Selasa, 18 Juni 2019


Sabtu, 12 Januari 2019 12:28 WIB

Menjelajah ke Danau Lebar dan Danau Tengah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Hijau di belantara—yang terkadang agak membosankan di mata—sesekali dihidupkan oleh burung-burung yang beterbangan: burung ‘mankako’ yang bersayap biru dan berparuh merah. Burung ‘mankako’ itu juga disebut ‘sekakan’. Dan, sunyi hutan sesekali dipecahkan oleh siul cantik burung  ‘sawé’ dan suara serak burung-burung ‘anggang’.  



Daerah ini datar. Hal itu membuat van Hasselt teringat pada lingkungan alam di pantai Barat Sumatra (tempatnya tinggal beberapa lama). Daerah rawa-rawa yang datar itu seolah-olah berbanding terbalik dengan daerah berbukit-bukit di Sumatra Barat.

Sebelum berangkat, Raden Hassan telah memerintahkan beberapa orang untuk berangkat duluan naik sampan. Mereka ditugaskan untuk  menebang batang-batang kayu kecil yang dapat menghambat perjalanan para penjelajah. Setelah berlayar mengikuti kelok-kelok sungai itu, aliran sungai itu tiba-tiba terbagi dua.

Mereka mengikuti aliran sungai yang kanan. Cabang sungai yang sebelah kanan mengalir ke arah utara. Semakin lama, tepiannya yang sebelah kiri menjadi semakin tinggi. Setelah mendayung lagi selama ¾ jam, mereka tiba di Danau Lebar. Danau itu, yang sebagian besar dipenuhi oleh pasir dan lumpur, terbentang sepanjang 1200 meter ke arah utara.

Mereka meneruskan perjalanan, memasuki sungai kecil yang airnya bersumber dari Soengei Tongkal. Di suatu tempat yang rindang, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan siang yang dipersiapkan oleh anak buah  Raden Hassan. Lalu, perjalanan dilanjutkan, mengikuti percabangan sungai ke kiri lagi, untuk sampai ke Danau Tengah. Tak beda dengan Danau Lebar, pun Danau Tengah penuh dengan pasir dan lumpur. Tepian Danau Tengah ditumbuhi oleh semacam alang-alang yang disebut ‘rasoh’.

Dalam perjalanan pulang, sampan-sampan mereka menepi. Perjalanan dilanjutkan di darat, ke daerah berdataran lebih tinggi di sebelah timur Danau Lebar. Raden Hassan berniat membuat lahan pertanian di daerah ini karena tanahnya lebih tinggi dari permukaan air sungai dan sangat subur.

Sayangnya, mereka tak dapat berlama-lama menjelajah di daerah itu karena semak-belukar yang teramat rimbun dan akar rambat tidak memungkinkan mereka memasuki rimba di sana. Di antara belukar di daerah itu banyak terdapat ‘djaroem-djaroem’ yang kayunya bagus untuk dibuat tongkat dan ‘akar pekan’ serta ‘akar loendang’, yaitu sejenis akar merambat yang menyimpan air.

Akar-akar itu biasa dicari untuk sumber air minum oleh warga masyarakat yang sedang berada di hutan. Niat untuk mengunjungi danau kecil yang menjadi kolam pemancingan Sultan terpaksa dibatalkan karena matahari mulai turun di langit. Mereka tak ingin mendayung dalam gelap di sungai yang penuh kelok dan hambatan.

Beberapa hari setelah mengunjungi danau-danau itu, Schouw Santvoort mengunjungi Sultan. Ia berencana untuk bercerita mengenai KNAG—perhimpunan ilmu bumi Belanda—yang menyelenggarakan Ekspedisi Sumatra Tengah itu.

Untuk memudahkan penjelasannya, Schouw Santvort membuat suatu tulisan yang diterjemahkan oleh Kontrolir Niessen ke dalam bahasa Melayu. Walau tampaknya tidak terlalu tertarik, Sang Sultan mendengarkan penjelasan yang disampaikan kepadanya dan mengizinkan Schouw Santvoort untuk menjelajah ke hulu Doesoen Tengah bersama dengan Raden Hassan dan Mahmoed.

Akan tetapi, Sultan menekankan bahwa penjelajahan lebih jauh ke hulu harus ditunda sahulu sampai para Pangeran dan Kepala Adat telah siap menerima kedatangan tim penjelajah dan kapal uap mereka.

Pada tanggal 8 Juli, mereka berangkat. Setelah berunding lama, akhirnya Sultan bersedia ikut serta. Lelaki tua itu ber’tugas’ sebagai penunjuk jalan. Tugas itu dijalankannya dengan serius. Ia menggerak-gerakkan tangannya untuk menunjukkan arah yang harus ditempuh.

Baru kali itulah, Sultan menumpang kapal uap Belanda. Salah seorang Pangeran mengungkapkan bahwa dahulu kala, pemerintah Hindia-Belanda membawa raja-raja yang harus ke Batavia naik kapal uap seperti itu. Sang Sultan tidak berusaha menutupi rasa ingin tahunya. Dengan seksama, ia meneliti mesin uap kapal itu dan memeriksa setiap sudut di atas kapal.

Menjelang tengah hari, mereka tiba di Doesoen Oelak. Setelah makan, Sultan dan Raden Hassan naik ke darat untuk sholat. Mereka tak ingin melakukan ibadah itu di kapal karena menganggap kapal uap itu bukan tempat yang tepat untuk melakukan ibadah sholat. Schouw Santvoort mencatat besarnya pengaruh Raden Hassan pada Sultan Djambi. Ia sangat terkesan oleh sosok Sang Sultan; tetapi sosok Raden Hassan lain lagi. Lelaki yang lebih muda itu terkesan agak menyebalkan dan keras kepala.

Pukul 14.30, mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, kapal uap itu sudah membuang sauh di perairan Doesoen Tengah. Sebelum beristirahat malam itu, Schouw Santvoort membuat sketsa cabang-cabang sungai yang hari itu mereka lalui. Ia melengkapi sketsanya dengan menggambarkan pula gundukan-gundukan pasir dan titik-titik berbahaya di sungai.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877



Berita Terbaru

 

Forwakada
Senin, 17 Juni 2019 21:52 WIB

Komisi II Respon Positif Penguatan Wakada


Kajanglako.com, Jakarta - Wacana revisi Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pasal kewenangan wakil kepala daerah,

 

kuliner khas Jambi
Senin, 17 Juni 2019 21:44 WIB

Gubernur Gandeng APJI Kembangkan Potensi Kuliner Khas Jambi


Kajanglako.Com. Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, menjamu kunjungan Asosiasi Perusahaan Jasoboga Indonesia (APJI), di ruang kerja gubernur, Senin (17/6)

 

Pendidikan
Senin, 17 Juni 2019 20:02 WIB

Ini Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Tanjabtim Terkait SMP N 10


Kajanglako.com, Tanjab Timur -Menanggapi pemberitaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 10 Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim)

 

Senin, 17 Juni 2019 17:19 WIB

Kukuhkan Pengurus LPTQ, Merangin Target Masuk Lima Besar MTQ Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin- Bupati Merangin, Al Haris mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Merangin periode 2018-2023,

 

Hama
Senin, 17 Juni 2019 16:30 WIB

Hama Babi Resahkan Petani di Jangkat


Kajanglako.com, Merangin- Sejak sebulan terakhir, petani di Desa Renah Alai, Kecamatan Jangkat, diresahkan dengan hama babi. Kawanan babi yang jumlahnya