Jumat, 23 Agustus 2019


Senin, 25 Februari 2019 10:48 WIB

Bertumpuknya Kendala Penjelajahan di Batanghari

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pada tanggal 3 September, kapal uap penjelajahan bertolak lagi, melayari Batanghari. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Schouw Santvoort belumlah berakhir. Lelaki Belanda itu yakin betul bahwa musim kemarau merupakan waktu yang tepat dan paling baik untuk meneliti sungai seperti Batanghari.



Akan tetapi, ia tidak terpikir bahwa justeru pada saat kemarau itulah permukaan air sungai menjadi sangat rendah. Permukaannya menjadi 1,5 meter lebih rendah daripada biasa. Kebetulan pula, kemarau itu teramat panjang dan rendahnya permukaan air bahkan lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Di Djambi, orang memperkirakan bahwa Schouw Santvoort takkan dapat mencapai Doesoen Tengah karena sungai di hulu Doesoen Tengah, di dekat Poelau Selat, bahkan dapat diseberangi dengan berjalan kaki. Di sana, permukaan air sungai hanya mencapai setinggi lutut lelaki dusun di sana (lutut mereka tentulah lebih rendah lagi dibandingkan dengan lutut lelaki Belanda!).

Walaupun rata-rata permukaan air sungai selebar 175-200 meter, namun di beberapa tempat, kedalamannya hanya mencapai 15 desimeter. Setelah sembilan hari, barulah pada tanggal 12 September, Schouw Santvoort dan kapal uapnya tiba kembali di Doesoen Tengah.

Rendahnya permukaan air sungai itu membawa satu keberuntungan. Karenanya, Schouw Santvoort berhasil membuat peta rinci. Ia dapat menentukan lokasi Singet dan Poelau Selat secara astronomis. Sebelum mereka tiba di Doesoen tengah, Raden Hassan datang untuk membantu mencari jalan yang dapat dilayari di sungai. Schouw Santvoort menerima bantuan itu dengan suka hati. Ia betul-betul terkesan oleh kebaikan hati lelaki itu.

Bantuan itu memang sangat diperlukan karena beberapa kali, Schouw Santvoort dan anak buahnya terpaksa turun dari kapal untuk menjajagi kedalam air. Beberapa kali pula kapal uap terdampar di atas gundukan pasir atau lumpur. Sungguh, perjalanan pulang ke Doesoen Tengah menuntut banyak dari kapal uap itu maupun awaknya.

Di hari-hari sulit itu, banyak pula berita yang diterima mengenai sikap bermusuhan Sultan Taha. Tentu saja, berita-berita itu sangat mencemaskan Sultan Djambi yang pada dasarnya memang penakut. Sultan Djambi mengkhawatirkan penerimaan masyarakat di daerah hulu terhadap kedatangan kapal uap penjelajahan itu. Walaupun cemas dan khawatir, Sultan Djambi tetap banyak membantu dan menjelaskan situasi di hulu Djambi, terutama yang berkaitan dengan topik-topik yang akan diteliti.

Mendengar kecemasannya, Schouw Santvoort sedikit-banyak menduga bahwa kekhawatiran itu (bahwa masyarakat di hulu sungai akan bermusuhan) kemungkinan muncul dari pertikaian Sultan Djambi dengan Pangeran Ratoe.

Tampaknya, ia sangat segan dan takut pada para kepala adat di Oeloe Batanghari. Kepada Schouw Santvoort, Sultan Djambi menyatakan bahwa pengaruhnya terlalu kecil untuk membujuk mereka agar membolehkan orang Eropa menjejak darat di daerah itu. Ia bahkan menyangsikan apakah kapal uap penjelajahan takkan diganggu dalam pelayarannya.

“Beberapa tahun lalu, kapal Boni selamat dan berhasil berlayar sampai ke muara Tebo, tanpa gangguan apa pu,” kata Schouw Santvoort.

“Itu lain,” tukas Sultan Djambi. “Kapal Boni adalah kapal yang besar dengan banyak awak kapal dan persenjataan di atasnya. Sekarang, kapal ini sangat kecil dan awak kapalnya sedikit!”

Seandainya Schouw Santvoort ingin berlayar sampai lewat Doesoen Teloek Rendah, Sultan Djambi berpesan agar adiknya, Pangeran Dipati, atau menantunya, Raden Hassan, ikut serta supaya dapat membantu menghadapi sikap permusuhan penduduk di daerah itu. Bila Sultan Djambi sendiri harus melayari Tembesi, ia harus membawa beras dan perbekalan makanan. Ini menunjukkan bahwa pun ia sendiri, Sultan Djambi, belum tentu diterima dengan tangan terbuka di segala tempat. Walaupun demikian, menurut Sultan, penelitian mengenai daerah aliran Tembesi tidak terlalu mengkhawatirkan.

Schouw Santvoort juga sibuk berunding dengan Raden Hassan yang kurang disukainya. Namun, bantuan Raden Hassan diperlukannya sehingga Schouw Santvoort menahan hati. Pada tanggal 13 September, pada malam hari, mereka berbincang lama. Dari sejak awal pertemuan, pk 20.00, sampai akhir, lewat pk 22.00, anak buah Raden Hassan tak beranjak dari tempat mereka berdiri di jendela terbuka di rumah tempat pertemuan itu berlangsung. Hal itu membuat risih Schouw Santvoort yang merasa dirinya menjadi sebuah tontonan.

Raden Hassan seringkali terkesan berusaha mengambil keuntungan dari bantuannya untuk ekspedisi penjelajahan itu; namun, dalam pembicaraan malam itu, ia bersungguh-sungguh. Menurutnya, penduduk Tembesi bukannya tidak menyukai kedatangan/kehadiran orang luar—termasuk orang Eropa; akan tetapi kehadiran orang yang mengenal daerah itu diperlukan untuk memastikan keselamatan kapal.

Berbeda halnya dengan pelayaran di Batang Hari. Pangeran Ratoe dan Sultan sangat tidak menyukai orang Eropa dan penelitian-penelitian yang akan dilakukan. Sikap penduduk setempat terhadap pemerintah Hindia-Belanda sama sekali tidak ramah. Menurut Raden Hassan, Schouw Santvoort lebih baik tidak terlalu optimis akan dapat menemui seorang pun kepala adat dalam penjelajahan itu.

Ia bahkan berpikir bahwa walaupun ia sendiri atau Pangeran Dipati ikut serta, mereka tetap akan menunjukkan sikap bermusuhan dan menolak kedatangan kapal uap penjelajahan (dan peneliti-penelitinya). Dan, mau tidak mau, kapal penjelajahan itu akan terpaksa pergi karena “bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada dirimu, maka akan terjadi perang di antara Sultan dengan orang di Oeloe Djambi.” Demikianlah, diungkapkan oleh Raden Hassan.

Raden Hassan juga menyampaikan bahwa Pangeran Ratoe sebetulnya tidak ingin menjabat sebagai pembantu Sultan. Di kemudian hari, Raden Hassan memperkirakan bahwa dirinyalah yang akan menjadi Pangeran Ratoe. Akan tetapi, jabatan itu baru dapat dipegangnya setelah Pangeran Ratoe, yang kini menjabat,  telah meninggal dunia.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Sejarah Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah