Rabu, 24 Januari 2018
Pencarian


Sabtu, 14 Oktober 2017 14:40 WIB

Zubir Mukti, Penulis Puluhan Karya Fiksi Asal Bungo

Reporter : KJ
Kategori : Sosok

H.Zubir Mukti

Oleh: Buana K.S.*

H. Zubir Mukti dilahirkan di Muarabungo pada 20 Oktober 1937. Adalah anak sulung dari pasangan H. Moekti dan Hj. Yuliana. Ayahnya berasal dari Dusun Tanjung Menanti, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Sedangkan ibunya berasal dari daerah Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan salah satu tokoh yang cukup disegani pada masa zaman penjajahan Belanda dan Jepang, yang juga dikenal sebagai penulis pada masa itu.

Sebagai anak sulung, Zubir dididik kedua orangtuanya agar selalu mandiri. Zubir Mukti menyelesaikan pendidikan SMA hanya dalam waktu dua tahun berkat kecerdasannya yang dianggap di atas rata-rata. Ia juga menguasai beberapa bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Belanda.

Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan SMA, Zubir Mukti merantau ke Jakarta dan meneruskan pendidikannya di Universitas Jayabaya dengan mengambil jurusan hukum. Waktu itu ia mulai rajin menulis dan mengirimkan tulisan-tulisannya ke beberapa harian ibukota. Termasuk cerita pendek dan cerita bersambung yang banyak dipublikasikan di majalah Detik.

Pada waktu arus politik sedang hangat di Jakarta, Zubir aktif dalam kancah perpolitikan. Ia bergabung dengan salah satu parpol, yaitu Partai Murba. Dunia politik inilah yang kemudian mengantarkan pada perkenalannya dengan H. Adam Malik dan istrinya, Nelly Adam Malik. Adam Malik waktu itu menjabat sebagai wakil presiden RI.

Karier Zubir semakin menanjak. Dia diangkat menjadi sekretaris pribadi Nelly Adam Malik. Tidak jarang Zubir mengikuti Nelly ke berbagai daerah dan luar negeri. Tugasnya sebagai sekretaris adalah mengetikkan naskah-naskah pidato sang ibu Wakil Presiden.

Zubir juga pernah menjadi anggota MPR RI pada 1968 sampai 1973. Setelah masa tugasnya berakhir, Zubir memutuskan untuk mundur dari dunia politik dan kembali menekuni hobinya di dunia sastra.



Karya-karya Zubir seperti novel dan antologi puisi banyak tidak terlacak lagi. Hanya sebagian judul novel yang dapat ditemukan di mesin pencari Google dan beberapa kerabat serta handai taulan yang masih menyimpan buku-buku karyanya.

Zubir juga menulis naskah serta menyutradarai film dan drama, di antaranya menulis naskah sekaligus menyutradarai film bersama sutradara Nya Abbas Akup pada 1972. Film tersebut diangkat dari salah satu bukunya, Catatan Harian Seorang Gadis. Zubir pernah pula menjadi penulis naskah dan sutradara lepas drama di TVRI Jakarta pada 1980.

Pada 1981, Zubir memeroleh penghargaan sebagai pemenang juara pertama Lomba Cerita Dongeng Pengantar Tidur Anak yang diadakan oleh Ibu Tien Soeharto dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Karangannya berjudul Putri Berbudi Luhur. Karangan tersebut akhir-akhir ini dijiplak oleh salah satu penerbit ternama dan diganti judul menjadi Gadis Selendang Sutra.

Karena kecintaannya pada Bungo, tulisan-tulisannya sebagian besar selalu menceritakan tentang kampung halamannya tersebut. Pada 1985, Zubir bahkan hijrah kembali dari Jakarta menuju ke kampung halamannya dengan memboyong serta seluruh keluarganya. Di Muarabungo, dia membangun sebuah penginapan kecil yang kemudian diberi nama “Losmen Upik” di atas tanah warisan ibunya.

Selain menulis, Zubir juga aktif dalam banyak kegiatan. Dia adalah pencetus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bersama salah satu sahabatnya, Adnan Buyung Nasution. Zubir juga aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan menjadi koresponden beberapa surat kabar dan majalah, di antaranya Tempo dan Kompas, pada 1980 sampai 1990. 

Di kampungnya, Zubir aktif sebagai Duta Seni dan Budaya Muarabungo dan menyutradarai beberapa pergelaran seni, mengenalkan seni dan budaya Bungo Tebo ke Jambi maupun ke Jakarta pada masa Bupati H. Abdul Muthalib H.S., serta aktif sebagai sekretaris Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan 45 Dati II Bungo Tebo pada 1995.

H. Zubir Mukti meninggal dunia di usia 70 tahun pada 9 Juli 2007 di sebuah rumah sakit di Jakarta karena mengidap sejumlah penyakit. Dia dimakamkan di TPU Joglo, Jakarta Barat.

Dari istrinya, Waty Sedarwaty, H. Zubir Mukti dikaruniai lima anak, yaitu: Yulianti Mukti, Tofani Harchan Mukti (Enggo), Sinta Melania Mukti, Agus Arif Budiman Mukti (alm), dan Upik Laila Hanum Mukti.

