Jumat, 16 November 2018


Senin, 29 Oktober 2018 08:04 WIB

Defisit Tradisi, Pendangkalan Agama dan Bencana Sosial

Reporter :
Kategori : Oase Esai

ilustrasi. sedekah laut. sumber: sindonews

Oleh: Zastrouw al-Ngatawi*

Tradisi dan budaya tidak sekedar hasil kreatifitas manusia tetapi sekaligus juga merupakan pembeda antara manusia dengan mahluk lain. Manusia akan tetap menjadi manusia ketika masih berbudaya dan memiliki tradisi. Ketika manusia sudah tidak berbudaya maka sebenarnya dia sudah tidak menjadi manusia lagi. Sebagai mahluk, derajadnya akan tergadrasi menjadi seperti hewan atau malaikat.



Atas dasar ini maka setiap upaya penghancuran tradisi dan kebudayaan sebenarnya merupakan upaya pendegradasian derajad kemanusiaan, sekalipun itu dilakukan atas nama agama. Beragama tanpa kebudayaan akan menjadikan menusia menjadi seperti malaikat yang derajadnya juga berada di bawah manusia.

Berkebudayaan dalam beragama adalah penggunaan nalar kreatif untuk mengamalkan, merealisasikan dan mewujudkan ajaran agama yang abstrak dan universal dalam laku hidup yang kongkrit dan faktual.

Berkebudayaan dalam konteks keberagamaan bisa dipahami sebagai proses mendialogkan ayat-ayat qauliyah (teks agama) dengan ayat-ayat kauniyah (realitas alam san kehdupan) secara kritis dan kreatif hingga ajaran agama yang ideal dan ilahiah menjadi manusiawi. Bukan sekedar norma dan nilainilai abstrak yang sulit dijalankan oleh manusia.

Dengan cara pandang seperti ini agama menjadi indah dan mudah diamalkan serta ramah pada kenyataan. Agama menjadi sumber inspirasi atas tradisi dan kebudayaan. Dan pada sisi lain tradisi dan kebudayaan menjadi instrumen/alat (wasilah) dan metode (manhaj) dalam mengamalkan dan memahami ajaran agama. Dengan cara ini agama menjadi mudah dipahami, diamalkan dan membahagiakan. Karena agama bukan lagi menjadi beban dan ancaman yang menakutkan tetapi menjadi laku hidup yang bermanfaat.

Bagi orang-orang kreatif yang arif dan beradab agama jelas bukan menjadi kekuatan yang melindas dan alat memberangus tradisi. Agama bukan menjadi alat legitimasi untuk menista dan merendahkan tradisi yang ada. Sebaliknya agama justru menjadi pelindung tradisi yang baik yang sudah hidup dan berkembang di masyarakat.

Dalam konstruksi masyarakat Nusantara kita bisa melihat hubungan yang harmonis, dinamis dan kreatif antara kebudayaan dan tradisi dengan agama (Islam). Pola hubungan yang seperti inilah yang menyebabkan berbagai ragam corak tradisi dan budaya Nusantara tetap terjaga dan terpelihara sehingga bisa eksis hingga saat ini, meski kadang terjadi perubahan format dan bentuk. Melalui tradisi inilah para wali dan ulama Nusantara memasukkan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Kenyataan ini memcerminkan bagaimana para wali dan ulama Nusantara memiliki pandangan yang lapang, ilmu yang luas dan pemahaman keagamaan yang dalam. Dengan kapasitas seperti ini mereka tidak memandang teks agama sebagai sebagai benda mati dan produk jadi yang statis dan harus diterima apa adanya.

Para ulama melihat ada beberapa teks agama yang menyebutkan adanya kemungkinan membuka ruang dialog antara ajaran dengan realitas, terutama pada hal-hal yang tidak memiliki ketetapan pasti (qath'i), misalnya, pada pelaksanaan ibadah ghairu mahdlah. Pada konteks ini, teks agama dilihat sebagai bahan baku yang perlu diolah dan dihidupkan melalui nalar kreatif agar bisa dijalankan secara kontekstual. Dengan cara ini agama akan tetap aktual sepanjang zaman dan tempat (shoheh fi kulli zamanin wa makanin)

Selain melahirkan berbagai konstruksi kebudayaan dan tradisi, sikap beragama yang berkebudayaan juga melahirkan berbagai konsep dan kaidah keilmuan, misalnya, di bidang fiqh lahir konsep 'urf", maslakhah mursalah, istikhsan syadud dzara'i. Di bidang qur'an dan hadits lahir ilmu tafsir, ulumul qur'an, balaghah, asbabul nuzul, asbabul wurud, jarh wa ta'dhil dan sebagainya. Semuanya ini merupakan perangkat teknis akademik untuk menjabarkan ajaran agama yang ada dalam teks yang abastrak dan normatif menjadi praktis dan operasional.

Melalui ilmu-ilmu ini para ulama bisa bersikap ramah dan kreatif terhadap realitas termasuk pada tradisi dan budaya yang ada di masyarakat. Mereka melakukan rekonstruksi kebudayaan dengan strategi yang canggih dan efektif. Para ulama tidak main hantam, menista dan melarang berbagai tradisi yang diangap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebaliknya.mereka tetap menjaga berbagai tradisi tersebut dengan spirit, nilai dan pemahaman baru yang sesuai dengan ajaran ini.

Dari sini kita bisa melihat, sikap menista, memberangus, melarang dan merusak tradisi merupakan cermin kedangkalan dalam memahami agama sehingga agama menjadi kering, dangkal dan sempit. Jika sudah demikian sikap orang beragama akan cenderung menjadi keras dan kaku. Selain itu, menjauhkan agama dari kebudayaan dan tradisi sama dengan membuat agama menjadi tidak manusiawi karena menjadi sulit dipahami dan diamalkan oleh manusia. Jika sudah demikian ajaran agama hanya bisa diamalkan oleh malaikan, sebagai mahluk Allah yang tidak memiliki kreatifitas yang bisa melahirkan kebudayaan dan tradisi.

Persekusi terhadap tradisi bisa menyebabkan terjadinya defisit tradisi dan kebangkrutan budaya yang bisa membuat manusia kesulitan memahami dan mengamalkan ajaran agama. Dari sinilah muncul krisis kemanusiaan yang menjadi sumber bencana sosial.

 

*Zastrouw al-Ngatawi adalah budayawan, ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) periode 2004-2009 dan pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta. Penulis memiliki ciri khas selalu memakai blangkon dan cukup sering mengisi acara di TV. Tulisan ini semula diunggah penulis di laman fb pribadi penulis pada 21 Oktober 2018.  Pemuatan di sini seizin penulis.


Tag : #Tradisi #Budaya dan Agama #Kearifan Lokal #defisit tradisi #Pendangkalan Agama



Berita Terbaru

 

Festival Budaya Bioskop
Jumat, 16 November 2018 06:20 WIB

Bentuk Museum Bioskop, Tempoa Art Digandeng Institut Kesenian Jakarta


Kajanglako, Jambi-hanya tinggal menghitung hari, Festival Budaya Bioskop Jambi segera dibuka untuk publik. Festival untuk pertama kali di Jambi ini merupakan

 

Kamis, 15 November 2018 22:10 WIB

Dugaan Percobaan Penculikan Anak, CE: Jangan Buat Gaduh Sebelum Jelas Motifnya


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabar dugaan percobaan penculikan anak di Desa Bernai Luar, Kabupaten Sarolangun, Sabtu (10/11) lalu sempat membuat gempar

 

Kamis, 15 November 2018 18:00 WIB

Tahun Depan, Jembatan Timbang Tembesi Kembali Diaktifkan


Kajanglako.com, Batanghari - Saat ini, tonase truk batubara maupun angkutan lainnya sudah melebihi batas kemampuan kualitas jalan.    Untuk menertibkan

 

Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 16:55 WIB

10 Fakta Menarik Seputar Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Memasuki hari ke-5, pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang bertempat di Museum Nasional, Jakarta, telah dikunjungi lebih dari

 

Surat-surat Pendiri Bangsa
Kamis, 15 November 2018 15:36 WIB

5000 Orang Kunjungi Pameran Surat-surat Pendiri Bangsa


Kajanglako.com, Jakarta- Selain beberapa remaja dan turis manca negara, siswa sekolah dasar berduyun-duyun ke area pameran Surat-surat Pendiri Bangsa yang