Minggu, 19 Mei 2019


Sabtu, 05 Januari 2019 08:40 WIB

Tafsir Bencana dalam Catatan Sejarah

Reporter :
Kategori : Jejak

Ilustrasi abad 19 akan letusan Gunung Api Perbuatan di Pulau Krakatau, Agustus 1883. (bbc.com)

Oleh: Wiwin Eko Santoso*

Pada 26 dan 27 Agustus 1883, gunung api Krakatau meletus dahsyat hingga memusnahkan 165 desa dan merusakan 132 desa, serta merenggut nyawa sekitar 36000 atau 40000 orang di sekitar Banten dan Lampung. (Andrian Bernard Lapian, 1992: 219)



Apa tafsiran (intepretasi) orang terhadap peristiwa itu?

Masyarakat Belanda, misalnya R.A. van Sandick, dalam tulisannya menganggap peristiwa itu sebagai hukuman dari Tuhan, seperti dalam Perjanjian Lama, khusus kepada keluarga aristokrasi pribumi di Caringin.

Memang, pada 26 Agustus 1883 itu, sebagian besar keluarga dan keturunan Raden Adipati A. Karta Nata Negara ditelan ombak tsunami efek erupsi Krakatau di pantai Caringin. Paling tidak, berdasarkan kisah “Saijah dan Adinda”, keluarga ini terkenal zalim kepada rakyatnya. (Andrian Bernard Lapian, 1992: 221)

Sebelum peristiwa itu terjadi, dalam buku Max Havelaar, Douwes Dekker hampir berhasil menelanjangi kezaliman Bupati Lebak Banten, R.A.A. Karta Natanegara. Sebab, penduduk Lebak hidup miskin dan diperas (gekneveld) oleh bupati dan keluarganya. Sayangnya, Karta Natanegara memang orang kuat, kepala wilayah Sunda keturunan keluarga berpengaruh dan terhormat. (Cornellis Fasseur, 1992: 186-187)

Bahkan, atasan Asisten Residen Douwes Dekker sendiri, yakni Residen Brest van Kempen tidak mau mengikuti saran Dekker agar bupati itu dipindahkan ke Serang, demi kemudahan penyelidikan atas dugaan kejahatan pemerasan rakyat. Ternyata, Gubernur Jenderal Duymaer van Twist di Bogor pun lebih setuju pendapat Residen Brest van Kempen daripada Dekker. (Cornellis Fasseur, ibid)

Sebenarnya, sejak tahun 1840, pemerintah Hindia Belanda sudah memperingatkan para residen agar tidak boleh gegabah dalam menyelidik hingga menghukum para bupati. Oleh karena itu, Asisten Residen Dekker dianggap tergesa-gesa dan tidak paham bahwa apa yang disebutnya pemerasan atau kejahatan, bagi penduduk Jawa merupakan adat, bukan kejahatan.

Padahal, baik sebelum dan sesudah tahun 1856, sebagaimana yang dilukiskan oleh Kontroliur W.B. Bergsma (menjabat 1862-1866) di Lebak, pemerasan oleh pembesar pribumi itu memang keterlaluan. Sebaliknya, pemerintah Hindia Belanda membela para bupati dari tuduhan Asisten Residen dengan menaikan gaji, termasuk gaji R.A.A. Karta Natanegara. Sebab, menurut pemerintah, gaji yang kecil itu biang para pribumi memeras rakyatnya sendiri. (Cornellis Fasseur: 191)

Mengapa Residen hingga Gubernur Jenderal pun tidak berani memecat pribumi macam bupati Lebak R.A.A. Karta Natanegara itu?

Dalam bukunya berjudul Max Havelaar, Asisten Residen Lebak tahun 1856 si Douwes Dekker (alias Multatuli) menulis, bahwa di negeri Hindia Belanda berlaku aturan: pemerintah lebih suka memecat 10 residen daripada 1 orang bupati dengan alasan-alasan politik. (Multatuli, 1981: 227)

Mengapa bisa begitu?

Pemerintah takut terulang Perang Jawa (1825-1830) macam yang dimotori bangsawan Yogyakarta, Diponegoro, dengan melibatkan para bupati, jawara, bandit, dan ulama. Bisa jadi, jika orang macam bupati Lebak R.A.A. Karta Natanegara ini dipecat, maka ia akan berkumpul dengan bangsawan pecatan lain untuk melakukan pemberontakan. Atas nama “membela agama”, mereka bisa menjadi perusuh yang membuat peperangan.

Terus, siapa yang berani menghukum bupati dan keluarga pemeras rakyat itu?

Tadi, pada 26 Agustus 1883, sebagian besar keluarga besar Raden Adipati A. Karta Natanegara ditelan ombak tsunami dari erupsi Krakatau. Menurut orang Belanda macam R.A. van Sandick, keluarga yang zalim itu kena azab dari Tuhan (Mungkin Sandick mengacu pada Keluaran [14] ayat 28 atau Bilangan [16] ayat 30).

Sementara itu, menurut masyarakat adat Banten, bencana bagi keluarga besar R.A A. Karta Natanegara terjadi karena pelanggaran adat berupa pesta perkawinan di kediaman bupati Caringin digabung dengan upacara khitanan. Di lain pihak, menurut ulama setempat, malapetaka itu sebagai hukuman akibat tayuban di rumah bupati, disertai ronggeng dan kegiatan yang tidak sesuai dengan agama Islam. (Cornellis Fasseur: 221)

Sebaliknya, di Lampung, beberapa kalangan menganggap petaka erupsi Krakatau 1883 itu merupakan hukuman terhadap pemerintah Belanda yang telah menduduki dan menguasai Masjid Agung di Kutaraja, dalam Perang Aceh. (AB Lapian: 219)

Pada 6 Januari 1874, Belanda pernah berhasil menduduki Masjid Raya di Kutaraja Aceh. Dalam pendudukan itu, angkatan perang Belanda dipimpin oleh Letnan Jenderal J. Van Swieten, dibantu pula oleh Kapten Legiun Mangkunegara yakni Pangeran Ario Gondo Sisworo, dan Letnan Legiun Paku Alam yakni Raden Mas Panji Pakuning Prang. (Ibrahim Alfian, 2016: 52)

Itulah tafsiran sebagian orang Lampung terhadap tsunami Krakatau.

Peristiwa Krakatau terjadi sekitar perempat akhir abad ke-19. Namun sebelumnya, di awal perempat abad ke-19, terjadi pula letusan gunung api yang lebih dahsyat, yakni Gunung Tambora di Sumbawa.

Pada 10 April 1815, Gunung Tambora meletus dan melenyapkan 4 kerajaan sekaligus, yakni Kerajaan Dompo (dengan 10.000 penduduknya), kerajaan Tambora (6000), Sanggar (2200), dan kerajaan Papekat (2000 orang). Tinggal kerajaan Sumbawa di sebelah barat dan Kerajaan Bima yang selamat. (Lihat AB Lapian: 217)

Menurut Syair Kerajaan Bima, letusan Gunung Tambora merupakan hukuman terhadap kerajaan Papekat dan Tambora, karena perlakuan terhadap Haji Mustafa—orang keramat. Dalam versi lain, tokohnya bukan Haji Mustofa, melainkan seorang saudagar Arab dari Bengkulu yang bernama Tuan Said Idrus. Diceritakan, raja Tambora (Sultan Abdul Gafur) marah kepada Tuan Said dan menyuruh rakyat untuk menangkap dan membunuhnya.

Menurut riwayat lokal itu, beberapa orang membawa Tuan Said ke gunung Tambora. Di sana mereka coba menikam dan menombak dengan senjata, tetapi Tuan Said kebal. Namun begitu dihantam dengan kayu dan batu, barulah kepala Tuan Said pecah menghamburkan darah, sambil menggelapar. Setelah tewas, Tuan Said dimasukan ke dalam gua di gunung Tambora. Kemudian, Gunung Tambora menyala dan meletus.

Lantas, timbul pertanyaan: apakah bencana selalu dalam bentuk peristiwa alam, seperti gunung meletus atau gempa?

Menurut teks yang berasal sebelum pertengahan abad ke-7, yakni Quran Surat Al-An’aam [6] ayat 65, bahwa azab itu tidak hanya dari bumi atau keganasan alam saja, tetapi juga dari keganasan manusia, atau kekacauan (fitnah), misal: saling bunuh di luar batas. Bahkan, serbuan bangsa asing yang merampas apa saja di kota dan merusak tempat-tempat ibadah—juga azab dari Tuhan (Lihat QS Al-Israa’ [17] ayat 7).

