Jumat, 22 Maret 2019

Minggu, 30 Desember 2018 15:11 WIB

Sedekah Payo dan Berperahu di Sawah Angkat Potensi Wisata Desa Senaung

Reporter : Wenny Ira R
Kategori : Ragam

Berperahu sawah warga Desa Senaung Muaro Jambi (Foto:Kajanglako/Wenny Ira R)

Kajanglako.com, Muaro Jambi - Hari itu, Sabtu 22 Desember 2018 merupakan hari ke dua dalam rangkaian acara Festival Kampung Senaung 2018 yang diadakan di desa Senaung, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Sabtu pagi yang cerah itu, masyarakat desa Senaung bersiap-siap menuju ke lokasi sedekah payo dilaksanakan. Sedekah yang merupakan tradisi turun temurun masyarakat desa Senaung sejak dahulu kala. Ritual tradisi ini dimaksudkan sebagai upaya memohon berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum memulai bertanam padi, agar proses bertanam padi hingga panen nanti tidak banyak gangguan, hasil panen diharapkan melimpah.



Di lokasi sedekah payo yang berada di pinggir sawah atau umo, telah berdiri tenda terbuka sederhana tempat laki-laki dan perempuan berkumpul. Tenda itu hanya berupa terpal lebar yang diikatkan ujungnya pada beberapa patok yang tertanam di tanah dan ujungnya yang lain lagi diikatkan pada pohon, sementara pada bagian tengah disangga oleh sebuah tongkat kayu. Tenda ini untuk menjadi payung bagi peserta sedekah payo. Sementara terpal lebar lainnya dijadikan sebagai alas duduk yang di atasnya dibentang tikar.

 Pada tradisi ini laki-laki dan perempuan duduk terpisah. Laki-laki duduk di tenda besar membentuk lingkaran. Para perempuan sebagian duduk beralaskan tikar di bawah pohon besar yang rindang memayungi mereka, sebagian lagi yang merupakan tokoh perempuan seperti istri kepala desa dan undangan duduk di bawah cungkup tenda kecil.

Menjelang jam sepuluh pagi, ritual tradisi sedekah payo dimulai. Setiap laki-laki mengenakan kain sarung dan baju koko putih serta berpeci putih di kepala mereka. Kelompok laki-laki ini berbaur antara kepala desa, tokoh masyarakat, cerdik pandai dan alim ulama. Seorang ulama memimpin prosesi tradisi sedekah payo yang dimulai dengan dzikir bardah, tahlil, doa hingga ceramah.

Para perempuan tampak cantik mengenakan baju kebaya, baju kurung, berkain sarung dan tekuluk ke umo di kepala mereka yang berbalut jilbab. Kelompok perempuan yang duduk di bawah pohon rindang tampak meriah dengan aneka rantang berisi berbagai lauk-pauk, sambal,  nasi putih dan nasi minyak yang mereka bawa.

Setelah prosesi sedekah umo selesai, para perempuan yang berada di bawah pohon rindang menata segala  isi rantang mereka ke dalam bakul nasi dan piring-piring. Satu bakul nasi, dua macam lauk, satu macam sayur  dan sambal pirik yang merupakan sambal khas masyarakat desa Senaug yang terbuat dari buah macang, terasi dan cabe tertata rapibeserta dua buah piring kosong dihidangkan pada sebuah nampan besar.

Laki-laki berdiri membantu perempuan menyambut hidangan pada nampan besar tersebut untuk diberikan dan diletakkan ke hadapan setiap orang. Semuanya tampak apik saling bahu membahu mengedarkan hidangan. Tampaknya, prosesi ini tidak hanya sekedar ritual berdoa sebelum memulai tanam padi, namun juga cermin dari gotong- royong, guyub- rukun, bahkan prinsip laki-laki melayu dan perempuan melayu yang saling bekerja sama dan membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah semua hidangan dalam nampan di dapat setiap orang baik laki-laki maupun perempuan, maka usai berdoa bersama, ceramah dan kata sambutan dari kepala desa serta pejabat pemerintah daerah undangan yang hadir, makan senampan  pun dimulai pada puncak tengah hari sebelum adzan dzuhur berkumandang.

Makan senampan ini juga merupakan kekayaan tradisi bagi masyarakat yang hidup di pinggir sungai Batanghari, khususnya Senaung. Pada setiap nampan besar yang berisi nasi, lauk-pauk, sambal dan sayur itu, dua orang akan makan bersama menikmati hidangan yang tersaji. Asyiknya makan senampan  ini, yang tadinya tidak kenal akan mengenal teman makannya. Kita bisa bercakap dan berkelakar sambil menikmati hidangan.

Namun sedekah payo kali ini tidak hanya sedekah payo biasa, di tengah kita asyik menikmati hidangan pada prosesi makan senampan, lima unit perahu kecil berisi tiga hingga dua orang bergerak mendekat dari arah umo yang sedang banjir ke arah daratan lokasi sedekah payo.

Ternyata mereka yang berperahu tersebut merupakan wisatawan yang tengah menikmati paket wisata berperahu di sawah dalam program Ayo Jelajah Senaung! pada Festival Kampung Senaung 2018 kali ini. Mereka tampak asyik bersantai di atas perahu dan sesekali mengambil gambar peserta sedekah payo di daratan. Beberapa perahu bahkan berhenti di pinggir daratan tersebut, melambaikan tangan pada peserta sedekah payo dan mengambil gambar beberapa kali lagi.

Mereka yang berada di perahu mengenakan tekuluk ke umo  untuk wisatawan perempuan, sementara yang laki-laki mengenakan caping. Wisatawan perempuan juga ada yang mengenakan bedak beras dingin untuk mencegah kulit mereka terbakar sinar matahari.

Wisata berperahu di sawah digagas karena musim banjir tiba di penghujung tahun yang menyebabkan sawah di desa Senaung terendam air. Semula wisatawan akan diajak menyusuri pematang sawah sebelum sawah terendam banjir. Namun apa daya, ternyata sawah terkena dampak banjir.

Akan tetapi, meskipun paket menyusuri sawah diganti dengan berperahu di sawah, tidak menyurutkan wisatawan yang telah mendaftar jauh hari. Sekitar dua puluh wisatawan terjaring selama dua hari untuk menikmati berperahu di sawah. Pada kesempatan ini, ibu-ibu petani desa Senaung yang menjadi guide perahu dan memandu wisatawan berkeliling menikmati pemandangan sawah yang sedang banjir di atas perahu kecil.

Puas berkeliling dan menikmati pemandangan sawah yang banjir di atas perahu, wisatawan dipandu untuk mencuci kaki dan muka, kemudian diajak makan berawang atau makan enak menurut istilah orang desa Senaung. Makan berawang merupakan makan bersama di satu tempat, bisa di pinggir sawah atau di tengah sawah. Kali ini karena banjir, maka lokasi makan berawang di tetapkan di pinggir sawah.

Wisatawan pada kesempatan tersebut diajak menikmati menu-menu kampung dari olahan ikan hingga sambal pirik,  sambil berkumpul duduk bersama menikmati hidangan yang ada bersama guide dan sesama wisatawan lain.

Nabila, wisatawan dari Bandung yang sedang berlibur ke Jambi dan mengikuti paket berperahu ke sawah, mengaku sangat terkesan dengan kegiatan tersebut.

“Seru juga berperahu di sawah, keren kegiatannya. Apalagi makanannya enak. Aku suka sambal yang ada mangganya,” paparnya.

Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Jambi, Didin Sirodjudin yang berkesempatan hadir pada prosesi sedekah payo mengatakan bahwa kegiatan sedekah payo perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai kegiatan budaya. Apa lagi saat ini ada dorongan agar pemerintah daerah membuat kebijakan yang terkait pemajuan kebudayaan sebagai tindak lanjut Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.

Festival Kampung Senaung 2018 yang diselenggarakan pada 21 sampai dengan 23 Desember 2018, terselenggara berkat kerjasama pemerintah desa Senaung, STISIP Nurdin Hamzah, Grindsick, Rambu House, RAW Studio, Genpi, media partner lainnya  termasuk Kajanglako.com. (Kjcom)


Tag : #Muaro Jambi #Jambi #Desa senanung #senaung #wisata #perahu sawah #budaya #sedekah payo



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:49 WIB

KPU Sarolangun Kekurangan Surat Suara 84 Ribu Lembar


Kajanglako.com, Sarolangun - Setelah  selesai dilakukan pelipatan dan penyortiran kertas suara, KPU menemukan sekitar puluhan ribu lembar surat suara dinyatakan rusak

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:38 WIB

Ratusan Personel Gabungan Ikuti Apel Pengaman Pemilu 2019


Kajanglako.com, Jambi - Jumat Pagi(22/3), digelar apel gabungan bersama ratusan Anggota TNI-Polri dan Pemprov Jambi serta komponen masyarakat guna mematangkan

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:37 WIB

Bupati Mashuri Serahkan SK ke 200 CPNS Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, Mashuri, menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada sebanyak 200 Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ), Jumat (22/03). Penyerahan

 

Jumat, 22 Maret 2019 13:41 WIB

Jumat Ini, Al Haris Sosialisasikan Program Subuh Berjamaah di Tabir Ulu


Kajanglako.com, Merangin - Setiap pagi Jumat Bupati Merangin, Al Haris, keliling kecamatan mensosialisasikan program Gerakan Pendidikan Subuh dan Subuh

 

Jumat, 22 Maret 2019 13:40 WIB

Target Baru Terealisasi 22 Persen, Samsat Merangin Akan Turun ke Kecamatan dan Razia Kendaraan


Kajanglako.com, Merangin - Samsat Merangin tahun 2019 ini ditargetkan pendapatan Rp26 Miliar, sejauh ini dari target yang ditetapkan tersebut baru terealisasi