Selasa, 19 Maret 2019

Sabtu, 16 Februari 2019 06:32 WIB

Peralatan yang Rusak dan Awak yang Dipulangkan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pada tanggal 25 Juli, Nakhoda Makkink tiba. Ia menumpang kapal pos dari Batavia. Ia membawa peti-peti perbekalan dan peralatan penjelajahan. Baru sebulan sebelumnya, Juni, kapal pos itu mampir di Djambi.



Di mata penduduk, kapal pos itu tampak dan diduga merupakan kapal perang. Entah berapa banyak orang yang tinggal di antara Moeara Kompeh dan Djambi memutuskan untuk pindah ke tempat lain ketika melihat kedatangan kapal pos itu. Mungkinkah mereka juga mengira bahwa kapal uap penjelajahan merupakan kapal perang?

Sampai tanggal 7 Agustus, Schouw Santvoort sibuk memeriksa peti-peti perbekalan yang baru tiba itu. Agen Polisi menyediakan tenaga beberapa orang narapidana untuk mengangkut dan memindah-mindahkan peti-peti itu, mereka sibuk mempersiapkan kapal uap untuk penjelajahan. Untunglah ada mereka. Di Djambi, tak ada kuli. Bila ia harus mengandalkan tenaga awak kapal uap, pastilah diperlukan waktu yang lebih banyak karena jumlah awak kapal itu hanya sedikit. 

Setelah diperiksa, ternyata ada kerusakan pada peralatan untuk penelitian astronomi, walau alat-alat itu sudah disimpan dengan hati-hati oleh Dr Kaiser di Leiden, sebelum diberangkatkan. Dalam perjalanan, di atas kapal, peti-peti penyimpanan peralatan itu terantuk-antuk sehingga alat-alat di dalamnya rusak. Di dalam peti, semua penunjuk kompas bengkok dan terlepas dari cincin tembaga yang mengikatnya dan kaca-kaca pelindungnya pecah. Schouw Santvoort berhasil memperbaiki kompas yang menggunakan cairan, akan tetapi kompas azimut tak dapat diapa-apakan lagi.

Peralatan pengukur lainnya yang rusak juga dapat diperbaiki, tetapi hasilnya tidak tentu dan banyak menyimpang. Hasil pengukuran alat-alat itu tidak dapat lagi dianggap tepat. Untunglah, alat-alat pengukur waktu tidak rusak. Penentuan tempat secara astonomis masih dapat dilakukan.

Di Belanda, Prof Oudemans sudah menentukan Djambi dan Moeara Kompeh sebagai titik-titik tolak sehingga Schouw Santvoort dapat mengukur jarak yang tepat dengan menggunakan titik-titik tolak itu dan alat pengukuran waktu.

Barometer, untuk pengukuran meteorologi yang dipinjam dari sebuah kapal di Batavia, ternyata juga rusak. Untunglah, Schouw Santvoort berhasil meminjam peralatan serupa dari Dr van Riemsdijk, perwira kesehatan di Palembang. Ternyata pula, bukan hanya peralatan penelitian saja yang mengalami kerusakan. Persenjataan yang disiapkan dan dibawa rupanya juga rusak karena terlalu lama tersimpan di dalam peti. Namun, senjata-senjata dapat diperbaiki lagi. Peralatan lainnya—termasuk barang-barang pecah-belah—tiba dengan selamat di Djambi.

Bukan itu saja kendala yang harus dihadapi. Kapal pengangkut batu bara, yang dibawa ke Doesoen Tengah, ternyata semakin lama semakin tidak kuat mengangkut batu bara yang diperlukan. Kapal itu harus diganti. Schouw Santvoort baru berhasil mencarikan sebuah kapal pengganti di minggu pertama bulan Agustus.

Sayangnya, kapal baru itu hanya dapat dimuat dengan 3 atau 4 ton baru bara saja. Perahu-perahu yang ada di Djambi merupakan perahu-perahu ringan yang kurang bagus. Tak ada perahu besar yang betul-betul kedap air. Perahu-perahu itu bahkan tidak kedap dalam keadaan kosong.

Pada tanggal 7 Agustus, mereka berangkat ke Moeara Kompeh untuk memeriksa dan membetulkan kapal uap mereka. Awal Agustus merupakan saat-saat terpanas. Namun, mereka terpaksa menghabiskan waktu beberapa minggu di sana, demi perbaikan kapal. Lebih dari separuh awak kapal jatuh sakit. Awak kapal yang tidak sakit mulai mengeluhkan ketidak-nyamanan terus-menerus menginap di atas sebuah kapal uap.

Untunglah, masinis Hermans (yang seperti juga Nakhoda Makkink, menjadi panutan para awak pribumi) berhasil memperbaiki kerusakan di kapal itu, dalam waktu yang relatif singkat.

Pada tanggal 23 Agustus, mereka berangkat lagi, kembali ke Djambi, membawa tambahan batu bara. Muatan yang sebelumnya, sebanyak kira-kira 6 ton, telah dibongkar dan disimpan di Doesoen Tengah berkat bantuan Sultan.

Schouw Santvoort mulai bosan melihat lumpur dari banjir sungai. Ia sendiri mulai demam. Walaupun, ia masih sanggup terus bekerja,  daya tahan tubuhnya terasa mulai menurun.

Di antara awak kapal yang dibawa dari Pulau Jawa, ada juga beberapa orang yang rupanya kurang cocok bergaul dengan orang Djambi. Perbedaan sifat dan sikap sesama orang pribumi dari sukubangsa yang berlainan cukup besar dan berpengaruh negatif. Pun, banyak pula awak kapal dari Batavia itu yang kurang baik melakukan aneka pekerjaan di atas kapal uap dan kurang dapat menyesuaikan diri dengan keterbatasan di atas sebuah kapal kecil.

Bukan hanya sekali dua kali saja Schouw Santvoort harus menghadapi sikap enggan awak-awak kapal dari Batavia itu. Karena itu, ia terpaksa memutuskan untuk mengirim  pulang saja sebagian awak kapal itu. Mereka kembali ke Batavia dengan kapal pos.

Setelah mereka berangkat, barulah ia mengetahui bahwa salah seorang di antaranya baru saja diajukan ke pengadilan militer karena suatu pelanggaran (sebelum berangkat ke Djambi). Awak kapal yang lain pernah menolak melakukan tugasnya dan telah beberapa kali dikenakan hukuman di atas kapal tempatnya bertugas.

Di bawah pengawasan ketat sebuah kapal perang pun mereka berani melakukan hal itu. Bayangkanlah sikap mereka ketika berada di bawah kekuasaan pemimpin non-militer dan di atas kapal yang tidak memiliki sarana dan fasilitas untuk menjatuhkan hukuman!

Schouw Santvoort berusaha mengganti awak kapal yang dipulangkannya itu dengan orang-orang setempat. Itu tidaklah mudah dilakukan karena penduduk setempat dianggapnya kurang aktif dan cekatan; lagipula seseorang harus bekerja beberapa lama di atas kapal untuk dapat berfungsi dengan baik sebagai pelaut atau petugas penjaga mesin uap. Untuk sementara, seseorang yang biasa bekerja di kapal uap milik Sultan dan seorang pelaut dari Djambi dapat dipekerjakan sebagai awak kapal penjelajahan.

Ketika repot-repotnya mengatur pergantian awak kapal, Schouw Santvoort juga terpaksa memulangkan Si Pandang Alam, lelaki yang selama ini bertugas sebagai Juru Tulis. Lelaki itu telah mendampinginya dalam penjelajahan awal, namun lama-lama, semakin jelas bahwa ia kurang dapat dipercaya dan tidak cocok ditugaskan melakukan transaksi dengan kain-kain dan cenderamata lainnya yang dibawa dari Batavia. Lelaki itu tidak dapat dipercaya memegang uang. Tak dapat tidak, ia harus dipecat.

Schouw Santvoort menyesal tidak mendengarkan nasehat van Hasselt untuk tidak mengangkat Si Pandang Alam sebagai Juru Tulis. Nyatanya, dalam perjalanan, lelaki itu berkali-kali berbohong dan membuat kekacauan. Schouw Santvoort kini terpaksa memecatnya. Dari dana pribadinya, ia memberikan uang sebesar ƒ100,- sebagai ongkos pengiriman barang dan transportasi kembali ke Padang dari Batavia. Pun, Si Pandang Alam, dipulangkan dengan kapal pos.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Sejarah Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah #Naskah Klasik Belanda #Jambi-Batavia #Moeara Kompeh



Berita Terbaru

 

Senin, 18 Maret 2019 21:04 WIB

Jadi Sorotan, PT Balsa Belum Jalankan Standar K3


Kajanglako.com, Sarolangun - Dinas Tenaga Kerja Sarolangun kembali menyoroti perusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi standar aturan Keselamatan dan Kesehatan

 

Senin, 18 Maret 2019 20:48 WIB

Hadiri Sertijab Kepala BPK Jambi, Ini yang Disampaikan Bupati Safrial


Kajanglako.com, Jambi - Bupati Tanjab Barat, Safrial, menghadiri Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jambi,

 

Senin, 18 Maret 2019 20:46 WIB

Sertijab Kepala BPK RI Perwakilan Jambi, Fachrori: Ini Semangat Baru Tata Kelola Keuangan yang Baik


Kajanglako.com, Jambi - Serah Terima Jabatan Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Jambi dari Parna, kepada Hery Ridwan, berlangsung

 

Senin, 18 Maret 2019 20:45 WIB

Pemprov Akomodir Pokok-pokok Pikiran RKPD 2020 DPRD Provinsi Melalui e-Pokir


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar mengemukakan, Pemerintah Provinsi Jambi telah menyediakan sebuah aplikasi yang bernama e-Pokir untuk

 

Senin, 18 Maret 2019 19:38 WIB

Pemkab Sarolangun Anggarkan Rp5 Miliar untuk Berantas Buta Aksara Alqur'an


Kajanglako.com, Sarolangun - Angka buta aksara Alqur'an di Kabupaten Sarolangun masih terbilang cukup tinggi, Pemkab Sarolangun pun sangat serius untuk