Jumat, 14 Desember 2018


Minggu, 25 November 2018 08:08 WIB

Keributan di Loeboe Oelang-Aling

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sebuah tangga sederhana dengan anak-anak tangga yang lebar tersandar di dinding curam tepian sungai. Tangga itu mengantarkan semua yang datang di sana ke Kota Loeboe Oelang Aling. Banyaknya tanaman kopi, pohon-pohon kelapa dan buah serta lahan-lahan persawahan yang kosong memberikan bayangan kemakmuran di masa lalu. Di dusun itu, tinggal enam buah rumah. Kecuali rumah Radja, kesemua rumah itu tampak terlantar dan menyedihkan.



Rumah Radja Loeboe Oelang Aling tampaknya dulu dibangun dengan menggunakan papan-papan kayu yang dipotong rapi dengan dinding dari bambu. Rumah yang sedang diperbaiki itu berukuran sekitar 7,4 meter X 11 meter. Lantai rumah di sebelah kanan lebih rendah daripada yang di sebelah kiri. Rumah itu tidak lagi beratap.

Di alun-alun atau lapangan di depan rumah itu, tampak beberapa tempat duduk batu sejumlah 50 buah. Batu-batu seperti itu pernah dilihat oleh tim Ekspedisi Sumatera Tengah di Kota Baroe. Biasanya batu-batu itu berfungsi sebagai tempat duduk bagi orang-orang yang menonton acara sabung ayam.

Salah seorang pendayung ekspedisi dulunya merupakan anak buah Radja Loeboe Oelang Aling. Rumah yang ditinggalkan oleh pendayung itu sempat dijadikan surau. Di sanalah van Hasselt, Veth dan rombongannya, menginap. Suatu ruangan kecil, yang mungkin dulu biasa digunakan untuk ibadah, terpisah oleh skiram bambu.

Bersamaan dengan kedatangan tim ekspedisi, datang pula ibunda Toeankoe. Ia ditemani oleh beberapa orang pengikutnya. Ibunda Toeankoe adalah seorang perempuan tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan sebuah tongkat. Rambutnya agak berantakan, beruban. Selembar kain berwarna hitam melilit pinggangnya dan kain serupa terselempang di bahunya sebagai selendang. Van Hasselt dan Veth sulit membayangkan nenek-nenek itu sebagai ibunda seorang Radja.

Pinjaman rumah dari Si pendayung memang cocok sekali sebagai penginapan sementara. Anggota-anggota tim ekspedisi dan para pendayung menginap dan makan bersama di rumah itu. Setelah makan, seperti biasa, anggota-anggota tim yang berbangsa Melayu berjawab pantun—yang maknanya tak jelas bagi van anggota-anggota tim yang berbangsa Belanda. Mereka juga melakukan semacam permainan ketangkasan berbahasa seperti: “kelapa diparut, kepala digaruk”. Kalimat seperti ini kemudian harus diucapkan berulang-ulang dengan cepat. Lidah yang terbelit-belit ketika mengucapkan kalimat itu membuat semua yang hadir tergelak-gelak.

Rumah-rumah terlantar di dusun acapkali didatangi rusa pada waktu malam. Binatang-binatang itu menjilati tanah yang terasa asin di bawah rumah-rumah panggung tadi. Jejak-jejak mereka tampak jelas di beberapa tempat. Namun, ketika rombongan ekspedisi menginap di dusun, tak seekor rusa pun datang. Dua orang anggota ekspedisi yang sudah menyiapkan senapan untuk menembaknya, ternyata menunggu percuma.

Hari Sabtu pagi, sekitar pk 07.00, mereka melanjutkan perjalanan ke arah hulu. Kebetulan, mereka berangkat bersamaan waktunya dengan ibunda Radja Loeboe Oelang-Aling. Konon, perempuan tua itu berniat mengunjungi kerabat-kerabatnya yang tinggal di ladang-ladang yang letaknya lebih tinggi. Akan tetapi, tampaknya ia juga sekalian mengamati segala gerik-gerik tim ekspedisi itu. Walau berangkat bersamaan, biduk ibunda Radja—yang dikemudikan oleh tiga orang yang berpengalaman dan tidak diberati oleh berbagai perbekalan—segera menghilang dari pandangan.

Sesaat sebelum tiba di muara sungai, pemandangan indah di depan mata membuat mereka terpesona. Sungai itu membelah dua, merangkul sebuah pulau yang rimbun dengan tanaman. Pulau itu seolah-olah dilindungi oleh batu-batu besar yang muncul ke atas permukaan air. Tepian pulau itu dipenuhi oleh bebatuan panjang yang berwarna hitam dengan permukaan yang kasar. Di daerah dataran tinggi, bebatuan seperti itu dipergunakan untuk mengasah pisau. Mereka mengambil beberapa batu untuk koleksi. Tepian pulau, yang dirangkul oleh aliran sungai, merupakan pantai kerikil. Di bagian dalam pulau, pucuk-pucuk pohon yang tinggi mencakar langit.

Di tepian kiri sungai tampak sebuah ladang dengan pondok yang dikelilingi oleh pohon-pohon kopi yang sedang berbunga. Biduk ibunda Radja merapat di tempat ini. Pendayung-pendayung ekspedisi pun merapat di sana. Beberapa anggota tim yang berbangsa Melayu turun ke darat dan mendatangi pondok itu. Tak lama kemudian, mereka kembali dengan jagung-jagung rebus. Van Hasselt memberikan uang sebanyak 30 duit (sekitar 15 sen pada masa itu). Membawa uang itu, mereka kembali ke pondok. Van Hasselt dan Veth menunggu di perahu, makan jagung. Mereka mencoba untuk tidak memperhatikan orang-orang yang menonton segala gerak-gerik mereka. Beberapa orang penunggu ladang mengawasi gerak-gerik mereka.

Tunggu punya tunggu, Mantri Amas, Bandaro Koening dan Bandaro Poetih belum juga muncul kembali. Van Hasselt dan Veth mulai tidak sabar karena perjalanan yang masih harus dilakukan hari itu, masih panjang. Akhirnya, van Hasselt turun ke darat. Ia melangkah mendekati pondok tadi, sambil memanggil anggota-anggota timnya. Tak seorang pun menyahut. Ia menaiki tangga pondok tadi dan mengucapkan salam.  

Sekitar 10 orang lelaki, termasuk ketiga anggota ekspedisi yang dicarinya, duduk di dalam pondok itu. Seorang lelaki tua duduk di samping Bandaro Poetih. Lelaki itu rupanya adalah saudara lelaki Toeankoe Loeboe Oelang Aling. Lelaki itu menggeserkan tubuhnya. van Hasselt segera mendekat karena mengira lelaki itu mengharapkan dirinya duduk di sampingnya. Ketika sudah mendekat, van Hasselt baru menyadari bahwa lelaki tua itu sudah mencabut keris dari sarung di pinggangnya.

Mantri Amas segera mencekal tangan yang menghunus keris itu. Beberapa orang pendayung, yang menempatkan diri di depan van Hasselt untuk melindunginya, secepat mungkin mendorong lelaki Belanda itu keluar pondok.

“Berani-beraninya Belanda itu menjejak tanahku!” teriak marah lelaki tua itu terdengar di luar pondok. “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak ingin ada orang Belanda di sini?”

Lelaki itu mengamuk, entah murka entah takut. Para pendayung mendorong dan menarik van Hasselt naik ke perahu, disusul oleh Mantri Amas, Bandaro Koening dan Bandaro Poetih. Mereka bertolak secepat kilat.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Ekspedisi Belanda ke Jambi #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 21:55 WIB

Razia Gabungan, Kendaraan Mati Pajak Ditindak


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Satuan Lantas (Satlantas) Polres Muaro Jambi bersama dengan Samsat, Dispenda dan Jasa Raharja menggelar razia gabungan, Kamis

 

Festival Kampung Senaung
Kamis, 13 Desember 2018 21:50 WIB

Peluncuran dan Bedah Kamus Bahasa Senaung, Tingkatkan Pelestarian Budaya


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Upaya meningkatkan pelestarian budaya lokal, Pemerintah Desa Senaung Kabupaten, Muaro Jambi, melakukan peluncuran kamus Bahasa

 

Pungli
Kamis, 13 Desember 2018 21:16 WIB

Diduga Marak Pungli, Siswa SMAN 3 Sarolangun Tuntut Kepsek Mundur dari Jabatannya


Kajanglako.com, Sarolangun - Siswa  SMA Negeri  3 Sarolangun di Kecamatan  Pauh  berunjuk rasa di sekolah, mereka menuntut agar Kepala

 

Ngopi Bareng Antashari
Kamis, 13 Desember 2018 20:09 WIB

Ngopi Bareng di Hellosapa, Mantan Ketua KPK ini Bicara Harusnya Hukuman Seorang Koruptor


Kajanglako.com, Jambi – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antashari Azhar, Kamis siang (13/12) menyambangi Coffe Shop Hellosapa di

 

Curanmor
Kamis, 13 Desember 2018 18:08 WIB

Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Asal Muratara yang Beraksi di Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Unit Reskrim Polsek Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pelaku yang ditangkap merupakan