Jumat, 18 Januari 2019


Selasa, 18 Desember 2018 16:10 WIB

TNKS, TNBT dan TNBS Masih Marak Jadi Objek Perambahan

Reporter : Redaksi
Kategori : Ragam

Workshop Memperkuat Sinergitas pihak dalam pengelolaan TNKS, TNBT dan TNBS di Jambi (Foto:Kajanglako/red/Evi)

Kajanglako.com, Jambi - Provinsi Jambi memiliki aset hutan yang menjadi kebanggaan dengan topologi dan spesifikasi yang berbeda-beda. Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Taman Nasional Berbak Sembilang menjadi ikon hutan konservasi yang tersisa. Berbagai masalah menjadi kendala utama dalam upaya penyelamatan dari kawasan, mulai dari perambahan, kebakaran, konflik satwa meliputi d lokasi bentang alam Kerinci Seblat, Bukit Tigapuluh, dan Berbak Sembilang. Perambahan menjadi masalah yang dirasakan sama di tiga lokasi tersebut. Kondisi ini mengancam kelestarian ekosistem kawasan. Rusman selaku Kabid TU TNKS menyebutkan Kerinci Seblat diibaratkan seperti donat yang menghadapi persoalan-persoalan baik dari dalam dan luar kawasan. “ Jika masalah perambahan ini dibiarkan, maka bisa saja TNKS menjadi Taman Nasional Kopi Semua, Taman Nasional Kentang Segar, Taman Nasional Kol Semua,” jelasnya dalam acara Workshop Membangun Sinergi Para Pihak di TNKS, TNBT, dan TNBS yang lestari dan berkelanjutan.

Data yang dimiliki Dinas Kehutanan Provinsi Jambi menunjukkan perlunya perluasan kawasan hutan seluas 105 juta Hektar agar keseimbangan ekosistem dapat terpenuhi di Provinsi Jambi. Pembukaan jalan disebutkan Rusman menjadi pintu masuk bagi melegalkan aktifitas perambahan yang sudah terjadi. “kalau ada usulan jalan, itu disinyalir sudah ada perambahan yang sudah terjadi. Jadi hati-hati yaak dengan usulan jalan di kawasan konservasi,” jelasnya.



Sementara itu, konflik satwa menjadi permasalahan di landscape Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Dedi Permana menegaskan, terkait konflik satwa ini biasanya terjadi di kawasan landscape yang juga menjadi tanggung jawab pihak lain perusahaan ada Lestari Agro Jaya, ABT, RHM, ini yang dibutuhkan sinergi bersama dengan pihak-pihak ini jika terjadi konflik satwa. “ Kalau di dalam kawasan, ini kan bukan konflik tapi ini memang tempat hidupnya,” katanya. Sementara itu Taman Nasional Berbak Sembilang, dengan topologi gambut dan manggrove merasakan kendala kebakaran menjadi mok ketika musim kemarau mulai datang. Rini Yuniati Koordinator Program dan Kerjasama TNBS menyebutkan kebakaran menjadi ancaman terbesar di kawasan TNBS. “ Saat ini kita bersama tim sedang menyusun RPJM di TNBS, dan sudah membentuk beberapa desa peduli api yang juga bekerjasama dengan pihak-pihak lain baik itu lembaga pendamping dan juga swasta,” katanya.

Saat ini seluas 11.000 hektar lahan di kawasan TNBS telah diajukan sebagai kawasan dalam skema perhutanan sosial sebagai solusi lahan yang diklaim masyarakat di sekitar kawasan. “ Kita juga sudah melakukan penataan untuk zona-zona tradisional kemitraan konservasi. Agar pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.Karena regulasi yang mengatur itu belum ada,”jelasnya.

TFCA-Sumatera adalah salah satu program pengelolaan dana hibah melalui Skema Debt Swap for Nature Conservation, sebuah skema panglihan utang luar negeri Pemerintah Indonesia ke Pemerintah Amerika Serikat, yang kemudian digunakan untuk mendukung upaya konservasi dan penyelamatan species kunci yang terancam punah di Sumatera. TFCA-Sumatera sejak tahun 2010 lalu telah menetapkan 13 Landscape Prioritas diantaranya adalah TNKS, TNBT & TNBS

Samedi, Direktur Program TFCA Sumatera menyebutkan total dana hibah sebesar US$ 42, 6 juta yang dibagikan sejak 2009 hingga 2023. “Hingga 2018 initotal dana hibah yang sudah dibeikan kepada mitra terserap 290 miliar rupiah, serapannya masih rendah karena banyak LSM lokal masih lemah dalam mekanisme pelaporan , padahal kegiatan di lapangannya berjalan dengan baik,” sebutnya.

TFCA Sumatera turut berkontribusi dalam membangun Perhutanan Sosial pada 4 dari 13 Landscape prioritas TFCA-S. Sampai akhir tahun 2017, tercatat 141.252 Hektar pencadangan areal Perhutanan Sosial yang diinisiasi oleh 9 Mitra/Konsorsium TFCA Sumatera. Sekitar 78.322 hektar diantaranya merupakan direkognisi dengan skema Hutan Desa dan Hutan Adat yang dikelola secara komunal melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa/Nagari dan Kelompok Pengelola Hutan Adat, yang tersebar di Kabupaten Solok Selatan, Solok (Sumbar), Kerinci, Merangin, Bungo (Jambi), dan Palelawan (Riau).  Skema Hutan Kemasyarakatan tersebar di Kabupaten Tanggamus (Lampung), Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Pakpak Barat (Sumatera Utara), Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah dan Kepahiyang (Bengkulu), dengan total luasan 62.930 hektar.

Dukungan TFCA-S berkaitan dengan 3 pilar Perhutanan Sosial, yaitu : 1. Mengupayakan agar masyarakat mendapatkan pengakuan legal dalam mengelola kawasan hutan dengan keputusan Menteri LHK, 2. Memfasilitasi kelompok-kelompok pemegang izin Perhutanan Sosial untuk menyusun rencana kerja/operasional, memperkuat aspek manajerial dan mekanisme kelembagaan, serta 3. Mendorong berjalannya bisnis komunitas dilevel “On Farm” berupa pengembangan komoditas unggulan dan perbaikan budidaya, dilevel “Off Farm” dengan mendorong unit-unit pengolahan komoditas untuk mendapatkan added value, dan dilevel “Market” untuk menghubungkan produk komunitas ke pasar-pasar yang lebih baik. (Kjcom/Arman/Rilis)


Tag : #Jambi #Taman Nasional #Kerinci Seblat #Bukti Tigapuluh #Berbak #Sembilang #TNKS #TNBT #TNBS #hutan #konservasi #kerinci #tanjabtim #sarolangun



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 Januari 2019 20:15 WIB

Kunker ke Kerinci, Fachrori Bicara Pentingnya Pendidikan dan Kesehatan


Kajanglako.com, Jambi - Plt Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menyampaikan pesan pentingnya pendidikan dan kesehatan menjelang pelaksanaan ibadah Salat Jumat

 

Jumat, 18 Januari 2019 19:55 WIB

Penuhi Panggilan Bawaslu, Sutan Adil Menolak Disebut Diperiksa


Kajanglako.com, Jambi – Kasus pembagian Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diduga dijadikan jualan politik oleh lima Caleg Gerindra, termasuk

 

Warga Tenggelam
Jumat, 18 Januari 2019 17:52 WIB

Petani yang Terseret Arus di Sungai Tembesi Ditemukan Tewas


Kajanglako.com, Merangin - Sarmidi (35), warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau yang terseret arus sungai Tembesi pada Rabu (16/1) lalu, berhasil

 

Jumat, 18 Januari 2019 13:30 WIB

SK Pemberhentian Zola sebagai Gubernur Sudah Diteken Presiden


Kajangalako,com. Jambi - SK pemberhentian Zumi Zola sebagai Gubernur Jambi periode 2016-2021 akhirnya ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo. Kabar ini

 

Jumat, 18 Januari 2019 11:33 WIB

Jualan Sabu, Pegawai Honorer Ditangkap saat Menunggu Pembeli


Kajanglako.com, Merangin - Satresnarkoba Polres Merangin kembali berhasil mengamankan seorang pelaku penyalahgunaan Narkotika. Kali ini seorang pegawai