Selasa, 23 April 2019


Sabtu, 26 Januari 2019 09:41 WIB

Kampung Soengei Asam, Moeara Kompeh dan Saba

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Selain tiga buah rumah dengan bangunan bergaya Eropa yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal para perwira dan Letnan Cina area benteng itu, di tepian Soengei Asam—di sebelah timur benteng dan agak lebih rendah letaknya—terdapat sebuah kampung kecil yang bernama sama dengan sungai: kampung Soengei Asam.



Ada delapan buah rumah di kampung itu. Sebagian besar warga kampung itu adalah orang Palembang yang awalnya datang sebagai pedagang atau untuk menjadi buruh harian.

Dahulu kala, di kampung ini juga terdapat rumah Toemenggoeng, yang diperbantukan pada Agen Kepolisian untuk mendampinginya ketika lelaki Belanda itu harus berhubungan dengan pemerintah (lokal) Djambi.

Pada waktu itu, fungsi sebagai Agen Kepolisian dipegang oleh seorang perwira militer Hindia-Belanda. Sejak tugas itu dijalankan oleh seorang pegawai sipil, fungsi Toemenggoeng sebagai pendamping/pembantu Agen Kepolisian tidak diperlukan lagi.

Gundukan tanah di tepian sungai—yang kering pada waktu air sungai surut—menjadi tempat penambatan sekitar lima buah rumah rakit yang ditinggali oleh orang Cina. Rumah-rumah rakit itu terbuat dari bambu atau kayu berbobot ringan.  Pada waktu air sungai surut, rumah-rumah itu ikut bergerak, terbawa air,  menjauh dari tepian. Namun, setiap rumah memiliki jembatan kayu yang memungkinkannya tetap terhubung dengan darat. 

Pada waktu air surut, air sungai mundur dan mengering sama sekali sampai sekitar 75 meter dari tepian. Perbedaan ketinggian air pada musim hujan dan musim kemarau cukup banyak, bahkan sampai sebanyak 7 meter. Jalan baru yang direncanakan akan menghubungkan Djambi dan Palembang mulai dipersiapkan di belakang benteng.

Selain kedua perwira Hindia-Belanda dan Letnan Cina yang sudah disebutkan di atas, seluruh permukiman itu ditinggali oleh 264 orang pribumi dan 80 orang Cina. Di ibukota, Djambi, tak banyak kegiatan perdagangan. Usaha itu terutama dilakukan oleh orang Djambi yang tinggal di dusun-dusun Petjinan,  Solok dan Magat Sari.

Tanah di Djambi merupakan tanah aluvial dengan klimat yang baik untuk kesehatan. Hanya pada waktu pergantian musim saja, di bulan April dan Oktober (walau tidak terlalu teratur), orang seringkali dirundung sakit demam. Bila air sungai surut pada musim kemarau dan  pasir serta lumpur, yang biasanya terendam menjadi kering, waktu-waktu maraknya serangan malaria segera berlalu.

Akan tetapi, bila pasang-surut air sungai berubah-ubah karena banyak turun hujan seperti yang seringkali terjadi, maka akan muncul kelembaban yang merugikan kesehatan dan orang banyak terserang demam.  Bertiupnya angin dingin dari utara di bulan November juga membuat orang demam. Di musim panas, pagi-pagi pk. 07.00, termometer biasanya menunjuk pada angka 24° C, siang hari pk. 11.00 30° dan sore, sekitar pk. 15.00 31.5° C. Di malam hari, suhu udara dapat turun sampai 21.5° C.

Moeara Kompeh terletak sekitar 38 mil (Inggris) jauhnya di sebelah hulu Tanah Pileh. Permukiman ini dibatasi oleh Soengei Kompeh di sebelah barat dan terbentang sepanjang  700-800 meter di tepian Soengei Djambi. Batas selatannya tidak dapat ditentukan. Benteng yang sudah ditinggalkan, yang terdapat di pertemuan Soengei Djambi dan Soengei Kompeh, kini difungsikan sebagai tempat tinggal petugas yang menerima bea (pajak) keluar dan masuk wilayah itu.

