Jumat, 14 Desember 2018


Minggu, 02 Desember 2018 14:08 WIB

Biawak Batoeah di Silago

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Kini mereka telah tiba di muara Soengei  Sipotar. Kampung kecil Kota Rana terletak di salah satu tepiannya. Karena banyak percepatan arus di dalam alirannya, Soengei Sipotar jauh lebih sulit dilayari daripada Soengei Mamoen, walau kedua sungai itu kurang-lebih sama besarnya.



Di tempat ini, tepiannya rendah tetapi tidak datar. Tingginya tepian itu turun-naik dan banyak dibelah-belah oleh anak-anak sungai yang lebih kecil. Perahu-perahu tim ekspedisi itu beberapa kali melewati celah sempit di antara bebatuan besar di sungai. Pukul 16.00, mereka memutuskan untuk berhenti sejenak.

Soengei Sipotar melebar di tempat ini dan tepian yang dipilih untuk beristirahat tertutup oleh kerikil-kerikil yang agak kering. Bukan hanya mereka saja yang berhenti di situ. Panghoeloe Soekoe Padang Ilalang, yang dipanggil oleh kepala larasnya, sedang dalam perjalanan kembali ke negarinya. Ia membawa dua buah perahu yang sarat dimuat dengan rotan-sago (hasil hutan ini digunakan untuk membuat tikar).

Di bawah atap dedaunan, Panghoeloe Soekoe Padang Ilalang sibuk menanak nasi. Setelah naik ke darat, anak buah van Hasselt pun mengikuti contohnya. Mereka memotong ranting dan memungut dedaunan. Dalam waktu singkat, sebuah ‘pondok’ sederhana yang cukup luas telah berdiri. Pondok itulah tempat mereka menginap malam ini.

Beberapa orang kuli membongkar perbekalan yang diperlukan untuk sehari. Koki memasak nasi dan makanan lainnya. Van Hasselt dan Veth membuka baju dan terjun ke dalam sungai. Rasanya tak ada yang lebih nikmat daripada mandi di aliran sungai yang segar, di tengah rimba. Alangkah lelahnya kedua orang Belanda itu. Kaki-kaki mereka yang panjang terasa kaku dan pegal karena duduk setengah berjongkok seharian di dalam biduk. Pakaian di badan basah kering dan basah lagi karena tersiram air sungai dan kemudian kering lagi terpanggang mentari. Setelah makan, mereka segera berbaring.

Sebetulnya, malam yang sepi dengan bintang-bintang terang di langit sangat mempesona. Akan tetapi, apa boleh buat, mereka tak kuasa menahan mata yang tertutup oleh kantuk.

Keesokan harinya, tanggal 1 Juli, mereka sudah bangun bersamaan dengan terbitnya matahari. Sarapan pagi yang sederhana ditelan dalam sekejap mata. Seluruh rombongan tampak segar dan bersemangat. Para pendayung mengerahkan tenaga, melawan arus, sampai ke dekat Soengei Tjandi, perbatasan di antara Loeboe Oelang Aling dan Padang Ilalang. Bebatuan besar memenuhi sungai itu dan para pendayung mengangkat tangan, menyerah. Biduk-biduk itu diikat dengan tambang, kemudian ditarik dari darat, terus melawan arus sungai yang mengalir kencang.

Soengei Sipotar semakin lama semakin menyempit. Pepohonan di kiri-kanan sungai itu seakan menjalinkan ranting dan dedaunan di atas sungai. Dari cabang-cabangnya, akar-akar gantung menjuntai ke dalam sungai seperti gorden temali. Biduk-biduk itu meluncur dua jam lamanya, sebelum akhirnya tiba di muara Sibelaboe.  Mereka terus menyusuri aliran Sipotar sampai ke Boga Gedang. Lalu mereka meneruskan perjalanan sampai ke Loeboe Pauhe, salah sebuah kampung di dalam wilayah Padang Ilalang.  

