Senin, 26 Agustus 2019


Rabu, 30 Januari 2019 13:21 WIB

Dari Paris ke Belanda: Catatan Perjalanan Penelusuran Arsip Sejarah Jambi (I)

Reporter :
Kategori : Ensklopedia

Sebuah museum tentang etnologi di Belanda yang terletak di kota universitas Leiden (Sumber: Dok. Irma)

Oleh Irmawati Sagala*

Cuaca di Paris sudah mulai dingin ketika saya tiba medium Oktober 2018 di hari Jumat pagi. Memasuki musim gugur, kota yang dibelah aliran sungai La Seine layaknya Batanghari membelah kota Jambi ini, tampak tak banyak berubah dari dua tahun lalu.



Beberapa sahabat sesama pelajar dulu pun masih tinggal di sini, berjuang menyelesaikan studi. Karena tak terkena jet lag, saya segera memanfaatkan hari akhir pekan itu berkeliling Paris, bernostalgialah.

Serasa baru kemarin menikmati indahnya hamparan daun berguguran di taman-taman kota. Ternyata ada cukup banyak kerinduan yang tersimpan di lubuk hati akan kota ini. Gedung kuliah, asrama dan jalanan yang sehari-hari dilalui menjadi begitu bermakna. Bahkan kenangan masa-masa tersulit saat studi dulu pun kini terasa indah. Dua hari saya menenggelamkan diri dalam nostalgia, sebelum mulai menjalani cerita baru untuk enam bulan ke depan. Begitulah hidup bergulir antara kemarin, hari ini dan esok.

Hari Senin saya mulai belajar di perpustakaan yang memberikan surat izin penelitian untuk saya sebagai syarat aplikasi beasiswa. Saya sudah sangat akrab dengan perpustakaan milik École Françaised’ Extrême-Orient (EFEO) yang berlokasi di sebuah bangunan bernama Maisondel’Asie itu sebab dulu sering belajar di sana setelah kuliah di ruang sebelah perpustakaan.

Beberapa pustakawannya juga masih sama dengan dua tahun lalu. Bagaimanapun, gedung ini punya cerita khusus dalam masa studi pascasarjana saya kala itu. Karenanya, tak sulit bagi saya untuk beradaptasi dengan sistem kerja perpustakaan.

Sejumlah daftar buku yang ingin saya baca juga sudah ada dalam daftar, meskipun kemudian saya “membongkar” kembali katalognya. Bahkan beberapa buku cerita Jambi pun ada di sini, seperti cerita Putri Rainun, yang bahkan baru di sini saya baca. Selebihnya, ada sejumlah karya-karya fenomenal tentang Sumatera, khususnya Sumatera Tengah dari catatan para pengelana, laporan ekspedisi maupun buku referensi yangmenjadi rujukan penting untuk referensi akademik dan analisis perbandingan dalam penelitian saya.

Ket: Cerita Jambi di Perpustakaan milik École Françaised’Extrême-Orient (EFEO). Dok: Irma

Meskipun beberapa versi Pdf buku-buku tersebut sudah saya koleksi, sungguh berbeda rasanya membaca langsung buku-buku lawas yang sangat berharga itu. Untuk pertama kali saya melihat bentuk cetakan asli buku Tideman berjudul Djambi serta beberapa buku lainnya di sini. Kesan “antik” yang demikian kental bercampur sedikit bau apek kertas setidaknya merangsang otak kanan untuk berimajinasi pada kehidupan Sumatera Tengah hampir dua abad lalu.

Nuansa ini juga meneguhkan imajinasi tentang bagaimana para pelaut-pelaut Eropa menembus lautan untuk sampai ke nusantara seperti yang diceritakan, antara lain, dalam buku Bernard Dorléans yang berjudul Les Français et l'Indonésie du XVIe au XXe Siècle dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Orang Indonesia dan Orang Prancisdari Abad XVI sampai dengan Abad XX.

Meski banyak karya-karya berbahasa Perancis yang membahas Sumatera, tak banyak yang menyinggung tentang Jambi. Meskipun demikian, dari sedikit jumlah dan hanya ulasan sekilas itu, gambaran Jambi cukup menarik. Sekedar menyebutkan beberapa contoh, catatan perjalanan Agustin de Beaulieu yang telah dibukukan dengan suntingan  Denys Lombard berjudul Mémoires d'un voyage aux Indesorientales 1619-1622 : un marchandnormand à Sumatra, disunting oleh  (Paris: EFEO, 1996)menulis bahwa pada masa kunjungannya ke Sumatera, Jambi termasuk daerah yang paling makmur di jalur Selat Malaka.

Ada juga cerita rakyat yang direkam De Pina dalam catatannya berjudul Deux ans dans le pays des épicestentang Jambi dan Palembang sebagai wilayah awal persebaran pemukim Sumatera (Paris, A. Quantin, 1880). Tentu saja, hasil kajian Coedès tentang Sriwijaya adalah salah satu referensi penting bagi kajian sejarah Jambi.

Belajar di perpustakaan EFEO sangat nyaman. Pustakawan yang ramah, jaringan internet bagus, juga tersedia pojok ngopi yang juga menyediakan berbagai camilan kering. Sehari-hari banyak mahasiswa dan peneliti yang belajar atau bekerja di sini. Meski sering ramai, suasana tetap tenang dan hening. Pengunjung yang perlu berbicara selalu berbisik-bisik saja, bahkan dengan pustakawan.

Sayang, suhu ruangan agak dingin bagi ukuran pendatang baru. Karena itu, tak jarang pengunjung yang menggunakan jaket atau syal di dalam ruangan. Suatu ketika, seorang mahasiswa yang kedinginan melapor pada petugas, barangkali ada solusi yang bisa dilakukan. Dan, si mahasiswa pun mendapatkan selembar selimut tebal yang membuat kami tertawa bersama.

Leiden: Keanggunan Kota dan Aroma Khas Manuskrip

Istirahat sejenak dari Paris, pertengahan November saya mengunjungi Leiden selama empat hari dengan tujuan utama berkenalan dengan KITLV. Semasa di Paris saya sudah mengirim email ke KITLV untuk izin mengakses bahan-bahan pustaka mereka serta jika memungkinkan berdiskusi dengan peneliti yang spesialis sejarah politik Islam di Indonesia. E-mail saya disambut dengan baik, dan selanjutnya berhubungan dengan bagian administrasi. Meski hanya pernah berkunjung sehari pada tahun 2016 lalu, Leiden tidak asing lagi bagi saya. Jalan dari stasiun pusat ke kampus pun masih saya ingat dengan baik. Banyak pelajaran berharga, yang lebih tepatnya agak memalukan, saya dapatkan dalam perjalanan pertama ini. Saya tuliskan semoga menjadi pelajaran bagi pembaca.

Pertama, komunikasi terakhir melalui e-mail, saya diminta mengirimkan data dan copypassport untuk dibuatkan kartu pustaka secara gratis. Karena hari itu Jumat sore, maka saya pikir tidak perlu saya balas karena Senin saya sudah akan tiba di Leiden. Biasanya di Paris e-mail yang dikirim pada masa akhir pekan paling baru akan dibaca Senin, itu pun jarang direspons sebelum sore atau besok harinya. Di luar perkiraan, bus terlambat sehingga saya baru tiba di Leiden sore dan tidak memungkinkan ke kantor. Maka ketika datang ke kantor besok harinya, segera ditanya kenapa tidak membalas e-mail, sehingga semestinya sudah dibuatkan kartu sebelumnya. Meski Ibu petugas tetap ramah seperti saat menyapa saya ketika tanpa sengaja kami bertemu di gerbang di mana saya clingak-clinguk mencari pintu masuk, tapi kesan kurang serius menghunjam dalam. Sebagai pelajar, mestinya memperhatikan hal-hal teknis sampai sedetail mungkin.

Sumber foto: library.leiden.edu

Tak sampai di situ, saya pun salah mengira bahwa sebagian dokumen-dokumen kepustakaan KITLV masih disimpan di kantor mereka. Ketika berkunjung dua tahun lalu, dalam mindset saya yang dialih-kelolakan hanya manuskrip-manuskrip dan buku-buku, sementara kantor KITLV saya yakini masih memiliki koleksi dokumen-dokumen yang disimpan sendiri. Entah bagaimana mulanya saya berpikir begitu dan tidak mengonfirmasi atau bertanya sana-sini.

Maka ketika disinggung pembuatan kartu pustaka, saya pikir itu hanya untuk perpustakaan khusus KITLV, dan nantinya saya akan memperbaharui sendiri kartu akses pustaka saya di Universitas Leiden. Jadilah ketika ditanya apakah sudah pernah punya kartu, saya jawab belum. Dan akhirnya setelah dibuatkan akun baru ketahuan bahwa saya sudah punya akun di tahun 2016 lalu. Masalahnya adalah jadi mubazir pembuatan akun baru dan nantinya harus cetak kartu baru. Pemborosan sumber daya harus dihindari bahkan untuk sepotong kartu.

Sebenarnya saya termasuk pendukung setia gerakan gogreen, tapi stupidmistake telah menjadikan saya “terdakwa”. Sambil minum teh, Ibu yang tetap sabar dan ramah itu membantu saya aktivasi akun hingga selesai. Jadi kesimpulannya, semua bahan-bahan kepustakaan KITLV yang bisa diakses publik sudah alih-kelolakan ke perpustakaan Universitas Leiden tanpa terkecuali. Lalu, saya pamit sambil membawa gelas teh yang masih terisi seperempat.

Setibanya di perpustakaan kampus yang letaknya berseberangan saja dengan kantor KITLV, saya dibuatkan kartu pustaka baru gratis dengan surat pengantar dari KITLV. Normalnya, pembuatan kartu perpustakaan untuk tamu dikenakan biaya 30 euro. Selain fasilitas gratis, saya juga mendapatkan akses ke ruang Asian Studies, yang memiliki ruang belajar nyaman cukup besar. Belajar di ruangan ini lebih nyaman dan privat. Sambil menyimpan segala tidak-nyamanan yang terlanjur memenuhi hati, saya mulai pencarian bahan-bahan di ruang Special Collection, markasnya naskah-naskah lama baik dalam bentuk aslinya maupun yang sudah digitalisasi. Tak banyak yang berubah dari ruangan ini, termasuk beberapa petugas yang dulu saya temui juga masih bertugas. Semuanya ramah-ramah dan cekatan, meski sebagian sudah berumur mendekati usia pensiun. Pemesanan naskah bisa dilakukan secara online dengan akun pribadi, setelah melihat koleksi yang juga tersedia dalam katalog online

Bau khas kertas-kertas tua selalu menghadirkan sensasi kekaguman bagi saya. Apalagi ketika membaca naskah terkait kerajaan, seperti sedang menonton serial drama saeguk Korea yang hampir tak pernah luput dari setting putaka kerajaan yang menyimpan tumpukan buku-buku kertas kuning berjilid benang dengan tulisan tua. Naskah-naskah ini ditulis dalam bahasa Melayu atau bahasa Belanda dengan aksara Jawi atau latin. Untuk naskah-naskah tertentu yang sudah rapuh atau jilidan tebal harus dibuka di atas bantal demi menjaga keawetan koleksi. Bantal-bantal baca tersedia di pustaka dengan berbagai ukuran.

Sesekali saya juga menggunakan masker ketika membaca manuskrip berusia lebih dari 200 tahun. Sekedar antisipasi alergi saja. Tak semua naskah bisa dibaca dengan mudah. Beberapa tulisan tangan bisa membuat kita tersiksa, namun tersiksa yang penuh kerelaan. Seumpama derita cinta kata para pujangga. Meskipun susah, dilalui jua dengan hati bahagia. Kalimat terakhir ini sejujurnya bagian dari upaya menyemangati diri untuk tetap bertahan di jalan pembelajaran ini.

Begitulah saya menikmati membaca manuskrip sejak jam 10 pagi hingga jam 5 sore setiap harinya. Perjalanan pergi-pulang dari penginapan ke pustaka adalah saat-saat melepas lelah. Berjalan kaki sekitar 15 menit sama sekali tak terasa melelahkan di kota yang menurut saya anggun ini. Terkadang saya memilih melewati jalan yang berbeda, sekedar untuk menikmati suasana lain sudut kota. Gedung-gedung khas yang tertata rapi, jalanan yang tak banyak kendaraan bermotor, sepeda-sepeda tua yang lalu lalang, serta kanal-kanal berair tenang yang tampak hampir di seluruh sisi kota.

