Jumat, 23 Agustus 2019


Sabtu, 19 Januari 2019 07:12 WIB

Raden Hassan, Danau Sipin dan Tanah Pileh

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Raden Hassan menunjukkan beberapa contoh batu bara yang dapat ditemukan di daerah Sekamis, di tepian Tembesi.  Schouw Santvoort pribadi berpendapat bahwa bila di suatu tempat terdapat kekayaan alam tertentu, seharusnya para kepala adat di tempat itulah yang terutama (berhak) mendapatkan keuntungan.



Itulah pendapatnya. Dan, hal itu pernah disampaikannya kepada Raden Hassan. Setelah memperhatikan contoh-contoh batu bara di tangan Raden Hassan, Schouw Santvoort dan Raden Hassan bersepakat untuk mendatangi tempat penghasil batu bara itu, di bulan Agustus.

Ia sendiri bukan ahli geologi, akan tetapi seseorang  yang bertugas di Dataran Tinggi Padang sedang meneliti mengenai tanah dan seorang lagi meneliti tentang binatang. Bila perlu, Schouw Santvoort dapat meminta bantuan orang-orang itu.

Schouw Santvoort ingin sekali berbicara dengan warga Doesoen Tengah, akan tetapi rasa takut yang teramat besar membuat setiap orang cepat-cepat berlari menghindar bila didekati. Awalnya, ia mengira bahwa mereka ketakutan melihat dirinya yang berkulit putih. Namun, ketika Juru Tulis penjelajahan—seorang lelaki berkulit sawo matang yang berasal dari Dataran Tinggi Padang—naik ke darat, mereka pun berlarian menyelamatkan diri.

Pada tanggal 10 Juli, mereka mulai mempersiapkan perjalanan kembali, setelah membongkar muatan batu bara sebanyak 5 atau 6 ton dan menyimpannya di bawah atap yang disediakan oleh Sultan. Batu bara itu akan terlindungi dari hujan.

Perjalanan pulang berjalan lamban dan bahkan terkadang, kapal uap itu mematikan mesin dan nakhoda membiarkannya terbawa arus. Di atas kapal, tim penjelajah meneruskan kegiatan mereka mencatat segala sesuatu mengenai lingkungan alam dan sungai yang dilalui. Mereka memberikan perhatian lebih besar pada rute-rute pelayaran yang sulit di sekitar Toerat, Poelau Betong,  Selat dan di dekat Rantau Madja.  Di dekat Poelau Betong dan Selat banyak parit-parit yang menyulitkan pelayaran. Schouw Santvoort membuat sketsa khusus untuk menggambarkannya.

Dalam perjalanan, Raden Hassan menyusul kapal mereka. Rupanya, lelaki itu—yang juga hendak ke Djambi, menumpang perahu lain. Kedua rombongan itu melanjutkan perjalanan bersama-sama. Kesempatan itu digunakan oleh Schouw Santvoort untuk bertanya-tanya tentang  Djambi dan situasinya.

Raden Hassan menceritakan bahwa di Djambi, pembunuhan yang dilakukan tanpa alasan (yang meringankan) dikenakan sanksi hukum mati. Sebagai contoh, pembunuhan yang dilakukan dengan maksud untuk merampok tidak dapat dihukum dengan tuntutan membayar uang ‘bangoen’.

Sebaliknya, sanksi membayar uang ‘bangoen’ dapat dikenakan pada pembunuhan yang (tidak sengaja) terjadi dalam suatu perkelahian. Pembunuhan yang terjadi dalam konteks perzinahan tidak dikenakan sanksi atau hukuman, apabila kesalahan korban (yang terbunuh) dapat dibuktikan dan suami (yang isterinya berzinah sehingga melakukan pembunuhan itu) segera melaporkan apa yang dilakukannya.

Di Djambi, tak banyak orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati—mungkin karena rasa iba atau karena takut. (Catatan FA: ini berbeda dengan di Eropa. Di abad pertengahan, pelaksanaan hukuman mati dilakukan di ruang publik, biasanya di alun-alun kota dan biasanya disaksikan oleh banyak orang).

