Sabtu, 23 Februari 2019


Sabtu, 09 Februari 2019 10:44 WIB

Raja Pelanei dan Tjandi di Moeara Djambi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Konon, di tempat yang lebih jauh ke pedalaman, ada arca-arca lain. Mereka meneruskan perjalanan untuk mencarinya, sementara arca sapi yang tadi dilihat terus digali. Setelah berjalan kira-kira 3 pal jauhnya ke arah sebelah barat laut, melalui rawa-rawa, mereka tiba di dataran yang terletak agak tinggi.



Dataran itu tidak terendam air pada saat air pasang, berbeda dengan dusun Moeara Djambi yang banjir sampai 1.3 meter di atas tanah pada saat itu. Di tengah-tengahnya, daerah itu membentuk bukit berbatu bata merah. Daerah itu disebut sebagai ‘Tjandi’ oleh penduduk di sekitarnya.

Schouw Santvoort mencatat legenda yang diceritakan mengenai candi itu. Di Boekit Singoean—yang juga disebut Toeroenan—tinggal seorang raja bernama Pelanei. Raja Pelanai memerintahkan seorang budaknya untuk  membuka ladang.

Namun, entah karena malas atau karena tugas itu terlalu berat, ladang yang ditunggu-tunggu tak kunjung selesai. Lama-kelamaan, kemarahan Raja Pelanai memuncak. Ia menitahkan bahwa ladang itu harus selesai dan siap ditanam dalam batas waktu tertentu.

Waktu berlalu dan ambang batas yang ditentukan raja semakin mendekat, akan tetapi ladang itu masih jauh dari siap. Pada suatu malam, seorang lelaki sakti yang tidak dikenal, mendatangi Si Budak.

“Adakah keinginan yang menyesak di hatimu?” tanya lelaki itu. Si Budak mengeluh dan menjawab bahwa ia tak sanggup menjalankan perintah Raja untuk membuka ladang. Dapatkah lelaki sakti itu membantunya?

Lelaki sakti itu meludah di dalam mulut ternganga budak tadi. “Mulai sekarang, kau akan mampu menumbangkan pohon sebesar apa pun!” ujarnya.

Malam itu juga, Si Budak menumbangkan pepohonan, membersihkannya dan sebelum fajar menyingsing, ladang itu telah siap ditanam. Bukan main senangnya Raja Pelanai. Di matanya, budak itu kini bukan lagi pemalas, melainkan orang yang dapat diandalkan untuk memberikan bantuan.

Tak lama kemudian, Raja Pelanai bepergian, mengunjungi Moeara Djambi. Ia mendengar kabar tentang seorang puteri jelita yang tinggal tak jauh dari dusun itu, di tepian Soengei Djambi Ketjil. 

Raja Pelanai seketika jatuh cinta dan melamar puteri itu. Sang Puteri mengangguk setuju. Ia bersedia menikah dengan Raja Pelanai bila dalam waktu satu malam, lelaki itu berhasil mendirikan sebuah candi yang tingginya menggapai langit.  

Dalam bayangan Sang Puteri, syarat yang diajukannya takkan mungkin dapat dipenuhi oleh Raja Pelanai. Akan tetapi, Raja Pelanai teringat pada budaknya yang berkemampuan sakti. Ia merasa yakin, tuntutan Sang Puteri dapat dipenuhinya. Mulailah Si Budak membangun candi. Bangunan pemujaan itu semakin lama semakin tinggi dan tampaknya segera saja puncaknya akan mencapai langit. Sebelum matahari menyingsing di ufuk, Sang Puteri segera memerintahkan agar kaum perempuan melakukan  ‘poekoel kapas’  yang menandakan datangnya hari baru.

Candi itu belum selesai. Syarat yang dituntut oleh Sang Puteri tidak terpenuhi. Tentu saja Raja Pelanai kecewa dan marah. Dengan kesal, ia memerintahkan budak-budaknya untuk membongkar lagi candi itu. Sejak itulah dan karena itulah, batu-batu bata candi yang terdapat di dusun Moeara Djambi itu berserakan dan bertumpuk-tumpuk begitu saja.

Di kaki bukit ini terdapat patung Hindu yang menggambarkan kepala seekor ayam. Paruhnya terpatah. Ayam itu terbuat dari jenis batu yang sama dengan arca sapi. Batu bata merah, yang berserak membentuk bukit itu, masih banyak yang utuh dan berukuran seragam. Hanya beberapa batu saja, yang dulu tampaknya merupakan bagian pinggir stupa, dibentuk  membulat. Kemungkinan besar, batu-batu bata yang dibakar itu berasal dari zaman Majapahit. Batu bata seperti itu memang biasanya digunakan untuk pembangunan kraton raja atau sultan  Djambi yang ditaklukkan tahun 1858. Konon, batu-batu bata seperti itu sering juga digunakan ulang, misalnya di Pulau Jawa, untuk membangun beberapa pabrik gula. Di tengah-tengah bukit tadi tumbuh sebatang pohon rengas yang besar. Akar-akarnya menyeruak di antara tumpukan bebatuan.

Setelah Schouw Santvoort melukis arca-arca yang dilihatnya, Pamangkoe meminta izin untuk menguburkan kembali arca sapi untuk menenangkan hati warga dusun. Ketika arca sapi itu digali pagi-pagi, sebagian besar warga kampung sudah berangkat ke ladang masing-masing. Sore hari, menjelang malam, ketika mereka pulang ke dusun, banyak orang di antara mereka yang terkejut dan takut melihat sosok seorang lelaki Belanda dan arca yang tampak aneh di mata mereka.

Pada tanggal 24 Juli, Schouw Santvoort mengunjungi Gedang,  yang rupanya juga memiliki tinggalan bebatuan purbakala.  Ia dan para pemandunya berjalan sejauh 1.5 pal ke arah barat daya, mengikuti aliran sungai. Seperti juga Tjandi, Gedang merupakan daerah yang terletak agak tinggi. Di tempat itu banyak diketemukan batu bata yang berukuran dan berbentuk seragam.

Pun di sini, aneka tanaman belantara telah menyeruak di antara tumpukan bebatuan purbakala itu. Di tempat ini tak diketemukan arca-arca Hindu. Setelah mencari jalan dengan susah-payah di rawa-rawa dan di antara tetumbuhan berduri-duri tajam, tiadanya arca itu sungguh mengecewakan.

Jalan ke tempat itu memang sulit sekali dilalui; hanya beberapa kali saja mereka melewati lahan yang sedang dipersiapkan untuk ladang. Walaupun penduduk Moeara Djambi tidak diwajibkan membayar sewa atau pajak tanah kepada Sultan dan bebas saja mengolah tanah untuk keperluan pertanian, namun tak banyak yang melakukannya karena tanah di daerah itu tidak terlalu subur.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Percandian Muarojambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Februari 2019 20:06 WIB

Warga Kecewa Tak Diikutkan Rapat Pemkab Muarojambi dengan PT BBS


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Konflik kepemilikan lahan antara 4 desa dalam Kecamatan Kumpe dengan PT Bukit Bintang Sawit (BBS) sepertinya akan semakin

 

Jumat, 22 Februari 2019 19:49 WIB

Jalan Santai Meriahkan Peringatan Hari K3 di Tanjabbar, Bupati Safrial Hadir Langsung


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat menggelar gerak jalan santai dalam memeriahkan peringatan bulan Keselamatan

 

Jumat, 22 Februari 2019 19:18 WIB

Resmikan Gedung BLK, Bupati Safrial: Harus Ciptakan Pekerja Berkualitas dan Membanggakan Daerah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Bupati Tanjab Barat, H Safrial, meresmikan Operasional UPTD Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Tanjung Jabung Barat

 

Jumat, 22 Februari 2019 18:56 WIB

Peringati HPNS, OPD Bungo dan Instansi Vertikal Gelar Gotong Royong Bersama


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo melalui Dinas Lingkungan Hidupmenggelar gotong royong bersama dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional

 

Jumat, 22 Februari 2019 18:55 WIB

Bupati Mashuri Tinjau Lokasi Arena MTQ ke-49 Tingkat Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Bungo - Jelang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) ke-49 Provinsi Jambi tahun 2019. Pemerintah Kabupaten Bungo kesekian kalinya menggelar rapat