Jumat, 23 Agustus 2019


Sabtu, 02 Maret 2019 07:14 WIB

Terdampar di Dasar Sungai Batanghari

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Schouw Santvoort menyampaikan kepada Sultan bahwa ia akan segera berangkat lagi, melayari tembesi atau Batanghari (tergantung dari tingginya permukaan air).



Ia berniat menunggu kedatangan Raden Hassan atau Pangeran Dipati di muara Tembesi. Sementara menunggu saat untuk berangkat, lelaki Belanda itu telah berhasil menentukan lokasi astronomis Doesoen Tengah dan telah pula membongkar batu bara yang dibawanya dan menyimpan bahan bakar itu di dusun itu.

Schouw Santvoort menyerahkan sebuah senapan Chassepot kepada Sultan sebagai tanda terima kasih dan penghargaan dari KNAG. Warga Doesoen Tengah pun sudah menerima kehadirannya dan ia bahkan telah berteman dengan beberapa orang di antara mereka. Ia menduga bahwa perubahan sikap itu terutama terjadi oleh kemanjuran obat-obatan yang diberikannya kepada warga dusun yang sakit.

Pada tanggal 18 September, kapal uap penjelajahan Sumatera Tengah bertolak lagi. Dua orang penghulu Doesoen Tengah ikut serta sebagai pemandu. Akan tetapi, pelayaran mereka tidak lama. Dalam waktu singkat, perjalanan kapal uap itu terhenti karena dangkalnya sungai. Kapal uap penjelajahan itu tak mungkin dapat berlayar melewati Doesoen Koewab. Bagian tengah sungai—selebar 350 meter—sebagian besar kering sama sekali.

Di antara bagian tengah yang kerontang dan tepian, sungai itu membentuk parit-parit yang di satu sisi memiliki kedalaman setengah meter saja, sementara kedalaman air di sisi yang lain bervariasi di antara 1-4 meter. Di parit ini, dasar sungai terbuat dari tanah liat yang alot bercampur lumpur. Dasar sungai berjenis tanah seperti itu terdapat di Batang Hari sampai ke hulu Doesoen Tengah. Lapisan tanah liat yang tebal di atasnya menekan dan kemudian menyatu.

Karena kapal uapnya terhenti, Schouw Santvoort turun ke atas sebuah biduk untuk meneliti perairan sungai. Keesokan harinya, 19 September, ia kembali. Walau kecewa, ia terpaksa memutuskan untuk menunda perjalanannya sampai saat permukaan air sungai lebih tinggi.

Sebelum meninggalkan Doesoen Tengah, ia sempat menemui Datoek Pajoeng Poetih—kepala adat dari Limoen. Menurut lelaki itu, penduduk di daerahnya sangat ramah dan terbuka. Hampir seminggu kemudian, pada tanggal 25 September, Schouw Santvoort berencana pergi ke Moeara Kompeh untuk membeli batu bara dan ke Djambi untuk membeli perbekalan makanan. Di Doesoen Tengah tidak selalu tersedia beras dan ayam yang dapat dibeli. Untuk berbelanja, kapalnya bertolak ke hilir, padahal ia sudah teramat ingin berlayar ke hulu!

Dari cerita-cerita yang pernah didengarnya, Schouw Santvoort membayangkan Batang Hari sebagai sungai yang bagus, besar dengan arus air yang memungkinkan siapa pun menembus sampai ke jantung Pulau Sumatera. Namun, ternyata sejak kembali dari Batavia, ia hanya mengenal Batang Hari sebagai sungai yang nyaris tak dapat dilayari. Dengan rasa harap-harap cemas ia mendengarkan orang yang mengatakan bahwa perbedaan permukaan air pada waktu air sedang pasang dan surut dapat mencapai 7 meter. Tentulah situasi air dangkal seperti yang dialaminya saat ini tidak akan bertahan lama lagi? Bukankah biasanya, hampir sepanjang tahun, Batang Hari merupakan sungai lebar yang dalam dan yang dapat dilayari dengan mudah oleh kapal-kapal uap?

Bagaimana pun, ia harus menyiapkan rencana alternatif. Seandainya sampai bulan Oktober, permukaan air sungai itu tetap sama dangkalnya dengan bulan-bulan lalu, lebih baik ia menyelesaikan meneliti daerah sungai di hilir Djambi. Peta-peta yang sudah tersedia mengenai daerah itu masih kurang rinci. Gundukan-gundukan pasir di bawah permukaan air dan rintangan-rintangan lainnya belum tertera. Ia harus membuat peta yang baru sama sekali karena banyaknya kerancuan di sketsa awal.

Kapalnya bertolak. Setelah beberapa kali terdampar di dasar sungai, ia tiba malam hari di Doesoen Poelau Betong. Keesokan harinya, ketika sibuk ia menggambarkan pengamatannya di atas peta, Raden Hassan tiba. Lelaki itu naik perahu dan diiringi oleh beberapa orang.  Ia menawarkan bantuannya. Untung saja karena ternyata gundukan-gundukan pasir di dasar sungai sudah bergeser sejak terakhir kali tempat itu dilewati. Sungai itu betul-betul mendangkal. Sepanjang 25 meter, kedalaman sungai di saat kerontang seperti ini hanya mencapai 8 desimeter saja (padahal kapal yang ditumpanginya berkedalaman 10,5 desimeter).

Tentu saja, kapal itu tak dapat bergerak! Dengan bantuan arus air yang tetap menderas dan dengan melempar sauh jauh-jauh, lalu menarik dan mendorong kapal itu melewati gundukan-gundukan pasir di dasar sungai, sedikit demi sedikit, kapal itu bergerak.

Pagi-pagi tanggal 27 September, dasar kapal sudah terendam air lagi. Raden Hassan membalikkan arah perahunya dan kembali ke Doesoen Tengah. Pelayaran di dekat Poelau Betong dan Selat merupakan pelayaran paling sulit dalam perjalanan di antara Djambi dan Doesoen Tengah. Namun, itu bukan satu-satunya tempat dengan rintangan. Mereka baru tiba di Djambi keesokan harinya. 28 September, malam hari.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Sejarah Jambi #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah