Jumat, 16 November 2018


Kamis, 08 November 2018 11:04 WIB

Menyaksikan Mandi Safar sebagai Warisan Ulama Sufi di Pesisir Timur Jambi

Reporter :
Kategori : Ragam

Festival Mandi Safar di Pantai Babussalam Desa Air Hitam Laut Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjab Timur/ foto: Wenny Ira R

*Oleh: Wenny Ira R

Di pagi yang digelayuti mendung dan udara dingin itu, speed boat yang kami tumpangi melaju membelah aliran sungai berwarna hitam pekat menuju lautan lepas dan menepi ke garis Pantai Babussalam yang terletak di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.



Di sepanjang perjalanan, kami banyak bertemu pompong yang menjemput orang-orang yang berkerumun ke tepi-tepi dermaga dengan pakaian warna-warni, wajahnya penuh kegembiraan menuju ke lokasi yang sama.

Ya, pagi itu merupakan hari Rabu 7 November 2018 sekaligus hari Rabu terakhir di Bulan Safar pada kalender Hijriah. Hari yang dipercayai sebagai turunnya dua belas macam malapetaka, bala-bencana dan fitnah Dajjal oleh masyarakat di sekitar Desa Air Hitam Laut. Maka untuk menghindari dan memohon pertolongan agar selamat, sebuah tradisi Mandi Safar rutin digelar setiap tahun oleh mereka yang hidup di sepanjang Pesisir Timur Jambi itu.

Mandi Safar bahkan sejak beberapa tahun terakhir gencar dipromosikan sebagai sebuah agenda wisata di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Provinsi Jambi. Promosi ini bertujuan untuk menggaet wisatawan domestik maupun mancanegara agar dapat berkunjung ke Pesisir Timur Jambi dan menikmati potensi sosial serta alam yang terdapat di sana.

“Kalau ingin melihat orang Bugis di seluruh Indonesia berkumpul di Jambi, Mandi Safar inilah momennya,” kata Sherly, salah seorang Pegawai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, salah satu institusi yang menjadi sponsor perjalanan para peserta lomba foto Mandi Safar dalam rombongan speed boat speed boat  yang kami tumpangi pagi itu.

Suku Bugis merupakan suku terbanyak yang mendominasi kehidupan masyarakat di Pesisir Jambi, termasuk salah satunya di Desa Air Hitam Laut. Suku pengembara ulung melalui jalur laut ini telah lama menetap dan menjadi bagian masyarakat Jambi sejak dahulu kala. Tradisi Mandi Safar merupakan salah satu ekspresi budaya warisan mereka dari ulama sufi yang menyebarkan ajaran Islam pada mereka.

Sebagaimana ciri khas ajaran Sufisme yang menyebarkan syiar Islam pada seluruh masyarakat di dunia, Islam kerap diakulturasikan dengan tradisi serta kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Begitu juga dengan tradisi Mandi Safar sebagai prosesi, persiapan dan pelaksanaan tradisi untuk doa tolak bala.

Kendatipun demikian, sebagaimana dikutip dari wawancara dengan Kyai Arsyad dalam penelitian Bahtiar L dan kawan-kawan yang dimuat jurnal Kontekstualita, volume 24, nomor 2, Desember 2008, dengan judul Ritual Mandi Safar : Akulturasi Islam dan Tradisi Lokal yang mengambil studi kasus di Desa Air Hitam Laut, Mandi Safar bukanlah ritual yang dimaksudkan untuk dikultuskan, melainkan hanya sebuah acara doa bersama untuk menjalin silahturahmi atau ukhuwah setiap tahun bagi masyarakat sekitar tanpa membedakan ras, suku dan kepercayaan.

Bahkan Kyai Arsyad sebagai tokoh dan pimpinan dari Pondok Pesantren Wali Peetu yang terdapat di Desa Air Hitam Laut sendiri yang memotori agar Mandi Safar dijadikan ajang tahunan sebagai sarana menjalin silahturahmi atau ukhuwah tersebut. Bahtiar L dan kawan-kawan pun menguraikan dalam penelitiannya, bahwa Mandi Safar hanyalah sebuah tradisi yang dapat dianggap sebagai fenomena sosial dan keagamaan yang unik dalam kehidupan masyarakat di Desa Air Laut Hitam.

Oleh karenanya, Mandi Safar yang telah dilaksanakan kurang lebih tiga puluh lima tahunan itu pun selalu menuai kontroversi pada kalangan masyarakat, terkait sesuai atau tidaknya pelaksanaan Mandi Safar tersebut dalam ajaran Islam. Kontroversi ini juga berlanjut justru ketika Provinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur tengah giat membangun destinasi wisata dan memasukkan agenda Mandi Safar sebagai salah satu Pesona Indonesia yang terdapat di Provinsi Jambi.

Seperti kata Hendi dari Fresco Trip yang merupakan mitra dari perjalanan tim lomba fotografi Mandi Safar bersama sponsor perjalanan kami bersama Taman Nasional Berbak Sembilang, BKSDA Provinsi Jambi, dan GEF UNDP Tiger Project, ketika perlahan speed boat yang kami tumpangi menjelang menepi di Pantai Babussalam lokasi perayaan Mandi Safar, bahwa menjelang Festival Mandi Safar dilaksanakan, di sosial media banyak yang mengatakan Mandi Safar merupakan bentuk kesyirikan.

Pelaksana Tugas Gubernur Provinsi Jambi, Fachrori Umar pun dalam sambutannya di lokasi Mandi Safar mengungkapkan bahwa ia banyak menerima pesan terkait pelaksanaan Mandi Safar yang dikatakan sebagai bentuk kesyirikan. Namun ia menegaskan bahwa tidak usah terlalu risau dengan kontroversi tersebut. Sebab perayaan Mandi Safar hanyalah sekedar mandi dan memohon doa keselamatan. Selanjutnya agenda Mandi Safar senada dengan ungkapan Bupati Tanjung Jabung Timur, Romi Hariyanto, akan dikembangkan lebih lanjut sebagai agenda tahunan destinasi wisata dengan persiapan infrastruktur dan sarana-prasarana yang lebih baik.

Menyaksikan Prosesi Mandi Safar

Setelah menepi di Pantai Babussalam, sebagian rombongan tim lomba fotografi ada yang turun ke pantai menuju kerumunan dan kemeriahan perayaan Mandi Safar. Namun sebagian ada yang tetap tinggal di speed boat untuk menyaksikan prosesi Mandi Safar dari atas speed boat agar terhindar dari cipratan air yang memungkinkan kerusakan kamera.

Di atas pantai, masyarakat bergembira ria menyambut prosesi perayaan Mandi Safar. Anak-anak dan keluarganya sebagian bermain air di tepi pantai meskipun prosesi Mandi Safar belum dilaksanakan. Sebagian lagi tak sabar berkerumun di sepanjang tanggul yang dibangun di tengah pantai dan di area prosesi menara Mandi Safar akan diarak menuju ke tepi pantai, termasuk berbagai media dan tamu undangan kehormatan, berbaur dengan pejabat setempat.

Bagian utama prosesi Mandi Safar memang mengarak sebuah menara yang dibuat dari kardus, dan dihiasi dengan telur-telur matang untuk dibagikan kepada masyarakat ketika menara telah sampai dilarung ke pantai dan prosesi mandi dilaksanakan.

Menjelang prosesi menara diarak, barisan Pramuka dan pemuda setempat serta pihak keamanan membuat pagar betis antara masyarakat dan rombongan prosesi arakan menara. Mereka saling bergandengan tangan dan mulai membuyarkan pagar betisnya ketika rombongan prosesi telah sampai di bibir pantai dikerumuni masyarakat setempat untuk berdoa dan mandi bersama.

Rombongan prosesi arakan menara terdiri dari beberapa laki-laki mengenakan pakaian teluk belengosatin berwarna kuning, pada pinggang dililit sejenis kain songket, pada kepala dikenakan ikat kepal dari kain berwarna putih yang disisipi daun mangga bertuliskan rajah tinta yang mudah dihapus dari tujuh ayat Al-Qur’an yang berawalan Salamun.

Bagian depan prosesi terdiri dari pemegang payung kebesaran, tokoh adat dan pemimpin setempat. Bagian belakang merupakan pembawa menara yang berisi hiasan telur matang. Bahtiar L dan kawan-kawan dalam penelitiannya menguraikan bahwa menara tunggal merupakan simbol tauhid dan persatuan serta kebersamaan. Rakit dan fondasi menara yang berbentuk segi empat dalam bahasa Bugis disebut Sulapa Eppa dan Eappa Sulapa memiliki makna unsur penciptaan manusia, yaitu tanah, api, air dan angin.

Tanah sifatnya duduk, api sifatnya berdiri, angin sifatnya ruku dan air sifatnya sujud. Makna keseluruhan bahwa manusia memang diciptakan untuk mengabdi kepada Allah SWT sesuai tuntutan syariat dan Al-Qur’an.

Perlahan rombongan prosesi arakan menara menuju ke bibir pantai Babussalam. Masyarakat tak sabar menanti di bibir pantai dan mengikuti rombongan prosesi. Sampai di bibir pantai, sebelum benar-benar mandi Safar dilakukan, doa terlebih dahulu dipanjatkan. Ketika memanjatkan doa itulah, tokoh tertentu ditunjuk untuk membawa tujuh lembar daun mangga bertuliskan rajah tujuh ayat Al-Qur’an berawalan Salamun memimpin prosesi berdoa bersama sembari mencelupkan daun mangga ke air.

Setelahnya seluruh masyarakat diperbolehkan mandi bersama di pinggir Pantai Babussalam. Mandi Safar ini tidak sembarang mandi, sebab orang yang ingin mandi harus membaca niat Mandi Safar. Sementara itu menara didorong hingga lepas ke tengah laut. Tahun ini, tempat mandi pria dan wanita  dipisah, tidak lagi berbaur.

Meskipun demikian, kegembiraan tidak berkurang. Mereka mandi bergembira, saling menciprat air, bahkan menarik orang yang berada di atas pantai untuk dapat masuk ke air dan turut mandi bersama.

Novian dan Aditya, peserta lomba fotografi Mandi Safar dari Palembang yang turut larut menyaksikan prosesi Mandi Safar mengungkapkan bahwa festivalnya asyik untuk diikuti. Sayangnya tidak ada acara menginap di Desa Air Hitam Laut. Mereka berdua ingin menyaksikan rangkaian prosesi sebelum menara Mandi Safar diarak ke laut. Menurutnya, rangkaian prosesi ini menarik jika dijadikan objek fotografi tidak hanya sekedar menyaksikan menara Mandi Safar dilarung ke laut.

Aditya terutama, ia membawa dan menyimpan daun rajah Mandi Safar yang didapatnya dari hunting foto ketika prosesi Mandi Safar di tepi pantai. Ia ingin sekali menyaksikan bagaimana proses daun mangga bertuliskan rajah arab gundul itu dilaksanakan.

Penelitian Bahtiar L dan kawan-kawan menguraikan bahwa tujuh lembar daun mangga tersebut, prosesi rajahnya dilaksanakan pada malam hari. Kyai akan menunjuk orang tertentu untuk menuliskan rajah bertuliskan ayat Al-Qur’an yang berawalan Salamun pada tujuh lembar daun mangga. Ketika prosesi menulis rajah, ketujuh daun tersebut diletakkan di atas nampan yang dilapisi selembar kain putih. Proses merajah daun mangga ini merupakan prosesi awal sebelum pada akhirnya menara Mandi Safar diarak dan dilarung ke laut dan daun dicelupkan sebagai penanda Mandi Safar untuk menolak bala, penyakit dan fitnah Dajjal dilaksanakan.

*Penulis merupakan Dosen STISIP NH Jambi, Penulis juga aktif sebagai aktivis perempuan yang tergabung dalam Save Our Sisters


Tag : #Mandi Safar #Tanjab Timur #Pantai Babussalam #Sadu



Berita Terbaru

 

Festival Budaya Bioskop
Jumat, 16 November 2018 06:20 WIB

Bentuk Museum Bioskop, Tempoa Art Digandeng Institut Kesenian Jakarta


Kajanglako, Jambi-hanya tinggal menghitung hari, Festival Budaya Bioskop Jambi segera dibuka untuk publik. Festival untuk pertama kali di Jambi ini merupakan

 

Kamis, 15 November 2018 22:10 WIB

Dugaan Percobaan Penculikan Anak, CE: Jangan Buat Gaduh Sebelum Jelas Motifnya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabar dugaan percobaan penculikan anak di Desa Bernai Luar, Kabupaten Sarolangun, Sabtu (10/11) lalu sempat membuat gempar

 

Kamis, 15 November 2018 18:00 WIB

Tahun Depan, Jembatan Timbang Tembesi Kembali Diaktifkan


Kajanglako.com, Batanghari - Saat ini, tonase truk batubara maupun angkutan lainnya sudah melebihi batas kemampuan kualitas jalan.    Untuk menertibkan

 

Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 16:55 WIB

10 Fakta Menarik Seputar Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Memasuki hari ke-5, pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang bertempat di Museum Nasional, Jakarta, telah dikunjungi lebih dari

 

Surat-surat Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 15:36 WIB

5000 Orang Kunjungi Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Selain beberapa remaja dan turis manca negara, siswa sekolah dasar berduyun-duyun ke area pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang