Jumat, 22 Maret 2019

Sabtu, 15 Desember 2018 11:12 WIB

Persiapan Menuju Pedalaman Djambi

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Untuk sementara, cerita mengenai penjelajahan di Dataran Tinggi Padang, disimpan dulu. Van Hasselt (yang banyak berlaku sebagai penyambung lidah tim ekspedisi) memulai cerita mengenai rekannya, Schouw Santvoort, yang menjelajah di daerah yang lain. Kabar terakhir yang diterima darinya adalah ketika ia tiba kembali di Batavia, pada bulan April.



Keesokan harinya, Schouw Santvoort menemui dua orang, yaitu Makkink (nakhoda) dan Hermans (masinis). Yang pertama, datang dengan kapal uap Conrad ke Batavia. Yang kedua sempat tinggal agak kama di Padang untuk membantu Schouw Santvoort sebagai juru tulis.

Setelah Schouw Santvoort berangkat, ia kembali ke Batavia untuk menyambut kedatangan kapal uap yang direncanakan akan dibawa oleh Schouw Santvoort melayari sungai-sungai ke Kesultanan Djambi. Persiapan yang harus dilakukan untuk membawa kapal itu ke Djambi, menyiapkan perbekalan dan instrumen-instrumen yang dibawa, cukup banyak. Mereka bertiga sibuk bukan main.

Departemen Angkatan Laut membantu menyediakan segala-sesuatu yang diperlukan untuk kapal uap itu. Selain nakhoda dan masinis, awak kapal itu terdiri dari empat orang ‘vuurstokers’ (harfiah: pemicu api) yang akan bertugas mengatur api dan uap untuk menjalankan kapal itu; seorang mandoer berbangsa pribumi dan dua orang pelaut—yang ditugaskan sementara di kapal itu.

Bantuan besar diperoleh tim ekspedisi dari  Nederlandsch-Indische Stoomvaartmaatschappij, perusahaan pelayaran Hindia-Belanda dengan memberikan transportasi gratis untuk semua barang yang harus dibawa. Para penumpang, hanya dikenakan biaya sebesar 1/6 ongkos pelayaran biasa.

Maskapai pelayaran itu juga telah menyatakan bersedia mengangkut kapal uap ekspedisi sampai ke Sumatra. Namun, tawaran ini: menarik kapal uap kecil itu dengan kapal pos besar yang terus-menerus harus bergerak cepat—dianggap Schouw Santvoort kurang praktis. Lagipula, bila air laut sedang pasang atau ombak meninggi karena badai, kapal pos itu tak dapat menunda-nunda perjalanannya dengan menepi dulu, sampai badai reda. Tetapi, perjalanan di laut terbuka yang sedang dilanda badai tentulah tak mungkin dengan aman dilalui oleh kapal uap kecil untuk pelayaran sungai.

Schouw Santvoort mencari akal agar dapat membawa kapal uapnya ke Djambi dengan biaya serendah mungkin. Dari kabar burung, ia mendengar bahwa Departemen Kelautan telah menyewa sebuah kapal uap, The Royalist, untuk suatu perjalanan ke Sumatra.

Kapal itu akan membawa orang-orang yang ditugaskan memeriksa penerangan pantai serta pemasangan pelampung pantai dan pelabuhan. Ia segera menemui pejabat-pejabat berwenang di Departemen itu dan beruntung diizinkan menggunakan kapal The Royalist untuk menambang kapal uapnya sampai ke Palembang.

Schouw Santvoort bekerja keras supaya akhir Mei ia sudah dapat berangkat. Akan tetapi, pada saat terakhir, persis pada tanggal 30 Mei, ia mendapatkan kabar bahwa keberangkatan kapal The Royalist terpaksa ditunda selama tiga minggu—karena suatu alasan. Ia tak dapat menunggu selama itu! Terpaksalah ia mencari akal lagi.

Tanpa lelah, ia menemui orang di berbagai instansi untuk meminta bantuan. Ia juga menemui Gubernur-Jendral Hindia-Belanda dan menceritakan permasalahan yang dihadapinya. Untunglah pejabat tertinggi di nusantara itu bersedia membantunya. Lelaki itu menyediakan kapal uap pemerintah, kapal Singkawang untuk menambang kapal uap Schouw Santvoort.

Sebuah telegram segera dilayangkan ke Lampong, tempat kapal itu sedang bertugas. Walau pekerjaan yang harus dilakukan di sana belum selesai, awak kapal Singkawang diperintahkan untuk segera berlayar kembali ke Batavia.

Schouw Santvoort menarik nafas lega. Kapal Singkawang akan berangkat meninggalkan Batavia, menambang kapal uapnya, pada tanggal 7 Juni 1877. Kapal Singkawang terlalu kecil untuk membawa segala perbekalan ekspedisi. Karena itu, nakhoda Makkink tetap tinggal di Batavia sampai tanggal 23 Juni. Pada tanggal itu, sebuah kapal uap milik Nederlandsch-Indisch. Stoomvaartmaatschappij akan berangkat membawa sisa perbekalan yang tak dapat dibawa oleh kapal Singkawang.

Masinis Hermans berangkat bersama Schouw Santvoort, bersama kapal Singkawang. Dua orang lelaki, yang sejak awal mendampingi Schouw Santvoort, yaitu Si Pandang Alam (juru tulis) dan  Si Radat, juga ikut. Si Radat adalah seorang lelaki paruh baya yang ikut bersama rombongan tanpa digaji karena keikutsertaannya merupakan keinginannya sendiri. Awalnya, Schouw Santvoort berencana membantunya kembali ke Padang (tempat tinggalnya), tetapi lelaki itu rupanya memilih untuk tetap ikut menjelajah.

Dua orang lelaki Melayu yang juga ikut bersamanya ke Batavia, dipulangkan ke Padang naik kapal lain. Kepada salah seorang di antaranya, Hadji Abdoellah, Schouw Santvoort menitipkan beberapa cenderamata untuk raja-raja dari daerah-daerah merdeka yang banyak membantunya selama penjelajahannya. Hadji Abdoellah berjanji akan mengutus seorang wakilnya untuk mengantarkan cenderamata-cenderamata itu dari negari ke negari.

Sebelum berangkat, Schouw Santvoort juga membeli berbagai benda yang diinginkan oleh orang-orang di pedalaman Sumatra. Benda-benda itu direncanakan akan digunakan sebagai penukar untuk mendapatkan benda-benda kebutuhan hidup selama penjelajahan. Benda-benda itu kemungkinan juga memberinya kesempatan dan alasan untuk bertemu dan mendekati para kepala adat serta warga dusun yang didatanginya.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Schouw Santvoort ke Jambi 1877 #Sejarah Jambi dan Sumatra Tengah



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Maret 2019 17:10 WIB

Pasca Banjir, Warga Banyak yang Terjangkit Penyakit Kulit


Kajanglako.com, Sarolangun - Pasca banjir yang melanda Kabupaten Sarolangun, Dinas Kesehatan Sarolangun menemukan banyak masyarakat yang terserang penyakit

 

Jumat, 22 Maret 2019 17:08 WIB

Kekurangan Bides, Dinkes Usulkan Bidan yang Lulus CPNS Ditempatkan di Desa


Kajanglako.com, Sarolangun - Hingga saat ini Kabupaten Sarolangun masih mengalami kekurangan tenaga Bidan Desa, terutama untuk desa yang baru dimekarkan

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:49 WIB

KPU Sarolangun Kekurangan Surat Suara 84 Ribu Lembar


Kajanglako.com, Sarolangun - Setelah  selesai dilakukan pelipatan dan penyortiran kertas suara, KPU menemukan sekitar puluhan ribu lembar surat suara dinyatakan rusak

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:38 WIB

Ratusan Personel Gabungan Ikuti Apel Pengaman Pemilu 2019


Kajanglako.com, Jambi - Jumat Pagi(22/3), digelar apel gabungan bersama ratusan Anggota TNI-Polri dan Pemprov Jambi serta komponen masyarakat guna mematangkan

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:37 WIB

Bupati Mashuri Serahkan SK ke 200 CPNS Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, Mashuri, menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada sebanyak 200 Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ), Jumat (22/03). Penyerahan