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Mereka menepi. Tanpa banyak bicara, mereka tergesa-gesa makan siang, beristirahat dan kemudian mempersiapkan diri untuk berjalan  di darat ke Silago.  Bagasi dan perbekalan yang tidak betul-betul diperlukan dititipkan dulu di rumah Malim Sampono (untuk diambil keesokan harinya bila mereka kembali). Berangkatlah mereka, melalui jalan setapak yang sulit dilalui. Setelah Magrib, menjelang pk 18.30 mereka tiba dan bertemu kembali dengan anggota-anggota rombongan yang ditinggalkan di Silago enam hari sebelumnya.  

Pembicaraan malam itu berkisar tak jauh dari sikap bermusuhan yang ditunjukkan oleh Radja van Sigoentoer.  Tetapi, selain mengeluhkan kesulitan-kesulitan yang dialami, mereka masih sempat juga membahas jalannya penjelajahan sampai saat itu. Jelas bagi mereka bahwa peta-peta Sumatra yang tersedia sama sekali tidak memadai; juga bahwa Batang Hari mengalir jauh ke utara, sepanjang perbatasan Jambi dengan daerah yang sudah dikuasai Belanda. Mereka menduga bahwa sungai itu, dengan cara dan keadaan yang sama, mengalir terus sedemikian rupa sampai ke Sigoentoer, sebelum berbelok ke arah tenggara, menuju Rantau.

Di mata van Hasselt dan Veth, balai negari di Silago seolah-olah menjadi panggung pertunjukan kehidupan yang damai. Ke mana pun mata memandang, lingkungan di sekitar kampung itu jelas tampak sebagai tempat untuk mengumpulkan aneka jenis binatang.

Persis di depan rumah tempat mereka menginap, sebuah jalan menukik tajam ke tepian Batang Silago, ke tempat mandi. Di atas bebatuan yang biasanya tetap kering pada waktu sungai tidak banjir, banyak capung dan kupu-kupu beterbangan. Di sebelah kanan jalan menuju Padang Ilalang, terdapat lahan luas yang terutama ditumbuhi rerumputan. Di antara rerumputan itu juga tumbuh rumpun-rumpun semak dan perdu yang selalu saja menyimpan harta karun berupa serangga kecil, terutama dari jenis coleoptera.

Silago juga merupakan kahyangan bagi burung. Di pepohonan durian yang tinggi, tak jauh dari tempat mereka dulu mengintai harimau, banyak sekali burung  tampoeah (Ploceus philippensis) yang membuat sarang bulat (yang hampir satu meter panjangnya) dari batang-batang rumput. Di tepian Batang Silago, di dekat kincir air yang mengalirkan air ke sawah, ranting dan cabang pohon yang tergantung di atas air biasanya menjadi tempat bertenggernya sekitar 10-20 ekor burung tanau (sejenis parkit) dan selindi (loricus galgulus). Burung dara biasanya bertengger di semak-semak di pinggir hutan. Bermacam-macam pula jenisnya: katiran (geopelia striata), poenai (Treoron nasica), balam (Turtur tigrina) dan burung pagam (Carpophaga aenea).

Tak jauh, di dekat jalan menuju Banei, ada sebuah gua kapur yang dihuni oleh seekor biawak. Alangkah banyaknya cerita hebat mengenai binatang itu! Bahkan gue, tempatnya tinggal pun, dianggap sebagai tempat yang anker. Konon, di dalamnya, gue itu penuh dengan terowongan. Konon pula, setiap orang, setiap binatang yang masuk di dalamnya, tak mungkin dapat bertahan hidup. Semua pasti mati. Kecuali, biawak itu. Tidak mengherankan. Biawak itu memang betoewah. Demikianlah diceritakan oleh penduduk setempat.

Van Hasselt dan Veth terbakar rasa ingin tahu, ketika mendengar cerita-cerita mengenai gue misterius dan biawak bertuah itu. Hal ini membuat orang-orang yang bercerita menyesal menceritakan soal biawak tadi. Semuanya yakin bahwa kedua lelaki Belanda itu akan celaka di dalam gua dan tak hampir seorang pun bersedia ikut bersama mereka.  

Beberapa orang kuli merasa tidak takut. Mereka bersedia ikut menjelajah ke gua itu. Jalan setapak ke gua itu masuk ke dalam belantara. Di sana-sini, mereka terpaksa membuka jalan dengan menebang beberapa pohon kecil dan memotong belukar.  Akhirnya, mereka tiba.

Hanya terdengar kesiur angin dan ranting yang patah, entah oleh apa. Gua itu senyap. Langkah-langkah pertama masuk ke dalam gua itu sudah menunjukkan bahwa tak ada terowongan di dalamnya. Dinding-dindingnya memang bergurat-gurat dengan celah-celah yang dalam. Tetapi tak ada celah yang menjadi terowongan.

Tak terdengar suara yang menandakan adanya mahluk hidup di dalam gua itu. Namun, jejak-jejak yang tertinggal di dekat genangan air di dalam gua membuktikan adanya biawak yang ditakuti oleh penduduk.  Tanpa mengalami celaka dalam bentuk apa pun, van Hasselt dan Veth meneliti gua itu. Seekor ayam, yang dibawa untuk meneliti udara di bagian-bagian gua yang lebih dalam, bernasib kurang baik. Kaki ayam itu diikat dengan seutas tali. Lalu, binatang itu diturunkan perlahan-lahan ke dalam sebuah lubang di gua. Dalam waktu singkat, ayam itu sudah tidak bergerak-gerak lagi. Ia mati. Kemungkinan oleh adanya penumpukan zat asam karbonat di dalam lubang itu.

Tiga hari kemudian, bangkai ayam yang masih tergantung di tali pengikatnya, masih ada. Ini membuktikan bahwa bagian gua yang dipenuhi zat asam karbonat tidak didatangi oleh biawak yang menunggui gua itu. Tujuh hari kemudian, ayam itu sudah menghilang. Mungkinkah ayam itu habis dimakan oleh biawak itu? Apakah binatang itu menahan nafas ketika memangsa ayam itu? Atau, mungkinkah biawak itu memang bertuah?

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi dalam Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 21:55 WIB

Razia Gabungan, Kendaraan Mati Pajak Ditindak


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Satuan Lantas (Satlantas) Polres Muaro Jambi bersama dengan Samsat, Dispenda dan Jasa Raharja menggelar razia gabungan, Kamis

 

Festival Kampung Senaung
Kamis, 13 Desember 2018 21:50 WIB

Peluncuran dan Bedah Kamus Bahasa Senaung, Tingkatkan Pelestarian Budaya


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Upaya meningkatkan pelestarian budaya lokal, Pemerintah Desa Senaung Kabupaten, Muaro Jambi, melakukan peluncuran kamus Bahasa

 

Pungli
Kamis, 13 Desember 2018 21:16 WIB

Diduga Marak Pungli, Siswa SMAN 3 Sarolangun Tuntut Kepsek Mundur dari Jabatannya


Kajanglako.com, Sarolangun - Siswa  SMA Negeri  3 Sarolangun di Kecamatan  Pauh  berunjuk rasa di sekolah, mereka menuntut agar Kepala

 

Ngopi Bareng Antashari
Kamis, 13 Desember 2018 20:09 WIB

Ngopi Bareng di Hellosapa, Mantan Ketua KPK ini Bicara Harusnya Hukuman Seorang Koruptor


Kajanglako.com, Jambi – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antashari Azhar, Kamis siang (13/12) menyambangi Coffe Shop Hellosapa di

 

Curanmor
Kamis, 13 Desember 2018 18:08 WIB

Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Asal Muratara yang Beraksi di Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Unit Reskrim Polsek Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pelaku yang ditangkap merupakan