Jumat, 14 Desember 2018


Selasa, 20 November 2018 23:04 WIB

Riwayat Bioskop di Jambi, Artefak Kebudayaan yang Terabaikan

Reporter :
Kategori : Perspektif

Bioskop President milik keluarga Harkopo Lie di Pasar Kota Jambi. Dok. JP.

Oleh: Jumardi Putra*

Belakangan nama Tempoa Art Gallery, beralamat di Jl. Tempoa II Jelutung No. 21, Kota Jambi, ini kian santer terdengar, utamanya bagi publik seni di Kota Jambi, dan bahkan secara nasional mulai menjadi buah bibir. 



Hilmar Farid, dalam kunjungan ke Tempoa medio Januari lalu, berujar “ini aset kebudayaan yang dapat menjadi ruang alternatif edukasi sekaligus hiburan bagi masyarakat. Tidak ada alasan kebudayaan Jambi tidak berkembang.”

Sehingga apa sang Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, itu demikian antusias?

Usut punya usut, selain Tempoa konsisten menyediakan ruang-ruang kreatif, utamanya bagi perupa melalui pelbagai kegiatan, seperti pameran dan pelatihan melukis berkala, diskusi budaya dan panggung puisi, di sini tersimpan artefak kebudayaan yang tak pernah dibicarakan sebelumnya oleh masyarakat seni, yakni tinggalan artefak industri bioskop President era 1970–1990-an milik keluarga Harkopo Lie.

Saya pribadi bersyukur, sekira dua tahun lalu, sebelum Tempoa Art Gallery dikenal luas, bersama fotografer Sakti Alam Watir, kami diajak Harkopo Lie menyusuri tinggalan bioskop President itu dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Tak terkecuali ke dalam rumah pribadi orangtuanya yang bersebelahan dengan gedung Tempoa Art Gallery.

“Di salah satu ruangan (mini teater) di rumah ini, Try Sutrisno, Wakil Presiden RI periode 1993-1998, pernah menonton film bersama,” ceritanya.

Meski bioskop yang dikelola Harkopo Lie sekeluarga ditutup sejak 1990-an, sebagian besar artefak industri bioskop seperti media promosi, baliho, foster, karcis, kamera proyektor, kursi-kursi, kendaraan, hingga gedung, masih tersimpan dan terawat secara baik.

Ket: Artefak industri Bioskop President milik kelurga Harkopo Lie. Dok. Hendi Fresco.

Harkopo Lie, akunya, bukan satu-satunya sosok di balik industri bioskop President di Jambi yang pernah jaya sehingga memiliki jaringan bioskop President hampir di seluruh Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi era 1970-1990-an.

Namun, bagian yang tak bisa dinafikan darinya adalah, Harkopo yang kini dikenal sebagai pengusaha, dahulunya merupakan pelukis film di baliho dan foster yang tayang di bioskop milik keluarganya dan bioskop lainnya. Selain ditampilkan di bioskop–karya yang pada tahun 1980-1990-an, sebelum digital printing jamak dipakai–dikerjakan secara manual–karya nya juga di arak keliling dengan mobil sambil menggunakan pengeras suara menghimbau masyarakat menyaksikan film terbaru yang diputar di bioskop.

Terhadap beberapa baliho maupun foster film karya Harkopo Lie itu saya terkadang menahan tawa sekaligus mengulum senyum. Apa sebab? Saya melihat judul-judul film jadul dan aktor pemeran kawakan yang digandrungi era 1970-1990-an. Mulai dari film dengan genre religi, komedian, horor, action, hingga film khusus yang dilabeli “Midnigth”. Tahu kan maksud saya?

Ket: salah satu dari ribuan koleksi lukisan film bioskop karya Harkopo. Dok. Harkopo.

Bagi insan seni, utamanya perfilman, tentu kabar terawatnya artefak bioskop ini membahagiakan. Jambi sangat beruntung karena dalam situasi industri film yang maju pesat sekaligus kompetitif sekarang ini masih bisa kita temukan artefak kebudayaan yang menandai memori kolektif warga Jambi tentang budaya menonton bioskop.

Lebih jauh kita dapat melacak jaringan sekaligus persaingan usaha bioskop di Jambi, daftar film-film yang diputar (baik film besutan dalam maupun luar negeri), aktris atau pemeran, publikasi film-film bioskop di koran-koran lokal Jambi, selera warga dan cita rasa film, klasifikasi film, proses pembuatan lukisan di baliho dan poster film, dan yang tak kalah penting tradisi arak-arakan mobil ke kampung-kampung mensosialisasikan film yang sedang dan akan diputar (now-showing dan coming soon).

Memang, gambaran bioskop tempo dulu tak sekeren hari ini, sebut saja, seperti tiga merek bioskop ternama di Indonesia, yaitu Cinema XXI, CGV Blitz, dan Cinemaxx. Kesemuanya dilengkapi sound system mutakhir, kursi empuk (dan bahkan kelas VIV disediakan sofa khusus), ruangan full ac, kualitas empat dimensi, e-tiket, serta dilengkapi dengan fitur-fitur mewah lainnya untuk menyempurnakan hasrat penonton akan film dan aktor yang digandrungi.

Saya pernah melakukan penelusuran singkat dan dipublikasi dalam bentuk infografis di kajanglako.com, berikut ini: Periode 1987, asal negara film yang ditayangkan di bioskop beragam. Mulai dari film Indonesia (268.159 pengunjung), Amerika (187.609 pengunjung), Jepang (107 pengnjung), Italia (8.153 pengunjung), Hongkong (159.362 pengunjung), dan film lainnya (108.872). Selengkapnya di link berkut ini: http://kajanglako.com/id-2057-infografis-infografis-film-yang-paling-banyak-ditonton-di-bioskop-jambi-era-80an-berdasarkan-asal-negara-film.html

Sementara rilis Kantor Statistik Provinsi Jambi periode 1981-1987 menunjukkan jumlah bioskop dan pengunjuang berikut ini: 1981 (12 Bioskop. Pengunjung 1.079.532); 1982 (15 Bioskop. Pengunjung 1.226.236); 1983 (16 Bioskop. Pengunjung 1.113.610); 1984 (16 Bioskop. Pengunjung 1.114.753); 1985 (14 Bioskop. Pengunjung 898.116); 1986 (13 Bioskop. Pengunjung 802.053); dan 1987 (14 Bioskop. Pengunjung 827.776). Selengkapnya di link berkut ini: http://kajanglako.com/id-1878-infografis-infografis-bioskop-di-jambi-era-80an.html

Meski tampak fluktuatif, dari data itu terlihat jelas, bioskop masa itu menjadi salah satu tempat alternatif hiburan yang ramai dikunjungi warga kota Jambi. Tak pelak, antuasiame publik terlihat melalui daftar pengunjung laman Kajanglako.com yang meningkat drastis. Ambil misal, dalam satu hari jumlah pengunjung mengenai aktor film kelahiran Jambi, film beken besutan tokoh Jambi dan sekaligus shooting di Jambi, serta film produksi asal negara mana yang ramai diputar di bioskop di Jambi, menembus angka seribu pengunjung (viewer).  Selengkapnya di sini: http://kajanglako.com/id-309-post-intan-perawan-kubu-film-besutan-sutradara-kelahiran-jambi.html dan http://kajanglako.com/id-2411-infografis-infografis-aktor-film-kelahiran-jambi-1925--1987.html

Nah, bertolak dari potensi artefak industri bioskop itu, satu tahun berjalan ini, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta (FSR-IKJ) bersama Tempoa Art Gallery Jambi, milik Harkopo Lie, bekerjasama mewujudkan museum bioskop Jambi.

