Jumat, 14 Desember 2018


Senin, 29 Oktober 2018 07:15 WIB

Prof. Soedarsono dan Lakon ‘Matine Gusti Allah’

Reporter :
Kategori : Sosok

Prof. RM. Soedarsono (Guru Besar Sejarah & Seni Pertunjukan UGM) bersama istri. Dok. Bima

Oleh: Wiwin Eko Santoso*

Siang Sabtu, 13 Oktober 2018, saya sempat ‘”ngerasani” Prof. Dr. Raden Mas Soedarsono, Guru Besar Sejarah UGM, saat berbincang dengan beberapa teman di Museum Siginje Jambi (usai Dialog Budaya Mengenang H Syamsul Watir, sang Jurnalis dan Seniman Jambi).



Saya ‘ngerasani’ dan bercerita begini. Waktu hendak menyelesaikan skripsi—tentu zaman kuliah dulu—tentang biografi seniwati Ketoprak Jogyakarta, yakni Bu Kadariyah, saya telah banyak diberitahu oleh rekan dan dosen untuk membaca karya Prof. Raden Mas Soedarsono.

Tentu, buku beliau menjadi buku “wajib” bagi siapapun yang hendak menulis sejarah dan seni, terutama seni pertunjukan. Beberapa buku beliau yang saya jadikan sumber rujukan, antara lain, Buku Living Traditional Theater in Indonesia (Yogyakarta Akademi Seni Tari Indonesia, 1974), Beberapa Faktor Penyebab Kemunduran Wayang Wong Gaya Yogyakarta. Satu Pengamatan Dari Segi Estetika Tari, (Yogyakarta: Sub/ Bagian Proyek ASTI Yogyakarta Dekdibud, 1979/ 1980), Djawa dan Bali. Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisionil di Indonesia. (Jogjakarta: Gadjah Mada University Press, 1972), dan Seni Pertunjukan Jawa Tradisional dan Pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta, (Yogyakarta, Dekdibud tahun 1989/1990).

Ket: sebagian karya Prof. RM. Soedarsono. 

Era sebelum menyusun skripsi, dalam suatu bincang dan makan siang di kantin Bonbin “sastra” UGM, seorang kawan Jurusan Arkeologi, almarhum Katrok (nama populernya) mengatakan bahwa PKI itu anti Tuhan. Salah satu alasannya, mereka mementaskan teater tradisional berjudul “Matine Gusti Allah” [“Matinya Sang Tuhan”]

Pernyataan kawan jurusan Arkeologi ini begitu yakin, sedangkan penjelasan saya terbata-bata.

Sebab, kemudian saya pahami, narasi besar sejarah Orde Baru bahwa PKI itu dituduh ateis, ya salah satunya karena disebut-sebut pernah mementaskan lakon “Matine Gusti Allah.” Bahkan, keberadaan lakon ini diabadikan dalam salah satu puisinya Taufiq Ismail.

Dalam puisi berjudul “Catatan Tahun 1965”, 23 Mei 1965, Taufiq Ismail menuliskan baris-baris puisi seperti: “[Grup band] Beatles gondrong dipersetankan/ ..../ Genjer-genjer jadi nyanyi/... / Matine Gusti Allah dipentaskan.” (Lihat Taufiq Ismail, Tirani dan Benteng: Dua Kumpulan Puisi. Jakarta: Yayasan Ananda, 1993: 52-53).

Demikian ini membuat saya, saat masih berstatus mahasiswa, penasaran berat: sebenarnya apa lakon “Matine Gusti Allah” tersebut?

Menariknya, dalam buku Prof. RM. Soedarsono dkk., yang berjudul Teater Tradisional Indonesia: Indonesia Indah Jilid 6, cetakan Jakarta Yayasan Harapan Kita & BP3TMII tahun 1995, disebutkan bahwa grup ketoprak di Yogyakarta-lah yang mementaskan lakon “Matine Gusti Allah” tersebut.

Tidak hanya di buku cetakan 1995, dalam bukunya berjudul Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi cetakan Yogyakarta Gadjah Mada University Press tahun 2002, RM Soedarsono juga mengulang narasi tentang ketoprak mementaskan lakon “Matine Gusti Allah.”

Sementara itu, sastrawan Ajib Rosidi, dalam bukunya berjudul Anak Tanah Air, Secercah Kisah (1985: 278), menulis bahwa lakon “Matine Gusti Allah” dipentaskan di desa-desa di Jawa Timur. Menarik, sebab ini bukan ketoprak, tetapi ludruk.

Jadi, waktu mahasiswa itu, saya sudah mempertanyakan: apakah lakon “Matine Gusti Allah” itu dari grup ketoprak atau grub ludruk? Sebab, ludruk dengan ketoprak—cukup banyak perbedaannya.

Baiklah, Prof. RM. Soedarsono dkk., melalui buku berjudul Teater Tradisional Indonesia: Indonesia Indah Jilid 6, menulis bahwa pada tanggal 14 Juli 1964, sebagaimana yang dicatat oleh Telles, di Kabupaten Gunung Kidul, ada pentas lakon “Matine Gusti Allah”, serta lakon “Pernikahan Paus.” Dinyatakan dalam bukunya, dua lakon tersebut bersifat agitatif dan provokatif untuk menebarkan kebencian.

Dalam buku tersebut, Soedarsono, dkk, menulis bahwa lakon itu dipentaskan oleh grup ketoprak, yang tergabung dalam LEKRA. Secara komparatif, buku itu menyebut lawannya Lekra, yakni seniman ketoprak dari LKN, mementaskan lakon Pangeran Diponegoro yang lebih bersifat nasionalis, walau tokoh Diponegoro menjadi tampak lebih karikatural.

Kesannya, membaca buku Soedarsono terasa betul sebuah narasi: Lekra (yang dianggap terafiliasi dengan PKI) menganjur paham ateisme, sedangkan LKN mengajur nasionalisme. Masalahnya, saya menemukan koran Harian Rakjat edisi Selasa 22 Oktober 1957, yang memberitakan grup ketoprak Krido Mardi (yang berafiliasi dengan Lekra) mementaskan lakon Diponegoro di Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta.

Dengan demikian, Lekra bukan menganjurkan ateisme tetapi juga nasionalisme ‘spiritualis’ Pangeran Diponegoro.

Menurut P.J.A. Idenburg (mantan Sekjen Uni Belanda Indonesia tahun 1950-1956), melalui tulisannya “Jawaban Belanda Atas Nasionalisme Indonesia”, pemerintah Belanda pernah menganggap nasionalisme dan komunisme di Indonesia sebagai dua hal yang identik atau setali tiga uang. (lihat P.J.A. Idenburg, “Jawaban Belanda Atas Nasionalisme Indonesia”, dalam H. Baudet dan L. J. Brugmans (peny.), Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan. Terjemahan Amir Sutaarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1987: 150-152).

Saat membaca buku Soedarsono dan menyusun skripsi itulah, saya sudah mengajukan pertanyaan standar dan dasar dengan “5 W 1 H”.

Pertama, “Where” atau di mana pentas lakon “Matine Gusti Allah”, yang Prof. Soedarsono menulis bahwa itu terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Kedua, untuk “Why” atau mengapa di Gunung Kidul dan bukan di kota Yogyakarta saja, saya tidak menemukan jawaban ke arah sana. Setidaknya, demikianlah ketika membaca buku Prof. Soedarsono.

Ketiga, “What” atau lakon apa yang pernah dipentaskan. Alhamdulillah, sudah cukup terjawab: lakon “Matine Gusti Allah”.

Keempat, “When” atau kapan terjadinya, yang Prof Soedarsono menyebut dalam bukunya pada 14 Juli 1964. Dari waktu peristiwa, catatan dari Soedarsono cukup terang, karena bukan tahun saja, tetapi juga bulan dan tanggalnya disebut.

Kelima, untuk “Who” atau siapa yang mementaskan lakon “Matine Gusti Allah,” Prof. Soedarsono telah menyebut: grup ketoprak dari Lekra. Walaupun, ini masih menyisakan pertanyaan buat saya: apa nama grup ketoprak dari Lekra tersebut, apakah grup yang tergabung dalam Bakoksi [Badan Kontak Organisasi Ketoprak Indonesia] atau bukan?

Terakhir, pertanyaan “How” atau “bagaimana lakon ini dibuat dan dipentaskan,” buku Prof Soedarsono tidak menjelaskan. Saya perlu bertanya demikian, karena lakon “Matine Gusti Allah” itu termasuk bukan cerita bersumber dari Babad-babad atau Serat atau cerita rakyat Jawa. Bagaimana proses pembuatan dan pementasan naskah tersebut—itu juga menjadi pertanyaan saya.

Namun satu hal yang penting, Soedarsono mengutip catatan Telles, yang hingga saya menyelesaikan skripsi itu, belum diketahui siapa Telles tersebut. Prof Soedarsono tidak menyertakan sumber itu secara jelas. Inilah kritik sumber yang juga saya lakukan.

Untuk heuristik dan kritik sumber itu, saya pernah cukup serius mencari dan membaca koran-koran serta majalah sekitar tanggal 14 Juli atau tahun 1964 itu, kecuali Harian Rakyat yang edisi ini entah telah ke mana. Nah, dari penelusuran koran dan majalah periode itu, saya tidak menemukan berita terkait lakon “Matine Gusti Allah.”

Andaikata lakon ini menarik dan begitu provokatif di mata lawannya Lekra, tentu koran-koran yang bukan terafiliasi Lekra sedikit banyak harusnya menyinggung keberadaan lakon “Matine Gusti Allah”. Saya tidak [atau belum] menemukan berita tersebut di beberapa koran.

Tegasnya, waktu itu, pencarian saya hanya ingin memastikan dan mencocokan dengan tulisannya Prof RM Soedarsono.

Tidak berhenti di situ, saya mewawancarai beberapa seniman dan pemain ketoprak yang pernah hidup sezaman dengan peristiwa Juli 1964. Pertama-tama, saya mewawancarai Bu Kadariyah. Dari 11 kali wawancara tahun 2007, walau tidak semata hanya perkara ini, tetapi saya tetap bertanya tentang keberadaan lakon “Matine Gusti Allah.”

Ternyata, Bu Kadariyah (ibundanya Bondan Nusantara) malah balik bertanya kepada saya, antara lain: itu pentas dari grup ketoprak apa, kapan, di mana, dan dari mana saya tahu. Untuk “dari mana”-nya, saya bilang ke Bu Kadariyah itu: saya tahu dari Prof Soedarsono.

Intinya, Bu Kadariyah, yang pernah menjadi seniwati terkenal Lekra di bidang ketoprak dan anggota Bakoksi, mengaku tidak kenal dengan lakon “Matine Gusti Allah.”

Tidak puas di situ, saya kemudian mewawancarai Bu Sujilah, seorang seniwati ketoprak Krido Mardi juga, ibundanya Marwoto Kawer. Terhadap lakon “Matine Gusti Allah”, Bu Sujilah mengaku tidak tahu. Agak berbeda dengan Bu Kadariyah, Bu Sujilah mengaku lebih banyak “di rumah” daripada memperhatikan “dunia luar.”

Saya sempat merasa sulit mewawancarai Bu Sujilah karena mungkin terkait suaminya, yakni Pak Sujadi, seniman ketoprak Jogja yang sangat terkenal, juga dieksekusi tanpa pengadilan oleh rezim Soeharto. Pak Sujadi anggota DPRD Yogyakarta fraksi partai yang dilarang dan diburu oleh Orde Baru.

Terhadap Bu Sujilah, paling tidak, saya mewawancarainya yang terekam oleh kaset sebanyak 2 kali. Sementara itu, untuk pertemuan tanpa rekaman, saya hanya mencatatnya berdasarkan ingatan, tak berapa lama setelah wawancara. (Sebagai metode antropologis, pencatatan dari ingatan dapat diterima oleh Prof. Koentjaraningrat. Lebih lanjut baca Metode-Metode Wawantjara”, dalam Berita Antropologi (Terbitan Tak Berkala), No. 6, Djilid I, Djakarta: Djurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Indonesia, April 1972: 56).

Selanjutnya, saya juga mewawancari seorang seniwati lukis anggota Lekra, yakni Bu Sukarti, yang suka menonton ketoprak di Yogyakarta. Jawaban Bu Sukarti, untuk lakon “Matine Gusti Allah”, juga tidak tahu. Sebaliknya, Bu Sukarti malah bertanya kepada saya tentang asal-muasal pertanyaan saya ini.

