Jumat, 14 Desember 2018


Sabtu, 17 November 2018 09:17 WIB

Toeankoe Radja Loeboe Oelang-aling

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Seorang pegawai pemerintahan Hindia-Belanda—seorang lelaki yang pandai bergaul dengan dan dipercayai oleh orang Melayu—telah bertemu beberapa kali dengan Radja. “Saya pikir, Toeankoe adalah lelaki yang tegar dan ia merupakan kepala adat XII Kota yang paling bijak,” katanya.



Walau penilaian itu sangat positif, namun nyatanya, dari antara enam datoek atau kepala kelompok kekerabatan yang dulu daerahnya termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Toeankoe itu, hanya seorang saja yang masih setia kepadanya.

Van Hasselt dan timnya telah bertemu dengan berbagai orang anak buah Toeankoe itu, yang sebagian pindah tinggal di daerah yang telah dikuasai Belanda dan sebagian lagi tinggal di daerah-daerah merdeka.

Semua orang itu menceritakan bahwa Toeankoe itu streng dan seringkali berlaku tidak adil; ia banyak memberikan sanksi berupa denda tinggi, menculik perempuan dan begitu menyulitkan warganya sehingga banyak orang memutuskan untuk meninggalkannya dan pindah ke daerah lain.

Pada tahun 1875, Kontrolir van Maarseveen dan Kontrolir Jenting mengunjungi Toeankoe itu dan mengundangnya untuk menemui Residen. Toeanke Radja itu lalu ikut bersama mereka ke XII Kota. Namun, beberapa hari kemudian, barangkali karena takut akan dikucilkan, ia diam-diam menghilang.

Kunjungan kedua kontrolir di atas, dilakukan dalam rangka serah terima peralihan daerah XII Kota—yang tadinya termasuk di dalam wilayah Sidjoendjoeng—ke wilayah administrasi atau ‘onderafdeeling’ Lolo dan Soengei Pagoe.

Sejak saat itu, negari Radja itu, yang dulunya merupakan kampong yang asri dengan banyak lahan persawahan dan kebun-kebun kopi di tepian kanan Batang Hari, menjadi sepi karena ditinggalkan oleh penduduknya. Sejak saat itu pula, Radja itu tinggal di sebuah ladang di hilir negari tua, di tepian kiri sungai. Ia takut pada dan menghindari segala pertemuan, apalagi komunikasi, dengan orang berbangsa Eropa. Di daerah-daerah merdeka, istilah ‘orang Eropa’ sinonim dengan ‘Kumpeni’. Ketika melihat perahu-perahu Ekspedisi Sumatera Tengah melayari sungai dan semakin mendekat, ia segera pindah untuk tinggal di tepian kiri sungai.

Pukul 14.00 lewat sedikit, perahu-perahu Ekspedisi tiba di XII Kota. Para pendayung sudah tampak sangat lelah. Van Hasselt dan Veth memutuskan untuk menginap saja. Sampai saat itu, pelayaran di Batang Hari tidak banyak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sungai itu tetap lebar, namun percepatan arus di tempat-tempat tertentu semakin sering terjadi dan arus itu sendiri—di bagian tengah sungai—sangat kuat sehingga tak mungkin dilalui oleh kapal-kapal yang lebih besar. Perahu-perahu van tim ekspedisi menempel dekat dengan tepian sungai (untuk menghindari arus deras itu).

Tepian sungai, kiri maupun kanan, tertutup oleh belantara yang rapat dan rimbun. Pucuk-pucuk pepohonan raksasa, yang seringkali menyatu membentuk atap hijau di atas Mamoen dan Sipotar, tetap terpisah di atas Batang Hari yang lebar. Setiap pohon dan tanaman memiliki dedaunan dengan nuansa hijau yang berlain-lainan. Aneka jenis pula tanaman yang tumbuh di tepian: pisang liar yang daunnya digunakan untuk menggulung tembakau menjadi rokok; timbaro, sejenis alang-alang tinggi; pohon kassei yang daunnya bermacam warna, mulai dari merah muda sampai hijau tua; pohon beringin yang selalu berperan penting di setiap kampung; pohon ketapang dengan buahnya yang manis; pohon langkap; pohon anau; pohon simawoeng yang buahnya diperas menjadi minyak; pohon chatib mahar yang daunnya serupa dengan daun pohon populier di negeri Belanda; berbagai jenis bambu; pohon durian dengan buahnya yang berbau busuk di dalam penciuman orang Belanda; pohon djambar; kale; dan berjenis-jenis rotan. Masih banyak lagi tanaman dan pohon lain yang jumlah dan jenisnya terlalu banyak untuk disebutkan oleh Teijsmann.

Rona-rona hijau belantara, langit biru, dan kedamaian di atas sungai sungguh mempesona dan membuat mereka sesaat lupa pada kekecewaan-kekecewaan yang dialami akhir-akhir ini. Para pendayung tak pernah lengah melewati tempat-tempat dengan percepatan arus di dalam aliran sungai; mereka juga tangkas menghindari bebatuan besar yang menghalangi perjalanan mereka.

Bebatuan itu rupanya terkadang memiliki nama yang mengacu pada benda atau binatang tertentu. Dengan memicingkan mata dan berbekal imajinasi, memang batu-batu besar itu menunjukkan persamaan bentuk dengan benda atau binatang yang dimaksud. Para pendayung menunjuk pada batu gajah di sana, batu kuda di sini,  dan di tempat lain, batu kancah yang mirip bentuknya dengan sebuah kuali besar atau kancah.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Jambi



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 21:55 WIB

Razia Gabungan, Kendaraan Mati Pajak Ditindak


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Satuan Lantas (Satlantas) Polres Muaro Jambi bersama dengan Samsat, Dispenda dan Jasa Raharja menggelar razia gabungan, Kamis

 

Festival Kampung Senaung
Kamis, 13 Desember 2018 21:50 WIB

Peluncuran dan Bedah Kamus Bahasa Senaung, Tingkatkan Pelestarian Budaya


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Upaya meningkatkan pelestarian budaya lokal, Pemerintah Desa Senaung Kabupaten, Muaro Jambi, melakukan peluncuran kamus Bahasa

 

Pungli
Kamis, 13 Desember 2018 21:16 WIB

Diduga Marak Pungli, Siswa SMAN 3 Sarolangun Tuntut Kepsek Mundur dari Jabatannya


Kajanglako.com, Sarolangun - Siswa  SMA Negeri  3 Sarolangun di Kecamatan  Pauh  berunjuk rasa di sekolah, mereka menuntut agar Kepala

 

Ngopi Bareng Antashari
Kamis, 13 Desember 2018 20:09 WIB

Ngopi Bareng di Hellosapa, Mantan Ketua KPK ini Bicara Harusnya Hukuman Seorang Koruptor


Kajanglako.com, Jambi – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antashari Azhar, Kamis siang (13/12) menyambangi Coffe Shop Hellosapa di

 

Curanmor
Kamis, 13 Desember 2018 18:08 WIB

Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Asal Muratara yang Beraksi di Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Unit Reskrim Polsek Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pelaku yang ditangkap merupakan