Berikut beberapa judul karyanya yang masih terlacak:

1. Antologi Puisi Hening (1963)

2. Palasik (1965)
3. Manusia Harimau (1965)
4. Cindaku (1965)
5. Cintaku yang Pertama (1967)
6. Catatan Harian Seorang Gadis (1967)
7. Putri Mayang Mas (1976)
8. Amin dan Lebo (1976)
9. Amin and Lebo (versi bahasa Inggris) (1976)
10. Putri Tanjung Menanti (1976)
11. Hanumku Sayang (1976)
12. Cewek Aduhay (1976)
13. Selamat Tinggal Rakitku (1978)
14. Semesra Kabut Pagi (1978)
15. Cinta Sweet Seventeen (1981)
16. Cewek Centil (1981)
17. Ikut Ayah ke Tanah Suci (1981)
18. Surya Putera Rimbo Bujang (1983)
19. Otoi Membangun Hari Esok (1983)
20. Mewujudkan Sebuah Impian (1983)
21. Selendang Sutera Bersulam (1983)
22. Yang Muda yang Berjuang (1983)
24. Pendekar Sayang Terbuang (1983)
25. Putri Berbudi Luhur (1984)
26. Pantang Menyerah (1984)
27. Lubuk Batu Kerbau (1984)
28. Roro Mendut (1984)
29. Catatan Harian Marta (1984)
30. Petualangan ke Planet Law Ceti (1984)
31. Saudagar Gampo dari Bangko (1985)
32. Rahasia Tengkorak di Pulau Karang (1985)
33. Martha Kristina Tiyahahu (1985)
34. Cerita Bergambar (Cergam) Pahlawan-pahlawan Srikandi Indonesia (1985)

35. Serial Detektif SAM (Serikat Anak Menteng): Misteri Sebuah Lukisan (1985)

36. Serial Detektif SAM: Membongkar Rahasia Dokter Fakun (1985)
37. Serial Detektif SAM: Rahasia Rumah di Tepi Danau (1985)
38. Petani dan Pengemis (1985)
39. Mat Dole Berhati Mulia (1985)
40. Petualangan Ke Planet Tau Ceti (1986)
41. Sejarah Peranan Hukum Adat dan Istiadat Jambi (1987)
42. Pesona Budaya Bungo Tebo: Upacara Adat Sunat Rasul (1993)
43. 50 Tahun Indonesia Merdeka: Rakyat Bungo Tebo Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan (1995)
44. Mata Air Goa Pulang Pitu (bersama Burhanuddin Soebely, Djumri Obeng, dan Surasono) (1984)
45. Hantu Wanita Cantik Bergaun Putih (tahun ?)
46. Putri Mayang Mangurai (tahun ?)
47. Kancil Pahlawan Air Jernih (tahun ?)[]

*Penulis adalah peyair. Kini tinggal dan bekerja di Kabupaten Bungo-Jambi. Karya Buana K. S. ini merupakan penyempurnaan (suntingan sekaligus penambahan data) dari tulisan anak kandung Zubir Mukti,  yaitu Upik Laila Hanum bertajuk Biografi Ayahku, Alm. H.Zubir Mukti (2013). 


Tag : #sastra #novel #naskah #bungo #jambi



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Januari 2018 23:50 WIB

Dugaan Kecurangan Toke Karet Terkuak, Warga Bandingkan Hasil Timbangan dengan Milik Sendiri


Kajanglako.com, Bungo – Petani Karet yang ada di Wilayah Kecamatan Muko-muko Bathin VII, Kabupaten Bungo, mulai resah dengan hasil timbangan yang

 

Penyelundupan Satwa Langka
Selasa, 23 Januari 2018 20:26 WIB

BKIPM Jambi Gagalkan Penyelundupan 7 Anak Buaya Via Bandara


Kajanglako.com, Jambi – Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jambi bekerja sama dengan Avsec Bandara Sultan Thaha, berhasil menggagalkan

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:14 WIB

Selain Diselingkuhi, Juanda Mengaku Juga Sering Dianiaya Istrinya


Kajanglako.com, Batanghari - Sebelum belang sang istri yang kedapatan selingkuh dengan Kades Padang Kelapo mencuat. Juanda akui sudah seringkali dianiaya

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:03 WIB

Juanda Lapor ke Inspektorat, Kades Padang Kelapo Berdalih Hanya Ajak 'EN' Rapat


Kajanglako.com, Batanghari - Kasus perselingkuhan Kades Padang Kelapo akhirnya berlanjut. Juanda, beserta sejumlah saksi melaporkan kasus tersebut ke Inspektorat

 

Selasa, 23 Januari 2018 19:49 WIB

Heboh, Kades Padang Kelapo Dikabarkan 'Gituan' di Semak-semak


Kajanglako.com, Batanghari - Selaku pemimpin desa harusnya bisa membimbing warga desanya dengan baik. Namun, yang terjadi kali ini bertolak belakang. Jangankan