Jumat, 22 Maret 2019

Sabtu, 05 Januari 2019 08:32 WIB

Danau-danau di Dekat Doesoen Tengah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Rumah Raden Mahmoed adalah rumah panggung yang sederhana. Seperti rumah-rumah lain di daerah ini, sebuah tangga kayu yang dipagari bambu. Beberapa helai kain bermotif bunga tergantung, memisahkan serambi depan dipisahkan dengan ruangan dalam rumah itu. Sebuah meja dan beberapa kursi—hadiah dari pemerintah Hindia-Belanda—terdapat di serambi depan itu. 



Setelah duduk, van Hasselt menyampaikan surat dari KNAG (Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap) kepada Sultan. Surat itu disusun oleh Prof. Gonggrijp di Delft. Sesuai dengan adat-kebiasaan Melayu, surat itu dibungkus rapi dengan kain sutra berwarna kuning.  Sultan memberikannya kepada Pangeran Wiro Koesoemo, yang membuka dan membacakan surat itu keras-keras.

Van Hasselt kemudian menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih atas bantuan Sultan mengirimkan sebuah perahu ke Tandjoeng Simalidoe. Sambil menikmati kudapan, van Hasselt menceritakan rencananya untuk berlayar ke daerah huluan sementara menunggu kedatangan perlengkapan penjelajahan untuk kapal uapnya.

Sultan menyarankan untuk menunggu dulu karena permukaan air sungai terlalu rendah untuk dilayari. Walaupun van Hasselt menjelaskan bahwa hal itu justeru ingin dilakukannya untuk mencari tahu sejauh mana kapal uap itu dapat berlayar, Sang Sultan berkali-kali menekankan agar niat van Hasselt dibatalkan saja.

Selain dangkalnya air sungai yang dapat menghambat perjalanan, Sultan menyatakan bahwa ia belum sempat mempersiapkan dan memberitahu para kepala adat dan warga masyarakat tentang kedatangan tim penjelajahan itu. Mau tak mau, van Hasselt terpaksa menuruti saran Sultan.

Karena rencana jelajah kecilnya batal, lelaki Belanda mencari alternatif kegiatan lain selama tinggal di Doesoen Tengah, yaitu  mengunjungi danau-danau di sekitarnya. Menurut peta-peta lama Pulau Sumatra, di sebelah hulu kota Djambi, Soengei Batanghari membentuk danau. Di peta-peta yang baru, danau itu tidak digambarkan lagi. Kemungkinan besar, keberadaan danau yang tertera di peta kuno itu didasarkan atas cerita penduduk setempat. Ternyata, memang betul. Di dekat ibukota, terdapat tiga buah danau, yaitu Sipin, Kenali dan Teloek Medang. Lebih jauh ke hulu, juga terdapat beberapa danau lagi.

Di peta-peta kuno, danau-danau itu terletak lebih jauh di pedalaman. Kemungkinan digambarkan demikian mengikuti petunjuk penduduk setempat yang terbiasa membuat perhitungan jarak yang lebih besar--bahkan dua-tiga kali lebih jauh—daripada dalam kenyataan. Kebiasaan mereka membesar-besarkan jarak seperti itu sudah lebih sering dialami oleh van Hasselt.

Di sekitar Doesoen Tengah, danau-danau itu dikenal dengan nama Danau Bangko dan ada empat buah danau. Dua danau terbesar, Danau Lebar dan Danau Tengah, mendapatkan air dari beberapa sungai kecil yang mengalir dari daerah Tongkal yang lebih tinggi di sebelah barat laut, sebelum akhirnya tumpah ke aliran Batang Hari. Di sebelah barat kedua danau ini terdapat danau yang sangat kecil. Danau kecil itu dimanfaatkan Sultan sebagai kolam pemancingan ikan. Danau yang terakhir terletak di arah utara. Dahulu kala, kemungkinan besar daerah di antara danau-danau ini merupakan satu kesatuan. Bila air sungai sedang pasang, daerah itu terendam air sama sekali.

Berjarak sekitar 5 mil (Inggris) dari danau-danau di atas, ada sebuah danau lagi, yaitu  Danau Kaoes. Tak beda dengan danau-danau lainnya, pun Danau Kaoes mendapatkan airnya dari beberapa sungai kecil dan bahkan, memiliki sumber air dari sungai yang juga mengisi Danau Tengah. Namun, sungai ini penuh dengan tetumbuhan sehingga tak dapat dilalui sampan kecil pun. Setelah doesoen Moeara Kaoes, setelah pulau di tengah sungai--tempat tinggal Pangeran Itam, air dari danau itu mengalir ke Batang Hari.

Pada tanggal 5 Juli, van Hasselt mengunjungi Danau Bangko. Ia ditemani oleh Raden Hassan. Menjelang pk 10.30, perahu mereka memasuki perairan Soengei Bangko yang bermuara di seberang Doesoen Tengah.

Pada saat itu, kemarau, sungai itu sangat dangkal dan sebagian besar dipenuhi dengan batang-batang pohon yang dulunya tumbuh di tepian sungai. Batang-batang pohon itu mebuat sungai itu hampir tak dapat dilayari sama sekali. Sampan kecil yang mereka tumpangi pun sulit mencari jalan di sungai itu. Sesekali mereka harus mendayung sambil membungkukkan badan untuk lewat di bawah pohon rengas. Sesekali mereka harus turun dari sampan untuk menariknya melewati batang pohon yang terentang di sungai.

Di saat air dangkal seperti ini, tepian sungai itu berketinggian 5-6 meter. Di musim hujan, ketika sungai itu membengkak dengan air, tepian itu terendam sama sekali. Pepohonan rimbun yang menyatu dengan semak dan belukar, hanya sesekali menipis untuk menunjukkan adanya pondok di sebuah ladang dan pemiliknya yang sibuk bekerja di lahan pertanian itu.

Raden Hassan dan rekan-rekan seperjalanannya hari itu, menunjuk ke beberapa pohon dan menjelaskan manfaatnya kepada van Hasselt. Ia melihat pohon ‘tamboe’ yang tak banyak dikenal.

Kayu dari pohon itu baik digunakan untuk membuat papan. Pohon ‘sioer’ dengan batang kayunya yang keras, biasa digunakan untuk membuat tiang kapal. Pohon ‘g(e)lam’ atau ‘galang tikoes’ berbatang kayu ringan dan kurang bagus. Pohon ‘belanti’ hanya terkadang saja digunakan sebagai bahan bangunan, tetapi akarnya seringkali digunakan untuk membuat gagang parang. Pohon ‘sepang’ atau ‘tjetjang’ (yang kayunya dikenal dengan nama ‘sapan’ di Eropa) menghasilkan zat pewarna merah. Batang pohon ‘merangsi’ tidak bermutu, tetapi daunnya dapat diperas dan digunakan untuk mengusap tubuh orang yang terkena demam tinggi. Daun pohon ‘poetat’ digunakan untuk membuat ulam yang dimakan bersama nasi. Pohon ‘daliëmemberikan kayu yang sangat keras. Batang pohon ini sangat bagus untuk membuat tiang rumah (namun demikian, jarang digunakan). Juga ada pohon ‘madang’ dan pohon ‘rasak. Selain aneka pepohonan, van Hasselt juga mencatat adanya belukar sakat rambé koewauw(yang berarti ‘sayap kuwau). Dedaunan belukar ini (yang mirip sayap burung kuwau) terkadang digunakan untuk membuat atap.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.

 


Tag : #Sejarah Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Jambi dan Sumatra Tengah #Midden Sumatra Expeditie 1877



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:49 WIB

KPU Sarolangun Kekurangan Surat Suara 84 Ribu Lembar


Kajanglako.com, Sarolangun - Setelah  selesai dilakukan pelipatan dan penyortiran kertas suara, KPU menemukan sekitar puluhan ribu lembar surat suara dinyatakan rusak

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:38 WIB

Ratusan Personel Gabungan Ikuti Apel Pengaman Pemilu 2019


Kajanglako.com, Jambi - Jumat Pagi(22/3), digelar apel gabungan bersama ratusan Anggota TNI-Polri dan Pemprov Jambi serta komponen masyarakat guna mematangkan

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:37 WIB

Bupati Mashuri Serahkan SK ke 200 CPNS Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, Mashuri, menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada sebanyak 200 Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ), Jumat (22/03). Penyerahan

 

Jumat, 22 Maret 2019 13:41 WIB

Jumat Ini, Al Haris Sosialisasikan Program Subuh Berjamaah di Tabir Ulu


Kajanglako.com, Merangin - Setiap pagi Jumat Bupati Merangin, Al Haris, keliling kecamatan mensosialisasikan program Gerakan Pendidikan Subuh dan Subuh

 

Jumat, 22 Maret 2019 13:40 WIB

Target Baru Terealisasi 22 Persen, Samsat Merangin Akan Turun ke Kecamatan dan Razia Kendaraan


Kajanglako.com, Merangin - Samsat Merangin tahun 2019 ini ditargetkan pendapatan Rp26 Miliar, sejauh ini dari target yang ditetapkan tersebut baru terealisasi