Nah, agar adil, saya mewawancarai juga tokoh seniwati ketoprak yang berseberangan politik dengan LEKRA-nya Bu Kadariyah dan Sujilah, yakni Bu Suhartini (mantan istrinya Basiyo) yang termasuk anggota LKN. Terhadap lakon “Matine Gusti Allah”, Bu Suhartini mengaku hanya pernah dengar-dengar saja. Tentu, dengan kehati-hatian cukup sopan, saya memburu Bu Suhartini dengan pertanyaan: “dengar-dengar dari mana”, “dari siapa”, dan “dari grup apa.”

Ternyata, Bu Suhartini juga tidak yakin dengan berita yang ia dengar-dengar itu. Akhirnya, saya merasa cukup dapat memastikan, bahwa pernyataan Bu Suhartini hampir semacam testimonium de auditu alias hanya “dengar-dengar” dan tidak menyaksikan langsung peristiwa. Sebagai sumber, kedudukan info terkait lakon “Mati Gustine Allah” hanyalah “gosip”.

Mirip dengan Bu Suhartini, sejak tahun 1970-an, mulai dari SD hingga SMA, Budiawan juga pernah “dengar-dengar” dari guru sekolah (seperti guru agama dan guru PMP) tentang adanya pertunjukan ketoprak yang mementaskan lakon “Matine Gusti Allah.” Dalam pementasan itu, ada pemain berperan sebagai Tuhan yang mati dibunuh. Esok harinya si pemain benar-benar mati. Kata guru, itulah PKI yang ateis. (Budiawan, Mematahkan Pewarisan Ingatan. Wacana Anti Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca Suharto. Yogyakarta: ELSAM, 2004: 76-77)

Sebelum lulus sarjana Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM tahun 1991, Budiawan mulai mempertanyakan lakon “Matinya Tuhan” itu sebagai “fakta historis” atau “fakta sosiologis.”

Kembali, dengan begitu, peristiwa 14 Juli 1964 atau pentas ketoprak lakon “Matine Gusti Allah” belum meyakinkan karena tidak atau belum terverifikasi secara historis dengan sumber lisan atau tulisan koran sezaman yang lain.

Sayangnya, peristiwa 14 Juli 1964 dari tulisan Prof Sudarsono tidak sempat saya ulas dalam skripsi. Sebab, tebal skripsi saya, di luar Daftar Pustaka, telah mencapai 248 halaman dengan periode dari tahun 1928-1947 saja. Otomatis skripsi saya belum sampai ke tahun 1964 itu. Apalagi, saya sudah terancam DO bila tidak segera menyelesaikan skripsi dalam jatah terakhir yang tersisa 1 semester saja.

Hingga saya sudah berada di Jambi, tahun 2008, saya masih mempertanyakan: apakah lakon “Matine Gusti Allah” itu sungguh dari grup ketoprak sebagaimana ditulis oleh Prof Soedarsono atau grup ludruk versi Ajib Rosidi?

Repotnya, menurut Remy Solado, tahun 1964 itu, lakon “Matine Gusti Allah” dipentaskan oleh grup teater di Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Teater jenis apa? Teater tradisional atau teater modern? Kalau ketoprak, ludruk, lenong—itu teater tradisional.

Sebaliknya, grup ketoprak Krido Mardi (tempat Bu Kadariyah dan Sujilah) pernah mementaskan lakon “Lahirnya Ibrahim” di Yogyakarta. Info tersebut dimuat di koran (yang sebenarnya berafiliasi ke PNI) Kedaulatan Rakjat, tanggal 3 dan 4 serta 10 dan 11 Juli 1962. Sebuah lakon berasal dari cerita Timur Tengah, yang mungkin diolah dari Serat Ambiya.

