Jumat, 16 November 2018


Jumat, 09 November 2018 14:03 WIB

Surga Tropis Jambi di Taman Nasional Berbak

Reporter : Wenny Ira R
Kategori : Ragam Wisata

Salah satu spot keindahan Taman Nasional Berbak (Foto:kajanglako/Wenny Ira R)

*Oleh Wenny Ira R

Hujan sempat turun deras ketika rombongan lomba fotografi Mandi Safar akan meninggalkan
Sungai Cemara seusai hari kedua perburuan objek foto burung migran yang singgah di Pantai
Cemara. Namun, hujan hanya sekitar lima menit saja turun membasahi bumi di Pesisir Timur
Jambi ini. Setelah benar-benar reda, kita semua berpamitan dengan pak Haji yang rumahnya
dijadikan basecamp selama di Sungai Cemara.




Kami pun berangkat menuju dermaga Sungai Cemara menggunakan mobil pick up bak
terbuka karena mengejar waktu. Sebenarnya dari rumah pak Haji ke dermaga bisa ditempuh
dengan berjalan kaki sekitar satu kilometer, namun karena habis hujan jalanan becek dan
mengejar waktu agar cepat sampai ke destinasi selanjutnya yaitu Taman Nasional Berbak
Sembilang, maka menggunakan mobil pick up merupakan alternatif yang harus diambil.
Sesampainya di dermaga, Speed Boat yang setia mengantar kami dari hari pertama hingga
nantinya pulang menuju Nipah Panjang telah menanti. Perjalanan menyusuri sungai menuju
ke lautan lepas kami lanjutkan. Sebagian dari kami duduk di badan luar Speed Boat untuk
menikmati pemandangan yang terhampar selama perjalanan, yaitu keindahan hamparan
Bakau, deretan pohon Nipah dan lautan lepas yang menenangkan.


Untuk menuju Taman Nasioanal Berbak, kami melewati pantai Babussalam di desa Air
Hitam Laut yang menjadi lokasi Mandi Safar sebagai bagian dari destinasi yang akan kami
kunjungi di hari berikutnya. Saat itu, pantai telah ramai pula dikunjungi wisatawan yang
bermain dan memancing. Kemeriahan suasana Festival Mandi Safar telah tampak menjelang
H-1 perayaan.


Dari pantai ini, Speed Boat melaju menuju jalur sungai yang lebih berwarna hitam pekat
seperti kopi. Tampak perkampungan nelayan yang terdiri dari deretan rumah panggung kayu,
kapal-kapal mereka beserta perlengkapannya. Kami pun sempat berpapasan dengan
rombongan lain dari trip Festival Mandi Safar yang akan menuju Sungai Cemara dan berhenti
sebentar untuk bercakap-cakap dari Speed Boat.
Sebelum benar-benar sampai ke lokasi Taman Nasional Berbak, kepala rombongan yang
memandu kami, Hendi dari Fresco Trip yang menjadi mitra sponsor perjalanan bersama
Taman Nasional Berbak Sembilang, GEF UNDP Project, BKSDA Provinsi Jambi

memberitahukan bahwa sekitar setengah jam lagi kita akan menuju hutan tropis Taman
Nasional Berbak, kita diwajibkan berhenti di sebuah toko perkampungan nelayan yang ada di
pinggir sungai untuk membeli berbagai keperluan, terutama makanan ringan sebagai logistik
karena di lokasi nanti hanya ada pos persinggahan dan hutan, tidak ada toko maupun rumah
penduduk.


Setelah berbelanja logistik dan sedikit menikmati perkampungan yang ada, kami pun
melanjutkan perjalanan kembali. Speed Boat sempat kesusahan melewati jembatan gantung
yang banyak dilewati sepeda motor dan di bawahnya tersangkut potongan pohon Nipah.
Namun itu tidak menjadi kendala berarti, karena hanya dalam hitungan menit pohon tersebut
dapat disingkirkan dan kami juga dapat melanjutkan perjalanan. Meskipun demikian, sopir
Speed Boat harus pandai memilih celah untuk lewat di bawah jembatan agar tidak tersangkut.
Nasrul, dari BKSDA Provinsi Jambi yang turut mengiringi perjalanan kami mengatakan
bahwa itu lah mengapa kita harus tepat waktu memperhitungkan kapan puncak air pasang
dan air surut untuk dapat lolos melewati jembatan gantung menuju Simpang Malaka lokasi
pos Taman Nasional Berbak Sembilang. Sebab bila puncak air pasang, sudah dapat
dipastikan Speed Boat tidak akan bisa melewati jembatan, perjalanan pun jadi tertunda
hingga menunggu air surut. Begitu pula jika puncak air surut, kapal akan kandas dan juga
tidak bisa meneruskan perjalanan.


Setelah berhasil melewati jembatan gantung, Speed Boat melaju lebih jauh ke aliran sungai
yang tidak lagi terdapat pemukiman penduduk. Di sekitar kiri dan kanan hanya pokok-pokok
Nipah berjejer. Hendi menjelaskan bahwa daerah menuju pos Taman Nasional Berbak
Sembilang di Simpang Malaka juga merupakan surga bagi berbagai jenis habitat burung di
samping buaya Muara dan buaya Sinyulong. Nasrul juga menambahkan bahwa area jelajah
buaya juga sampai di area jembatan gantung tadi.


Uman dan Choirul, kepala seksi dan Polisi Hutan dari Taman Nasional Berbak Sembilang
yang juga turut menyertai perjalanan kami, bahkan bercerita tak jarang buaya muncul di
sekitar pemukiman masyarakat yang ada jembatan gantung tadi. Anak-anak buaya kadang
bermain di sana. Tak jarang juga menimbulkan konflik antara masyarakat dan buaya.
Surga Tropis Jambi Taman Nasional Berbak


Kami memang tidak menemukan buaya sepanjang perjalanan. Namun, kemunculan burung-
burung di sepanjang perjalanan yang kami lalui cukup menghibur. Burung-burung berbagai

jenis muncul berterbangan melayang tinggi dan rendah diantara sunyi pokok-pokok Nipah
maupun deru Speed Boat yang membelah air sungai dimana warnanya kian hitam pekat.
Para fotografer dalam rombongan pun tak henti-hentinya membidikkan kamera memotret
burung-burung tersebut dari dalam Speed Boat maupun dari badan luarnya.
Beruntungnya dalam rombongan tim juga terdapat dua orang peneliti burung yaitu Ega dan
Akbar. Kepada keduanya, kami semua bertanya jenis burung yang tampak berterbangan dan
tertangkap oleh kamera maupun mata kami. Kedua peneliti muda itu dengan sabar bersedia
menjelaskan segala pertanyaan kami tentang burung tersebut.


Pemandangan kian terkesan eksotis dan tropis ketika memasuki pos Simpang Malaka. Tidak
hanya pokok Nipah saja yang tampak, namun juga mulai tampak berbagai jenis pandan dan
pohon-pohon lain. Udaranya pun terasa sangat lembab dan dingin di sore hari kami sampai.
Kesunyian suasana daerah ini terpecah oleh riuh, canda tawa percakapan rombongan kami
yang turun di dermaga pos untuk menginap semalam di pos Taman Nasional Berbak Jambi.
Setelah barang-barang dan perlengkapan kami diturunkan dari Speed Boat dan kami susun di
pos. Agenda kami untuk membunuh waktu di sini adalah menyusuri jungle tracking yang ada
di sekitar area hutan belakang pos. Jungle tracking untuk menyusuri hutan dibuat dari jalur
papan yang tersusun memanjang dan melingkar melewati kawasan hutan yang ada. Beberapa
fotografer sangat tertarik menyusurinya dan mengabadikan keeksotikan rimbun hutan yang
ada.


Puas menyusuri jungle tracking, menjelang malam kami bersantai di anjungan pos maupun di
dermaga. Ada yang tetap melanjutkan kegiatan berfoto di anjungan yang di kiri dan
kanannya, maupun depan merupakan pepohonan, palem dan pandan rimbun. Burung-burung
tetap berterbangan di sekitar area pos seolah menghibur kami. Ega dan Akbar pun asyik
mengamati burung, diikuti oleh beberapa fotografer yang tertarik mengabadikan burung dan
bertanya dengan keduanya. Selebihnya, ada yang bersantai di dermaga sambil berbincang dan
memancing ikan.