Sebanyak 6 orang anggota Kepolisian menjaga keamanan bangunan-bangunan di permukiman berpagar itu. Di sebelah timur benteng itu terdapat kampong yang terdiri dari sekitar 20 buah rumah. Kampung itu terutama ditinggali oleh pegawai-pegawai pribumi dan orang Palembang yang bekerja sebagai pedagang. Sebanyak 130 orang pribumi dan 5 orang Cina tinggal di kampong itu.

Pada waktu air sungai sedang pasang, hampir seluruh kampung terendam air. Karenanya, tanah di kampung itu tidak terlalu cocok untuk pertanian. Di kampung ini terdapat stasiun penyimpanan batu bara.

Saba adalah permukiman yang ketiga. Letaknya kira-kira 33 mil (Inggris) dari  Moeara Kompeh (bila mengikuti kelok sungai). Saba berjarak 7.5 mil (Inggris) dari muara Soengei Nioer, cabang utara delta Soengei Djambi. Di tempat ini tinggal seorang pengawas bea keluar-masuk.

Kampung Saba, yang terletak tak jauh dari tempat Soengei Saba mengalir memasuki Batang Hari, berpenduduk 39 orang Cina dan 190 orang pribumi yang sebagian besar berasal dari Djambi; sebagian lagi berasal dari Palembang, Reteh dan sebagainya.

Daerah ini merupakan dataran sangat rendah, yang bahkan dalam musim kemarau—ketika permukaan sungai rendah, terendam air pada waktu pasang. Rumah-rumah di Saba terhubung satu sama dengan jembatan-jembatan sempit yang terbuat dari niboeng. Tanah aluvial di sekitar kampung itu tidak cocok  untuk bertanam. Perdagangan dan perikanan merupakan mata pencaharian utama warga kampung. Dibandingkan dengan Djambi, perdagangan di Saba jauh lebih marak.    

Di luar ketiga permukiman ini, keseluruhan wilayah Kesultanan Djambi lainnya berada di bawah kekuasaan Sultan. Namun, kekuasaan dan pengaruh Sultan itu sangat kecil.  

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi dalam naskah klasik Belanda #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah 1877



Berita Terbaru

 

Isra Miraj 1440H
Selasa, 23 April 2019 20:35 WIB

Bupati Syahirsah Hadiri Isra Miraj Tingkat Kabupaten


Kajanglako.com, Batanghari - Pemerintah Kabupaten Batanghari memperingati Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1440 Hijriah / 2019 M, Selasa (23/4), yang

 

Selasa, 23 April 2019 16:48 WIB

Sidak Libatkan Polisi, Satgas Pangan Akan Tindak Pedagang dan Distributor yang Timbun Sembako


Kajanglako.com, Jambi - Untuk mengantisipasi gejolak harga dan ketersediaan stok pangan di pasaran jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2019, pemerintah dalam

 

Selasa, 23 April 2019 15:28 WIB

Seleksi Paskibraka Provinsi dan Nasional, Sekda Dianto: Jangan Ada Titipan


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi, M Dianto, minta Tim Panitia Seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka)

 

Selasa, 23 April 2019 15:21 WIB

4 Tahun Beruntun, Gubernur Jambi Kembali Raih Penghargaan K3 dari Menteri Ketenagakerjaan


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menerima penghargaan Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tahun 2019 dari Menteri Ketenagakerjaan

 

Selasa, 23 April 2019 15:12 WIB

Al Haris dan Mashuri Kompak Buka Jambore PKK Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Bupati dan Wakil Bupati Merangin, Al Haris-Mashuri kompak hadir pada acara jambore PKK tingkat Kabupaten Merangin, Selasa (23/4).   Jambore