Sementara itu, menurut Bondan Nusantara (penulis naskah ketoprak, serta anaknya Bu Kadariyah), melalui email Rabu 25 Juli 2007, lakon “Patine Gusti Allah” dan “Perkawinan Paus” itu tidaklah ada. Nama lakon itu hanya dihembuskan oleh militer setelah peristiwa “G-30-S” untuk menciptakan kebencian masyarakat terhadap ketoprak, khususnya grup Krido Mardi dan orang-orang kiri. (Mirip pernyataan Gus Dur dalam film dokumenter “Mass Grave” tahun 2002)

Boleh jadi, di ujung tahun 1965, Krido Mardi akan dihancurkan karakter dan nasibnya seperti Gerwani.

Pada 13 Desember 1965, koran Angkatan Bersendjata membuat berita bahwa Saina (seorang gadis) pernah mengaku tiap hari melakukan tarian yang cabul, mesum, “Tarian Harum Bunga” dengan telanjang bulat, baik pada waktu siang maupun malam hari, di Lubang Buaya, Jakarta. Bagi Saskia Elonora Wieringa (1999: 532-533), “Tarian Harum Bunga” itu hanyalah propaganda—alias hoax.

Hoax melalui media merupakan implementasi civic mission yang dilakukan oleh sekelompok militer Indonesia atas supervisi dari Guy Puaker sang konsultan CIA, sepanjang 1960-an. (Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965. Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Terjemahan Wijaya Herlambang. Serpong: CV. Margin Giri, 2013: 144-145; bandingkan dengan Rusdhi Mathari, Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan. Yogyakarta: Mojok, 2018: 253).

Paling tidak, sejak 23 Februari 1965, NSC [National Security Council] di Amerika Serikat, melalui memorandum rahasianya, mendorong operasi rahasia berupa surat palsu, radio gelap, dan berita koran rekayasa untuk mendiskredikan kaum kiri di Indonesia (Edward C. Keefer, Dokumen CIA. Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S-1965. Terjemahan dan editor Joesoef Iskak. Jakarta: Hasta Mitra, 2002: 248).

Pasca G-30S pun, Bu Kadariyah, selaku seniwati ketoprak Krido Mardi Yogyakarta, pernah dituduh ikut “Tarian Harum Bunga” di Lubang Buaya di Jakarta. Samsul Hadi, tokoh HMI, tidak percaya tetangganya itu, yakni Bu Kadariyah, terlibat G-30-S. Demikian wawancara saya dengan Hendaryanto pada 19 Desember 2007 di Berbah Yogyakarta.

Sementara itu, pada 02 Oktober 2006, dalam tulisannya “Jalan Mendaki Rekonsiliasi”, Salahuddin Wahid menyebut saksi mata peristiwa Kanigoro, yakni Ibrahim, tentang penghinaan agama yang dilakukan orang PKI berupa pentas ludruk “Matine Gusti Allah.”

Nah, kali ini disebut ludruk, bukan ketoprak!

Sementara itu, Syed Hasan Alatas (1980: 8) menulis bahwa ludruk LEKRA yang pentas jelang idulfitri di desa Adamenon (Malang Selatan), dengan pemeran utama Ponidi untuk menghina Islam.

Sejak 25 Desember 2013, saya merasa cukup yakin apa itu lakon “Matine Gusti Allah” berdasarkan hasil laporan jurnalisme investigatif yang cukup serius dari Tempo. Hal ini terkait pernyataan Hermawan Sulistyo, dalam rangka pelaksanaan UU Agraria tahun 1960, PKI pintar menarik pengikut dengan cara menggelar ludruk berjudul “Matine Gusti Allah” atau “Gusti Allah Mantu.” (Lihat Kurniawan dll., Pengakuan Algojo 1965. Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965. Jakarta: PT. Tempo Inti Media,  2013: 23)

Seorang anggota GP Ansor cabang Lamongan Jatim tahun 1965, yang berinisial AM, mengaku pernah menonton pidato DN Aidit di alun-alun Lamongan yang memakai bahasa Jawa krama inggil. Ribuan orang hadir termasuk AM. Katanya, “Pidato Aidit memang enak didengar, bahasanya halus dan tertata. Pokoknya, membius...” (Kurniawan dll., 2013: 29)

Sebagai tokoh anti-PKI, AM menegaskan: “Mereka pernah nanggap [pentas] ludruk di sebuah lapangan tak jauh dari masjid. ... Mereka mengumumkan bahwa cerita yang akan dibawakan adalah ‘Gusti Allah Mantu’. Tapi, itu trik saja. ... Saya penasaran, sempat datang. Ternyata isi ceritanya biasa-biasa saja dan tidak ada kaitannya dengan judul.”

