Jumat, 18 Januari 2019


Minggu, 23 Desember 2018 07:55 WIB

Mayloedin ADN dan Buku

Reporter :
Kategori : Sosok

Mayloedin ADN (19 Mei 1938-30 November 2018)

Oleh: Jumardi Putra*

“Di (untuk menyebut nama Jumardi Putra), awak ikut sayo ke Bungo. Kagek malam kito berangkat. Jemput sayo di rumah yo,” begitu kata Tuk Mayloedin, biasa ia disapa, pada saya tujuh bulan lalu (Maret 2018).



“Iyolah Tuk,” balas saya. Bersama Bang Hamdi, pendamping Komisi IV DPRD Provinsi Jambi, yang kebetulan mengemudikan mobil, kami menjemput Tuk Mai, di rumahnya di Lorong Suka Damai Nomor 71, RT 17 Broni.

Sesampai di kediamannya, kami tak langsung berangkat, meski jarum jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Sembari menunggu Patompo, anak lelaki sulungnya, yang juga ikut ke Bungo, ia bercerita kesibukannya sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi meski dalam usia yang tak lagi muda.

Diakuinya, untuk menjaga daya ingat, membaca merupakan nutrisi utama. Koran harian Kompas (bersama beberapa koran lokal Jambi) dan majalah Tempo, senantiasa ia baca. Di sela itu ia bercerita masa-masa meniti karir dari bawah, dimulai dari Camat Tebo Tengah, Camat Muara Bungo  hingga menjabat sebagai kepala dinas pendidikan provinsi Jambi periode 1982-1988, direktur APDN Jambi, Rektor Universitas Batanghari (UNBARI) dan puncaknya sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi.

Setiba Patompo, kami bergegas masuk kendaraan, dan berangkat. Tak jauh meninggalkan lorong rumah, politisi senior ini meminta ke anaknya, yang kebetulan mengemudikan mobil, agar singgah di rumahnya yang berlokasi di Jl. A. Yani, Telanaipura, Kota Jambi. Tak jauh dari Taman Anggrek Sri Sudewi dan atau berada di belakang Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

“Kau ikut sayo,” ucapnya singkat. “Baik,” jawab saya tanpa bertanya panjang lebar. Sementara anaknya dan Bang Hamdi menunggu di mobil. Sembari mengamati langkahnya yang tak lagi sigap saya bertanya-tanya apakah gerangan. Tuk Mayloedin ADN langsung menuju sebuah ruangan di sisi kanan dari rumahnya. Tepat di hadapan garasi mobil. Ketika itu rumah ini sepi (tak berpenghuni). Ini kali pertama saya ke sini.

Pintu ruangan itu ia buka. Lampu segera dihidupkannya. Sesampai di ruangan itu pandangan mata saya terbelalak. Buku, buku, buku, buku, dan buku. Semuanya penuh buku.

Agak lama ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Seolah dirinya ingin memberikan kesempatan saya melihat koleksi ribuan buku di situ. Dia sendiri sibuk mencari lembar-lembar kertas, yang saya tak tahu pasti apa itu. Dan memang bukan kepentingan saya untuk tahu.

Meski cahaya lampu tak begitu terang. Pandangan saya tertuju ke arah berjilid-jilid ensklopedi dalam bahasa asing. Ragam jenis buku dan judul tertata rapi. Belum ada katalog. Debu terlihat menempel di beberapa sudut rak dan punggung buku.

“Nah, awak (Jumardi) sayo ajak ke sini kareno ado hubungan dengan tugas sayo di Bungo besok pagi. Kau tulis dan bantu sayo untuk mewujudkan impian sayo,” ujarnya dengan suara bergetar pelan.

Meski belum begitu jelas apa yang dimaksudkannya, saya tak lantas bersegera mengklarifikasi perkataannya kecuali menyatakan kesediaan. Tetapi, yang sempat terlontar dari saya ketika itu adalah rasa salut saya terhadap usahanya merawat buku-buku tersebut, dan berkat bantuan Bang Hamdi pula, kami berdua berfoto dengan dengan latar belakang ribuan buku di ruang kerja pribadinya.  

Ket: Penulis bersama Mayloedin ADN di ruang kerjanya (6 Maret 2018)

Usai lebih dari 30 menit di ruangan itu, kami keluar dan segera menuju kendaraan. Melanjutkan perjalanan menuju Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun (Julukan/Motto Kabupaten Bungo). Setidaknya 5-6 Jam perjalanan bakal kami tempuh malam itu dari Tanah Pilih Pusako Betuah (Julukan/Motto Kota Jambi).

***

Perjumpaan saya dengan Tuk Mayloedin ADN, dari tahun 2013-2018, boleh dikata jarang (kalau bukan amat sedikit) membicarakan politik praktis. Saya tidak tahu kenapa. Perbincangan antara kami justru banyak menyasar sejarah lokal Bungo-Jambi, pendidikan (formal) dan buku. Bahkan saya pernah diminta olehnya mencari Buku Sumatera Tengah terbitan Djembatan dan karangan Fakhruddin Saudagar tentang Haji Hanafie. Kedua buku itu berhasil saya dapatkan dan diterimanya dengan penuh suka cita.

Secara usia pak Mayloedin ADN terpaut jauh dengan saya. Belio berusia 80 tahun. Sedangkan saya tengah menjalani fase antara kepala tiga dan empat. Lebih-lebih belio pernah bergaul dekat dengan kakek saya, yakni bapak dari kedua orang tua saya (PS Juni dari pihak bapak dan PS Ayub dari pihak ibu). Cerita kedekatan mereka sejatinya datang dari Tuk May sendiri, bukan dari kehendak saya mencari tahu. Seolah mengalir begitu saja. Darinya pula saya mendapatkan informasi tentang Haji Hanafie (Ketua Badan Kongres Rakyat Daerah Provinsi Jambi sejak 1955 dan Ketua DPRD Provinsi Jambi pertama), yang juga memiliki hubungan keluarga dengan kami. Bahkan tempat tinggal orang tua saya hanya berjarak dua rumah di larik belakang rumah besar orang tua Haji Hanafie, yakni Haji Thahir, di Desa Empalu, Kec. Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Tempat masa kecil Haji Hanafie dan adiknya, Haji Hasan (orang biasa menyebut Hasan Pendek), yang pernah menjabat Bupati Bungo-Tebo periode 1975-1986.

Tak hanya itu, darinya pula saya mendapat penggalan-penggalan cerita tentang Masjchsun Sofwan, Gubernur Jambi periode 1979-1989, Abdurrahman Sayoeti, Gubernur Jambi periode 1989-1999 dan Arifien Manap, Wali Kota Jambi periode 1998-2008. Begitu juga mengenai beberapa pejuang, untuk menyebut contoh, seperti Abdul Manaf, Husen Sa’d, Kapten Ramli, Haji Saleh Yasin, Album Sani, Akan Liang Ahau, Kemas Roni, Fictor Simatupang, dan Samsir Alam.  

***

Innova yang kami tumpangi berjalan lancar. Sesekali kami berhenti di warung tepi jalan. Melepas penat sembari minum kopi, teh, dan makan mie rebus atau mie goreng.

Bahkan tepat ketika itu kami sengaja berhenti di salah satu warung di Sungai Bengkal untuk menonton salah satu pertandingan sepak bola (big match) kasta Liga Champion. Saya lupa nama klub tepatnya.

Dalam pada itu, tanpa saya bertanya, Tuk Mayloedin perlahan-lahan bercerita tentang koleksi buku-buku miliknya. Buku-buku itu ia kumpulkan sejak dirinya menjadi mahasiswa di Universitas Padjadjaran Bandung, kuliah setahun di Prancis, dan hingga menjadi pejabat baik di Kampus (Direktur APDN dan Rektor UNBARI), selama menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, dan bahkan sepanjang menjadi anggota legislatif.

“Sebagian dari buku-buku itu saya beli dengan cara ngutang (untuk menyebut nyicil), utamanya ragam enkslopedi dalam bahasa asing. Keadaan itu terus berjalan hingga saya menjadi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi,” terangnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, semua buku-buku tersebut pernah ditawari mendiang Arifien Manap, Wali Kota Jambi periode 1998-2008 dengan harga Rp 1, 5 miliar untuk dijadikan koleksi Perpustakaan Kota, tetapi saya katakan kepadanya tidak untuk dijual.

“Mau diapakan buku-buku tersebut kelak,” timpal saya.

“Buku-buku itu akan saya hibahkan kepada pemerintah Kabupaten Bungo untuk dikelola dengan baik dan dapat diakses oleh warga masyarakat Bungo, tempat tanah kelahiran saya,” ungkapnya penuh semangat.

Waw!. Saya tertegun. Bang Hamdi di samping saya terdiam. Tak tampak reaksi yang bersifat khusus darinya. Praktis pembicaraan di mobil pada malam itu hanya antara saya dengan Tuk May. Sedangkan Bang Patompo, anak sulungnya, fokus mengemudi.

“Nah, besok pagi dalam rapat Musrenbang RKPD Kabupaten Bungo tahun 2019, di hadapan Bupati, OPD, tamu undangan, dan tak terkecuali pihak perguruan tinggi dan kawan-kawan politisi (DPRD Kabupaten Bungo), saya ingin memastikan niat saya itu betul-betul dapat terwujud dan disambut oleh Bupati sekarang (red-Mashuri). Inilah cita-cita saya di sisa pengabdian sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi,” ungkapnya.

“O, ini toh yang dimaksud dengan pesannya ketika kami sama-sama di ruangan perpustakaan di rumahnya tadi,” imbuh saya membatin.

“Awak tolong catat butir-butir pokok pikiran dan usulan saya berkaitan dengan pemberian koleksi buku pribadi saya untuk masyarakat Bungo,” jelasnya.

Tak pelak, ceritanya ini segera mengingatkan saya pada obrolan kami tiga tahun sebelum ini, dimana dirinya berkeinginan menghibahkan buku-bukunya, tetapi belum menyebutkan pihak mana atau siapa gerangan yang bakal menerima pemberian buku tersebut. Andai saya adalah penerimanya, oh betapa bahagianya.

“Tuk, perlu dipikirkan lagi, mengingat tradisi merawat buku menjadi permasalahan utama kita sekarang ini, baik di level warga masyarakat, apalagi pemerintah daerah,” jawab saya sekenanya.

“Betul, tapi hibah buku tersebut baru saya tunaikan manakala pemerintah Bungo betul-betul merealisasikan sarana prasarana Gedung Legiun Juang Kabupaten Bungo. Nah, sekira tiga tahun sebelum ini (2014-2015) atas dukungan beberapa pejuang dan dan nenek mamak, saya berhasil meyakinkan pihak Pemerintah Provinsi Jambi dalam masa kepemimpinan Gubernur Hasan Basri Agus (HBA) dan Bupati Bungo, Sudirman Zaini, yakni bantuan dana APBD dari kedua Pemerintah daerah dengan masing-masing anggaran sebesar 2,5 miliar. Total 5 milliar. Tegaklah gedung Legiun Juang yang berlokasi di Lapangan Puspa Ragam Semagor, Kecamatan Pasar Muara Bungo, “ tuturnya.

Selain itu, akunya Tuk Mayloedin, keikutsertaan dirinya pada Musrenbang RKPD ini untuk memastikan agar sarana atau fasilitas pendukung gedung Legiun Juang itu segera terisi dan disiapkan sistem pengelolaan gedung yang baik, seperti ruang pertemuan, ruang museum, dan ruang perpustakaan. 

“Semoga pak Mashuri, Bupati Bungo, dapat meneruskan apa yang sudah dimulai oleh pemimpin sebelumnya, dan yang terpenting, agar gedung Legiun Juang itu memberi manfaat bagi masyarakat Bungo,” imbuhnya.

“Gedung ini mulanya sebagai pesenggrahan. Tempat banyak pihak melakukan perundingan. Tempat dan lokasi ini merupakan titik episentrum perjuangan rakyat Bungo (Jambi) untuk ambil bagian mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah. Saya berharap semua kita dalam Musrenbang ini dapat memahami sejarah kemerdekaan NKRI di Bungo, dan kehadiran buku-buku dari saya di gedung ini kelak dapat mewarnai pembangunan pendidikan di Kabupaten Bungo,” ungkapnya dengan berapi-api menerangkan latar belakang usulannya itu, yang disambut riuh tepuk tangan peserta rapat.

Ketika itu OPD seperti Bappeda dan Dinas Pendidikan Pemkab Bungo mencatat niat baik sekaligus pokok pikiran Tuk Mayloedin ADN berkaitan dengan pemenuhan fasilitas gedung Legiun Juang, selain sebagai gedung para veteran, juga ada ruang perpustakaan, dimana koleksi ribuan bukunya akan diberikan. Sayang, Bupati Bungo yang diharapkan mendengar pokok-pokok pikiran Tum Layloedin telah meninggalkan ruangan aula cempaka kuning, tempat Musrenbang RKPD itu berlangsung.

Ket: Di Ruang Perpustakaan Pribadi milik Mayloedin ADN (6 Maret 2018)

***

2018 hanya tersisa satu bulan ini. Hari-hari kembali seperti biasa. Tuk Mayloedin ADN menjalani aktivitasnya sebagai Anggota DPRD Provinsi Jambi. Jika bertemu, obrolan tentang hibah bukunya tak lagi mengisi pembicaraan antara kami.

Saya sendiri tidak tahu sejauhmana Pemkab Bungo menindaklanjuti usulan dirinya tujuh bulan yang lalu. Begitu juga niat saya mengunjungi kembali perpustakaan miliknya urung terkabulkan.

Faktanya, dan juga kabar dari salah seorang jurnalis di Bungo, gedung Legiun Juang itu kini belum difungsikan sebagai tempat bagi anak muda untuk bertukar pikiran dan membicarakan kerja-kerja kreatif untuk kemajuan Kabupaten Bungo.

Dalam pada itu, datang berentetan pesan pendek di WA Grup tempat saya bekerja, berbunyi, “Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Telah berpulang orang tua, guru, dan rekan kerja kita, Mayloedin ADN, Jumat dini hari, 30 November 2018, pukul 00.50 WIB, di Rumah Sakit MMC Jakarta.

Saya terdiam agak lama, dan menaruh rasa tidak percaya. Segera setelahnya saya mengkonfirmasi kebenaran kabar duka tersebut ke beberapa kawan sejawat dan beberapa anggota DPRD Provinsi Jambi. Semuanya menjawab sama, “Benar, Datuk telah meninggalkan kita untuk selamanya. Innalillahi Wainnailaihi Rojiun”.

Sontak, kabar meninggal Tuk Mayloedin ADN bersileweran di jagad maya. Beberapa orang di kampung juga turut bertanya kepada saya perihal kebenaran wafatnya. Jambi kembali dirundung duka. Apatahlagi, dua hari sebelumnya, ayahanda Zumi Zola, Zulkifli Nurdin, Gubernur Jambi dua periode 1999-2010, tutup usia.

Jumat, pukul 14.35 WIB, tubuh kaku Datuk Mayloedin ADN sampai di rumah duka setelah sebelumnya melewati perjalanan udara Jakarta-Jambi. Sebelum dishalatkan dan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sungai Kambang, jasadnya dibawa ke ruang paripurna gedung DPRD Provinsi Jambi (Pukul 14.35 WIB), sebagai penghormatan terakhir atas dedikasinya sebagai salah satu Anggota DPRD Provinsi Jambi periode 2014-2019.

Umumnya mereka yang menghadiri upacara penghormatan hingga ke peristirahatan terakhir menundukkan kepala dan menyeka air mata (pukul 16.10 WIB). Terlebih umumnya yang menjadi akademisi di perguruan tinggi di Jambi, birokrat di lingkup pemerintah provinsi Jambi, dan lembaga legislatif adalah ‘murid’ sekaligus sahabat dari pria kelahiran Muaro Bungo 19 Mei 1938 ini.

Jujur, sedari turut mengangkat peti Tuk May dari mobil ambulance sampai ke bibir makam, lalu mengeluarkan tubuh kakunya yang kemudian disambut oleh kehangatan kedua tangan dari anak-anaknya (Patompo dan Ichsan Kabullah) untuk diletakkan di liangnya, selain memanjat do’a terbaik untuk almarhum, juga bersilewaran di pikiranku tentang niat mulia mendiang menghibahkan ribuan bukunya untuk Kabupaten Bungo.

Semoga Bupati Bungo, Bapak Mashuri, dan juga yang tidak lama lagi definitif sebagai Gubernur Jambi, Pak Fachrori, dapat menuntaskan niat mulia Tuk Mayloeddin ADN. Memastikan fasilitas yang memadai dan sistem pengolaan yang baik untuk menyambut pemberikan ribuan koleksi buku milik Tuk Mayloedin ADN.

Selamat Jalan Datuk Mayloedin ADN. Sebagai birokrat dan politisi, tentu banyak yang telah kau perbuat untuk Jambi. Kebaikan tetaplah kebaikan. Pun kesalahan tak lantas sirna. Kepada Tuhan, Allah SWT, kita berdoa meminta pengampunan dari segala dosa dan mendapat tempat yang layak di sisiNya. Amin

Mengiringi kepergianmu, Tuk, yang meninggalkan anak-anak tercinta, sanak saudara, dan mereka yang pernah terlibat bersamamu semasa hidup, saya teringat sajak Nisan penyair Chairil Anwar kurang lebih 75 tahun yang lalu, yang ditujukan untuk Neneknya, berikut ini, “Bukan kematian benar menusuk kalbu/Keridlaanmu menerima segala tiba/Tak kutahu setinggi itu atas debu/Dan duka maha tuan bertakhta.

*Penulis adalah pecinta buku dan kesenian.


Tag : #Mayloedin Politisi Senior Jambi Tutup Usia #Mayloedin Hibah Ribuan Buku untuk Bungo #Mayloedin dan Buku



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 Januari 2019 20:15 WIB

Kunker ke Kerinci, Fachrori Bicara Pentingnya Pendidikan dan Kesehatan


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menyampaikan pesan pentingnya pendidikan dan kesehatan menjelang pelaksanaan ibadah Salat Jumat

 

Jumat, 18 Januari 2019 19:55 WIB

Penuhi Panggilan Bawaslu, Sutan Adil Menolak Disebut Diperiksa


Kajanglako.com, Jambi – Kasus pembagian Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diduga dijadikan jualan politik oleh lima Caleg Gerindra, termasuk

 

Warga Tenggelam
Jumat, 18 Januari 2019 17:52 WIB

Petani yang Terseret Arus di Sungai Tembesi Ditemukan Tewas


Kajanglako.com, Merangin - Sarmidi (35), warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau yang terseret arus sungai Tembesi pada Rabu (16/1) lalu, berhasil

 

Jumat, 18 Januari 2019 13:30 WIB

SK Pemberhentian Zola sebagai Gubernur Sudah Diteken Presiden


Kajangalako,com. Jambi - SK pemberhentian Zumi Zola sebagai Gubernur Jambi periode 2016-2021 akhirnya ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo. Kabar ini

 

Jumat, 18 Januari 2019 11:33 WIB

Jualan Sabu, Pegawai Honorer Ditangkap saat Menunggu Pembeli


Kajanglako.com, Merangin - Satresnarkoba Polres Merangin kembali berhasil mengamankan seorang pelaku penyalahgunaan Narkotika. Kali ini seorang pegawai