Jumat, 16 November 2018


Sabtu, 03 November 2018 14:13 WIB

Dikejar Bagindo Ratoe ke Loeboe Oelang Aling

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Angkoe Poetih beranjak hendak. Namun, waktu makan hampir tiba. Van Hasselt segera meminta agar Angkoe Poetih menunda keberangkatannya agar dapat makan bersama. Lagipula, lelaki Belanda itu mulai memahami adat di daerah jelajahnya: orang yang sudah makan bersama memiliki semacam kewajiban untuk saling membantu dalam keadaan darurat. Angkoe Poetih duduk lagi.



Setelah makan, orang-orang ramai berbicara dalam bahasa Melayu. Van Hasselt dan anggota timnya yang berbangsa Belanda diam saja. Mereka tidak ikut berbicara, tetapi mendengarkan dengan seksama. Radja bercerita tentang seorang lelaki Eropa yang melayari Soengei Djoedjoean dan Batang Hari beberapa bulan sebelumnya. Lelaki Eropa itu dengan sembunyi-sembunyi berhasil diantarkan ke Djambi. Lelaki itu berlayar siang dan malam. Ia menyembunyikan diri di bawah dedaunan yang ditumpuk di perahunya agar tidak terlihat oleh penduduk yang tinggal di tepian sungai-sungai itu. Untunglah ia melakukan itu. Bila tidak, tentulah ia sudah ditangkap oleh Sultan Taha. Dengan bersembunyi seperti itu, ia selamat sampai ke Djambi.

Cerita itu membuat van Hasselt dan rekan-rekannya terperangah. Rupanya penjelajahan Schouw Santvoort dan perjalanannya di sungai sudah menjadi pengetahuan umum. Diam-diam, mereka bertukar pandang. Tiba-tiba Angkoe Poetih membalikkan badan dan menatap mereka: “Di mana toean ketiga yang menjelajah bersama kalian?”van Hasselt menceritakan bahwa rekannya terpaksa ditinggal di Silago karena kakinya terluka.

Angkoe Poetih seolah-olah dapat menangkap rasa heran van Hasselt bahwa ia banyak tahu mengenai detil-detil penjelajahan mereka. Ia melanjutkan kata-katanya. Perihal penjelajahan dan kedatangan ekspedisi itu sudah lama diketahui, antara lain dari kabar yang disampaikan oleh seorang kepala laras dari daerah ini kepada Radja Sigoentoer. Kepala laras itu menyampaikan bahwa tiga orang toean Belanda bermaksud menjelajah ke Rantau. Dewan kepala adat di daerah itu belum bersepakat menyetujui kedatangan penjelajah-penjelajah itu. Karena itu, kepala laras tadi memberikan saran kepada Radja Sigoentoer: bila ketiga toean tadi datang tanpa dirinya, lebih baik perjalanan orang-orang itu dihambat dan bila perlu, lebih baik ketiga orang itu dibunuh saja.

Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Sebelum berangkat pulang, Angkoe Poetih sekali lagi menekankan situasi sulit yang dihadapinya. Ia betul-betul tidak dapat mengizinkan tim penjelajahan itu memasuki negarinya.

Keesokan harinya, tanggal 29, kabut menyelimuti air di muara Soengei Mamoen. Langit pun gelap oleh mendung. Van Hasselt dan Veth mendaki sebuah bukit untuk mengukur topografi daerah di sekitar tempat perahu-perahu mereka merapat. Niat itu batal karena kabut tebal itu. Namun, Veth berhasil membuat beberapa foto sungai dan ladang-ladang di sekitarnya.

Sementara mereka mendaki bukit, anggota tim penjelajahan yang lain memuat segala perbekalan ke dalam perahu. Semua itu selesai pk 09.30. Pada waktu itu pula, Malim Pandita—Juru Tulis Angkoe Poetih—datang, terengah-engah dan dengan wajah cemas. Ia menyampaikan pesan Angkoe Poetih: kabar bahwa tim ekspedisi itu menginap di Moeara Mamoen telah terdengar oleh masyarakat di Poelau Poendjoeng. Dan, Bagindo Ratoe pun telah berangkat dengan doebalang-doebalang bersenjata untuk menyerang mereka melalui jalan darat. Ia juga telah mengutus beberapa perahu dengan awak bersenjata, untuk menyerang mereka di atas sungai.

Melalui Malim Pandita, Angkoe Poetih meminta tim ekspedisi itu segera berangkat. Ia khawatir tak dapat melindungi mereka, walaupun sesuai adat, ia wajib melakukan hal itu karena tim ekspedisi itu telah diizinkannya tinggal di daerahnya dan tambahan lagi, ia juga telah makan bersama dengan mereka.

Van Hasselt, Veth dan rombongannya secepat mungkin mengumpulkan segala-sesuatu yang masih belum dimuat ke dalam perahu, lalu bergegas naik pula. Para pendayung membelah air sungai dan biduk-biduk itu meluncur ke hulu. Mereka bermaksud kembali ke Padang Ilalang, lalu Silago, melalui Batang Hari dan Sipotar. Van Hasselt dan Veth yakin bahwa perjalanan itu aman dilakukan karena daerah yang akan dilalui, daerah kekuasaan Toeankoe Loeboe Oelang Aling telah ditinggalkan oleh penduduknya.

Loeboe Oelang Aling, di sebelah selatan Moeara Mamoen, dulunya merupakan daerah yang Radjanya diangkat oleh Radja Pagar Roejoeng. Menurut adat (dan juga tercatat dalam sebuah naskah Melayu yang diulas dalam Jilid III seri buku Ekspedisi Sumatera Tengah), daerah ini termasuk wilayah XII Kota. Walaupun demikian, secara de facto, daerah itu tetap merdeka, terlepas dari kekuasaan Belanda.

Secara teoretis, dan bahkan tercatat di dalam proses-verbal resmi, daerah Loeboe Oelang Aling sebetulnya termasuk di dalam cakupan wilayah Residensi Dataran Tinggi Padang. Namun belum ada seorang pun pegawai (ambtenaar) Belanda yang pernah  menjalankan pemerintahan di sana; tak seorang pun warganya pernah menjalankan kerja paksa atau pun ikut serta dalam penyerahan hasil produksi kopi (yang diwajibkan), dan warga yang tinggal di situ (yang jumlahnya sangat sedikit) menganggap dirinya merdeka dari kekuasaan Belanda (walaupun Radja mereka telah menandatangani proses-verbal resmi. Van Hasselt menambahkan bahwa menurut adat, sebetulnya Radja tadi tidak berhak menandatangani proses-verbal itu).

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Ekspedisi Van Hasselt ke Sumatra Tengah #penjelajahan Schouw Santvoort #sejarah jambi dalam naskah klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Penerimaan CPNS 2018
Jumat, 16 November 2018 08:48 WIB

Tingkat Kelulusan CASN Rendah, Ini Kata Ihsan Yunus


Kajanglako.com - Rekrutmen Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) tahun ini meninggalkan cerita pelik. Di satu sisi Negara tengah membutuhkan banyak tambahan

 

Festival Budaya Bioskop
Jumat, 16 November 2018 06:20 WIB

Bentuk Museum Bioskop, Tempoa Art Digandeng Institut Kesenian Jakarta


Kajanglako, Jambi-hanya tinggal menghitung hari, Festival Budaya Bioskop Jambi segera dibuka untuk publik. Festival untuk pertama kali di Jambi ini merupakan

 

Kamis, 15 November 2018 22:10 WIB

Dugaan Percobaan Penculikan Anak, CE: Jangan Buat Gaduh Sebelum Jelas Motifnya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabar dugaan percobaan penculikan anak di Desa Bernai Luar, Kabupaten Sarolangun, Sabtu (10/11) lalu sempat membuat gempar

 

Kamis, 15 November 2018 18:00 WIB

Tahun Depan, Jembatan Timbang Tembesi Kembali Diaktifkan


Kajanglako.com, Batanghari - Saat ini, tonase truk batubara maupun angkutan lainnya sudah melebihi batas kemampuan kualitas jalan.    Untuk menertibkan

 

Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 16:55 WIB

10 Fakta Menarik Seputar Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Memasuki hari ke-5, pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang bertempat di Museum Nasional, Jakarta, telah dikunjungi lebih dari