Jumat, 18 Januari 2019


Jumat, 28 Desember 2018 06:44 WIB

Dunia Simulacra

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Pertunjukan 'Fighting Space' Muarodvipa di Taman Budaya Jambi

Oleh: Wenny Ira R*

Di tengah panggung berdiri sebuah kerangka berbentuk segi empat menyerupai pintu. Pada kerangka itu aneka macam smartphone berjuntai-juntai terikat tali. Sebuah kursi diletakkan di depan tiang itu. Seseorang sibuk memilih dan menghidupkan semua smartphone yang ada, kemudian memilih satu dan asik duduk di kursi memainkan smartphone yang digenggamnya tanpa menghiraukan sekitarnya.



Sementara di pojok kanan panggung, berdiri dua stand penyangga buku partiture musik dan seseorang memainkan klarinet besar dan kecil bergantian. Suara tiupan klarinetnya berlomba dengan suara bising smartphone yang tergantung mengeluarkan bunyi-bunyian dan juga berlomba dengan suara virtual backsound  yang menyerupai backsound  game di smartphone.

Selama dua puluh menit, suara klarinet dan suara smartphone serta backsound game virtual itu saling berlomba. Di antaranya kadang-kadang suara klarinet melemah dan terengah-engah mengikuti.

Selama itu juga seseorang yang duduk di kursi depan kerangka itu asik memainkan smartphone, tak terganggu sedikitpun. Hanya kadang-kadang ia tegak dan kembali mengutak-atik smartphone yang bergelantungan, lalu kembali duduk santai terpekur menghadap smartphone yang ada digenggamannya.

Demikian aksi pertunjukkan yang berjudul Fighting Space yang diselenggarakan di Taman Budaya Jambi pada Rabu, 26 Desember 2018. Pertunjukkan yang berbentuk musik eksperimen garapan komunitas Muarodvipa pada project ke empatnya sejak berdiri 2015 lalu.

Defni, aktor yang berperan di ruang smartphone pada pertunjukkan mengatakan bahwa pertunjukkan kali ini merupakan sebuah kritik terhadap penggunaan smartphone  yang berlebihan.

“Selain kritik saya dan Indra (pemain klarinet) menggunakan perspektif simulacrum, bahwa hari ini realitas yang menjadi semu, yang virtual menjadi real. Karena kita terlalu mencandu terhadap dunia yang citraan, kita lupa bahwa ada dunia yang nyata atau real. Tetapi kita tidak menikmati dunia nyata itu, kita lebih suka di dunia gadget itu dibandingkan dengan realitas. Kita melihat sesuatu itu lebih indah di dunia gadget,” papar Defni.

Ternyata smartphone banyak yang bergelantungan pada kerangka tidak hanya menandakan keberadaan ruang virtual saja, namun juga menandakan waktu. Memang selama pertunjukkan selain bunyi bising yang dikeluarkannya, berbagai smartphone  yang tergantung berayun-ayun itu juga mengeluarkan bunyi bagai detak jam.

“Kita lupa akan waktu, kita lupa akan sesuatu ketika kita duduk bermain gadget  hilang semuanya. Sementara Klarinet melambangkan dunia nyata atau real. Pesannya ketika dunia real dimainkan lagi, kita menjadi gagap. Kita tidak fasih lagi memainkan dunia real, seperti memanjat pohon atau berenang dan lain sebagainya,” jelas Defni.

Sebagaimana yang dipertunjukkan malam itu, pada sinopsi pertunjukkan Fighting Space dijelaskan bahwa perubahan pesat dalam peradaban manusia yang tidak bisa dihindari akhirnya terjadi. Merajalelanya instrumen-instrumennya seperti internet, media dan wahana permainan lainnya, berhasil mengubah cara pandang manusia terhadap realitas maupun praksis manusia itu sendiri.

Hari ini, di dalam dunia simulasi yang dihidupi oleh masyarakat, realitas yang faktual dan citraan seakan membaur. Kita sangat sulit membedakan mana yang asli, yang palsu dan yang semu. Citra terkadang mendominasi dan menciptakan “candu” tersendiri.

Simulacrum berdiri di atas dunianya sendiri, bukan dari degradasi realitas apapun. Simulasi sendiri merupakan duplikasi demi duplikasi sebuah realitas. Dalam kondisi revolusi informasi seperti hari ini, ia menyatakan bahwa manusia sebagai subjek sangat cair bahkan telah “mati” dan yang real tidak pernah ada.

Pada situasi saat ini, dunia yang digenggam melalui revolusi informasi tadi menentukan makna tingkah laku, bahkan pemikiran manusia. Kuasa media melalui informasi, hiburan dan komunikasinya membawa manusia pada peristiwa-peristiwa hidup yang serba dangkal. Candu dari tekhnologi tingkat tinggi mengesahkan rasio instrumentalnya.

Dalam berbagai dimensi, manusia kini diperantarai oleh realitas citraan, sebuah realitas yang mengatasi realitas yang real. Yang real dibuat tidak nyata oleh hippereal dan simulasi lebih benar dari kebenaran itu sendiri.

Akhirnya, kita sungguh menemukan potret buram dalam kondisi saat ini. Secara paradoks semua media yang ingin kita konsumsi dengan mudahnya dapat kita akses hanya dengan beberapa kali sentuhan. Dunia benar-benar dalam genggaman.

Dalam dimensi sosialnya, kita tidak memiliki kontak fisik apapun dengan manusia konkret. Bukan hanya keseharian yang dangkal, kita hidup di area non events, hidup dalam peristiwa yang tidak terjadi namun seakan-akan terjadi.

Kita memiliki banyak teman namun tidak bisa merasakan kehangatannya dalam lingkungan kita.  Kita terlihat baik, cantik, mapan dan lain sebagainya, akan tetapi kita sebenarnya mati. Dalam ranah manusia yang sangat personal, seperti cinta sekalipun, dengan banyaknya sistem online dating dan rasa takut kita akan “jatuh” dalam suatu hubungan yang konkret adalah bentuk nyata jebakan hiperrealitas.

*Penulis merupakan akademisi STISIP NH Jambi dan pecinta kesenian.


Tag : #Pertarungan Virtual vs Real #Dunia Simulasi #Masyarakat #Internet dan Media Sosial #Pertunjukan Fighting Space di Taman Budaya Jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 Januari 2019 20:15 WIB

Kunker ke Kerinci, Fachrori Bicara Pentingnya Pendidikan dan Kesehatan


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menyampaikan pesan pentingnya pendidikan dan kesehatan menjelang pelaksanaan ibadah Salat Jumat

 

Jumat, 18 Januari 2019 19:55 WIB

Penuhi Panggilan Bawaslu, Sutan Adil Menolak Disebut Diperiksa


Kajanglako.com, Jambi – Kasus pembagian Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diduga dijadikan jualan politik oleh lima Caleg Gerindra, termasuk

 

Warga Tenggelam
Jumat, 18 Januari 2019 17:52 WIB

Petani yang Terseret Arus di Sungai Tembesi Ditemukan Tewas


Kajanglako.com, Merangin - Sarmidi (35), warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau yang terseret arus sungai Tembesi pada Rabu (16/1) lalu, berhasil

 

Jumat, 18 Januari 2019 13:30 WIB

SK Pemberhentian Zola sebagai Gubernur Sudah Diteken Presiden


Kajangalako,com. Jambi - SK pemberhentian Zumi Zola sebagai Gubernur Jambi periode 2016-2021 akhirnya ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo. Kabar ini

 

Jumat, 18 Januari 2019 11:33 WIB

Jualan Sabu, Pegawai Honorer Ditangkap saat Menunggu Pembeli


Kajanglako.com, Merangin - Satresnarkoba Polres Merangin kembali berhasil mengamankan seorang pelaku penyalahgunaan Narkotika. Kali ini seorang pegawai