sebelum meninggalkan Doesoen Tengah, ia sempat menemui Datoek Pajoeng Poetih—kepala adat dari Limoen. Menurut lelaki itu, penduduk di daerahnya sangat ramah dan terbuka. Hampir seminggu kemudian, pada tanggal 25 September, Schouw Santvoort berencana pergi ke Moeara Kompeh untuk membeli batu bara dan ke Djambi untuk membeli perbekalan makanan. Di Doesoen Tengah tidak selalu tersedia beras dan ayam yang dapat dibeli. Untuk berbelanja, kapalnya bertolak ke hilir, padahal ia sudah teramat ingin berlayar ke hulu!

Dari cerita-cerita yang pernah didengarnya, Schouw Santvoort membayangkan Batang Hari sebagai sungai yang bagus, besar dengan arus air yang memungkinkan siapa pun menembus sampai ke jantung Pulau Sumatera. Namun, ternyata sejak kembali dari Batavia, ia hanya mengenal Batang Hari sebagai sungai yang nyaris tak dapat dilayari. Dengan rasa harap-harap cemas ia mendengarkan orang yang mengatakan bahwa perbedaan permukaan air pada waktu air sedang pasang dan surut dapat mencapai 7 meter. Tentulah situasi air dangkal seperti yang dialaminya saat ini tidak akan bertahan lama lagi? Bukankah biasanya, hampir sepanjang tahun, Batang Hari merupakan sungai lebar yang dalam dan yang dapat dilayari dengan mudah oleh kapal-kapal uap?

Bagaimana pun, ia harus menyiapkan rencana alternatif. Seandainya sampai bulan Oktober, permukaan air sungai itu tetap sama dangkalnya dengan bulan-bulan lalu, lebih baik ia menyelesaikan meneliti daerah sungai di hilir Djambi. Peta-peta yang sudah tersedia mengenai daerah itu masih kurang rinci. Gundukan-gundukan pasir di bawah permukaan air dan rintangan-rintangan lainnya belum tertera. Ia harus membuat peta yang baru sama sekali karena banyaknya kerancuan di sketsa awal.

Kapalnya bertolak. Setelah beberapa kali terdampar di dasar sungai, ia tiba malam hari di Doesoen Poelau Betong. Keesokan harinya, ketika sibuk ia menggambarkan pengamatannya di atas peta, Raden Hassan tiba. Lelaki itu naik perahu dan diiringi oleh beberapa orang.  Ia menawarkan bantuannya. Untung saja karena ternyata gundukan-gundukan pasir di dasar sungai sudah bergeser sejak terakhir kali tempat itu dilewati. Sungai itu betul-betul mendangkal. Sepanjang 25 meter, kedalaman sungai di saat kerontang seperti ini hanya mencapai 8 desimeter saja (padahal kapal yang ditumpanginya berkedalaman 10,5 desimeter).

Tentu saja, kapal itu tak dapat bergerak! Dengan bantuan arus air yang tetap menderas dan dengan melempar sauh jauh-jauh, lalu menarik dan mendorong kapal itu melewati gundukan-gundukan pasir di dasar sungai, sedikit demi sedikit, kapal itu bergerak.

Pagi-pagi tanggal 27 September, dasar kapal sudah terendam air lagi. Raden Hassan membalikkan arah perahunya dan kembali ke Doesoen Tengah. Pelayaran di dekat Poelau Betong dan Selat merupakan pelayaran paling sulit dalam perjalanan di antara Djambi dan Doesoen Tengah. Namun, itu bukan satu-satunya tempat dengan rintangan. Mereka baru tiba di Djambi keesokan harinya. 28 September, malam hari.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Sejarah Jambi #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:23 WIB

Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat


Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat Kajanglako.com, Sarolangun – Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:11 WIB

Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair


Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair Kajanglako.com, Sarolangun – Pencairan Dana Dessa (DD) tahap pertama tahun

 

Waspada Kebakaran
Sabtu, 18 Mei 2019 19:53 WIB

Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran


Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran Kajanglako.com, Tanjabtim - Kondisi pemukiman penduduk yang padat, ditambah lagi dengan banyaknya

 

Laporan Keuangan
Sabtu, 18 Mei 2019 19:48 WIB

Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK


Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kembali berhasil meraih predikat opini