Hal demikian pernah terjadi pada 10 atau 16 Agustus 1511, di kerajaan Islam terkuat di Nusantara: Malaka, yang diserbu oleh Portugis.

Paling tidak, sejak 1524, Hikayat atau Sejarah Melayu sebagai kronik istana Malaka/ Johor telah coba menjelaskan mengapa bencana “Agustus 1511” itu terjadi. Ceritanya begini:

Tahun 1488, jelang ajalnya, Sultan Alaudin Syah berpesan kepada putranya yang akan menjadi penguasa Malaka, yakni Sultan Mahmud Syah (1488-1511), bahwa “Jika engkau menghukum mati mereka [rakyatmu orang Melayu] sedangkan mereka tidak berbuat salah, maka kerajaanmu akan binasa.” (Anthony Reid, 2004: 329)

Ternyata, setelah berkuasa, Mahmud melanggar pesan ayahnya yang mirip QS An-Nisaa [4] ayat 112 itu, dengan banyak melakukan pembunuhan, terutama kepada bendahara (perdana menteri) yang baik, yakni Sri Maharaja [Tuan Ali Sri Nara Diraja?].

Sebagaimana direkam Hikayat Sejarah Melayu, azab Allah datang dengan mengirimkan orang kuat yang balatentaranya tak tertahankan, yakni Alfonso de Alburquerque.

Menariknya, kesaksian Alfonso Alburquerque dalam Comentarios, dan orang sezamannya yakni Tome Pires, dalam Suma Oriental-nya, merincikan kekejaman Sultan Mahmud serupa dengan Hikayat Melayu. Menurut Alfonso Alburquerque sendiri, Sultan Mahmud Syah telah membunuh saudaranya, Raja Sulaiman, anaknya yakni Ahmad, istrinya, dan 17 pembesar kerajaan, serta keluarga Bendahara. (Lihat Ayang Utriza Yakin, 2016: 131)

Contohnya dari Tome Pires, oleh karena Raja Jalim [Zaenal Abidin] sempat didesas-desuskan akan mengkudeta Sultan Mahmud, maka ia menjauhkan diri dari hal duniawi menjadi pertapa. Namun tetap saja ia mati diracun. Lantas, dalam keadaan terpengaruh opium, Mahmud membunuh isterinya sendiri, yakni saudara perempuan Jalim, karena mungkin takut dibunuh balas. (Armando Cortesao, 2014: 316)

Pada 11 September 1509, Kapten Diego Lopez de Sequera, pimpinan rombongan dagang Portugis, datang membawa hadiah ke Malaka dan menemui Sultan Mahmud. Belakangan, Sultan menaruh curiga, terus mengadakan rapat internal untuk rencana pembunuhan terhadap orang Portugis (Armando Cortesao: 327; juga Ayang Utriza Yakin: 131)

Dalam rapat tersebut,para mandarin dan Bendahara setuju dengan ide Sultan Mahmud, kecuali Lasemana (Laksamana Hasan) dan Tumongo (Temenggung Tuan Tahir Sri Nara). Menurut Laksamana dan Temenggung, orang Portugis harus diperlakukan baik sampai terbukti mereka melakukan hal yang buruk.

Tetapi Sultan Mahmud berkata: “Mereka datang untuk memata-matai tanah kita, agar kemudian kembali membawa armada... mereka penakluk dunia, menghancurkan dan menodai nama nabi kita yang suci. Biarkan mereka mati semua..” (Armando Cortesao: 328)

Versi lain, Slamet Muljana (2007: 209) mencatat, bendahara Tun Matahir dibunuh Sultan Mahmud akibat sempat berhubungan dengan Lopez de Sequera.

Kemudian, sesuai rencana muslihat orang-orang Melayu, putra Timuta Raja coba menusuk keris kepada Diego Lopez de Sequera di saat permainan catur di kapalnya, namun gagal. Sequera segera belayar pergi, tetapi beberapa orang Portugis terbunuh dan 19 orang tertangkap, termasuk Rui de Araujo. (Armando Cortesao: 309)

Dua tahun kemudian, tepatnya 1 Juli 1511, Kapten Mayor Afonso de Albuguerque (Gubernur Goa) tiba di Malaka membawa 19 kapal dan 1.400 prajurit. Untuk beberapa hari, Afonso mengirim pesan perdamaian dan meminta pembebasan tawanan Portugis. Ia berusaha menghindari peperangan. Begitu versi Tom Pires (via Armando Cortesao: 356; Ayang Utriza Yakin:132)

Lantas, Tome Pires menulis: “ia [Alfonso] berhadapan dengan sikap sembrono orang-orang Melayu, keangkuhan dan ucapan arogan orang-orang Jawa, ditambah sikap raja [Mahmud Syah] yang gegabah keras kepala...berperangai congkak. Tuhan kita telah menasbihkan bahwa ia akan membayar pengkhiatan yang begitu besar kepada bangsa kita.” Intinya, Sultan Mahmud tidak menghendaki perdamaian. (Armando Cortesao: 358)

Pada 24 Juli 1511, Alfonso dan pasukan mulai menyerang Malaka. Dalam teks Hikayat Melayu, ibukota Malaka mendapatkan hujan bola-bala meriam Portugis. Tanggal 16 Agustus 1511, Malaka dikuasai Alfonso dan Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke Kampar (Anthony Reid: 328; Ayang Utriza Yakin: 132).

Mungkin saja benar Prof. Slamet Muljana (2007: 207) menulis, pengiriman Sequera tahun 1509 ke Malaka oleh Afonso untuk aksi spionase bertopeng dagang. Kemudian, Sultan Mahmud sengaja diprovokasi agar menangkap rombongan Sequera bahkan membunuh, agar Portugis memiliki alasan logis menyerang dan merebut kota Malaka.

Apapun tafsirnya, sumber lokal menganggap Sultan Mahmud Syah telah melanggar pesan ayahnya untuk tidak membunuh rakyat sembarangan.

Dalam buku Comentarios, Alfonso de Alburquerque menganggap Mahmud Syah sombong karena pernah melarang ayahnya, yakni Sultan Alaudin naik haji ke Mekah, dengan alasan Malaka sudah seperti Mekah. (Ayang Utriza Yakin:131)

Anehnya, walau mengaku ingin membela Nabi Muhammad, Sultan Mahmud tega membunuh orangnya sendiri, misal Tuan Perpateh Puteh dan Tuam Acem (Hasan) dengan keris tanpa proses yang adil dan benar. Ini versi historiografi kolonial—Suma Oriental. (Armando Cortesao: 326)

Demikianlah historiografi tradisional, kekejaman Bupati Lebak di Banten atau Sultan Abdul Gafur di Tambora dianggap pengundang bencana alam, sedangkan Sultan Mahmud di Malaka disebut pengundang azab serangan bangsa Portugis.

*Penulis adalah pemerhati sejarah. Kini tinggal dan bekerja di Kota Jambi.

 

Daftar Pustaka:

Andrian Bernard Lapian, “Bencana Alam dan Penulisan Sejarah (Krakatau 1883 dan Cilegon 1888”, dalam T. Ibrahim Alfian, dkk (ed.), Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis. Yogyakarta: GMUP, 1992.

Anthony Reid, Sejarah Moderen Awal Asia Tenggara: Sebuah Pemetaan. Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004.

Armando Cortesao (peny.), Suma Oriental Karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Francisco Rodriges. Terj. Adrian Perkasa & Anggita Pramesti. Yogyakarta: Ombak, 2014.

Ayang Utriza Yakin, Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX M. Jakarta: Kencana, 2016.

Cornellis Fasseur, “Tentang Lebak”, dalam T. Ibrahim Alfian, dkk (ed.), Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis. Yogyakarta: GMUP, 1992.

Ibrahim Alfian,Perang di Jalan Allah. Perang Aceh 1873-1912. Jakarta: Ombak, 2016.

Multatuli, Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Terj. H. B. Yassin. Djakarta: Djambatan, 1981.

Slamet Muljana,Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LkiS, 2007.


Tag : #Letusan Gunung Api Krakatau #R.A. van Sandick #Raden Adipati A. Karta Nata Negara #Letusan Gunung Tambora



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:23 WIB

Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat


Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat Kajanglako.com, Sarolangun – Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:11 WIB

Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair


Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair Kajanglako.com, Sarolangun – Pencairan Dana Dessa (DD) tahap pertama tahun

 

Waspada Kebakaran
Sabtu, 18 Mei 2019 19:53 WIB

Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran


Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran Kajanglako.com, Tanjabtim - Kondisi pemukiman penduduk yang padat, ditambah lagi dengan banyaknya

 

Laporan Keuangan
Sabtu, 18 Mei 2019 19:48 WIB

Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK


Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kembali berhasil meraih predikat opini