“Jadi, kesimpulannnya"?.

Bagi saya, pernyataan AM dari GP Ansor ini bukan testimonium de auditu. Artinya, lakon “Matine Gusti Allah” lebih jelas dipentaskan oleh ludruk. Sebuah lakon yang isinya biasa-biasa saja. Dengan demikian, “menyebut komunis sebagai ateis merupakan salah kaprah yang bertahun-tahun terlanjur dipercaya. Dengan kata lain, hadapi komunisme dengan rileks. Sebab, idelogi itu sesungguhnya biasa-biasa saja.” (Kurniawan dll., 2013: xi)

Meminjam pendapat Budiawan (2004: 77), cerita tentang lakon “Matine Gusti Allah” bukan “fakta historis”, melainkan “fakta sosiologis” yang dibentuk.

Kembali, Sabtu siang 13 Oktober 2018 itu, saya sempat “ngerasani” Prof RM Soedarsono bersama teman-teman di Museum Siginjai Jambi. Eh, ternyata, Selasa 16 Oktober 2018, pukul 20.00 WIB, di RS Bethesda Yogyakarta, Prof Soedarsono wafat.

Saya kira, siapapun yang pernah mempelajari sejarah seni pertunjukan, maka karya tulis Prof Soedarsono tetaplah sangat berharga.

Namun kini saya hanya berharap, sumber tulisan untuk peristiwa 14 Juli 1964 atau pentas lakon “Matine Gusti Allah” di Gunung Kidul yang tidak terlalu meyakinkan itu semoga bukanlah kebohongan, melainkan hanya sebuah kekeliruan saja.

Semoga ada pihak yang berhasil untuk menemukan sumber sejarah primer lain tentang lakon “Matine Gusti Allah” sesuai 5 W dan 1 H.

Selamat jalan Prof Soedarsono. Insya Allah, sang Penguasa Waktu akan menerima segala amal kebaikan Profesor dan mengampuni segala kesalahan semasa hidup.

 

*Penulis adalah pemerhati sejarah. Lulusan Sejarah UGM, Yogyakarta.


Tag : #Dukacita Prof Soedarsono #Prof Soedarsono dan Seni Pertunjukan #Lakon Matine Gusti Allah



Berita Terbaru

 

Kamis, 13 Desember 2018 21:55 WIB

Razia Gabungan, Kendaraan Mati Pajak Ditindak


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Satuan Lantas (Satlantas) Polres Muaro Jambi bersama dengan Samsat, Dispenda dan Jasa Raharja menggelar razia gabungan, Kamis

 

Festival Kampung Senaung
Kamis, 13 Desember 2018 21:50 WIB

Peluncuran dan Bedah Kamus Bahasa Senaung, Tingkatkan Pelestarian Budaya


Kajanglako.com, Muaro Jambi - Upaya meningkatkan pelestarian budaya lokal, Pemerintah Desa Senaung Kabupaten, Muaro Jambi, melakukan peluncuran kamus Bahasa

 

Pungli
Kamis, 13 Desember 2018 21:16 WIB

Diduga Marak Pungli, Siswa SMAN 3 Sarolangun Tuntut Kepsek Mundur dari Jabatannya


Kajanglako.com, Sarolangun - Siswa  SMA Negeri  3 Sarolangun di Kecamatan  Pauh  berunjuk rasa di sekolah, mereka menuntut agar Kepala

 

Ngopi Bareng Antashari
Kamis, 13 Desember 2018 20:09 WIB

Ngopi Bareng di Hellosapa, Mantan Ketua KPK ini Bicara Harusnya Hukuman Seorang Koruptor


Kajanglako.com, Jambi – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antashari Azhar, Kamis siang (13/12) menyambangi Coffe Shop Hellosapa di

 

Curanmor
Kamis, 13 Desember 2018 18:08 WIB

Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Asal Muratara yang Beraksi di Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Unit Reskrim Polsek Sarolangun berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pelaku yang ditangkap merupakan