Sanksi hukuman pecut dengan rotan di punggung atau pantat diterapkan pada lelaki atau pun perempuan yang melakukan pencurian atau pelanggaran sejenisnya. Apabila barang yang dicuri tidak dapat diketemukan lagi, maka si pencuri dihukum bekerja sebagai ‘pandeling’ atau budak bagi orang yang bersedia melunasi denda yang dijatuhkan atas pencurian itu. Biasanya kerabat si pencuri yang turun tangan mengganti kerugian atas pencurian itu.

Menurut Raden Hassan, hukuman kerja paksa jarang sekali, bahkan hampir tak pernah diterapkan oleh Sultan. Ia mencontohkan sulitnya penyelesaian masalah (hukum) Doesoen Tengah terkait wilayah Oeloe Tembesi. Namun demikian, kasus-kasus pencurian dan perampokan masih diajukan ke hadapan Sultan untuk diselesaikan.

Pada tanggal 15 Juli, mereka sudah tiba kembali di Djambi. Keesokan harinya, bersama Raden Hassan, Schouw Santvoort pergi mengunjungi Danau Sipin yang terletak di sebelah barat ibukota. Danau Sipin mendapatkan airnya dari aliran Soengei Sipin. Muaranya terdapat di seberang benteng.

Di tepian danau itu, di dataran yang lebih tinggi, terdapat kebun-kebun dan lahan-lahan pertanian milik Pangeran Wiro Koesoemo. Di tengah danau, terdapat sebuah pulau yang biasanya tenggelam sama sekali ketika air sungai sedang pasang. Pun di pulau ini terdapat ladang. Selain dari Soengei Sipin, danau itu juga mendapatkan air yang mengalir dari Danau Kenali, yang letaknya tidak jauh. Danau Sipin dan dan Danau Kenali terhubung satu sama lain oleh Soengei Pidjoan. Tak banyak tanah yang subur di daerah ini, bahkan pohon kelapa tidak tumbuh subur di sana. Namun demikian, hutan-hutan di sekitarnya menghasilkan beragam jenis kayu.

Dari hasil penelitiannya, Schouw Santvoort berhasil menuliskan buku mengenai wilayah Belanda di daerah Kesultanan Djambi. Wilayah yang dibahasnya mencakup tiga permukiman kecil.

Yang utama adalah permukiman di ibukota Djambi. Permukiman itu disebut Tanah Pileh dan terbentang di tepian kanan Batang Hari. Di sebelah timur, daerah itu dibatasi oleh Soengei Asam; di sebelah barat dibatasi oleh garis imajiner yang terdapat sekitar 100 meter jauhnya dari benteng.  Seberapa jauhnya batas selatan terpisah dari tepian sungai tidak dapat ditentukan dengan pasti.

Benteng—yang disebut-sebut oleh Schouw Santvoort—terdapat di tempat yang dulunya merupakan kraton Sultan. Lahan tempat benteng itu dibangun terletak kira-kira 15 meter di atas permukaan air laut. Benteng itu ditempati oleh 75 orang serdadu, 2 orang perwira dan seorang perwira kesehatan/medik. Rumah agen kepolisian terdapat di sebelah timur benteng itu. Rumah itu sendiri tidak termasuk di dalam area benteng. Agen Kepolisian itu diperbantukan pada Sultan untuk  memandu dan menjaga agar kesepakatan yang dibuat Hindia-Belanda dengan Sultan pada tahun 1858, dilaksanakan dengan baik. Pengaturan dan kepemimpinan di dua permukiman lainnya juga menjadi tanggung jawab Agen Kepolisian itu.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.

* Tanah Pileh (untuk menyebut Tanah Pilih Kota Jambi)


Tag : #ekspedisi sumatra tengah 1877 #sejarah jambi dalam naskah belanda #ekspedisi belanda ke jambi 1877 #danau sipin kota jambi



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah