Senin, 26 Agustus 2019


Sabtu, 29 Desember 2018 10:43 WIB

Pertemuan dengan Sultan Djambi di Doesoen Tengah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Agen Polisi, CA Niesen, banyak sekali membantu Schouw Santvoort. Seperti yang dulu dilakukannya dalam penjelajahan yang pertama, ia menginap lagi di rumahnya.



Pada 24 Juni, berkat bantuan Niesen, kapal uap penjelajahan sudah siap melakukan perjalanan percobaan dengan menggunakan uap yang diperoleh dengan membakar kayu. Ini dilakukan untuk bersiap-siap bila tidak tersedia cukup batu bara untuk melakukan perjalanan. Ternyata, hasil percobaan itu sangat memuaskan, bahkan jauh lebih baik daripada yang diperkirakan oleh Schouw Santvoort.

Pada 26 Juni, Schouw Santvoort berangkat menuju Moeara Kompeh. Di dusun itu terdapat pusat pertambangan batu bara yang dikelola oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Di atas sebuah daub—perahu besar—dan dua buah biloengkang, ia memuat sebanyak 11 ton batu bara. Semua itu akan dibawanya ke Djambi sebagai bahan bakar. Ia kembali lagi ke Palembang tiga hari kemudian, pada 29 Juni.

Dengan menarik tiga buah perahu pengangkut batu bara di belakangnya, kapal uap itu berjalan dengan kecepatan 5 mil Inggris per jam. Persediaan batu bara yang dibawa memang tidak terlalu banyak, namun perahu-perahu pengangkutnya—yang paling baik yang dapat diperoleh di Djambi—ternyata sudah tua dan dalam waktu singkat, mulai bocor di sana-sini.

Sementara perahu-perahu itu diperbaiki, Schouw Santvoort dan Kontrolir Niesen (yang akan ikut menjelajah) mengumpulkan data dan informasi untuk memperbaiki peta-peta daerah aliran sungai-sungai. Di  Moeara Kompeh, mereka  juga mengatur ketepatan kompas.

Nakhoda Makkink dan alat-alat penjelajahan yang harus dibawanya kemungkinan baru tiba sebulan kemudian. Karena itu, pada 3 Juli Schouw Santvoort berangkat ke Doesoen Tengah, tempat tinggal Sultan Djambi. Ia diiringi oleh Pangeran Wiro Koesoemo, menantu Sultan Djambi. Pangeran itu tinggal di  Petjinan, sebuah dusun di tepian Batang Hari. Dusun itu terletak di seberang Djambi. Lelaki itu adalah lelaki keturunan Arab yang sangat santun. Ia berpengaruh besar, terutama karena isterinya merupakan putri kesayangan Sang Sultan.

Tak banyak orang yang tampak ketika mereka berlayar melewati beberapa dusun. Tak pula ada tanda-tanda permusuhan. Malam itu, mereka berlabuh di dekat Rantau Madja. Schouw Santvoort, Niesen dan Pangeran Wiro Koesoemo naik ke darat untuk melihat-lihat dusun itu.

Penduduk Rantau Madja takut (atau malu-malu) mendekat. Perhatian Schouw Santvoort segera tertuju pada sebuah bangunan yang berdiri di tepian sungai.   Empat batang bambu terpancang di tanah, terikat satu sama membentuk sebuah panggung berbentuk persegi empat.

Di ujung setiap batang bambu terikat dedaunan palem yang membuatnya tampak seperti umbul-umbul. Sebuah tangga dari panggung itu turun ke dalam air sungai. Tangga itu sangat ringkih sehingga hampir tak mungkin dipanjat untuk naik ke atas panggung. Akan tetapi, tangga ringkih itu memang dibuat dan berfungsi sebagai tangga. Bila dusun itu dirundung penyakit atau seseorang diganggu oleh mahluk-mahluk halus yang jahat, maka panggung itu digunakan untuk memisahkan diri dari warga dusun lainnya.

Schouw Santvoort dan rombongannya meneruskan perjalanan. Pangeran Itam dari Doesoen Kaoes yang berseberangan dengan dusun Rantau Madja, menjadi kemudi. Ternyata, ia bukanlah nakhoda yang baik. Dalam waktu singkat,  oleh rendahnya permukaan air dan karena ia tidak mengenai bagian-bagian sungai yang dalam, beberapa kali kapal uap yang dikemudikannya terdampar di dasar sungai. Untunglah, dengan bantuan para penumpangnya, kapal itu berkali-kali berhasil lepas dan meluncur lagi.

Menjelang tengah hari, mereka tiba di Doesoen Tengah--terlalu sore untuk berkunjung ke rumah Sultan Djambi. Schouw Santvoort memutuskan untuk menunda kunjungan itu. Esok, pagi-pagi, lebih baik.

Keesokan harinya, pagi-pagi pk 09.00, mereka dijemput oleh Pangeran Wiro Koesoemo dan Raden Hassan, yang di kemudian hari ikut berperan dalam penjelajahan Sumatera Tengah, merupakan anak dari seorang saudara perempuan Sultan Djambi yang menikah dengan seorang lelaki berstatus sosial tinggi karena merupakan keturunan Panembahan Palembang.

Raden Hasan itu sendiri menikah dengan salah seorang anak perempuan Sultan Djambi (dari salah seorang isterinya). Karena Raden Hasan dulunya banyak bergaul dengan anggota-anggota militer Hindia-Belanda, ia telah mengenal tata-cara pergaulan Eropa. Karena ia seringkali bepergian ke Singapura, lelaki itu juga menguasai beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ia bangga sekali dengan kemampuannya berbahasa Inggris itu.

Pangeran Wiro Koesoemo dan Raden Hassan membawa Schouw Santvoort dan Kontrolir Niesen ke rumah Raden Mahmoed, putra Sultan Djambi. Sang Sultan memilih menemui tetamunya di rumah itu karena menganggap rumah anaknya lebih baik daripada rumahnya sendiri. Sebuah bendera putih berkibar di atap rumah itu.

Sultan Djambi berusia sekitar 60 tahun. Rambutnya sudah beruban dengan penampilan santun. Ia bersikap sangat ramah dan banyak berbicara. Akan tetapi, keramahan kata-kata dan sikapnya tidak sepenuhnya dapat menutupi kesan bahwa karakternya agak lemah.

Putranya, Raden Mahmoed, berusia sekitar 20  tahun. Ia sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Lelaki itu terkesan pemalu. Dulu, Sultan Djambi menikahi perempuan yang sah menjadi Ratoe. Sayangnya, perempuan itu meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang pertama.  Sejak saat itu, Sultan Djambi menikahi tiga orang perempuan lain yang menjadi gundiknya. Setiap isteri memiliki rumah sendiri-sendiri. Isteri yang keempat merupakan ibunda isteri Pangeran Wiro Koesoemo. Sultan Djambi tidak berhubungan lagi dengan isterinya yang keempat itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi dan Sumatra Tengah



Berita Terbaru

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 15:14 WIB

Ikut Panjat Pinang, Aksi Warga Berkebutuhan Khusus Bius Penonton


Ikut Panjat Pinang, Aksi Warga Berkebutuhan Khusus Bius Penonton Kajanglako.com. Jambi – Kemeriahan perayaan hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 14:48 WIB

Masyarakat Tuna Rungu dan Wicara Curhat, Minta Diperhatikan sama Gubernur


Masyarakat Tuna Rungu dan Wicara Curhat, Minta Diperhatikan sama Gubernur Kajanglako.com. Jambi - Saat lomba panjat pinang yang digelar pemerintah Provinsi

 

Minggu, 25 Agustus 2019 14:10 WIB

Kadivre Bulog Jambi Minta Masyarakat Bersabar, Akhir Agustus Daging Beku Masuk 50 Ton


Kadivre Bulog Jambi Minta Masyarakat Bersabar, Akhir Agustus Daging Beku Masuk 50 Ton  Kajanglako.com. Jambi - Hampir satu bulan terakhir stok daging

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 11:54 WIB

Dapat Hadiah Motor, Ibu Ini Langsung Tancap Gas di Tengah Kerumunan Warga


Dapat Hadiah Motor, Ibu Ini Langsung Tancap Gas di Tengah Kerumunan Warga Kajanglako.com. Jambi - Nanda, seorang tenaga pendidik bagian tenaga administrasi

 

HUT RI ke 74
Minggu, 25 Agustus 2019 11:33 WIB

40 Lebih Pohon Pinang Berhadiah Ludes Dipanjat Warga dalam 1 Jam


40 Lebih Pohon Pinang Berhadiah Ludes Dipanjat Warga dalam 1 Jam Kajanglako.com. Jambi - Masyarakat dari berbagai kalangan terlihat sangat antusias mengikuti