Jumat, 18 Januari 2019


Sabtu, 22 Desember 2018 08:15 WIB

Kapal Uap Kecil-Mungil

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Kapal Singkawang meninggalkan Batavia pada tanggal 7 Juni dan tiba tanggal 11 Juni di Palembang. Berkat upaya Pruys van der Hoeven, Residen Palembang, kapal Singkawang diizinkan untuk meneruskan perjalanan ke Djambi.



Santvoort segera menjemput kapal uapnya di Muntok dan berangkat ke Djambi beberapa hari kemudian, pada tanggal 13 Juni. Selain bantuan dari Residen, Santvoort juga mendapatkan bantuan dari Kontrolir du Cloux yang berjanji akan membantu perjalanan Makkink—sang nakhoda—ke Djambi.

Santvoort tiba tanggal 17 Juni di Djambi. Segala sesuatu yang harus dilakukan untuk mempersiapkan keperluan bahan bakar kapal uap ekspedisi merupakan prioritas pertama untuk dilakukan.

Barkas adalah kapal yang sebetulnya dapat dimasukkan ke dalam kategori sekoci. Barkas yang digunakan oleh Ekspedisi Sumatera Tengah berukuran: panjang 13 meter dan lebar 3,5 meter di bagian yang paling lebar. Tingginya (atau kedalaman lambungnya) adalah 1.70 meter. Mesin uapnya terdapat di bagian tengah. Mesin itu terdiri dari dua bagian, yaitu satu di haluan, satu di buritan. Kedua-duanya bermesin dua silinder. Bila uap yang diperlukan cukup, maka mesin itu dapat terus-menerus hidup. Kedua mesin itu menggerakkan dua buah sekrup kapal yang membuat kapal itu dapat berputar dan berbelok bila harus dikemudikan di sungai yang berkelok-kelok.

Biasanya, kapal seperti itu digunakan untuk pelayaran laut. Karena itu, kapal itu dilengkapi dengan 6 buah tangki air tawar yang—karena tidak digunakan sebagai penampungan air—lantas dimanfaatkan untuk menyimpan perbekalan.

Di Amsterdam, dengan mempertimbangkan perjalanannya di sungai dan banyaknya orang yang akan dibawanya, kapal itu dilengkapi dengan peti penyimpanan 700 kilogram batu bara (setiap jam, kapal itu membakar sebanyak 100 kilogram sehingga dengan bahan bakar penuh, kapal itu dapat berlayar selama tujuh jam saja).  Kalau permukaan air sedang tinggi, kapal itu harus membawa setidaknya 2000 kg batu bara.

Di bagian haluan (dan buritan), terdapat sebuah kabin yang sayangnya terlalu kecil dan sumpek bila digunakan di daerah tropis. Kabin itu merupakan ruangan tertutup yang kecil. Panjangnya beberapa meter saja, tingginya 1,5 meter dan sangat sempit. Di dalamnya ada dua bangku yang dapat digeserkan membentuk tempat tidur. Di bawah bangku-bangku ini terdapat lemari-lemari kecil. Ruang kecil di bawah lantainya digunakan untuk menyimpan botol dan kaleng. Beberapa pintu dibuat di lantai itu supaya barang-barang yang disimpan di bawahnya dapat diambil. Persenjataan yang dibawa dalam penjelajahan digantungkan di dinding belakang kabin itu. Dua buah pintu memberi akses ke ruangan itu: satu di depan dan satu lagi, di belakang. Beberapa jendela kecil di dinding sampingnya memungkinkan sinar masuk dari luar. Di bagian depan kabin itu, masih tersisa satu sudut yang bagian tengahnya digunakan untuk menyimpan mesiu dan amunisi. Di luar, di atas sebuah balok kayu yang dipasang di pelampung kapal, disiapkan senjata kecil yang dapat digunakan dalam keadaan darurat.

Di belakang ruang mesin, di buritan kapal, terpasang bangku yang panjang melengkung (mengikuti tubuh kapal). Bagian bawah bangku-bangku itu digunakan sebagai lemari-lemari penyimpanan. Di atasnya, terdapat peti-peti besi untuk menyimpan beras dan roti; lantai bagian buritan itu juga memiliki pintu-pintu seperti di dalam kabin. Ruangan di bawah lantai ini pun digunakan untuk penyimpanan barang.

Dalam waktu singkat, sudah nyata bahwa ruangan yang kecil di kapal itu tidak memadai untuk tempat istirahat anggota-anggota tim yang pribumi. Karena itu, sebuah atap kajang dipasang di atas ruang mesin dan kabin; dan atap papan dibangun di dekat kabin haluan. Dengan sarana-sarana seperti itu, diharapkan bahwa kapal uap kecil itu dapat digunakan menjelajah selama beberapa bulan.

Walau kapal itu lumayan nyaman, namun bangunan-bangunan tambahan di haluan dan kantong-kantong berisi batu bara di sisi-sisi geladak membuat nakhoda hampir sama sekali tak dapat melihat ke mana ia harus memutar kemudinya. Ia  hampir sepenuhnya tergantung pada petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh kapten yang berdiri di haluan kapal.

Di atas atap kayu di bagian haluan, dipasang lagi semacam tenda yang terbuat dari bambu dan tikar kajang. Tenda itu memberikan perlindungan dari sengatan matahari untuk orang yang bertugas mencatat situasi lingkungan alam, sungai dan tepiannya.

Bagian bertingkat di haluan kapal diperluas ke arah buritan. Pun di sini dipasang atap. Supaya masinis kapal—yang hampir setiap saat kepanasan oleh batu bara dan uap kapal—tidak semakin kepanasan, koki ekspedisi itu beserta kompornya dan segala keperluan dapurnya ditempatkan di bagian ini. Awalnya, dapur itu terdapat di bagian kanan kapal, di dekat ketel air yang paling belakang.

Kain-kain layar dipasang pula di bawah atap-atap yang ada. Kain-kain berfungsi sebagai semacam gorden yang dapat diturunkan bila matahari terlalu terik atau bila hujan turun. Dilihat dari darat, kapal uap itu tampak agak aneh. Dari arah depan, kapal itu sebetulnya lebih mirip rumah boneka daripada sebuah kapal mariner! Tetapi, tak ada yang peduli bagaimana bentuk kapal itu. Yang paling penting, kapal itu memenuhi semua kebutuhan untuk melakukan penjelajahan.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #ekspedisi belanda ke jambi #sejarah jambi dalam naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 Januari 2019 20:15 WIB

Kunker ke Kerinci, Fachrori Bicara Pentingnya Pendidikan dan Kesehatan


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menyampaikan pesan pentingnya pendidikan dan kesehatan menjelang pelaksanaan ibadah Salat Jumat

 

Jumat, 18 Januari 2019 19:55 WIB

Penuhi Panggilan Bawaslu, Sutan Adil Menolak Disebut Diperiksa


Kajanglako.com, Jambi – Kasus pembagian Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diduga dijadikan jualan politik oleh lima Caleg Gerindra, termasuk

 

Warga Tenggelam
Jumat, 18 Januari 2019 17:52 WIB

Petani yang Terseret Arus di Sungai Tembesi Ditemukan Tewas


Kajanglako.com, Merangin - Sarmidi (35), warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau yang terseret arus sungai Tembesi pada Rabu (16/1) lalu, berhasil

 

Jumat, 18 Januari 2019 13:30 WIB

SK Pemberhentian Zola sebagai Gubernur Sudah Diteken Presiden


Kajangalako,com. Jambi - SK pemberhentian Zumi Zola sebagai Gubernur Jambi periode 2016-2021 akhirnya ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo. Kabar ini

 

Jumat, 18 Januari 2019 11:33 WIB

Jualan Sabu, Pegawai Honorer Ditangkap saat Menunggu Pembeli


Kajanglako.com, Merangin - Satresnarkoba Polres Merangin kembali berhasil mengamankan seorang pelaku penyalahgunaan Narkotika. Kali ini seorang pegawai