Jumat, 22 Maret 2019

Minggu, 18 November 2018 16:50 WIB

Perhatian Pemerintah Minim, Pengrajin Batik Rikzan Bertahan dengan Peralatan Manual

Reporter : Redaksi
Kategori : Bisnis UMKM

Rikzan saat melihatkan corak Batik 99 hasil karyanya yang menang di Yogyakarta, yang dipajangnya di Dekranasda Sarolangun

Kajanglako.com, Sarolangun – Minim perhatian dari pemerintah, tak menyurutkan semangat Rikzan, Pengrajin Batik di Sarolangun untuk konsisten memperkenalkan kerajinan lokal daerahnya.

Meski mencoba bertahan dengan peralatan seadanya, Rikzan tetap berupaya memproduksi batik bermutu tinggi, walaupun kondisi pemasaran batik motif khas Sarolangun masih kurang diminati.



Disambangi di kediamannya Rikzan menceritakan di tengah berbagai kendala yang ia hadapi dalam memproduksi batik. Upaya yang dilakukan membuahkan sejumlah penghargaan, di tahun 2018 ini saja dirinya sudah dua kali mendapat piagam penghargaan tingkat Nasional, yakni juara pertama lomba Cindera mata khas daerah dan juara pertama lomba membatik di Jogyakarta.

Untuk lomba cinderamata khas daerah yang diselenggarakam pada 29 Oktober lalu, Rikzan mengangkat tema "Budaya Kearifan Lokal dari Suku Anak Dalam Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNB.12) Menjadi Karya Seni Cinderamata Khas Daerah" yang terbuat dari kulit kayu terap.

Dikatakannya, bahwa kulit kayu terap banyak ditemukan di hutan Sarolangun. Biasanya digunakan sebagai bahan pakaian untuk Suku Anak Dalam (SAD), olahan kulit kayu terap itu disulap menjadi bahan cinderamata yang memiliki nilai ekonomis.

"Untuk mencari bahan kulit kayu terap itu biasanya kami bekerjasama dengan warga SAD. dan kulit kayu terap itu kami jadikan seperti tas, sepatu, dompet, baju dan rok. Dan untuk kualitas, sama dengan yang lainnya, hanya bahan dan coraknya saja yang berbeda," katanya.

Sementara untuk batik, dirinya memenangkan juara satu tingkat nasional pada 20 April 2018 lalu di Jogyakarta. Dengan penilaian mulai dari corak batik, pewarnaan, desain batik dengan mengambil motif abstrak.

"Membatik, saya mengangkat campuran Budaya Sarolangun, Provinsi Jambi dan keagamaan. Dengan tema "Batik 9", pengertiannya yakni Jambi 9 Lurah, Pemekaran Sarolangun pada tahun 1999 dan penyebaran agama islam yang dilakukan oleh 9 wali ,"katanya.

Niatnya membatik tersebut semata untuk memperkenalkan dan menggangkat budaya Sarolangun-Jambi agar dapat dikenal oleh masyarakat luar. Sehingga, Sarolangun pada khususnya bisa dipandang di tingkat nasional.

"Karena selama ini, tidak semua pembatik bisa menuangkan kebudayaan masing-masing dan tidak bisa menempatkan warna di atas desainnya sendiri. Sebab untuk kriteria batik ini dilihat dari desainnya yang unik,campuran pewarnaan dan motif batik itu sendiri," ujarnya.

Disinggung peralatan membatik miliknya, Rikzan mengatakan untuk saat ini peralatan membatiknya jauh dari kata lengkap, dirinya membatik dengan cara manual.

"Hingga saat ini belum ada dukungan penuh dari Pemerintah Daerah maupun donatur dari luar. Sementara kami sendiri tidak punya modal untuk melakukan penggembangan. Dan untuk pemasaran masih sangat minim," katanya.

Soal pemasaran, Rikzan mengatakan untuk sementara ini lebih banyak konsumennya dari luar Provinsi Jambi ketimbang dari Sarolangun atau dalam Provinsi Jambi.

"Orang dari luar Provinsi Jambi lebih banyak membeli, karena mereka suka dengan yang berbau seni kebudayaan. Kemudian suka dengan cerita dan narasi yang dituangkan dalam batik itu sendiri, sementara masyarakat Sarolangun kurang minat dengan seni batik," katanya.

Upaya ke depan yang akan dilakukannya untuk makin memperkenalkan Batik Sarolangun, dirinya berharap bisa mengikuti even di tingkat Asia dan ingin membuat galeri batik untuk tempat belajar dan memperkenalkan batik kepada masyarakat luas.

"Kalau masalah keinginan banyak sekali, hanya memang kami terkendala dana. Kalau harapan sementara, ada bantuan dari Pemkab Sarolangun untuk membuat galeri, karena memang semenjak saya mendapat penghargaan juara satu tingkat Nasional, banyak orang dari luar Provinsi Jambi yang ingin melihat dan belajar membatik dengan saya, sementara saat ini tidak memiliki tempat," katanya.

Kemudian harapan lainnya, ada kebijakan dari pemerintah untuk mendorong memperkenalkan Batik Sarolangun dengan cara menerapkan pemakaian baju batik kepada semua instansi dan sekolah di hari tertentu.

"Dengan cara mewajibkan pemakaian Batik Sarolangun minimal sekali seminggu kepada seluruh instansi dan anak sekolah yang ada di Kabupaten Sarolangun, artinya pemerintah sudah membantu saya untuk memperkenalkan batik kepada usia dini dan masyarakat luas," ujarnya. (kjcom)


Tag : #Batik Jambi #Batik Sarolangun #Batik



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Maret 2019 17:10 WIB

Pasca Banjir, Warga Banyak yang Terjangkit Penyakit Kulit


Kajanglako.com, Sarolangun - Pasca banjir yang melanda Kabupaten Sarolangun, Dinas Kesehatan Sarolangun menemukan banyak masyarakat yang terserang penyakit

 

Jumat, 22 Maret 2019 17:08 WIB

Kekurangan Bides, Dinkes Usulkan Bidan yang Lulus CPNS Ditempatkan di Desa


Kajanglako.com, Sarolangun - Hingga saat ini Kabupaten Sarolangun masih mengalami kekurangan tenaga Bidan Desa, terutama untuk desa yang baru dimekarkan

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:49 WIB

KPU Sarolangun Kekurangan Surat Suara 84 Ribu Lembar


Kajanglako.com, Sarolangun - Setelah  selesai dilakukan pelipatan dan penyortiran kertas suara, KPU menemukan sekitar puluhan ribu lembar surat suara dinyatakan rusak

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:38 WIB

Ratusan Personel Gabungan Ikuti Apel Pengaman Pemilu 2019


Kajanglako.com, Jambi - Jumat Pagi(22/3), digelar apel gabungan bersama ratusan Anggota TNI-Polri dan Pemprov Jambi serta komponen masyarakat guna mematangkan

 

Jumat, 22 Maret 2019 16:37 WIB

Bupati Mashuri Serahkan SK ke 200 CPNS Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Bupati Bungo, Mashuri, menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada sebanyak 200 Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ), Jumat (22/03). Penyerahan