Kamis, 21 Februari 2019


Sabtu, 17 November 2018 09:17 WIB

Toeankoe Radja Loeboe Oelang-aling

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Seorang pegawai pemerintahan Hindia-Belanda—seorang lelaki yang pandai bergaul dengan dan dipercayai oleh orang Melayu—telah bertemu beberapa kali dengan Radja. “Saya pikir, Toeankoe adalah lelaki yang tegar dan ia merupakan kepala adat XII Kota yang paling bijak,” katanya.



Walau penilaian itu sangat positif, namun nyatanya, dari antara enam datoek atau kepala kelompok kekerabatan yang dulu daerahnya termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Toeankoe itu, hanya seorang saja yang masih setia kepadanya.

Van Hasselt dan timnya telah bertemu dengan berbagai orang anak buah Toeankoe itu, yang sebagian pindah tinggal di daerah yang telah dikuasai Belanda dan sebagian lagi tinggal di daerah-daerah merdeka.

Semua orang itu menceritakan bahwa Toeankoe itu streng dan seringkali berlaku tidak adil; ia banyak memberikan sanksi berupa denda tinggi, menculik perempuan dan begitu menyulitkan warganya sehingga banyak orang memutuskan untuk meninggalkannya dan pindah ke daerah lain.

Pada tahun 1875, Kontrolir van Maarseveen dan Kontrolir Jenting mengunjungi Toeankoe itu dan mengundangnya untuk menemui Residen. Toeanke Radja itu lalu ikut bersama mereka ke XII Kota. Namun, beberapa hari kemudian, barangkali karena takut akan dikucilkan, ia diam-diam menghilang.

Kunjungan kedua kontrolir di atas, dilakukan dalam rangka serah terima peralihan daerah XII Kota—yang tadinya termasuk di dalam wilayah Sidjoendjoeng—ke wilayah administrasi atau ‘onderafdeeling’ Lolo dan Soengei Pagoe.

Sejak saat itu, negari Radja itu, yang dulunya merupakan kampong yang asri dengan banyak lahan persawahan dan kebun-kebun kopi di tepian kanan Batang Hari, menjadi sepi karena ditinggalkan oleh penduduknya. Sejak saat itu pula, Radja itu tinggal di sebuah ladang di hilir negari tua, di tepian kiri sungai. Ia takut pada dan menghindari segala pertemuan, apalagi komunikasi, dengan orang berbangsa Eropa. Di daerah-daerah merdeka, istilah ‘orang Eropa’ sinonim dengan ‘Kumpeni’. Ketika melihat perahu-perahu Ekspedisi Sumatera Tengah melayari sungai dan semakin mendekat, ia segera pindah untuk tinggal di tepian kiri sungai.

Pukul 14.00 lewat sedikit, perahu-perahu Ekspedisi tiba di XII Kota. Para pendayung sudah tampak sangat lelah. Van Hasselt dan Veth memutuskan untuk menginap saja. Sampai saat itu, pelayaran di Batang Hari tidak banyak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sungai itu tetap lebar, namun percepatan arus di tempat-tempat tertentu semakin sering terjadi dan arus itu sendiri—di bagian tengah sungai—sangat kuat sehingga tak mungkin dilalui oleh kapal-kapal yang lebih besar. Perahu-perahu van tim ekspedisi menempel dekat dengan tepian sungai (untuk menghindari arus deras itu).

Tepian sungai, kiri maupun kanan, tertutup oleh belantara yang rapat dan rimbun. Pucuk-pucuk pepohonan raksasa, yang seringkali menyatu membentuk atap hijau di atas Mamoen dan Sipotar, tetap terpisah di atas Batang Hari yang lebar. Setiap pohon dan tanaman memiliki dedaunan dengan nuansa hijau yang berlain-lainan. Aneka jenis pula tanaman yang tumbuh di tepian: pisang liar yang daunnya digunakan untuk menggulung tembakau menjadi rokok; timbaro, sejenis alang-alang tinggi; pohon kassei yang daunnya bermacam warna, mulai dari merah muda sampai hijau tua; pohon beringin yang selalu berperan penting di setiap kampung; pohon ketapang dengan buahnya yang manis; pohon langkap; pohon anau; pohon simawoeng yang buahnya diperas menjadi minyak; pohon chatib mahar yang daunnya serupa dengan daun pohon populier di negeri Belanda; berbagai jenis bambu; pohon durian dengan buahnya yang berbau busuk di dalam penciuman orang Belanda; pohon djambar; kale; dan berjenis-jenis rotan. Masih banyak lagi tanaman dan pohon lain yang jumlah dan jenisnya terlalu banyak untuk disebutkan oleh Teijsmann.

Rona-rona hijau belantara, langit biru, dan kedamaian di atas sungai sungguh mempesona dan membuat mereka sesaat lupa pada kekecewaan-kekecewaan yang dialami akhir-akhir ini. Para pendayung tak pernah lengah melewati tempat-tempat dengan percepatan arus di dalam aliran sungai; mereka juga tangkas menghindari bebatuan besar yang menghalangi perjalanan mereka.

Bebatuan itu rupanya terkadang memiliki nama yang mengacu pada benda atau binatang tertentu. Dengan memicingkan mata dan berbekal imajinasi, memang batu-batu besar itu menunjukkan persamaan bentuk dengan benda atau binatang yang dimaksud. Para pendayung menunjuk pada batu gajah di sana, batu kuda di sini,  dan di tempat lain, batu kancah yang mirip bentuknya dengan sebuah kuali besar atau kancah.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Jambi dalam Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Jambi



Berita Terbaru

 

Rabu, 20 Februari 2019 20:17 WIB

Bikin Merinding!! Mawardi Cerita Terdengar Suara Misterius di Pohon Pisang Miliknya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kejadian misterius dan bikin bulu kuduk merinding dialami Mawardi, dari arah pohon pisang yang tumbuh tepat di perkarangan

 

Rabu, 20 Februari 2019 20:15 WIB

Pemkab Sarolangun Akan Lelang Terbuka 26 Kendaraan Dinas


Kajanglako.com, Sarolangun - Pemkab Sarolangun melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) akan melakukan pelelangan 26 kendaraan dinas,

 

Rabu, 20 Februari 2019 19:40 WIB

4 Mantan Pimpinan DPRD Sarolangun Belum Kembalikan Mobil Dinas


Kajanglako.com, Sarolangun - Empat mantan unsur Pimpinan DPRD Kabupaten Sarolangun membandel, mereka belum mengembalikan aset milik daerah berupa mobil

 

Pemilu 2019
Rabu, 20 Februari 2019 19:11 WIB

30 Kotak Suara Rusak Tak Layak Pakai Belum Diganti


Kajanglako.com, Batanghari - Pesta demokrasi akan digelar pada 17 April 2019 mendatang. Untuk menghadapi perhelatan akbar tersebut, KPU RI hingga KPUD

 

Rabu, 20 Februari 2019 19:10 WIB

Ragam Kisruh Rio di Bungo, Warga Segel hingga Bakar Kantor Desa


Kajanglako.com, Bungo - Berbagai kisruh di tingkat dusun di Kabupaten Bungo menjadi sejarah hitam dalam dua tahun terakhir, banyak terjadi konflik di tengah