Jumat, 14 Desember 2018


Rabu, 14 November 2018 13:13 WIB

Kesabaran Memotret Burung Migran di Pantai Cemara

Reporter : Wenny Ira R
Kategori : Ragam

Foto:Azhar Lutfi

Oleh : Wenny Ira R

Senin pagi 5 November 2018, di kantor Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) yang berlokasi di Sijenjang Kota Jambi telah riuh dan penuh dengan rombongan peserta trip dan lomba foto Mandi Safar. Mereka semua terdiri dari tiga puluh orang lebih termasuk dua orang peneliti burung yang berasal dari Jambi, Palembang, Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya bersiap melakukan trip menuju tiga destinasi wisata alam dan budaya di Pesisir Timur Jambi.



Pantai Cemara, pos Simpang Malaka Taman Nasional Berbak dan Pantai Babussalam lokasi Festival Mandi Safar  yang semuanya terletak di Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi merupakan tiga destinasi yang akan kami kunjungi sebagai lokasi berburu objek foto. Selaku sponsor perjalanan ini yaitu ; Fresco Trip, TNBS, BKSDA Provinsi Jambi, GEF UNDP Tiger Project.

Sebelum berangkat menuju ke tiga destinasi itu,  dilakukan briefing  terhadap rombongan sebagai bekal pemahaman teknis maupun kondisi. Terutama Pantai Cemara sebagai destinasi pertama yang akan kami tuju untuk perburuan objek foto burung migran yang singgah di sana. Sepertinya rombongan tampak sangat antusias dan tidak sabar segera sampai ke destinasi tujuan.

Dari kantor TNBS inilah kami bertolak menuju Nipah Panjang menggunakan jalur darat terlebih dahulu. Sekitar empat unit kendaraan roda empat dipersiapkan sebagai akomodasi perjalanan kami, termasuk satu mobil patroli polisi hutan TNBS. Saya beruntung berada di mobil patroli yang berisikan kepala seksi TNBS, satu orang pegawai TNBS dan satu orang polisi hutan TNBS,  serta satu orang perwakilan dari GEF UNDPTiger Project. Masing-masing mereka biasa dipanggil Uman, Sherly dan Choirul, serta Irfan.

Empat orang teman perjalanan saya sepanjang menuju pelabuhan Nipah Panjang tersebut cukup ramah dan bersahabat. Kami saling bercerita dan berbagi camilan, jadi perjalanan darat sekitar tiga jam lebih itu tidak terasa membosankan meskipun banyak ditemui jalanan yang rusak berlubang disana-sini. Selama itu pula saya mendapatkan cerita bagaimana kerja TNBS yang dapat menjadi bekal bagi saya memahami destinasi yang menjadi tujuan.Sherly terutama, ia cukup ramah menjelaskan kepada saya kampung-kampung yang kami lalui sepanjang perjalanan.

Kampung-kampung yang saya lihat di sepanjang perjalanan darat ini, rumah-rumahnya banyak dibangun dengan arsitektur rumah panggung kayu. Bangunan khusus Walet tampak berselang-seling diantara rumah penduduk.Parit-parit lebar berisi air maupun yang tengah kering membelah pemukiman. Parit-parit ini bisa dilalui sampan dan kapal kecil. Ini tampak dari beberapa sampan maupun kapal kecil yang tengah disandarkan di parit-parit tersebut.

Sampai di pelabuhan Nipah Panjang, semua rombongan turun. Disini kami singgah di resort BKSDA Nipah Panjang dan Mess Rimbawan TNBS untuk sekedar melakukan buang hajat dan lain-lain. Kami pun sempat menikmati walau sebentar suasana perkampungan nelayan di sekitar pelabuhan sebelum makan siang. Rombongan lebih memilih makan siang beramai-ramai di pos pelabuhan sambil bercerita dan bercanda-ria.  Setelah selesai makan, kami semua dipandu menuju Speed Boat  yang telah menunggu untuk menghantarkan kami semua menuju ke desa Sungai Cemara.

Speed Boat pun melaju membelah sungai hingga ke lautan lepas yang terhampar di bawah langit biru. Matahari bersinar terik di langit, menyebabkan air laut bersinar keperakan tertimpa cahayanya. Sepanjang perjalanan jalur air ini, kami banyak menemui deretan hutan bakau dan hutan Nipah, maupun kapal-kapal tradisional nelayan juga burung-burung yang terbang rendah di atas lautan.

Setibanya di tengah lautan, selain sebuah pulau yang tampak menyembul di kejauhan, kami juga melihat  deretan tiang pancang dari besi berbaris rapi memanjang seolah membagi lautan di depan kami menjadi dua. Speed Boat yang kami tumpangi memelankan mesin agar dapat memilih celah untuk melewati deretan tiang tersebut. Hendi dari Fresco Trip menjelaskan kepada kami bahwa pulau yang tampak itu merupakan pulau Berhala.

Pulau potensial sebagai objek wisata yang sempat menjadi sengketa antara Jambi dan Riau. Hendi juga menjelaskan bahwa deretan tiang pancang inilah yang dinamakan dermaga pelabuhan Samudera Ujung Jabung. Pembangunannya diserahkan kepada investor dari Cina. Karena saya asyik memotret deretan tiang pancang ini, saya lupa menanyakan mengapa bentuknya mangkrak hanya berupa deretan tiang pancang.

Kami berangkat dari pelabuhan Nipah sekitar jam dua siang. Perjalanan dengan jalur air ini membawa kami tiba di desa Sungai Cemara sekitar kurang lebih jam empat sore. Speed Boat harus memasuki sungai kecil untuk dapat sampai di  dermaga Sungai Cemara. Di kiri-kanan sungai pemandangan pokok-pokok bakau dan nipah mendominasi. Sampai di dermaga, kami harus turun dan berjalan kaki sekitar satu kilo meter untuk mencapai rumah pak Haji yang menjadi basecamp kami selama di desa.

Sepanjang perjalanan menuju rumah pak Haji, pemandangan yang tampak di depan mata selain pokok-pokok nipah di tepi sungai, juga kami temui pokok-pokok kelapa dan pinang berjejer rapi. Kami juga bertemu tempat yang serupa dengan pengepulan buah kelapa, karena selain terdapat sebuah timbangan, juga  banyak terdapat buah kelapa yang ditumpuk ditempat ini baik yang telah dikupas maupun yang belum dikupas.

Di desa ini pun pemukimannya dibelah oleh parit-parit besar berisi air yang dapat dilalui oleh sampan dan kapal-kapal kecil.Mayoritas suku Bugis yang menetap di dalamnya dengan rumah-rumah panggung dari kayu yang khas. Dibeberapa titik kami jumpai panel Biocell sebagai alternatif sumber listrik karena tidak ada jaringan listrik. Kami pun harus berpuasa untuk tidak menggunakan handphone selama tinggal disini nantinya, juga karena ketiadaan infrastruktur jaringan seluler.

Riuh kicau burung Walet menyambut kami sesampainya di halaman rumah pak Haji. Ya, di desa ini juga banyak terdapat bangunan sarang burung Walet di sela-sela pemukiman warga. Tak berapa lama kami menikmati riuh kicau burung Walet tersebut, pak Haji yang ramah mempersilahkan kami semua masuk dan beristirahat barang sejenak melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan menuju pantai Cemara.

Teh dan kopi panas disuguhkan oleh pak Haji kepada kami yang tampak kelelahan karena perjalanan. Kami pun menikmatinya sebagai pembangkit semangat untuk melanjutkan agenda perburuan objek foto burung migran.Diantaranya kami selingi dengan bercanda –ria dan perkenalan lebih dalam dengan sesama anggota rombongan untuk lebih mengakrabkan diri.

Di rumah pak Haji ini, rombongan dibagi menjadi dua untuk teknis tempat tidur, yaitu sebagian di rumah pak Haji, sebagian lagi tidur di resort TNBS yang ada di desa Sungai Cemara dan lokasinya tak jauh di sebelah rumah pak Haji. Namun untuk makan dan minum tetap di rumah pak Haji. Setelah pembagian ini selesai, kami melanjutkan agenda menuju pantai Cemara.

Dua buah mobil pick up bak terbuka dipersiapkan bagi kami sebagai transportasi menuju pantai Cemara. Mobil pun membawa kami semua melaju diatas jalan tanah yang belum tersentuh pengerasan sekalipun. Tak sampai lima belas menit perjalanan menuju ke pantai Cemara menggunakan mobil, kami semua akhirnya sampai di batas hutan menuju pantai Cemara.

Setelah turun dari mobil, kami  harus berjalan kaki sekitar kurang lebih satu setengah kilo meter menyusuri jalan setapak tanah berumput tinggi yang di kiri dan kanannya merupakan hutan nipah dan hutan bakau. Formasi pohon cemara baru tampak ketika beberapa meter telah dekat ke area pantai. Ini ditandai dengan telah terdengarnya suara debur ombak dari kejauhan.

Rombongan pun bergembira ketika mencapai Pantai Cemara. Pantai yang berpasir hitam dengan barisan rapat hutan pohon cemara di belakangnya sungguh pemandangan yang menakjubkan. Apalagi potensi Pantai Cemara belum tersentuh giat komersil pariwisata, melainkan masih berupa alam liar.

Tak berapa lama kami semua terpesona dengan pemandangan pantai dan debur ombaknya, Nasrul dari BKSDA Provinsi Jambi dan juga satu polisi hutan lain dari TNBS yang menyertai kami dari Nipah mengajak kami semua untuk berjalan ke sebelah selatan pantai. Alasannya burung migran berada di lokasi tersebut. Kami pu serentak menuju ke sana.

Pantai Cemara merupakan salah satu lokasi yang dikunjungi oleh burung-burung dari seluruh dunia untuk jalur Asia Timur- Australia ketika musim migrasi di bulan September hingga Maret nanti. Puncak migrasi burung diperkirakan pada bulan Desember hignga Maret. Mereka melakukan migrasi dari negara asal di belahan bumi utara karena faktor cuaca yang ekstrim dan keinginan untuk survive mencari makan di belahan bumi selatan.

Penuturan Hendi dan pihak BKSDA serta TNBS, bahwa pada puncak migrasi tersebut Pantai Cemara akan dipenuhi oleh ribuan burung migran dari berbagai jenis spesies di dunia, seperti dari Siberia, Cina dan lain-lain. Dari setiap jalur persinggahannya, burung-burung tersebut akan ditandai dengan cincin dan juga bendera negara tempat mereka singgah. Kesempatan musim migrasi burung ini menjadi momen wisata dan penelitian yang menarik bagi pecinta burung maupun fotografer.

Sore itu kami semua berjalan jauh ke selatan pantai menikmati pokok-pokok cemara yang tinggi menjulang hingga tinggal serupa anak-anak pohon cemara yang berbaris lucu di sebelah selatan pantai. Setelahnya pemandangan tinggal hutan belantara dan tumbuhan merambat. Namun sayangnya di puncak air pasang sore itu, kami semua tak bertemu dengan gerombolan burung migran hingga pulang kembali ke basecampsampai hari benar-benar gelap gulita.

Malamnya setelah selesai  melakukan aktifitas membersihkan diri, sholat dan makan, Hendi beserta pihak dari sponsor perjalanan melakukan briefing kembali sebagai bekal teknis memotret burung migran keesokan harinya. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang polisi hutan dari TNBS yang menyertai kami dari Nipah, bahwa untuk dapat memotret burung migran harus dilakukan dengan tingkat kesabaran tinggi. Kita tidak diperkenankan beramai-ramai ke lokasi.

Menurutnya, cukup menyediakan dua orang di titik-titik lokasi tertentu yang harus berkamuflase dengan alam dan harus diam mematung agar dapat dihampiri oleh burung migran. Kemudian yang lainnya berperan menggiring perlahan-lahan burung-burung tersebut ke titik lokasi lainnya. Namun yang menjadi catatan, burung migran akan banyak muncul jika kondisi air sedang pasang atau pada puncak air pasang.

Maka diputuskan pada malam hari itu bahwa perburuan burung migran sebagai objek foto akan dilaksanakan pada pagi hari mulai sehabis Subuh hingga puncak pasang pada jam sebelas siang. Pada kesempatan ini banyak yang ingin berangkat pada Subuh hari agar dapat juga melihat matahari terbit di Pantai Cemara.  Akan tetapi, karena kelelahan yang masih mendera, kami semua ternyata baru bisa berangkat kembali menuju Pantai Cemara pada jam tujuh pagi.

Pagi itu di hari kedua perburuan objek foto burung migran, kami semua kembali menggunakan mobil pick up bak terbuka untuk menuju lokasi dan tetap harus berjalan kaki kembali dari batas hutan menuju ke pantai. Sesampai di pantai, kami menyempatkan diri mengambil foto beramai-ramai terlebih dahulu sebelum akhirnya menyebar ke beberapa titik lokasi yang ada ke arah selatan pantai.

Sayangnya, saya sendiri tidak beruntung menjumpai burung migran. Tetapi kawan-kawan yang lain beruntung menjumpainya meskipun hanya berjumlah puluhan ekor. Itu pun dengan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa. Beberapa diantara mereka berkamuflase dengan potongan dahan pohon cemara sambil duduk mematung sekian lama, ada yang sampai telungkup di pantai tanpa bergerak hingga detik-detik burung migran muncul di hadapan.

Ega dan Akbar, dua peneliti muda yang meminati burung sebagai objek penelitian mereka mengatakan, bahwa mereka harus menunggu sekitar dua puluh menit lebih hingga burung migran muncul di hadapannya. Mereka berdua sangat gembira, sebab pada akhirnya dua belas jenis spesies burung terdeteksi olehnya. Sebagaimana juga diungkapkan oleh Hendi, diantara burung migran itu yang tampak mengunjungi Pantai Cemara  dari tanda cincin dan benderanya adalah burung migran yang pernah berkunjung ke Mongol, Myanmar, Jepang dan Sumatera.

Perburuan objek foto burung migran di hari ke dua ini berlanjut hingga jam sebelas siang. Diantara kami masih ada yang meneruskannya dengan tetap sabar dan tekun. Sebagian yang lain telah mengganti aktivitasnya dengan berfoto di deretan anak pohon cemara dan juga berkumpul bercanda ria di bawah shelter kecil yang ada di tengah pantai.

Pada kesempatan ini, Azhar Lutfi peserta lomba foto dari Jambi yang kemudian memenangi lomba dengan tema burung migran, setelah diadakan penjurian ketika perjalanan akhir pulang dan berhenti sejenak di Mess Rimbawan TNBS yang ada di Nipah Panjang pada hari ketiga usai menyaksikan Festival Mandi Safar di pantai Babussalam.

Tak lama kemudian, sebuah perahu tradisional muncul dari tengah lautan menuju ke arah kami yang tengah duduk di bawah shelter. Seseorang melambai-lambai dan berteriak dari atas perahu. Kiranya itu adalah Nasrul dan rombongan dari BKSDA yang kemudian menambatkan perahu dan menghampiri kami. Ia menawarkan kepada kami jika ada yang hendak ikut pulang ke basecamp  menggunakan perahu, sebab perjalanan lebih dekat dengan menggunakan perahu ketimbang jalan kaki dan naik mobil.

Tapi karena perahu hanya muat kapasitas sekitar delapan orang, maka hanya beberapa diantara kami yang ikut, termasuk saya dan salah satu juri lomba foto yang bernama Ebbie. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya ketika naik perahu langsung dari bibir pantai. Kita semua harus melepaskan sandal dan menggulung celana, serta berjalan diantara debur ombak. Itu pun celana kami tetap basah hingga ke pangkal paha, terutama bagi yang berpostur tubuh pendek.