Teguh dari BKSDA Provinsi Jambi yang ikut menyertai rombongan kami, membunuh waktu
menjelang malam itu dengan memperlihatkan keahliannya memancing ikan di seputar
dermaga. Sontak kami pun bersorak kegirangan ketika dia bisa menangkap dua ikan dalam
waktu yang tidak berapa lama. Sementara saya membunuh waktu dengan membaca buku

Rudyard Kipling berjudul Just So Stories di sekitar dermaga, sebab suasana keheningannya
cocok untuk aktivitas membaca.


Tak ada aktivitas berarti selain pengumpulan karya foto ketika di Pantai Cemara oleh peserta
lomba foto kepada juri pada malam harinya. Selebihnya kami bersantai, makan malam,
mengobrol dan mengudap cemilan, serta mendengar keterangan dari petugas BKSDA
maupun Taman Nasional Berbak sendiri mengenai kehidupan buaya yang habitatnya
memang di sekitar pos maupun di sepanjang aliran sungai dan hutan. Kemudian malam itu
kami akhiri tidur dengan sarana alakadarnya menggunakan hammock, sleeping bag dan
kasur angin.


Di pagi hari yang sangat terasa lembab dan dingin, Hendi memandu kami untuk menyusuri
sungai dengan menggunakan perahu tradisional guna menikmati kecantikan hutan tropis
Taman Nasional Berbak yang sering juga dijuluki Amazonnya Jambi ini. Dua rombongan
secara bergantian melakukan kegiatan susur sungai. Saya mendapat jatah pada trip yang
keduanya hanya dengan waktu kurang dari satu jam.


Jatah giliran saya menyusuri sungai salah satunya bersama dengan fotografer profesional
yang menjadi juri lomba foto saat itu, yaitu Ebbie Vebrian Adrian. Ebbie telah mengunjungi
ratusan tempat di dunia dan Indonesia termasuk berbagai taman nasional yang ada, kemudian
membukukannya dengan apik dan membuat kami terkagum ketika kami melihatnya
menjelang malam di pos.


Buku dengan seribu lebih halaman itu dibanderol seharga satu juta jika ingin membelinya.
Buku tersebut telah tercetak lebih dari tiga ribu eksemplar. Isinya foto-foto karya Ebbie yang
sangat mempesona hasil berkeliling Indonesia. Pada kesempatan melihat buku tersebut, Ebbie
sangat antusias menjelaskan gambar-gambar bahkan tekhnik mengambil gambarnya kepada
kami.


Bertolak dari dermaga, perahu tradisional yang disebut ketek dan dilengkapi dengan mesin,
membawa saya dan rombongan menyusuri sungai. Setiap orang harus duduk di lantai perahu
dengan tenang. Pemandu perahu mengatakan untuk jangan panik. Ya, memang kami tidak
boleh panik.


Sebab, kami menyusuri sebagian dari kedalaman hutan Amazon Jambi, sepanjang perjalanan
tak jarang perahu terantuk kayu-kayu yang melintang di tengah Sungai. Sementara barangkali

beberapa ekor buaya menanti di kedalaman sungai jika kami panik dan menyebabkan perahu
oleng hingga penumpangnya jatuh tercebur sungai.


Pemandu perahu mengatakan jika ingin puas menyusuri kawasan Amazon Jambi ini
diperlukan waktu sehari penuh. Namun oleh Irfan dari GEF UNDP Tiger Project, kami diberi
waktu kurang dari satu jam. Saat itu sekitar jam tujuh pagi, kami harus kembali ke dermaga
sekitar jam delapan kurang agar bisa bersiap menuju lokasi Festival Mandi Safar dan supaya
bisa lolos dari jembatan gantung yang akan kami lewati nanti, karena air mulai pasang.
Suasana begitu hening sepanjang kami menyusuri sungai. Hanya ada suara burung dan
serangga lain. Namun pemandangan yang terhampar sungguh sangat menakjubkan meskipun
kami dibayangi ketakutan akan munculnya buaya di tengah perjalanan.


