Jumat, 18 Januari 2019


Sabtu, 08 Desember 2018 10:39 WIB

Pertarungan Mylord dan Si Raja Hutan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sementara van Hasselt dan Veth menjelajah, Snelleman menata tempat tinggalnya dan halamannya untuk menampung koleksinya. Di mana-mana, tampak bukti-bukti perhatiannya pada zoologi.



Di bawah rumahnya, ia menyiapkan kandang untung seekor kijang yang ditangkap di Loeboe Taras dan dibawa oleh para pemburunya ke Silago. Rumah itu sepintas mengingatkan pada bahtera Nabi Nuh yang penuh dengan bermacam-macam binatang.

Di pendopo tergantung sejumlah sangkar burung. Satu sangkar besar terbagi ke dalam sembilan bagian. Setiap bagian dihuni oleh seekor burung terahan. Dua ekor burung penijoe tinggal bersama di sebuah sangkar yang lain. Di salah satu tiang pendopo, kaki seekor burung selindi yang galak, terikat dengan tali. Kulit burung dan binatang lain tampak sedang dijemur di atas rak-rak bambu dan di mana-mana bertebaran kaleng-kaleng berisi serangga dan botol-botol berisi spiritus. Sebuah meja kayu di bagian depan serambi itu dipersiapkan khusus untuk mengawetkan binatang.

Asistennya, Van Gussem, jarang tampak di rumah itu. Ia selalu sibuk berburu dan mengumpulkan serangga dan burung-burung. Lelaki itu, yang berumur 65 tahun, tak pandai mengawetkan binatang sehingga ia dibebaskan dari tugas itu.  Tetapi, tugas-tugas lain dikerjakannya dengan baik dan penuh semangat.

Semua pekerjaan kerumahtanggaan di rumah negari itu sudah diatur dengan baik. Kedatangan van Hasselt dan Veth menambah kenyamanan di tempat itu. Snelleman senang melihat mereka kembali. Namun, ia agak menyesali bahwa mereka sudah kembali setelah pergi selama 7 hari saja, padahal menurut rencana, seharusnya mereka baru kembali 18 atau 20 hari kemudian.

Penelitian zoologi yang harus dilakukannya sangat tergantung pada penelitian dan pemetaan geografi yang dilakukan oleh kedua rekannya itu. Tanpa data dari mereka, penelitiannya di tempat ini akan segera berakhir.

Bersamaan dengan kepulangan van hasselt dan Veth, Sang Harimau pun datang lagi. Tak ada yang tahu persis, tetapi mereka menduga bahwa harimau itu adalah harimau yang dulu pernah dilihat oleh mereka.

Pada suatu hari yang cerah, Veth mendaki gunung yang belum diukur olehnya. Puncak yang didatanginya berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah negari, basis mereka. Langkah-langkahnya diikuti oleh Mylord, anjing milik van Gnssem. Binatang itu bukanlah anjing yang bagus dilihat, tetapi berfungsi baik menjaga keamanan. Setelah selesai melakukan pengukuran, Veth pulang. Mylord mendahuluinya, lalu berbelok ke sebuah bukit yang agak gundul dari tanaman, di dekat hutan.

Tiba-tiba Veth melihat harimau itu keluar dari hutan. Ia mengangkat mukanya, mencium bau anjing di dekatnya. Ia mengejar Mylord. Anjing itu mengambil langkah seribu. Kedua binatang itu berkejaran, tetapi ternyata Mylord mampu berlari lebih kencang. Lama-kelamaan, harimau itu menyerah dan kembali ke hutan, tanpa melihat seorang perempuan, yang sedang membawa beberapa ekor kerbau ke ladangnya.

Beberapa hari kemudian, van Hasselt, Veth, Snelleman dan van Gussem duduk-duduk berempat di serambi depan. Dengan perut kenyang, mereka berdiskusi dengan suara kencang. Tiba-tiba dari kegelapan, Mylord berlari masuk ke kolong rumah. Tak lama kemudian, terdengar suara-suara benda-benda yang ditabrak, suara-suara binatang yang menggeram dan menguak kesakitan, lalu aum harimau membelah malam. Sekali lagi terdengar suara binatang yang kesakitan. Veth, yang duduk di dekat pagar serambi, melongok ke luar. Harimau. Di mulutnya, Mylord, si anjing setia yang malang. Harimau itu melompat pagar tanpa melepaskan mangsa di mulutnya.

Pertarungan di antara harimau dan anjing itu berlangsung tak lama. Hanya sekejap mata. Ketika mereka berempat tersentak berdiri melihat harimau itu, halaman di luar sudah senyap lagi. Van Gussem menduga harimau itu keluar hutan dan mengintai anjingnya yang berjalan-jalan di halaman di malam hari.

Barangkali karena lapar, harimau itu tidak peduli pada lampu yang menyala terang di serambi rumah; tak peduli pada lampu dan suara-suara di dapur dan tak peduli pula pada suara-suara para kuli yang bernyanyi dan bercanda di kandang kuda. Ia memburu Mylord sampai ke bawah rumah. Anjing itu tak kuasa menyelamatkan diri.

Orang berhamburan keluar dari dapur dan keempat lelaki Belanda itu turun dari serambi. Semuanya ribut. Warga kampung pun berdatangan. Halaman rumah negari itu mendadak menjadi terang benderang oleh orang yang membawa obor. Beramai-ramai, dengan membawa tombak dan persenjataan lainnya,  mereka masuk ke hutan, mencari jejak harimau itu. Tetapi, harimau itu sudah menghilang.

Sejak malam itu, tim ekspedisi, para buruh dan pendayung-pendayung, bersiaga. Tak seorang pun berani meninggalkan halaman setelah matahari terbenam. Mereka memasang pagar di atas tangga ke serambi. Untunglah, harimau itu tidak datang lagi.

Beberapa hari kemudian, mereka mulai bersiap-siap meninggalkan Silago. Barang di rumah negari itu mulai dikumpulkan dan disimpan di dalam peti-peti. Perbekalan untuk perjalanan selanjutnya pun disiapkan. Pada tanggal 10 Juli, Veth berangkat, menuju Loeboe Tarab. Pada tanggal 13 Juli, rekan-rekannya menyusul. Lalu, menurut rencana, dari Loeboe Tarab, mereka berangkat bersama menuju  Sidjoendjoeng.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #ekspedisi Belanda ke Jambi #Sejarah Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Van Hasselt ekspedisi ke Sumatra



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 Januari 2019 19:55 WIB

Penuhi Panggilan Bawaslu, Sutan Adil Menolak Disebut Diperiksa


Kajanglako.com, Jambi – Kasus pembagian Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diduga dijadikan jualan politik oleh lima Caleg Gerindra, termasuk

 

Warga Tenggelam
Jumat, 18 Januari 2019 17:52 WIB

Petani yang Terseret Arus di Sungai Tembesi Ditemukan Tewas


Kajanglako.com, Merangin - Sarmidi (35), warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Siau yang terseret arus sungai Tembesi pada Rabu (16/1) lalu, berhasil

 

Jumat, 18 Januari 2019 13:30 WIB

SK Pemberhentian Zola sebagai Gubernur Sudah Diteken Presiden


Kajangalako,com. Jambi - SK pemberhentian Zumi Zola sebagai Gubernur Jambi periode 2016-2021 akhirnya ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo. Kabar ini

 

Jumat, 18 Januari 2019 11:33 WIB

Jualan Sabu, Pegawai Honorer Ditangkap saat Menunggu Pembeli


Kajanglako.com, Merangin - Satresnarkoba Polres Merangin kembali berhasil mengamankan seorang pelaku penyalahgunaan Narkotika. Kali ini seorang pegawai

 

Jumat, 18 Januari 2019 06:16 WIB

Ular Piton 3 Meter Hadang Jalan, Satu Pengendara Dipatuk


Kajanglako.com, Bungo - Ular Piton berukuran panjang 3 meter berhasil ditangkap oleh warga di Kabupaten Bungo saat melintasi jalan dalam kota, akibatnya