Tentu saya menyambut niat baik tersebut, terlebih era 80 hingga 90-an, dan bahkan hingga 2000-an bioskop di Jambi terus diminati warga.  Sayangnya, dalam banyak kongkow-kongkow maupun forum resmi kebudayaan di Jambi, film dan bioskop adalah dua artefak budaya yang belum tersentuh sama sekali oleh kajian/penelitian. Padahal, di luar soal industri hiburan, bioskop (dalam hal ini Murni, untuk menyebut contoh, yang berada di kawasan Murni, Kota Jambi), pernah menjadi tempat bersemainya gagasan bagi para pemuda dan kaum elit pada zamannya untuk mewujudkan keluarnya Jambi dari provinsi Sumatera Tengah hingga menjadi daerah otonomi tingkat satu dalam rentang waktu perjuangan 1946 hingga 1957.

Sepencatatan saya, sejak 1980 sampai 2000-an, terdapat beberapa biokosp yang familiar di kalangan warga Kota Jambi, seperti berikut ini: (1) Bioskop President (Beralamat di Pasar Jambi. Warga biasanya menyebut di pasar tingkat atau istana anak-anak; (2) Sumatera 21 (Beralamat tak jauh dari gedung/stadion KONI Provinsi Jambi; ((3) Telanai 21 (Telah tiada dan beralih menjadi hotel); (4) Duta (Dikenal bioskop Capitol; (5) Bioskop Mega; (6) Bioskop Murni (beralamat di kawasan Murni Kota Jambi); (7) Bioskop Ria; ((8) Bioskop Mayang (Beralamat tak jauh dari stadion Persijam Kota Jambi); dan (9) Bioskop Sitimang (Berada persis dekat pasar baru Talang Banjar).

Selain di kota Jambi, Maret 2018, salah satu bioskop yang sempat saya kunjungi di kawasan Benteng Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, yakni bioskop Mawar. Bioskop ini didirikan pada 1950 dengan luas bangunan 20 X 20 meter.

Ket: Bioskop Mawar di Kawasan Benteng Muara Tembesi. Dok. Jumardi P.

Menurut Datuk Sutan Bachtiar Oedin, sesepuh di Kawasan itu, bioskop Mawar beroperasi terakhir kali sekira 1980-an, setelah itu tak digunakan lagi. Bioskop itu dahulunya dikelola oleh pihak Pemkab Batanghari dan juga TNI, karena pada waktu itu Indonesia sudah merdeka pada tahun 1945, sedangkan Kabupaten Batanghari telah berdiri pada tahun 1948.

‘’Pihak pengelola membuka bioskop tidak setiap hari, tetapi hanya satu Minggu sekali. Pemutaran film dilakukan malam hari. Siangnya, pengelola berkeliling ke Desa-desa sembari mengumumkan tentang pemutaran filim di bioskop tersebut,” cerita pria kelahiran 1920 itu.

Daftar bioskop di atas tentu terus bertambah bila kita menelusuri Bioskop yang terdapat di Kabupaten/Kota dalam provinsi Jambi. Maka, pertanyaan yang muncul adalah, seiring pencanangan Museum Bioskop Jambi, apa maknanya di tengah semua ini?

Kehadiran museum Bioskop di Jambi ini, hemat saya, tentu memiliki arti khusus, dikarenakan keberadaan artefak industri bioskop era 1970-1990-an yang masih lengkap dan terawat itu, sehingga boleh dikata dapat menjadi salah satu rujukan museum spesifik untuk konteks regional sumatra dan nasional.

Kita masih ingat, salah satu model museum spesifik yang terus menjadi pembicaraan sekarang ini, yakni Indonesian Old Cinema Museum. Sebuah museum cinema pertama di Indonesia yang dikelola perseorangan, yakni Hariadi, seorang pengusaha layar tancap keliling di Jalan Soekarno Hatta Kota Malang.

Pada jenis museum spesifik yang berbeda, juga terdapat Museum Transportasi di Malang, yang saat ini menambah keunikan kota Malang sekaligus menjadi destinasi alternatif bagi wisatawan baik domestik maupun luar negeri. 

Setakat keduanya, kehadiran bakal museum bioskop di Jambi ini akan melengkapi deretan museum-museum yang ada di Jambi sekarang ini, baik itu dikelola secara profesional atau sebaliknya oleh institusi pemerintah, swasta maupun oleh warga, seperti berikut ini: Museum Siginjei (Jl. Urip Sumoharjo No. 1 Telanaipura, Kota Jambi); Museum Perjuangan Rakyat Jambi (Jl. Sultan Agung, No. 12, Lapangan Banteng, Kota Jambi); Museum Gentala Arasy Jambi (Menara Gentala Arasy, Kel. Arab Melayu, Pelayangan, Kota Jambi); Museum Zoologi (Jl. Sunaryo No. 94 Talang Bakung, Jambi); Museum Percandian Muarojambi (Desa Danau Lamo, Maro Sebo, Kab. Muaro Jambi);  Museum Desa Air Hitam Laut (Desa Air Hitam Laut, Kec. Sadu, Kab. Tanjung Jabung Timur), Museum Geopark Merangin/Taman Bumi (Jl. Mayor Syamsuddin Uban, Pasar Bawah, Bangko (eks Kantor Diparbudpora Kab. Merangin), dan Museum Cagar Budaya Iskandar Zakari (Jl. RA Kartini, Dsn. Nek, Kel. Dusun Baru, Kota Sungai Penuh).

Akhirnya, menyaksikan keberadaan artefak industri bioskop di Jambi (dalam hal ini milik Harkopo Lie) era 1970-1990-an bak melihat gadis Melayu nan jelita, banyak sisi dari kemenarikannya yang belum tersentuh sama sekali oleh tangan-tangan kreatif. Jadi, menunggu apa lagi, mari kita teliti dan tulis!.

 

*Artikel ini merupakan sub bagian dari makalah penulis pada Seminar Festival Budaya Bioskop Jambi, 21 November 2018, pukul 09.00 - 12.00 WIB di Tempoa Art Gallery, Kota Jambi. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (FSR-IKJ) dengan Tempo Art Gallery dan lembaga lainnya.


Tag : #Festival Bioskop Jambi #Tempoa Art Gallery #Seminar Budaya Bioskop



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 21:55 WIB

Razia Gabungan, Kendaraan Mati Pajak Ditindak


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Satuan Lantas (Satlantas) Polres Muaro Jambi bersama dengan Samsat, Dispenda dan Jasa Raharja menggelar razia gabungan, Kamis

 

Festival Kampung Senaung
Kamis, 13 Desember 2018 21:50 WIB

Peluncuran dan Bedah Kamus Bahasa Senaung, Tingkatkan Pelestarian Budaya


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Upaya meningkatkan pelestarian budaya lokal, Pemerintah Desa Senaung Kabupaten, Muaro Jambi, melakukan peluncuran kamus Bahasa

 

Pungli
Kamis, 13 Desember 2018 21:16 WIB

Diduga Marak Pungli, Siswa SMAN 3 Sarolangun Tuntut Kepsek Mundur dari Jabatannya


Kajanglako.com, Sarolangun - Siswa  SMA Negeri  3 Sarolangun di Kecamatan  Pauh  berunjuk rasa di sekolah, mereka menuntut agar Kepala

 

Ngopi Bareng Antashari
Kamis, 13 Desember 2018 20:09 WIB

Ngopi Bareng di Hellosapa, Mantan Ketua KPK ini Bicara Harusnya Hukuman Seorang Koruptor


Kajanglako.com, Jambi – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antashari Azhar, Kamis siang (13/12) menyambangi Coffe Shop Hellosapa di

 

Curanmor
Kamis, 13 Desember 2018 18:08 WIB

Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Asal Muratara yang Beraksi di Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Unit Reskrim Polsek Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pelaku yang ditangkap merupakan