Rabu, 20 November 2019


Rabu, 06 Februari 2019 12:35 WIB

Nationaal Archief Deen Haag: Catatan Perjalanan Penelusuran Arsip Sejarah Jambi (II)

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Ket: Gedung Nationaal Archief di Den Haag Belanda. Sumber: thevirtualdutchmen.com

Oleh Irmawati Sagala*

Awal Desember 2018 saya berangkat belajar ke Den Haag dengan bus malam. Perjlanan sekitar 7 jam dengan bus lebih ramah untuk anggaran mahasiswa. Tiket bus berada pada kisaran 16-20 euro, yang jika naik kereta bisa lebih 5 kali lipat.



Untuk efisiensi biaya, keberangkatan kali ini saya desain 1 bulan untuk belajar di Den Haag dan kembali ke Leiden seperti saya tuliskan sebelumnya. Syukurnya saya mendapat kos murah, di rumah keluarga Indonesia yang sudah belasan tahun tinggal di Belanda.

Sebuah kamar dengan fasilitas lengkap dan sarapan pagi dihargai 375 euro, jauh lebih murah dibanding standar kos di Den Haag. Lagi-lagi, hubungan pertemananlah yang mempertemukan saya pada kemudahan ini.

Sebagai kota pusat pemerintahan negara, Den Haag jauh dari kesan hirup pikuk kota Metropolitan. Meski jumlah kendaraan lebih banyak dibandingkan Leiden, jalanan Den Haag jarang sekali macet seperti kota-kota ibu kota provinsi di Indonesia, apatah lagi Jakarta.

Sama seperti Leiden, dua tahun lalu saya juga sudah mengelilingi Den Haag sehingga sudah cukup familiar. Pusat kota dan sebagian besar tempat-tempat wisata sudah saya kunjungi. Toko/rumah makan asiatik dan Turki bertebaran hampir di setiap sudut kota, seperti juga sangat mudah menemukan orang-orang Asia termasuk Indonesia di bentangan kota. Bahkan beberapa nama jalan di sini juga berasal dari Indonesia. Hubungan ratusan tahun itu meninggalkan jejak yang cukup dalam.

Nationaal Archief tempat saya belajar berada tepat di belakang stasiun sentral Den Haag. Dari kos, saya membutuhkan waktu 15 menit perjalanan bus atau 50 menit dengan berjalan kaki.

Namun saya memilih berjalan kaki saat berangkat di pagi hari dan naik bus saat pulang di sore hari. Hampir setiap pagi saya menempuh jarak 4 Km untuk beberapa alasan yaitu sekedar menggerakkan badan di bawah terpaan sinar matahari pagi di samping juga mengirit ongkos.

Jika tak berjalan pagi, praktis saya hanya bergerak sedikit sekali dan hampir tak pernah terkena sinar matahari pagi. Dana yang dihemat untuk 1 kali perjalanan hampir 2 euro, sekitar 25 ribu dalam rupiah. Lumayan kan?

Begitulah hidup di rantau orang dengan anggaran yang terbatas. Sembari menikmati perjalanan tersebut saya mendengarkan murattal untuk mengulang-ulang hafalan al-Qur’an juz 1 yang sudah banyak lupa.

Sore hari saya memilih pulang dengan bus karena masalah waktu dan juga sebelumnya saya sudah berjalan ke masjid untuk shalat Ashar hingga Maghrib sejauh 2 Km pergi-pulang. Jadi total berjalan sehari sejauh 6 Km. Tentu tak pernah terpikir sanggup berjalan sejauh ini di tanah air.

Suasana gedung arsip nasional Belanda tak jauh berbeda dengan gedung arsip nasional Indonesia di Jakarta, hanya saja peralatan scanner dan sejenisnya lebih lengkap serta pemesanan dokumen sudah dengan sistem online.

Di depan ruang arsip ada resepsionis dan satpam yang memeriksa setiap pengunjung masuk dan keluar. Salah seorangnya saya ketahui beragama Islam karena sapaan goedemorgen (selamat pagi) saya dibalas dengan salam. Setelah itu kami selalu bertukar salam dan mengucapkan syukran sebagai kata terima kasih. Sesekali kami berbincang tentang asal negara atau sekedar informasi hari libur. Tetapi beliau memang ramah pada semua pengunjung, bukan semata ashabiyah keagamaan. Meskipun, jujur saja ada kebahagiaan tersendiri bagi saya saat bisa saling sapa dengan salam di negeri ini. 

Ket: Irma bersama Dr. Surya Suryadi (Dosen asal Indonesia di Universitas Leiden)

Selama dua pekan di hari Selasa-Jumat saya belajar dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Sayang sekali, layanan arsip tutup di hari Senin, selain hari Sabtu dan Minggu. Di dalam ruangan ada meja petugas pengambilan dan pengembalian arsip. Sedikitnya ada empat orang yang bergantian berjaga di sana, di mana dua orang di antara paling sering bertugas di meja itu, satunya berwajah India dan satunya berwajah Belanda.

Di belakang meja itu terdapat ruang penyimpanan arsip di mana sejumlah petugas bekerja mengambil dan mengantar pesanan pengunjung. Meja baca pengunjung dibedakan antara dokumen “sensitif” yang tidak boleh difoto, dokumen biasa yang boleh difoto serta meja khusus membuka peta yang juga dilengkapi tangga untuk memudahkan memfoto peta berukuran besar dari atas.

Suasana gedung sangat nyaman dan diawasi dengan ketat oleh seorang satpam yang bertugas bergantian. Jangan coba-coba terdengar suara, bunyi handphone atau meletakkan box dokumen di lantai, Pak Satpam akan segera menghampiri dan menegur. Tapi mereka juga selalu siap sedia membantu pengunjung jika ada kesulitan.

Bahasa utama di ruangan ini adalah bahasa Belanda, meskipun semua petugas bisa berbahasa Inggris. Idealnya memang pengunjung ruangan ini bisa berbahasa Belanda dengan baik, sebab sebagian besar arsip adalah dalam bahasa Belanda. Logikanya, bagaimana mungkin bisa belajar dengan baik jika tak menguasai bahasa Belanda. Tapi tetap saja ada “excuse” bagi orang-orang seperti saya, yang hanya sedikit saja mengenal bahasa Belanda, dan bahasa Inggris pun alakadarnya. Kelucuan seputar bahasa ini pun tak terelakkan. Karena merasa klop dengan petugas berwajah India, di mana beliau memahami bahasa Inggris saya dan demikian sebaliknya, saya selalu “mengincar” beliau untuk segala urusan di meja petugas. Entah karena sesama berdarah Asia, beliau pun dengan mudah memaklumi jika saya melakukan kekonyolan-kekonyolan kecil seperti lupa mengganti nomor reservasi pemesanan dokumen harian dan malah menggunakan nomor hari kemarin atau sesekali lupa nomor reservasi ketika mengambil pesanan arsip.

Sebaliknya, Pak Petugas pun sampai akhir tak berhasil menghafal nama belakang saya meski sudah puluhan kali mendengarnya. Jadilah kami selalu saling tersenyum.

Tapi rupanya, perangai saya yang mungkin terlihat seperti mahasiswa muda yang selalu butuh bimbingan dan bantuan menarik perhatian petugas berwajah Belanda.

Maka jadilah beliau selalu hadir di antara kami sambil menanyakan apakah ada masalah, lengkap dengan mengingat nama belakang saya dan nomor reservasi setiap hari, serta tak lupa menawarkan bantuan jika dibutuhkan.

Ket: Karya J. Tideman tentang Jambi. Dok. Irma.

Dua hari terakhir akhirnya saya harus selalu berurusan dengan beliau, selalu bertepatan tak ada sahabat Asia. Maka jadilah hampir setiap kali bicara kami selalu mengulang kalimat; baik dia maupun saya sama-sama sulit menangkap logat bahasa Inggris lawan bicara. Lucu sekali.

Di hari terakhir kunjungan, sekali saya menggunakan bahasa Belanda untuk menyebutkan nomor reservasi karena beliau tak menangkap angka yang saya sebut dalam bahasa Inggris. Oh, Ok! Beliau segera sumringah mengira saya benar-benar lancar berbahasa Belanda. Jadilah kemudian dia bicara ini itu bahasa Belanda, dan saya tanggapi dengan senyum saja. Tidak mengerti soalnya.

Pun etika pamit pulang di sore hari pun, beliau mengucapkan salam dalam bahasa Belanda. Syukurnya kali ini saya bisa menjawab pula dalam bahasa Belanda. Lha wong cuma say goodby

Di bandingkan di Leiden, bahan-bahan tentang Jambi jauh lebih banyak di sini, baik dalam bentuk ketikan maupun tulisan tangan dalam berbagai bentuk dalam rentang sejak awal abad ke-17 hingga pasca kemerdekaan Indonesia. Karena itu, fokus saya adalah mengoleksi bahan-bahan yang sekira saya butuhkan nanti, sebab waktu yang saya miliki sangat terbatas jika digunakan untuk membaca di lokasi.

Bentuk arsip juga beragam seperti catatan harian pribadi, koleksi buku, kliping, laporan residen dan surat-menyurat. Jangan tanya bentuk tulisan tangan yang tertera di naskah-naskah itu; sungguh kisah cinta yang lebih memilukan dibanding Leiden punya cerita.

Tak sedikit kumpulan arsip berisi potongan-potongan kecil kertas dengan tulisan jauh dari kata rapi. Tapi ada satu lembar tulisan tangan yang sangat indah berukir seperti kaligrafi, walaupun juga kemudian agak sulit membacanya. Naskah dalam bahasa Perancis itu berada dalam satu box yang paling menarik minat saya.

Box itu berisi arsip surat-surat dari kantor perwakilan Belanda di Turki yang terkait dengan surat-menyurat Kesultanan Aceh dan Jambi dengan Kesultanan Turki.

Sejumlah arsip yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Perancis membahas tentang surat Sultan Thaha kepada sultan Turki pada tahun 1857. Alurnya kira-kira: Belanda mengetahui Sultan Thaha mengirim surat kepada sultan Turki dan mereka menanyakan perihal surat dan bagaimana sikap Turki.

Surat itu kemudian dibalas oleh Menteri Luar Negeri Turki yang menjelaskan bahwa surat ini tak memiliki konsekuensi politis bagi Belanda. Namun tak ada copy surat dari Sultan Thaha maupun balasan dari Turki dalam kumpulan surat itu, seperti halnya terdapat semacam salinan surat dari Aceh.

Karena sangat menarik dari segi isi dan bentuk tulisan, saya pun mengunduh beberapa foto arsip di laman facebook, di mana kemudian banyak rekan maya berkomentar. Salah seorang yang menuliskan komentar adalah ahli pernaskahan nusantara dari BirtishLibrary, Bu Annabel Teh Gallop, yang me-mention kenalan beliau seorang dosen di Istanbul. Pak Ismail, namanya.

Komunikasi kami pun berlanjut di messenger dan e-mail. Surat Sultan Thaha itu benar ada di Turki, dan beliau beserta tim sedang mengedit buku yang akan terbit di tahun ini, di mana surat tersebut menjadi salah satu bagiannya.

Semoga buku tersebut segera terbit dan menjadi sumbangsih penting bagi kajian sejarah Jambi. Begitulah media sosial sering kali menjadi sarana pendukung aktivitas profesional saya.

Meskipun belum mampu membaca semua arsip yang ada, selain karena jumlahnya yang banyak dan dalam bahasa Belanda yang sebagian ditulis tangan, saya bisa men-scan cukup banyak arsip. Waktu yang tersisa ke depan menyimpan kerja yang jauh lebih berat dari sekedar mengoleksi bahan. Perjuangan sesungguhnya itu justru baru akan dimulai.

*Mahasiswi S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Ilmu Pemerintahan UIN STS Jambi.

Keterangan: Catatan di atas merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya dengan judul "Dari Paris ke Belanda: Catatan Perjalanan Penelusuran Arsip Sejarah Jambi (I)".


Tag : #Arsip Sejarah Jambi di Belanda #Catatan Penelusuran Arsip Sejarah #Nationaal Archief Den Haag



Berita Terbaru

 

Rabu, 20 November 2019 13:39 WIB

Sekda dan Dua Pimpinan OPD Masih Kosong, Jelang Akhir Tahun Merangin Akan Buka Lelang Jabatan


Kajanglako.com, Merangin - Enam pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hasil lelang jabatan eselon II waktu lalu dilantik Bupati Merangin Al Haris,

 

Rabu, 20 November 2019 13:20 WIB

Tahun Ini Ada Tujuh Kasus Gizi Buruk di Merangin, Satu Orang Meninggal


Kajanglako.com, Merangin - Selama kirun waktu 2019, terdapat tujuh kasus gizi buruk di Kabupaten Merangin. Jumlah ini menurun jika dibandingkan dengan

 

Rabu, 20 November 2019 11:52 WIB

Satgas Yonif R 142/KJ Kenalkan Masakan Khas Jambi di Perbatasan


Kajanglako.com, Belu - Personel Pos Dafala Satgas Pamtas RI-RDTL sektor timur Yonif Raider 142/KJ memperkenalkan masakan khas asal daerah mereka, yaitu

 

Rabu, 20 November 2019 07:14 WIB

Jurusan/Program Studi Agribisnis UNJA Gagas Laboratorium Sosial Pemberdayaan Suku Anak Dalam


Kajanglako.com, Jambi – Jurusan/Program Studi Agribisnis Universitas Jambi, Selasa (19/11), menggelar diskusi dalam rangka membangun gagasan Laboratorium

 

Selasa, 19 November 2019 23:49 WIB

Gubernur Fachrori Terima Penghargaan Pembina Terbaik Swasti Saba 2019 Dari Kemenkes RI


Kajanglako.com, Jakarta - Gubernur Jambi Fachrori Umar menerima penghargaan pembina terbaik tingkat provinsi Swasti Saba kabupaten/kota sehat tahun 2019,