Ket: Irma bersama Dr. Surya Suryadi (Dosen asal Indonesia di Universitas Leiden)

Sesekali saya sengaja berhenti di jembatan untuk menikmati indahnya bantaran kanal dengan kapal-kapal kecil tertambat di tepian yang dijajari tiang-tiang lampu. Sore hari ketika lampu-lampu sepanjang tepian kanal menyala, suasana sangat tenteram, menghadirkan imajinasi akan menghabiskan masa tua di sebuah kampung nan damai di  antara kaki-kaki bukit yang melingkari tanah air. Di tanah air, di mana sungai-sungai mengalir di perkampungan, anak-anak akan selalu senang berlompatan dan berenang untuk mengisi waktu sepulang sekolah atau di hari libur. Berdiri di jembatan dan membentangkan tangan menikmati semilir angin dingin mengelus wajah sambil membayangkan tanah air adalah cara mudah rileksasi dari penat dan mumet.

Suatu hari dalam perjalanan pulang ke penginapan, saya bertemu seorang perempuan berumur kisaran 50an tahun yang menanyakan jalan menuju stasiun sentral. Karena arah jalan yang sama, akhirnya saya mengajak beliau berjalan bersama. Karena ada teman berjalan, maka sore itu saya tak “bersantai” di jalanan. Segera otak saya memerintahkan kaki untuk berjalan cepat, seperti kebiasaan orang-orang di Paris. Si Ibu juga berjalan cepat. Dalam hati saya sempat membatin, cepat juga jalan si Ibu, sehingga saya sampai cukup ngos-ngosan juga menjajarinya. Sesekali kami mengobrol sambil berjalan. Sampai kemudian si Ibu berhenti dan berkata bahwa beliau sudah ngos-ngosan mengikuti langkah saya yang terlalu cepat.

Akhirnya beliau menyarankan saya duluan saja jika buru-buru, dia akan berjalan agak lambat. Akhirnya saya pun tertawa menyadari bahwa saya lupa bahwa sedang tidak berada di Paris, di mana orang-orang selalu berjalan cepat bahkan setengah berlari seperti sedang dikejar atau mengejar sesuatu. Ritme berjalan orang di Belanda relatif lebih lambat. Kata seorang kenalan biasanya orang Belanda jika ingin cepat akan memilih naik sepeda, memilih berjalan artinya tidak buru-buru. Kalau di Paris, bahkan naik-turun tangga di jalur metro bawah tanah pun sangat suka berlari. Barulah sisa perjalanan kami nikmati dengan berjalan santai.

Empat hari tentu jauh dari memadai. Karena itu, di awal tahun 2019 saya kembali belajar ke Leiden, kali ini pergi-pulang dari Den Haag. Jarak stasiun sentral Den Haag ke stasiun sentral Leiden hanya 15 menit perjalanan kereta, dan 45 menit jika naik bus tanpa ada macet. Selain beberapa manuskrip dalam bentuk microfilm/microfiche yang belum sempat saya akses pada kunjungan terdahulu, kunjungan kedua ini daftar naskah yang akan saya pinjam bertambah banyak. Karunia dari Allah ketika pada kunjungan sebelumnya saya sempat berkenalan dengan Bu Frieda Amran (Antropolog, penulis dan peneliti Sumatera bagian Tengah) dan Bang Arman AZ (sastrawan Lampung).

Pertemuan tak disengaja yang sebenarnya saya harapkan sejak lama. Dari Bang Arman saya memperoleh sejumlah judul dan kode naskah terkait Jambi yang tak ditemukan pada penelusuran onlinedengan kata kunci. Artinya, naskah itu hanya bisa diakses jika kita memiliki kode penyimpanannya. Ada katalog lain yang memuat daftar koleksi yang lebih komplit. Silaturrahim memang selalu membawa rezeki.

Meski belum selesai mengakses semua daftar naskah yang dibutuhkan, saya memperoleh banyak bahan dari kunjungan kedua ini. Sayangnya, perangkat scan untuk membaca microfilm kurang memadai. Dari dua yang tersedia, satunya yang saya pakai dalam kondisi kurang prima. Bunyi operasional scanner berisik sekali, sehingga saya dan seorang eonni yang bekerja di depan saya sering kali tertawa. Doktor dari salah satu perguruan tinggi di Korea yang juga penerjemah bahasa Indonesia itu sangat ramah dan dengan baik hati menunjukkan pada saya cara penggunaan perangkat scanner. Ternyata, sebelumnya dia bekerja dengan mesin yang saya pakai itu dan karena kurang baik maka beliau pindah ke mesin satunya. Jadilah saya merasakan pengalaman merananya si eonni.

Pada kunjungan kedua ini, saya tak lagi banyak menikmati suasana jalanan kota karena perjalanan dari penginapan di Den Haag memakan waktu cukup lama. Belum lagi saya harus ke masjid untuk shalat Ashar (jamak Zhuhur) hingga Maghrib yang berjarak 15 menit berjalan dari kampus. Masjid milik Islamitisch Centrumal-Hijra Leiden itu besar, indah dan bersih. Sungguh nyaman. Sehabis Maghrib baru kembali ke stasiun sentral sejauh 20 menit berjalan kaki.

Hari terakhir jadwal belajar, saya gunakan mengunjungi Museum Volkenkunde yang menyimpan cukup banyak koleksi benda dan video-video terkait Indonesia. Selalu ada kabar baik untuk status mahasiswa. Tiket masuk museum juga dapat diskon 1/3 harga normal. Andai saya punya keahlian seperti Iljimae di salah satu drama Korea, mungkin saya akan tergoda untuk memindahkan koleksi di museum ini ke Indonesia. Ah, lagi-lagi imajinasi saya ke Korea, mungkin karena baru punya teman baru seorang eonni. Seminggu berlalu. Masih tersisa sejumlah daftar naskah yang perlu saya akses di Leiden, semoga ada kesempatan ketiga menjelang masa akhir studi.

 *Mahasiswi S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Ilmu Pemerintahan UIN STS Jambi.


Tag : #Museum Volkenkunde #Arsip Sejarah Jambi #KITLV #Universitas Leiden



Berita Terbaru

 

Senin, 26 Agustus 2019 07:42 WIB

Ojol "Antarin " Karya Anak Negeri Segara Louncing di jambi, Targetkan 1.000 Lapangan Kerja Baru


Ojol "Antarin " Karya Anak Negeri Segara Louncing di jambi, Targetkan 1.000 Lapangan Kerja Baru Kajanglako.com. Jambi - Di tengah perkembangan teknologi

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 15:14 WIB

Ikut Panjat Pinang, Aksi Warga Berkebutuhan Khusus Bius Penonton


Ikut Panjat Pinang, Aksi Warga Berkebutuhan Khusus Bius Penonton Kajanglako.com. Jambi – Kemeriahan perayaan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 14:48 WIB

Masyarakat Tuna Rungu dan Wicara Curhat, Minta Diperhatikan sama Gubernur


Masyarakat Tuna Rungu dan Wicara Curhat, Minta Diperhatikan sama Gubernur Kajanglako.com. Jambi - Saat lomba panjat pinang yang digelar pemerintah Provinsi

 

Minggu, 25 Agustus 2019 14:10 WIB

Kadivre Bulog Jambi Minta Masyarakat Bersabar, Akhir Agustus Daging Beku Masuk 50 Ton


Kadivre Bulog Jambi Minta Masyarakat Bersabar, Akhir Agustus Daging Beku Masuk 50 Ton  Kajanglako.com. Jambi - Hampir satu bulan terakhir stok daging

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 11:54 WIB

Dapat Hadiah Motor, Ibu Ini Langsung Tancap Gas di Tengah Kerumunan Warga


Dapat Hadiah Motor, Ibu Ini Langsung Tancap Gas di Tengah Kerumunan Warga Kajanglako.com. Jambi - Nanda, seorang tenaga pendidik bagian tenaga administrasi