Selasa, 25 Juni 2019


Senin, 24 Desember 2018 09:08 WIB

Tari Turun Ke Umo dan Tari Nugal Memeriahkan Penutupan Festival Kampung Senaung 2018

Reporter : Wenny Ira R
Kategori : Ragam

Salah satu pertunjukan budaya di penutupan Festival Kampung Senaung 2018/ foto: Wenny

Kajanglako.com, Muaro Jambi - Malam itu, lampu hias warna-warni yang menjadi penghias setiap bambu pada instalasi di sepanjang jalan menuju area Festival Kampung Senaung 2018 masih berkelap-kelip meriah. Banyak orang berbondong-bondong menuju area panggung utama festival yang berdiri apik di pinggir sungai Batanghari. Mereka ingin menyaksikan penutupan festival yang telah menyedot animo masyarakat di sekitar desa Senaung selama tiga hari ini. 

Pada malam itu tidak hanya warga masyarakat Senaung yang antusias datang menyaksikan festival, namun masyarakat  desa-desa tetangga dari desa Penyengat Olak hingga Rengas Bandung turut hadir berbondong-bondong di festival. Kehebohan Festival Kampung Senaung yang telah dilaksanakan selama dua tahun terakhir ini, pada tahun 2018 lebih banyak membuat mereka yang ada di Senaung merasa bangga, sementara yang di luar Senaung merasa penasaran.



Ketika semua hadirin telah menyesaki area sekitar panggung utama hingga persis merangsek ke depan panggung, enam orang pembawa acara yang merupakan pemuda-pemudi potensial desa Senaung dalam bidang perwara kompak membuka acara dengan apik dan profesional. 

Acara malam penutupan festival dibuka dengan tarian apik berjudul Tari Turun Ke Umo yang dibawakan oleh remaja putri desa Senaung. Sebuah tari yang melambangkan tradisi sedekah payo sebelum melakukan bercocok tanam padi di sawah untuk memohon berkat kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Dalam tradisi itu, selain dzikir bardah dan tahlil serta doa dilantunkan, yang membuat meriah adalah tradisi makan senampan ketika menyantap lauk pauk yang dihidangkan. Tradisi sedekah payo masih dilaksanakan oleh masyarakat desa Senaung hingga saat ini.

Setelahnya, drama anak-anak Sekolah Dasar desa Senaung yang berkisah tentang permainan bedil bambu juga turut menyemarakkan acara malam itu. Bedil bambu merupakan permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anak-anak di desa Senaung pada zaman dahulu kala, namun jarang dimainkan lagi oleh anak-anak di desa pada saat ini.

Drama tersebut menceritakan asal mula bedil bambu yang pada zaman kemerdekaan digunakan sebagai senjata melawan penjajah, namun setelahnya digunakan sebagai permainan yang dimainkan pada saat bulan puasa ketika menunggu waktu berbuka tiba dan juga dimainkan ketika hari raya Idul Fitri tiba.

Drama tersebut cukup menarik dan lucu karena pemain drama yang anak-anak harus berganti kostum dengan cepat di samping panggung untuk menggambarkan pergantian waktu pada masing-masing plot cerita yang ditampilkan.

Penampilan kompangan Alkomar setelahnya turut menyemarakkan suasana. Kompangan kebanggaan desa Senaung yang telah menjuarai berbagai agenda festival kompangan hingga ke taraf nasional ini tampil dengan apik dalam komposisi tabuhan rebana dan satu buah drum yang diselingi dengan atraksi gerak. Alkomar tak melulu menampilkan komposisi rebana dan lagu bernafas Islami yang sarat pesan religi, namun juga menampilkan komposisi rebana yang diiringi dengan lagu.

Namun yang tak kalah memukau pada malam itu adalah penampilan tari Nugal yang dibawakan oleh pemudi Senaung. Beberapa orang gadis dengan kostum tari berupa tekuluk ke umo dan lilitan kain batik pada pinggang melenggang apik membawa tongkat bambu di tangannya. Tarian tersebut menggambarkan tradisi menugal tanah sawah sebelum ditanami padi. Saat ini tradisi nugal telah jarang dilakukan di desa Senaung.

Pada siang hari sebelum penutupan, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Ujang Hariadi berkunjung ke Festival Kampung Senaung 2018. Pada kesempatan tersebut hiburan berupa hadrah dan pertunjukkan penggunaan tekuluk ke umo pada anak-anak Taman-Kanak-Kanak yang diiringi dengan musik menyambutnya.

Dalam pidatonya, Ujang Hariadi menyebutkan bahwa ia turut bangga dapat hadir pada Festival Kampung Senaung 2018. Menurutnya, festival ini merupakan festival yang tumbuh dari rakyat, pesannya agar festival berlanjut tiap tahunnya.  Ia menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi festival ini masuk ke kalender event tahunan daerah dan juga pembinaan kepada desa Senaung dalam pengembangan seni, budaya dan warisan budaya lainnya. 

