Selasa, 23 Juli 2019


Sabtu, 09 Februari 2019 10:44 WIB

Raja Pelanei dan Tjandi di Moeara Djambi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Konon, di tempat yang lebih jauh ke pedalaman, ada arca-arca lain. Mereka meneruskan perjalanan untuk mencarinya, sementara arca sapi yang tadi dilihat terus digali. Setelah berjalan kira-kira 3 pal jauhnya ke arah sebelah barat laut, melalui rawa-rawa, mereka tiba di dataran yang terletak agak tinggi.



Dataran itu tidak terendam air pada saat air pasang, berbeda dengan dusun Moeara Djambi yang banjir sampai 1.3 meter di atas tanah pada saat itu. Di tengah-tengahnya, daerah itu membentuk bukit berbatu bata merah. Daerah itu disebut sebagai ‘Tjandi’ oleh penduduk di sekitarnya.

Schouw Santvoort mencatat legenda yang diceritakan mengenai candi itu. Di Boekit Singoean—yang juga disebut Toeroenan—tinggal seorang raja bernama Pelanei. Raja Pelanai memerintahkan seorang budaknya untuk  membuka ladang.

Namun, entah karena malas atau karena tugas itu terlalu berat, ladang yang ditunggu-tunggu tak kunjung selesai. Lama-kelamaan, kemarahan Raja Pelanai memuncak. Ia menitahkan bahwa ladang itu harus selesai dan siap ditanam dalam batas waktu tertentu.

Waktu berlalu dan ambang batas yang ditentukan raja semakin mendekat, akan tetapi ladang itu masih jauh dari siap. Pada suatu malam, seorang lelaki sakti yang tidak dikenal, mendatangi Si Budak.

“Adakah keinginan yang menyesak di hatimu?” tanya lelaki itu. Si Budak mengeluh dan menjawab bahwa ia tak sanggup menjalankan perintah Raja untuk membuka ladang. Dapatkah lelaki sakti itu membantunya?

Lelaki sakti itu meludah di dalam mulut ternganga budak tadi. “Mulai sekarang, kau akan mampu menumbangkan pohon sebesar apa pun!” ujarnya.

Malam itu juga, Si Budak menumbangkan pepohonan, membersihkannya dan sebelum fajar menyingsing, ladang itu telah siap ditanam. Bukan main senangnya Raja Pelanai. Di matanya, budak itu kini bukan lagi pemalas, melainkan orang yang dapat diandalkan untuk memberikan bantuan.

Tak lama kemudian, Raja Pelanai bepergian, mengunjungi Moeara Djambi. Ia mendengar kabar tentang seorang puteri jelita yang tinggal tak jauh dari dusun itu, di tepian Soengei Djambi Ketjil. 

Raja Pelanai seketika jatuh cinta dan melamar puteri itu. Sang Puteri mengangguk setuju. Ia bersedia menikah dengan Raja Pelanai bila dalam waktu satu malam, lelaki itu berhasil mendirikan sebuah candi yang tingginya menggapai langit.  

Dalam bayangan Sang Puteri, syarat yang diajukannya takkan mungkin dapat dipenuhi oleh Raja Pelanai. Akan tetapi, Raja Pelanai teringat pada budaknya yang berkemampuan sakti. Ia merasa yakin, tuntutan Sang Puteri dapat dipenuhinya. Mulailah Si Budak membangun candi. Bangunan pemujaan itu semakin lama semakin tinggi dan tampaknya segera saja puncaknya akan mencapai langit. Sebelum matahari menyingsing di ufuk, Sang Puteri segera memerintahkan agar kaum perempuan melakukan  ‘poekoel kapas’  yang menandakan datangnya hari baru.

Candi itu belum selesai. Syarat yang dituntut oleh Sang Puteri tidak terpenuhi. Tentu saja Raja Pelanai kecewa dan marah. Dengan kesal, ia memerintahkan budak-budaknya untuk membongkar lagi candi itu. Sejak itulah dan karena itulah, batu-batu bata candi yang terdapat di dusun Moeara Djambi itu berserakan dan bertumpuk-tumpuk begitu saja.

Di kaki bukit ini terdapat patung Hindu yang menggambarkan kepala seekor ayam. Paruhnya terpatah. Ayam itu terbuat dari jenis batu yang sama dengan arca sapi. Batu bata merah, yang berserak membentuk bukit itu, masih banyak yang utuh dan berukuran seragam. Hanya beberapa batu saja, yang dulu tampaknya merupakan bagian pinggir stupa, dibentuk  membulat. Kemungkinan besar, batu-batu bata yang dibakar itu berasal dari zaman Majapahit. Batu bata seperti itu memang biasanya digunakan untuk pembangunan kraton raja atau sultan  Djambi yang ditaklukkan tahun 1858. Konon, batu-batu bata seperti itu sering juga digunakan ulang, misalnya di Pulau Jawa, untuk membangun beberapa pabrik gula. Di tengah-tengah bukit tadi tumbuh sebatang pohon rengas yang besar. Akar-akarnya menyeruak di antara tumpukan bebatuan.

Setelah Schouw Santvoort melukis arca-arca yang dilihatnya, Pamangkoe meminta izin untuk menguburkan kembali arca sapi untuk menenangkan hati warga dusun. Ketika arca sapi itu digali pagi-pagi, sebagian besar warga kampung sudah berangkat ke ladang masing-masing. Sore hari, menjelang malam, ketika mereka pulang ke dusun, banyak orang di antara mereka yang terkejut dan takut melihat sosok seorang lelaki Belanda dan arca yang tampak aneh di mata mereka.

Pada tanggal 24 Juli, Schouw Santvoort mengunjungi Gedang,  yang rupanya juga memiliki tinggalan bebatuan purbakala.  Ia dan para pemandunya berjalan sejauh 1.5 pal ke arah barat daya, mengikuti aliran sungai. Seperti juga Tjandi, Gedang merupakan daerah yang terletak agak tinggi. Di tempat itu banyak diketemukan batu bata yang berukuran dan berbentuk seragam.

Pun di sini, aneka tanaman belantara telah menyeruak di antara tumpukan bebatuan purbakala itu. Di tempat ini tak diketemukan arca-arca Hindu. Setelah mencari jalan dengan susah-payah di rawa-rawa dan di antara tetumbuhan berduri-duri tajam, tiadanya arca itu sungguh mengecewakan.

Jalan ke tempat itu memang sulit sekali dilalui; hanya beberapa kali saja mereka melewati lahan yang sedang dipersiapkan untuk ladang. Walaupun penduduk Moeara Djambi tidak diwajibkan membayar sewa atau pajak tanah kepada Sultan dan bebas saja mengolah tanah untuk keperluan pertanian, namun tak banyak yang melakukannya karena tanah di daerah itu tidak terlalu subur.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Percandian Muarojambi



Berita Terbaru

 

Menggugat Hasil Pileg 2019
Selasa, 23 Juli 2019 12:30 WIB

Sidang PHPU PKB Provinsi Jambi Lanjut Dipersidangan Pembuktian


Sidang PHPU PKB Provinsi Jambi Lanjut Dipersidangan Pembuktian Kajanglako.com, Jakarta - Eksepsi yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pihak terkait

 

Polemik Cawagub Jambi
Selasa, 23 Juli 2019 12:24 WIB

Pilih Opsi Dua, Cornelis: Sekarang Bola Panas kita Lempar ke Gubernur


Pilih Opsi Dua, Cornelis: Sekarang Bola Panas kita Lempar ke Gubernur Kajanglako.com, Jambi – Melalui jumpa pers yang digelar, Selasa (23/07), pimpinan

 

Polemik Cawagub Jambi
Selasa, 23 Juli 2019 12:17 WIB

Sesuai Saran Pansel, Pimpinan Dewan pun Akhirnya Pilih Opsi Kedua


Sesuai Saran Pansel, Pimpinan Dewan pun Akhirnya Pilih Opsi Kedua Kajanglako.com, Jambi – Saran Panitia Seleksi (Pansel), melalui Ketua Pansel Nasri

 

Selasa, 23 Juli 2019 12:04 WIB

Tim Hongaria Uji Kualitas Air Perumda PDAM Merangin


Air Perumda PDAM Merangin di Uji Kualitasnya oleh Tim dari Hongaria Kajanglako.com, Merangin - Tim dari Hongaria turun langsung ke Perumda PDAM Desa Air

 

Kejurnas Dayung Pelajar 2019
Selasa, 23 Juli 2019 12:01 WIB

Bersama Walikota Jambi, Gubernur Fachrori Bahas Persiapan Kejurnas Dayung di Ruang Kerjanya


Bersama Walikota Jambi, Gubernur Fachrori Bahas Persiapan Kejurnas Dayung di Ruang Kerjanya Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, berharap