Jumat, 14 Desember 2018


Jumat, 30 November 2018 02:53 WIB

Zulkifli Nurdin: Sebuah Obituari

Reporter :
Kategori : Sosok

Zulkifli Nurdin

Oleh: Ratna Dewi*

“Saya masih punya PR di Jambi yang belum selesai, bantu saya menuntaskannya.” Demikian Ia berkata, di suatu siang. Di ruang tengah rumah kampung manggis yang tenang, dihadapan kami (Saya, Abdul Haviz/Ahok, Eko Budyono, Irdiansyah dan Cecep Suryana).



Ia lalu berkisah, kadang dengan mata berkaca, sesekali dengan tangan mengepal. Namun ritme suaranya terus menggetar. Saat itu, awal April 2016, tanggal tepatnya saya tak ingat, beberapa bulan paska Zumi Zola, sang putra dilantik menjadi Gubernur Jambi.

“Jambi ini luar biasa. Jika pelabuhan internasional Ujung Jabung kita realisasikan, potensi ekonominya sangat luar biasa. Selama ini semua ekspor kita dan sumatera keluar melalui Singapura, seluruh pajak dan cukai dinikmati negeri Singa itu. Kita dapat apa?. Padahal posisi kita strategis. Dan dulu dalam sejarahnya, bangsa-bangsa dari Barat, Timur, Utara dan Asia Tengah, bertemu di titik sini. Di Sabak. Kita adalah titik temu perdagangan dan pertukaran budaya bangsa dunia,” Ujarnya.

“Itulah kenapa saya ngotot ingin pelabuhan Ujung Jabung itu berdiri. Namun sebelumnya, pelabuhan-pelabuhan penyangga harus disiapkan. Sektor ekonomi digenjot, bukan hanya hulunya, tapi juga hilir. Kalaupun ada pelabuhan Internasional tapi kita tidak punya produk untuk di jual, apa guna? Juga jangan hanya mengekspor material mentah dan mengimpor produk jadinya, bodoh betul kita dan terus menerus jadi korban kebodohan teknologi negeri lain,” lanjutnya dengan suara naik turun mengimbangi kecepatan pikirannya.

Sesekali, tangannya bergetar, bagian dari penyakit Parkinson yang telah dideritanya bertahun-tahun.

“Jambi juga punya sejarah tua. Mbak Ratna dan kawan-kawan lebih paham itu. Satu bukti kebesaran kita adalah Kawasan Percandian Muarojambi. Dari sejak awal saya percaya, ada harta karun kebudayaan di sana. Saya ingin membawanya ke mata dunia. Menjadikan Jambi negeri yang besar bukan hanya di Indonesia.”

Kami yang mendengar tak hendak memotong kalimatnya yang bertenaga. Seberapa pun kami menyimpan gemas, hendak memberi balas.

“Saya sadar, putra saya perlu dibantu. Kita perlu bekerja bersama-sama. Tolong-menolong. Saya minta anda yang ada di sini dan seluruh rakyat Jambi menolong Zola memperjuangkan Jambi mashyur di kalangan internasional, selain juga memakmurkan warganya. Saya sudah memperjuangkan Candi Muarajambi ke Unesco tahun 2009. Sekarang bantulah Zola untuk menuntaskan langkah itu. Lakukan apa yang perlu. Rencanakan, rumuskan, kerjakan dan tuntaskan,” tandasnya.

Singkat kata, memang pada kepemimpinannya lah, Candi Muara Jambi diusulkan sebagai Warisan Kebudayaan Dunia ke PBB. Saat itu, karena satu dan lain hal, dalam presentasinya, Kepala BPCB Jambi dan pemerintah daerah berhasil meyakinkan lembaga dunia itu dan masuk dalam daftar tunggu (tentatif list) “Unesco World Heritage”. Satu langkah lagi menuju status definitif.

Dan Zulkifli Nurdin, gubernur Jambi dua periode itu, hendak merampungkan PR budaya yang ia maksud diawal pembicaraan kami.

Keesokannya, dalam kondisi kesehatan yang tidak terlalu fit, ia mengajak kami bertandang ke perkampungan penduduk di desa Muaro Jambi, persis di kawasan inti candi. Di rumah Abu Bakar, Kepala Desa setempat, beberapa tokoh dan warga telah berkumpul. Dengan hidang khas dusun, warga menyampaikan isi hati dan kepala pada ZN.

Empat bulan kemudian, meneruskan keinginan warga, Jambi Heritage Council, Yayasan dewan budaya Jambi yang dibentuk ZN dan Ibu Ratu Munawaroh, menggelar “Rembuk Masyarakat Candi Muara Jambi”.

Hadir di kesempatan itu Bupati dan jajaran pemkab, perwakilan pemprov, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda dan warga lainnya. Zola, Sang Gubernur, berhalangan hadir.

Di sana, di luar kebiasaan seremonial sejenis, warga dibebaskan menyampaikan kehendak dan citanya tentang candi dan kehidupan mereka yang berpaut dengan tinggalan sejarah itu. Karenanya yang tumpah bukan hanya puji, tapi keluh dan peluh, kesedihan juga mimpi yang minta untuk diwujudkan.  Pada siapapun yang punya kuasa untuk memenuhinya. Hari itu, di altar museum Candi digelar, sebuah ruang rembuk yang menempatkan setiap orang setara.

Dan sore kemarin, Zulkifli Nirdin, di usia 70 tahun meninggal dunia. Terbetik kabar beberapa bulan terakhir, kondisinya menurun drastis, bahkan ingatannya pun tak lagi mampu mengenali keluarga. Duka mengaliri RS Pondok Indah dan kediaman di Kampung Manggis. Media sosial dilanda lara. Netizen yang memiliki foto dengannya, memposting dengan ungkapan belasungkawa. Yang lain, tak kalah harunya. Bukan hanya dari pejabat, tapi bagian besarnya justru datang dari rakyat banyak yang merasa pernah disentuhnya, baik sebagai Gubernur dua periode, pengusaha maupun ia sebagai personal.

Ia pergi masih meninggalkan mimpi. Pelabuhan Ujung Jabung belum lagi tegak. Candi Muara Jambi nyaris kehilangan deadline Unesco. Kesenjangan ekonomi rakyat masih tinggi. Jambi belum lagi mendunia. Bahkan langkah menegaskan dirinya sebagai lokus Melayu pun, masih terseok. Ia baru saja dimulai ketika Zola terjerat kasus yang berlarat.

Adalah wajah merah, Sapu tangan yang sesekali diusapkan, tangan yang bergetar tapi mata yang selalu menatap sungguh pada orang yang mengajaknya bicara, itulah cara saya mengenang ZN.

Ia yang tak pernah mengalihkan pandangnya jika bicara dengan orang lain, tanda ia menghargai dan mendengarkan ucapan orang di luar dirinya, siapapun. Bukan sekedar menatap, tapi lengkap dengan kedalaman dalam tatapan itu. Ia punya kemampuan mendengar yang baik, walau juga cenderung mudah untuk tersinggung.

Soal prestasi selama 10 tahun kepemimpinannya, siapapun bisa membaca rekam jejaknya di berbagai dokumen pembangunan maupun reportoar sejenis. Saya tak hendak mengurai itu. Cukup memaklumi bahwa sebanyak orang yang menyukai ZN, mungkin sebanyak itu pula yang membencinya.

Beberapa pembangunan di masanya dipandang kontroversial. Satu diantaranya berdiri tegak Mal WTC di atas DAS Batanghari. Kerja-kerja yang mengundang protes keras dari para aktivis lingkungan. Tapi kita juga mengingat, dia orang yang menolak keras dibukanya jalan evakuasi Kerinci yang hendak membelah TNKS. Sikap yang seolah mendua atas isu lingkungan hidup.

Lekat juga di ingatan, bahwa Ia bukanlah orang yang mudah menaruh percaya pada orang lain. Hanya satu dua nama saja yang kita tahu jadi orang kepercayaannya. Segala urusan kita dengan ZN, harus melalui satu dua nama itu. Hal yang barangkali lumrah saja dalam politik.

Beberapa bulan di akhir hayatnya, ZN sempat menelepon saya, menanyakan seputar rencana ia dan koleganya, Ayong,  hendak membangun pabrik di atas stokpile non aktif di area Candi Muara Jambi. Dengan pengetahuan yang terbatas, saya memberi pertimbangan yang didengarnya dengan sungguh-sungguh. Saya yang bukan siapa-siapa, dibanding kartel ekonomi yang hendak menjadi. Lalu pembangunan pabrik baru itu pun, dibatalkan.

Maka jika para tetua berkata, kenang-kenanglah yang manis dari diri orang lain, agar orang juga mengenang yang manis dari diri kita. Maka dengan tulisan sederhana ini, saya mengenang kemanisan budi seorang Zulkifli Nurdin, orang tua yang menyediakan hatinya untuk mendengarkan kita semua.

* Penulis aktif di Jambi Heritage Council dan Seloko Institute


Tag : #Ayah Zumi Zola Tutup Usia #Zulkifli Nurdin Meninggal Dunia #Zulkifli dan Ujung Jabung #Zulkifli dan Percandian Muarojambi



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 21:55 WIB

Razia Gabungan, Kendaraan Mati Pajak Ditindak


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Satuan Lantas (Satlantas) Polres Muaro Jambi bersama dengan Samsat, Dispenda dan Jasa Raharja menggelar razia gabungan, Kamis

 

Festival Kampung Senaung
Kamis, 13 Desember 2018 21:50 WIB

Peluncuran dan Bedah Kamus Bahasa Senaung, Tingkatkan Pelestarian Budaya


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Upaya meningkatkan pelestarian budaya lokal, Pemerintah Desa Senaung Kabupaten, Muaro Jambi, melakukan peluncuran kamus Bahasa

 

Pungli
Kamis, 13 Desember 2018 21:16 WIB

Diduga Marak Pungli, Siswa SMAN 3 Sarolangun Tuntut Kepsek Mundur dari Jabatannya


Kajanglako.com, Sarolangun - Siswa  SMA Negeri  3 Sarolangun di Kecamatan  Pauh  berunjuk rasa di sekolah, mereka menuntut agar Kepala

 

Ngopi Bareng Antashari
Kamis, 13 Desember 2018 20:09 WIB

Ngopi Bareng di Hellosapa, Mantan Ketua KPK ini Bicara Harusnya Hukuman Seorang Koruptor


Kajanglako.com, Jambi – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antashari Azhar, Kamis siang (13/12) menyambangi Coffe Shop Hellosapa di

 

Curanmor
Kamis, 13 Desember 2018 18:08 WIB

Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Asal Muratara yang Beraksi di Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Unit Reskrim Polsek Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pelaku yang ditangkap merupakan