Akhirnya saya dapat menyusuri bagian dari Taman Nasional Berbak di bagian Kabupaten
Tanjung Jabung Timur, yang terkenal akan habitat buayanya ini. Taman Nasional yang secara
internasional dilindungi Konvensi RAMSAR 1992 dan ditetapkan sebagai lahan basah
internasional, dimana hutan rawa gambutnya merupakan yang terluas dan terekstensif di Asia
Tenggara.


Saya sebut kawasan Taman Nasional Berbak ini sebagai surga tropis di Jambi selain sebagai
surga bagi para peneliti flora dan fauna ekosistem iklim tropis, meskipun lebih pada
kecenderungan kehidupan liar alam tropis. Sebab memang bagi saya suasananya bagai di
taman surga tropis yang kerap digambarkan dalam buku-buku dongeng cetakan luar negeri.
Aneka jenis pohon palem, Nipah, pohon-pohon lainnya, pandan dan lain-lain menyambut
perjalanan kami menyusuri sungai. Semakin ke dalam, selain pohon-pohon raksasa yang
tinggi menjulang di kiri kanan, kadang disertai dengan akar-akarnya yang melilit, kami
banyak menemui tanaman yang daunnya seperti pandan. Bentuknya ada yang tumbuh hanya
berupa daun lurus dan tegak berdiri, ada juga yang disertai tangkai melengkung cantik bagai
tangan perempuan yang memegang kipas, karena daunnya tumbuh seperti kipas.
Tanaman yang terakhir ini juga kami temui beserta buahnya yang bentuknya mirip buah
nangka, menggantung satu atau dua buah di dekat antara tangkai dan daun yang berbentuk
kipas itu. Ketika saya tanyakan kepada Choirul petugas Taman Nasional berbak, sepulang
dari menyusuri sungai, ia menyebutkan bahwa warna buah dan dagingnya merah, namun ia
tidak tahu apakah bisa dimakan atau tidak.

Tak henti-hentinya kami memotret sepanjang perjalanan pergi dan pulang menyusuri sungai.
Saya bagai dibawa masuk surga tropis di negeri dongeng yang sebelumnya hanya dapat saya
baca di buku, namun kini menjadi kenyataan untuk saya lihat.
Selain kelembaban udaranya yang sangat terasa, keindahan surga tropis ini pun makin
sempurna ketika bayangannya juga dipantulkan secara sempurna pada permukaan air sungai
yang meskipun berwarna hitam pekat, namun bagai cermin kaca yang tembus pandang
memantulkan segala bayangan di depannya. Tak usah jauh-jauh mencari surga, datang saja ke
Taman Nasional Berbak Jambi, kita dapat menemuinya dengan sempurna. 


Tag : #Pesona Jambi #Jambi #Wisata Jambi #Berbak #Taman Nasional #alam #keindahan alam



Berita Terbaru

 

Festival Budaya Bioskop
Jumat, 16 November 2018 06:20 WIB

Bentuk Museum Bioskop, Tempoa Art Digandeng Institut Kesenian Jakarta


Kajanglako, Jambi-hanya tinggal menghitung hari, Festival Budaya Bioskop Jambi segera dibuka untuk publik. Festival untuk pertama kali di Jambi ini merupakan

 

Kamis, 15 November 2018 22:10 WIB

Dugaan Percobaan Penculikan Anak, CE: Jangan Buat Gaduh Sebelum Jelas Motifnya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabar dugaan percobaan penculikan anak di Desa Bernai Luar, Kabupaten Sarolangun, Sabtu (10/11) lalu sempat membuat gempar

 

Kamis, 15 November 2018 18:00 WIB

Tahun Depan, Jembatan Timbang Tembesi Kembali Diaktifkan


Kajanglako.com, Batanghari - Saat ini, tonase truk batubara maupun angkutan lainnya sudah melebihi batas kemampuan kualitas jalan.    Untuk menertibkan

 

Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 16:55 WIB

10 Fakta Menarik Seputar Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Memasuki hari ke-5, pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang bertempat di Museum Nasional, Jakarta, telah dikunjungi lebih dari

 

Surat-surat Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 15:36 WIB

5000 Orang Kunjungi Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Selain beberapa remaja dan turis manca negara, siswa sekolah dasar berduyun-duyun ke area pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang