Kamis, 21 Februari 2019


Kamis, 15 November 2018 08:11 WIB

Menikahlah, Tapi Jangan Menikah yang Dilarang

Reporter : Jhoni Imron
Kategori : Berita Agama

Dr, Miftahul Ulum, M.Si., MHI., MH. (paling kanan memegang mikrofon), Dr. Busyro, M.Ag (nomor dua dari kiri baju putih kebiruan)

Kajanglako.com, Kota Jambi - Menikah lalu punya anak, hidup normal di tengah masyarakat, itu sudah biasa. Tapi bagaimana dengan menikah atau melangsungkan perkawinan, secara sembunyi-sembunyi (rahasia) misalnya, hanya untuk tujuan singkat seperti menyalurkan kebutuhan biologis, atau sekedar melengkapi syarat hukum untuk melangsungkan pernikahan selanjutnya?

Dalam Konferensi Al-Jami’ah di Mayang Kota Jambi, Kamis (10/11), tema pernikahan seperti ini diangkat oleh dua penyaji, dari hasil penelitiannya yang kemudian disimpulkan dalam pandangan hukum Islam.



Dr Miftahul Ulum dari STAI Syaichona Moh Cholil Bangkalan menyajikan penelitiannya tentang nikah Misya’r yang dilakukan perempuan yang sudah mapan, dengan lokasi penelitian di Jawa Timur, bagaimana sikap kiyai NU di daerah ini. Sementara Dr Busyro dari IAIN Bukit Tinggi, Suamtera Barat, mengetengahkan persoalan “Kawin Maupah” yang menjadi tradisi di Nagari Binjai, Pasaman, Sumatera Barat.

Miftahul Ulum menyampaikan, nikah Misya’r ini sudah mulai banyak dilakukan terutama di Jawa Timur. Namun juga dilakukan di daerah lain seperti Jakarta. Pernikahan Misya’r dilakukan oleh perempuan yang sudah mapan, tajir namun umurnya sudah terbilang tua, yang hanya untuk memenuhi hasrat biologisnya. Sementara untuk kebutuhan ekonomi, si pria akan hidup dari pemberian perempuan yang menjadi istrinya tersebut.

“Jadi mereka biasanya tidak tinggal satu rumah. Hanya untuk kebutuhan biologis, nanti bertemunya di mana, begitu,” kata Ulum.

Dia menjelaskan, nikah cara ini pertama kali dikenal pada 2004 di Mesir, dalam fatwa Muhammad Yusuf Alqordawi. Kemudian lebih populer lagi setelah diterbitkannya buku membahas nikah Misya’r, dan berkembang di Arab Saudi.

Namun kata dia, berdasarkan penelitiannya di Jawa Timur, para Kyai berbeda pendapat dalam soal ini. Mereka terbelah menjadi empat golongan. Ada yang tidak membolehkan secara mutlak, ada juga yang mengatakan hanya boleh dilakukan di Timur Tengah, bukan di Indonesia.

Ulama lainnya berpendapat kawin Misya’r ini bisa dilakukan secara mutlak, karena unsur-unsur perkawinan dalam Islam sudah terpenuhi. Semantara sebagian lagi menegaskan bahwa kawin Misya’r, walaupun sudah memenuhi unsur-unsur perkawinan, tetap tidak boleh dilakukan di semua tempat.  Dan ada syarat-syarat ketat yang harus dipenuhi, misalnya hanya dilakukan satu kali selama hidupnya. Tidak boleh lebih.

Jika Misya’r dilakukan untuk tujuan biologis, tradisi Kawin Maupah yang hidup di tengah masyarakat Binjai, Pasaman, berdasarkan penelitian Busyro, lebih disebabkan empat faktor. Di antaranya, pertama, adanya ketentuan-ketentuan adat yang diyakini akan sesuai dengan agama, di mana para wanita yang dikenakan dengan talaq ketiga di posisi tercela sama dengan kotoran anjing dan tidak akan bau surga; kedua, hal ini dilakukan untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial; ketiga, ada mitos yang dipercaya sejak lama bahwa seorang wanita yang dikenakan talaq ketiga dan tidak segera menikah kembali mantan suaminya akan menghadapi tragedi dalam hidupnya; dan keempat, masalah pelestarian dan keberlanjutan pendidikan anak-anak.

Namun dia menyimpulkan jika praktek Kawin Maupah tidak sesuai dengan tujuan pernikahan yang dikehendaki. “Kawin Maupah bukan untuk Maslahah. Di mana tujuannya bukan untuk ridho Allah SWT,” sebut Busyro.

Menurutnya, maksud dari Kawin Maupah ini lebih untuk merangsang keinginan tanpa dasar hukum yang jelas. “Dengan demikian, praktek kawin maupah adalah tidak sesuai dengan teori maqâ?id al-syarî'ah yang disepakati oleh para ulama,” tutupnya. (Kjcom)


Tag : #AL Jamiah Conference #Pernikahan #Islam



Berita Terbaru

 

Rabu, 20 Februari 2019 20:17 WIB

Bikin Merinding!! Mawardi Cerita Terdengar Suara Misterius di Pohon Pisang Miliknya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kejadian misterius dan bikin bulu kuduk merinding dialami Mawardi, dari arah pohon pisang yang tumbuh tepat di perkarangan

 

Rabu, 20 Februari 2019 20:15 WIB

Pemkab Sarolangun Akan Lelang Terbuka 26 Kendaraan Dinas


Kajanglako.com, Sarolangun - Pemkab Sarolangun melalui Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) akan melakukan pelelangan 26 kendaraan dinas,

 

Rabu, 20 Februari 2019 19:40 WIB

4 Mantan Pimpinan DPRD Sarolangun Belum Kembalikan Mobil Dinas


Kajanglako.com, Sarolangun - Empat mantan unsur Pimpinan DPRD Kabupaten Sarolangun membandel, mereka belum mengembalikan aset milik daerah berupa mobil

 

Pemilu 2019
Rabu, 20 Februari 2019 19:11 WIB

30 Kotak Suara Rusak Tak Layak Pakai Belum Diganti


Kajanglako.com, Batanghari - Pesta demokrasi akan digelar pada 17 April 2019 mendatang. Untuk menghadapi perhelatan akbar tersebut, KPU RI hingga KPUD

 

Rabu, 20 Februari 2019 19:10 WIB

Ragam Kisruh Rio di Bungo, Warga Segel hingga Bakar Kantor Desa


Kajanglako.com, Bungo - Berbagai kisruh di tingkat dusun di Kabupaten Bungo menjadi sejarah hitam dalam dua tahun terakhir, banyak terjadi konflik di tengah