Perjalanan pulang ke basecamp menggunakan perahu ini sangat luar biasa. Pemandangan sepanjang garis pantai yang di belakangnya berjejer pohon cemara tampak memukau. Apalagi ketika di beberapa titik pancang jaring nelayan yang ada di tengah laut, burung-burung lokal riuh bertebangan dan bertengger diatasnya. Sungguh menghibur perjalanan kami.

Selain cerita keunikan Pantai Cemara dibandingkan dengan pantai lainnya oleh Teguh dari BKSDA, yaitu bahwa formasi pohon cemara menjadi barisan diantara formasi tanaman lindung di pantai diantara api-api, bakau dan nipah, terdapat juga cerita sedih diantaranya mengenai kondisi Pantai Cemara. Nasrul dari BKSDA mengatakan bahwa abrasi pantai terjadi setiap tahunnya rata-rata sekitar tiga meter. Kami pun menyaksikan bukti abrasi dari atas perahu dimana pada beberapa titik pantai deretan pohon cemara kian terbenam air laut.

Selain pokok-pokok bakau dan cemara yang tumbang karena abrasi, Nasrul juga menunjukkan bukti bekas tiang-tiang pancang rumah penduduk yang pernah menghuni lima puluh meter dari bibir Pantai Cemara. Menurutnya dahulu pemukiman dan formasi hutan di Pantai Cemara sekitar  seratus lima puluh meter dari bibir pantai yang sekarang. Namun karena kencangnya abrasi, akhirnya menyebabkan penduduk terpaksa berpindah ke daratan yang lebih jauh.

Teguh pun menegaskan bahwa ancaman abrasi dan kritisnya ekosistem bakau yang ada di Pantai Cemara karena pembalakan liar dan pembukaan pemukiman yang tidak memenuhi standar kearifan lingkungan. Padahal ekosistem bakau berperan dalam menahan laju abrasi serta tempat berkembang biaknya biota laut.

Obrolan kami pun akhirnya harus terhenti, sebab perahu telah sampai di dermaga kecil yang ada di dalam Sungai Cemara. Kami pun turun ke darat dan berjalan menuju ke rumah pak Haji. Beruntungnya polisi hutan TNBS dari Nipah Panjang yang menyertai kami menawarkan pada saya untuk dibonceng motor menuju rumah pak Haji. Saya pun akhirnya membonceng motor bertiga dengan teman perempuan lainnya.

 

 

 

 


Tag : #Jambi #Ragam #Pesona Jambi #Berbak #Fotografi #TNBS #Kajanglako #BKSDA



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 21:55 WIB

Razia Gabungan, Kendaraan Mati Pajak Ditindak


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Satuan Lantas (Satlantas) Polres Muaro Jambi bersama dengan Samsat, Dispenda dan Jasa Raharja menggelar razia gabungan, Kamis

 

Festival Kampung Senaung
Kamis, 13 Desember 2018 21:50 WIB

Peluncuran dan Bedah Kamus Bahasa Senaung, Tingkatkan Pelestarian Budaya


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Upaya meningkatkan pelestarian budaya lokal, Pemerintah Desa Senaung Kabupaten, Muaro Jambi, melakukan peluncuran kamus Bahasa

 

Pungli
Kamis, 13 Desember 2018 21:16 WIB

Diduga Marak Pungli, Siswa SMAN 3 Sarolangun Tuntut Kepsek Mundur dari Jabatannya


Kajanglako.com, Sarolangun - Siswa  SMA Negeri  3 Sarolangun di Kecamatan  Pauh  berunjuk rasa di sekolah, mereka menuntut agar Kepala

 

Ngopi Bareng Antashari
Kamis, 13 Desember 2018 20:09 WIB

Ngopi Bareng di Hellosapa, Mantan Ketua KPK ini Bicara Harusnya Hukuman Seorang Koruptor


Kajanglako.com, Jambi – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antashari Azhar, Kamis siang (13/12) menyambangi Coffe Shop Hellosapa di

 

Curanmor
Kamis, 13 Desember 2018 18:08 WIB

Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Asal Muratara yang Beraksi di Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Unit Reskrim Polsek Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pelaku yang ditangkap merupakan