Senin, 26 Agustus 2019


Senin, 11 Februari 2019 12:41 WIB

Berkunjung ke KNAG dan Bermalam di Kediaman Frieda Amran

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

ilustrasi. sumber: https://geografie.nl/

Oleh: Irmawati Sagala*

Saat itu saya tengah memotret ranji silsilah keturunan raja-raja Jambi di ruang koleksi khusus perpustakaan Universitas Leiden. Sebenarnya agak susah memotretnya karena kertas ukuran besar dan tak ada tangga bantu untuk lebih tinggi menjangkau meja. Di samping itu, saya mesti menjaga suasana perpustakaan sebab ada beberapa pengunjung lain yang sedang khusuk dengan bacaan masing-masing.



Salah seorangnya duduk di depan saya: seorang lelaki kurus berkaca mata, yang bisa dikenali ke-Indonesia-annya dari jarak beberapa kilo meter, sakin khasnya. Tampang seriusnya membuat saya urung menyapa. Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya menyapa saya, yang begitu melihat wajah beliau segera saya kenali sebagai pemilik nama Frieda Amran. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba, sudah mencari-cari kontak malah didatangi langsung orangnya.

Hal yang juga membuat saya tertawa adalah ketika si Ibu menjelaskan bahwa temannya yang memberi tahu bahwa ada orang dari Jambi di pustaka yang lagi cari data. Dan teman beliau itu adalah lelaki kurus berkaca mata yang duduk di depan saya. Tadinya saya kira beliau tak menghiraukan ada orang Indonesia di depannya. Lelaki bernama Arman AZ itu pun kemudian menjadi sahabat baru saya yang selalu setia bertukar cerita tentang manuskrip-manuskrip Sumatera Tengah.

Persis seperti foto-foto beliau di media sosial yang penuh senyum ceria, sosok Bu Frieda sangat ramah dan ceria. Salah satu alasan yang mendorong saya mengenal beliau lebih jauh adalah bacaan atas terjemahan beliau tentang hikayat negeri Jambi yang terbit secara rutin tiap akhir pekan di media online Kajanglako ini.

Pertemuan singkat dan tak sengaja saya dengan Bu Frieda di perpustakaan Universitas Leiden berlanjut dengan komunikasi di media sosial. Sesuai dengan kesepakatan, saya mengunjungi rumah beliau di kota Bergen op Zoom, sekitar setengah jam perjalanan kereta dari kota Den Haag dan dekat kota Antwerpen di Belgia.

Ki-ka: Irma, Frieda Amran dan Arman AZ. Dok. Frieda.

Senin sore di bawah rintik hujan, kami bertemu di stasiun kereta Bergen Op Zoom, lalu menuju ke rumah beliau yang berjarak sekitar 15 menit. Di rumah, suami beliau yang berdarah campuran Jawa-Belanda menyambut dengan ramah. Sambil berbincang, Bu Frieda memasak soto ayam yang rasanya dijamin enak. Lama kami berbincang sambil menonton di ruang tamu dengan penghangat tradisional bakaran kayu. Aroma bakaran kayu memberikan kehangatan khas di rumah besar yang hanya berpenghuni sepasang mantan sahabat itu. Keempat anak mereka tinggal terpisah. Si sulung sudah berkeluarga. Putri kedua tengah memulai kariernya di bidang animasi di kota Utrecht, sedang dua putra terakhir tengah kuliah di Leiden dan Antwerpen.

Dua hari dua malam saya bertamu di rumah besar dengan halaman luas itu. Sehari kami habiskan ke kota Utrecht, bertemu dengan direktur Het Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap (KNAG) dan mengunjungi putri kedua beliau, serta berkunjung ke rumah Bu Elsbeth.

Di KNAG kami berdiskusi tentang peluang napak tilas ekspedisi Sumatera Tengah di wilayah Jambi, mengenang ekspedisi yang pernah dilakukan peneliti KNAG lebih seabad lalu. Meski memasuki usia ke-60 tahun ini, beliau masih sangat prima untuk mengendara mobil antar kota yang berjarak 1,5 jam perjalanan. Itu pun tetap dalam wajah ceria dengan berbagai cerita masa lalu, proyek-proyek saat ini serta ide-ide ke depan.

Kami berbincang tentang ilmuwan-ilmuwan, buku-buku, museum-museum, pustaka-pustaka dan sebagainya. Salah satu perbincangan menarik kami adalah bagaimana pentingnya membangun jejaring lokal dan internasional untuk mengembangkan kajian sejarah daerah. Keterbukaan untuk saling berbagi gagasan serta bahan-bahan kajian di kalangan peneliti lokal Indonesia, khususnya Sumatera Tengah, masih perlu ditumbuh-kembangkan.

Selebihnya, kemampuan bahasa pendukung yang juga masih sangat kurang. Sebuah semangat kerja dan optimisme yang seolah tak bertepi. Akankah saya mampu segesit beliau 20 tahun mendatang? Pertanyaan itu berulang kali mengusik alam sadar saya.

Hari kedua kami hanya berdiam di rumah, mencermati bahan-bahan yang “diwariskan” Bu Elsbeth dan menulis. Meja makan di dapur itu adalah ruang kerja beliau, terasa khas emak-emak yang tak bisa jauh dari dapur. Setelah lewat tengah hari, kami menutup kegiatan dengan maskeran bubuk kopi. Dengan wajah menghitam dibalut bubuk kopi bahkan kami sempat berfoto sambil tertawa gembira, seperti anak-anak remaja yang menikmati waktu luang. Sudah lama sekali sejak terakhir saya melakukan hal serupa dengan teman-teman kos saat kuliah S-1 dulu. Lagi-lagi saya kagum dengan lulusan Antropologi Universitas Indonesia itu.

Selain mengurus keluarga dengan empat orang anak, menulis dan aktivitas profesional lain, beliau tetap punya cukup me-time, termasuk silaturrahim dengan tetangga dan sahabat-sahabat di berbagai tempat. Pelajaran berharga dari silaturrahim kali ini adalah kualitas hidup menentukan produktivitas. Dan, kualitas hidup itu adalah tentang seni kita mengatur ritme keseharian.  

Kembali ke Paris

Setelah sebulan belajar di Belanda, saatnya kembali belajar di Paris. Masih banyak bahan yang perlu saya gali di kota ini. Salah satunya adalah informasi dari Kepala Seksi Pernaskahan Museum Siginjai Jambi bahwa ada sekumpulan surat sultan nusantara, termasuk surat sultan Jambi, di Musée dua Louvre. Entah informasi ini valid atau tidak, saya harus mencarinya. Selain itu, perpustakaan nasional Perancis dan beberapa perpustakaan lain di Paris juga menunggu untuk “dibongkar” dalam waktu 3 bulan yang tersisa.

 *Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen Ilmu Pemerintahan UIN STS Jambi.


Tag : #Sejarah Jambi #Ekspedisi Belanda ke Jambi #KNAG



Berita Terbaru

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 15:14 WIB

Ikut Panjat Pinang, Aksi Warga Berkebutuhan Khusus Bius Penonton


Ikut Panjat Pinang, Aksi Warga Berkebutuhan Khusus Bius Penonton Kajanglako.com. Jambi – Kemeriahan perayaan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 14:48 WIB

Masyarakat Tuna Rungu dan Wicara Curhat, Minta Diperhatikan sama Gubernur


Masyarakat Tuna Rungu dan Wicara Curhat, Minta Diperhatikan sama Gubernur Kajanglako.com. Jambi - Saat lomba panjat pinang yang digelar pemerintah Provinsi

 

Minggu, 25 Agustus 2019 14:10 WIB

Kadivre Bulog Jambi Minta Masyarakat Bersabar, Akhir Agustus Daging Beku Masuk 50 Ton


Kadivre Bulog Jambi Minta Masyarakat Bersabar, Akhir Agustus Daging Beku Masuk 50 Ton  Kajanglako.com. Jambi - Hampir satu bulan terakhir stok daging

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 11:54 WIB

Dapat Hadiah Motor, Ibu Ini Langsung Tancap Gas di Tengah Kerumunan Warga


Dapat Hadiah Motor, Ibu Ini Langsung Tancap Gas di Tengah Kerumunan Warga Kajanglako.com. Jambi - Nanda, seorang tenaga pendidik bagian tenaga administrasi

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 11:33 WIB

40 Lebih Pohon Pinang Berhadiah Ludes Dipanjat Warga dalam 1 Jam


40 Lebih Pohon Pinang Berhadiah Ludes Dipanjat Warga dalam 1 Jam Kajanglako.com. Jambi - Masyarakat dari berbagai kalangan terlihat sangat antusias mengikuti