Festival Kampung Senaung 2018 terselenggara berkat kerjasama pemerintah desa Senaung, STISIP Nurdin Hamzah, Grindsick, Rambu House, RAW, Genpi dan berbagai media partner lainnya termasuk Kajanglako.com. (Kjcom)

[13:55, 22/12/2018] Bg Arman Kj: Label : Imigrasi[13:56, 22/12/2018] Bg Arman Kj: Captions Gambar : Erna Yunanti Murni, Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkumham Provinsi Jambi (Foto:Kajanglako/Juanda)[13:56, 22/12/2018] Bg Arman Kj: Tags : Jambi, Imigrasi, warga negara cina, pelanggaran imigrasi, tenaga Kerja Asing, Paspor[09:03, 24/12/2018] Bg Arman Kj: Tari Turun Ke Umo dan Tari Nugal Memeriahkan Penutupan Festival Kampung Senaung 2018Malam itu, lampu hias warna-warni yang menjadi penghias setiap bambu pada instalasi di sepanjang jalan menuju area Festival Kampung Senaung 2018 masih berkelap-kelip meriah. Banyak orang berbondong-bondong menuju area panggung utama festival yang berdiri apik di pinggir sungai Batanghari. Mereka ingin menyaksikan penutupan festival yang telah menyedot animo masyarakat di sekitar desa Senaung selama tiga hari ini. Pada malam itu tidak hanya warga masyarakat Senaung yang antusias datang menyaksikan festival, namun masyarakat  desa-desa tetangga dari desa Penyengat Olak hingga Rengas Bandung turut hadir berbondong-bondong di festival. Kehebohan Festival Kampung Senaung yang telah dilaksanakan selama dua tahun terakhir ini, pada tahun 2018 lebih banyak membuat mereka yang ada di Senaung merasa bangga, sementara yang di luar Senaung merasa penasaran.Ketika semua hadirin telah menyesaki area sekitar panggung utama hingga persis merangsek ke depan panggung, enam orang pembawa acara yang merupakan pemuda-pemudi potensial desa Senaung dalam bidang perwara kompak membuka acara dengan apik dan profesional. Acara malam penutupan festival dibuka dengan tarian apik berjudul Tari Turun Ke Umo yang dibawakan oleh remaja putri desa Senaung. Sebuah tari yang melambangkan tradisi sedekah payo sebelum melakukan bercocok tanam padi di sawah untuk memohon berkat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam tradisi itu, selain dzikir bardah dan tahlil serta doa dilantunkan, yang membuat meriah adalah tradisi makan senampan ketika menyantap lauk pauk yang dihidangkan. Tradisi sedekah payo masih dilaksanakan oleh masyarakat desa Senaung hingga saat ini.Setelahnya, drama anak-anak Sekolah Dasar desa Senaung yang berkisah tentang permainan bedil bambu juga turut menyemarakkan acara malam itu. Bedil bambu merupakan permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anak-anak di desa Senaung pada zaman dahulu kala, namun jarang dimainkan lagi oleh anak-anak di desa pada saat ini.Drama tersebut menceritakan asal mula bedil bambu yang pada zaman kemerdekaan digunakan sebagai senjata melawan penjajah, namun setelahnya digunakan sebagai permainan yang dimainkan pada saat bulan puasa ketika menunggu waktu berbuka tiba dan juga dimainkan ketika hari raya Idul Fitri tiba.Drama tersebut cukup menarik dan lucu karena pemain drama yang anak-anak harus berganti kostum dengan cepat di samping panggung untuk menggambarkan pergantian waktu pada masing-masing plot cerita yang ditampilkan.Penampilan kompangan Alkomar setelahnya turut menyemarakkan suasana. Kompangan kebanggaan desa Senaung yang telah menjuarai berbagai agenda festival kompangan hingga ke taraf nasional ini tampil dengan apik dalam komposisi tabuhan rebana dan satu buah drum yang diselingi dengan atraksi gerak. Alkomar tak melulu menampilkan komposisi rebana dan lagu bernafas Islami yang sarat pesan religi, namun juga menampilkan komposisi rebana yang diiringi dengan lagu.Namun yang tak kalah memukau pada malam itu adalah penampilan tari Nugal yang dibawakan oleh pemudi Senaung. Beberapa orang gadis dengan kostum tari berupa tekuluk ke umo dan lilitan kain batik pada pinggang melenggang apik membawa tongkat bambu di tangannya. Tarian tersebut menggambarkan tradisi menugal tanah sawah sebelum ditanami padi. Saat ini tradisi nugal telah jarang dilakukan di desa Senaung.Pada siang hari sebelum penutupan, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Ujang Hariadi berkunjung ke Festival Kampung Senaung 2018. Pada kesempatan tersebut hiburan berupa hadrah dan pertunjukkan penggunaan tekuluk ke umo pada anak-anak Taman-Kanak-Kanak yang diiringi dengan musik menyambutnya.Dalam pidatonya, Ujang Hariadi menyebutkan bahwa ia turut bangga dapat hadir pada Festival Kampung Senaung 2018. Menurutnya, festival ini merupakan festival yang tumbuh dari rakyat, pesannya agar festival berlanjut tiap tahunnya.  Ia menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi festival ini masuk ke kalender event tahunan daerah dan juga pembinaan kepada desa Senaung dalam pengembangan seni, budaya dan warisan budaya lainnya. Festival Kampung Senaung 2018 terselenggara berkat kerjasama pemerintah desa Senaung, STISIP Nurdin Hamzah, Grindsick, Rambu House, RAW, Genpi dan berbagai media partner lainnya termasuk Kajanglako.com., (Kjcom)


Tag : #Muaro Jambi #Jambi #festival kampung #Senaung #budaya #tradisi #adat #ragam



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui