Sabtu, 23 Februari 2019


Rabu, 06 Februari 2019 11:34 WIB

Arca Sapi di Moeara Djambi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Walaupun sebetulnya orang Belanda sudah bermukin di daerah Djambi sejak awal abad ke-17, namun interaksi di antara orang-orang Eropa itu dengan penduduk Djambi—bahkan dengan warga kampung-kampung yang letaknya berdekatan dengan permukiman Belanda di sana—boleh dikatakan sangat minim. 



Tampaknya orang Djambi agak penakut dan cenderung terlalu curiga dan was-was untuk menerima kehadiran orang-orang Eropa yang muncul di sekitaran lingkungan mereka.

Setelah Ekspedisi Militer pada tahun 1858, sebuah permukiman yang dipimpin oleh militer Hindia-Belanda didirikan. Sekitar tahun 1875, kepemimpinan di permukiman itu dipegang oleh pegawai-pegawai sipil. Sikap hati-hati dan  tidak-percaya pada penduduk setempat yang dimiliki oleh pejabat dan pegawai Belanda di sana tentunya tidak menciptakan suasana yang baik untuk mengurangi, apalagi menghilangkan, ketakutan dan kecurigaan orang Djambi.

Selain Agen Kepolisian yang bahkan membawa keluarganya untuk mendampingi Schouw Santvoort ke  Doesoen Tengah, jarang sekali ada orang Eropa yang menjejakkan kaki di luar  batas-batas wilayah yang resmi berada di bawah kekuasaan langsung Hindia-Belanda. Beberapa tahun sebelumnya, tak banyak orang yang berani keluar rumahnya tanpa pengawal bersenjata.

Namun demikian, setelah tahun 1858, sebetulnya (serangan-serangan) permusuhan tidak lagi ada. Yang menjadi pengecualian adalah peristiwa pembunuhan terhadap beberapa orang serdadu benteng. Sepanjang yang dapat dilakukan dengan kekuasaannya yang terbatas, Sultan, yang diangkat oleh Hindia-Belanda, masih saja membayar imbalan ganti rugi atas peristiwa itu.

Sejak peperangan terakhir di Djambi, walau situasi dapat dikatakan relatif aman, berita-berita yang mengkhawatirkan masih terdengar; datangnya terutama dari daerah di huluan Djambi. Berita-berita itu menyebar cepat seperti api di antara masyarakat di daerah hilir: bahwa Sultan Taha sedang mempersiapkan diri untuk datang ke Djambi dan membunuh semua orang yang ada di benteng Hindia-Belanda.

Pernah juga terdengar kabar bahwa Sultan di Doeseoen Tengah (yang diangkat oleh Belanda) mulai mempersiapkan pertahanan. Kabar ini membuat pimpinan militer di Djambi mempersiapkan segala-sesuatu—bila memang diperlukan--untuk dapat menghadapi kemungkinan serangan seperti itu.

Benteng di Doesoen Tengah? Penasaran, Schouw Santvoort mencari benteng yang konon dibangun oleh Sultan. Benteng itu rupanya merupakan pematang-pematang rendah yang dibangun atas permintaan salah seorang isteri Sultan, untuk melindungi kebun bunganya dari air yang meluap ketika sungai sedang pasang. Satu sisi ‘benteng’ itu berpagar kayu. 

‘Benteng’ di Doesoen Tengah itu membuktikan bahwa kabar-berita mengenai aksi-aksi permusuhan tidak selalu harus ditanggapi dengan serius; akan tetapi, di lain pihak, memang nyata bahwa ruang gerak Schouw Santvoort terbatas pada suatu wilayah kecil yang dianggap aman.

Hal itu tidak mematahkan semangatnya. Ia menyibukkan diri dengan mengukur ketinggian air di Batang Hari dan membuat tabel-tabel yang memperbandingkan permukaan air itu dari tahun ke tahun.

Keamanan politik di sekitar Doesoen Tengah juga tidak terlalu menjadi fokus perhatiannya karena ketika ia tiba kembali di dusun itu, ternyata lebih dari separuh anggota tim penjelajahannya sedang sakit. Dua orang di antaranya bahkan terpaksa diantarkan ke rumah sakit.

Pada tanggal 23 Juli, bersama Kontrolir Niesen, Schouw Santvoort berangkat menuju Moeara Djambi. Dusun itu terletak di tepian Batang Hari, di antara Djambi dan Moeara Kompeh. Mereka tiba di dusun itu menjelang pk 10.30. Setelah kapal membuang sauh, mereka naik ke darat untuk melihat tinggalan-tinggalan Hindu yang ada di sekitaran dusun itu. Mereka disambut oleh Pamangkoe dusun karena Penghoeloe dusun sedang tak enak badan. Pemangkoe merupakan pembantu Penghoeloe (yang mengepalai dusun).

Rencana kedatangan Kontrolir Niesen dan Schouw Santvoort sudah diketahui oleh Pemangkoe dan Penghoeloe dusun karena sebelum berangkat, Niesen telah menyurati Pangeran Wiro Koesoemo untuk menyediakan pemandu penjelajahan.

Pemangkoe dusun Moeara Djambi adalah lelaki berumur yang tampaknya sejak berusia muda telah dirundung penyakit kudis. Tubuhnya penuh dengan kerak-kerak kudis yang mengering. Namun, hal itu tidak dipikirkannya. Dengan ramah, ia mengulurkan tangan yang penuh dengan kerak-kerak kudis kepada kedua tetamunya dan mengajak mereka berjalan.

Tak berapa jauh dari ujung barat kampung itu, mereka melihat tinggalan masa Hindu yang pertama. Tinggalan berupa arca sapi, kemungkinan Nandi—kendaraan Siwa. Ini menunjukkan jejak-jejak aliran Siwa yang juga ada di Jawa. Arca itu hanpir sepenuhnya terbenam di bawah tanah. Kedua lelaki Belanda meminta orang menggali tanah yang mengubur arca itu.

Setelahnya, baru tampak bahwa kepala dan salah sebuah kaki arca itu rusak. Tampaknya, di masa lalu, punggung arca sapi itu sempat digunakan untuk mengasah parang sehingga ada beberapa takik di permukaannya.

Schouw Santvoort menduga bahwa arca itu terbuat dari semacam batu pasir. Arca itu tidak sebagus atau seartistik tinggalan-tinggalan Hindu yang diketemukan di Pulau Jawa. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa arca itu dibuat di zaman Hindu awal atau justeru dibuat ketika kesenian Hindu mulai menghilang. Dugaan lain adalah bahwa arca itu merupakan tinggalan dari masa ketika Madjapahit menaklukkan dan menguasai Djambi. Arca sapi itu berukuran panjang 1.12 meter dan titik paling tinggi adalah 0.865 meter.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi dalam Naskah Belanda #Sejarah Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Februari 2019 20:06 WIB

Warga Kecewa Tak Diikutkan Rapat Pemkab Muarojambi dengan PT BBS


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Konflik kepemilikan lahan antara 4 desa dalam Kecamatan Kumpe dengan PT Bukit Bintang Sawit (BBS) sepertinya akan semakin

 

Jumat, 22 Februari 2019 19:49 WIB

Jalan Santai Meriahkan Peringatan Hari K3 di Tanjabbar, Bupati Safrial Hadir Langsung


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat menggelar gerak jalan santai dalam memeriahkan peringatan bulan Keselamatan

 

Jumat, 22 Februari 2019 19:18 WIB

Resmikan Gedung BLK, Bupati Safrial: Harus Ciptakan Pekerja Berkualitas dan Membanggakan Daerah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Bupati Tanjab Barat, H Safrial, meresmikan Operasional UPTD Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Tanjung Jabung Barat

 

Jumat, 22 Februari 2019 18:56 WIB

Peringati HPNS, OPD Bungo dan Instansi Vertikal Gelar Gotong Royong Bersama


Kajanglako.com, Bungo - Pemkab Bungo melalui Dinas Lingkungan Hidupmenggelar gotong royong bersama dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional

 

Jumat, 22 Februari 2019 18:55 WIB

Bupati Mashuri Tinjau Lokasi Arena MTQ ke-49 Tingkat Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Bungo - Jelang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) ke-49 Provinsi Jambi tahun 2019. Pemerintah Kabupaten Bungo kesekian kalinya menggelar rapat